Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Telah Usai
Empat belas hari ternyata berlalu jauh lebih cepat daripada yang Amara bayangkan.
Ketika mereka pertama kali tiba di Swiss, waktu terasa begitu longgar. Tidak ada jadwal yang benar-benar harus dikejar, tidak ada rapat yang menunggu di ujung hari, dan tidak ada alasan untuk melihat jam berkali-kali. Villa di tepi danau itu perlahan berubah menjadi tempat mereka melepaskan semua kesibukan yang selama ini melekat pada nama masing-masing.
Namun pagi kepulangan selalu memiliki suasana yang berbeda.
Beberapa koper sudah tersusun di dekat tangga. Sebagian besar barang bahkan sudah dikemas sejak malam sebelumnya, meskipun Gilberth masih berkeliling mencari benda-benda kecil yang entah bagaimana selalu berhasil ia selipkan ke dalam tas pada menit terakhir.
Susan berdiri di depan salah satu koper sambil memeriksa isinya.
“Gilberth, ini punya siapa?”
Gilberth menoleh dari sofa.
“Apa?”
Susan mengangkat sebuah syal.
“Ini.”
“Oh, itu punyaku.”
“Kok ada di koperku?”
Gilberth berpikir sebentar.
“Mungkin tadi aku salah masukin.”
Susan menatapnya dengan wajah tidak percaya.
“Bagaimana bisa salah masukin barang ke koper orang selama dua minggu?”
Gilberth tersenyum tanpa rasa bersalah.
“Namanya juga manusia.”
Amara yang baru turun dari lantai atas mendengar percakapan itu dan langsung menggeleng sambil tersenyum. Ia mengenakan mantel panjang berwarna gelap dengan rambut yang disanggul sederhana. Tidak ada pakaian mencolok, tidak ada perhiasan berlebihan. Penampilannya bahkan lebih sederhana daripada ketika ia berada di Jakarta.
Leon berjalan di belakangnya sambil membawa secangkir kopi. Ia memperhatikan koper-koper yang memenuhi ruang utama, lalu memandang Amara.
“Sudah siap?”
“Belum.”
Leon mengangkat alis.
“Belum?”
Amara menunjuk ke arah koper.
“Aku baru sadar ternyata kita membawa terlalu banyak barang.”
Leon tertawa kecil.
“Bukan aku yang membawa terlalu banyak.”
Amara langsung menatapnya.
“Jangan mulai.”
Leon tersenyum.
“Baik.”
Di sudut ruangan, Arsen sedang memastikan beberapa dokumen perjalanan tersimpan dengan aman. Elena membantu anak mereka mengenakan jaket. Raka dan Hana masih memperdebatkan sesuatu yang berkaitan dengan oleh-oleh, sementara Nayla sibuk memilih foto yang akan ia simpan sebagai kenangan. Kael berdiri di dekat pintu, sesekali membantu membawa barang tanpa banyak bicara.
Pemandangan itu membuat Amara berhenti beberapa saat.
Liburan hanya dua minggu. Namun cukup untuk membuat villa tersebut terasa seperti rumah kedua.
Ia berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap danau. Pemandangan yang selama beberapa hari menjadi bagian dari pagi mereka masih terlihat sama. Pegunungan berdiri jauh di belakang kabut tipis, sementara permukaan danau memantulkan cahaya pucat dari langit.
Leon berdiri di sampingnya.
“Kau akan merindukan tempat ini?”
Amara tersenyum.
“Mungkin.”
“Swiss?”
Amara menggeleng.
“Bukan hanya Swiss.”
Leon tahu maksudnya.
Amara tidak sedang membicarakan pemandangan.
Ia akan merindukan suara langkah kaki di lorong, tawa Gilberth yang kadang terlalu keras, Susan yang tidak pernah membiarkan sepupunya menang dalam permainan apa pun, perdebatan Raka dan Hana mengenai rencana perjalanan, serta Nayla yang hampir setiap hari mengabadikan sesuatu dengan kameranya.
Ia juga akan merindukan versi dirinya yang selama dua minggu ini tidak perlu menjadi Madam A setiap saat.
Leon menyentuh punggung tangannya.
“Kalau begitu, kita bisa kembali.”
Amara menoleh.
“Dengan mereka semua?”
Leon melirik ke arah ruang utama.
“Kalau tidak, kita mungkin benar-benar bisa menikmati bulan madu.”
Amara tertawa.
“Bukankah ini bulan madu kita?”
“Menurutku ini lebih mirip liburan keluarga.”
“Dan kau baru sadar setelah dua minggu?”
Leon mengangkat bahu.
“Aku cukup menikmati keributannya.”
Amara menatapnya beberapa detik.
“Padahal waktu hari pertama kau bilang kita cuma pergi tiga hari.”
Leon langsung tertawa.
“Itu aku sedang bercanda.”
Gilberth yang kebetulan lewat mendengar kalimat tersebut.
“Jadi Om bohong?”
Leon menoleh.
“Aku tidak bilang bohong.”
“Om bilang tiga hari.”
“Karena kalau kubilang empat belas hari, kau akan membawa lebih banyak koper.”
Gilberth terdiam.
Susan langsung tertawa.
“Masuk akal.”
“Tidak masuk akal,” protes Gilberth.
Leon berjalan mendekat dan menepuk pundaknya.
“Sudah. Bantu bawa koper.”
Gilberth menghela napas.
“Padahal aku kira tiga hari.”
“Sekarang kau tahu.”
“Dan ternyata empat belas.”
“Betul.”
Gilberth menatap tumpukan koper di depannya.
“Aku merasa ditipu.”
Amara tertawa begitu mendengar keluhannya.
Tak lama kemudian, villa perlahan kembali kosong dari barang-barang pribadi mereka. Setiap orang membawa sesuatu yang berbeda dari perjalanan itu. Ada foto, oleh-oleh, pakaian, beberapa benda kecil yang dibeli selama berjalan-jalan, dan kenangan yang tentu tidak mungkin dimasukkan ke dalam koper.
Sebelum meninggalkan villa, Amara kembali ke balkon. Ia berdiri sendiri beberapa saat. Leon tidak langsung memanggilnya.
Ia tahu istrinya membutuhkan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tempat yang telah memberikan mereka jeda dari dunia.
Amara menyentuh pagar balkon yang dingin. Selama empat belas hari, tempat itu menyaksikan banyak hal sederhana. Sarapan yang berubah menjadi perdebatan, sore yang dihabiskan tanpa agenda, makan malam panjang yang berakhir dengan cerita masa lalu, serta malam-malam ketika mereka berkumpul di depan perapian dan melupakan bahwa di luar sana ada dunia yang terus bergerak.
Namun Amara tidak merasa sedih. Ia hanya merasa bersyukur.
Leon akhirnya datang dan berdiri di sampingnya.
“Kita harus berangkat.”
Amara mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia menatap danau sekali lagi sebelum berbalik.
“Ayo.”
Mereka berjalan bersama menuju kendaraan. Di halaman, semua orang sudah menunggu. Gilberth bahkan sudah berada di dalam kendaraan lebih dulu. Susan berdiri di samping pintu sambil berkata,
“Dia masuk paling cepat karena takut ditinggal.”
“Aku tidak takut!”
Amara tertawa.
“Sudah, kalian berdua.”
Arsen mendekati ibunya.
“Semua sudah siap.”
“Bagus.”
Raka kemudian memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Hana memegang daftar kecil di tangannya, sementara Nayla mengambil satu foto terakhir dari halaman villa.
Kael berdiri di belakangnya.
“Sudah?”
Nayla melihat layar kameranya.
“Sudah.”
“Kalau begitu ayo.”
Mereka naik ke kendaraan masing-masing. Saat rombongan mulai bergerak meninggalkan villa, Amara melihat bangunan itu melalui kaca jendela. Perlahan semakin jauh hingga tertutup oleh pepohonan.
Leon menggenggam tangannya.
“Masih ingin tinggal?”
Amara tersenyum.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena rumahku bukan di sana.”
Leon menatapnya.
“Di mana?”
Amara memandang ke depan.
“Di mana kalian berada.”
Leon tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
Perjalanan menuju bandara berlangsung tenang. Tidak ada yang terlalu banyak bicara. Mungkin karena semua masih membawa suasana perpisahan dari villa.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Gilberth kembali menemukan sesuatu yang membuatnya sibuk.
“Eh, Susan.”
“Apa?”
“Kita punya foto waktu salju turun?”
“Ada.”
“Mana?”
“Di kamera.”
“Bisa kirim?”
“Kenapa?”
“Karena aku mau pasang.”
Susan menatapnya.
“Foto kamu sedang jatuh di salju?”
Gilberth langsung menggeleng.
“Bukan yang itu.”
“Yang mana?”
“Yang aku terlihat keren.”
Susan tertawa.
“Tidak ada.”
“Pasti ada.”
“Tidak.”
Percakapan mereka kembali memenuhi kendaraan.
Amara menoleh ke Leon.
“Lihat?”
Leon tersenyum.
“Sepertinya liburan kita belum benar-benar berakhir.”
Amara ikut tertawa.
Sesampainya di bandara, rombongan kembali menggunakan jalur privat. Semua berlangsung lebih cepat karena pengaturan perjalanan sudah disiapkan sebelumnya.
Sebelum naik pesawat, Amara sempat berdiri di dekat jendela besar yang menghadap landasan. Untuk mengucapkan selamat tinggal. Ia dan keluarganya bisa datang kapan saja. Namun kesehatan, tidak ada yang tahu.
Penyelidikan tentang rumor di Aether telah selesai. Darren dan anak magang yang terlibat harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka. Nama Alya dan Celine telah dibersihkan.
Namun Amara tahu bahwa kepulangannya bukan berarti dunia berhenti menunggu.
Jakarta akan kembali menghadirkan rapat, keputusan, laporan, dan persoalan baru. Rumah sakit akan kembali berjalan dalam ritmenya. Perusahaan akan kembali membutuhkan perhatiannya.
Dan ia siap. Bukan dengan perasaan berat. Justru dengan pikiran yang lebih jernih.
Ia telah mengingat kembali mengapa semua yang dibangunnya selama bertahun-tahun begitu penting.
Semua itu adalah sarana untuk memberikan kehidupan yang lebih aman bagi orang-orang yang ia cintai.
Leon mendekat.
“Siap pulang?”
Amara menatapnya.
“Siap.”
“Kau tidak takut kembali bekerja?”
Amara tersenyum.
“Kenapa harus takut?”
Leon tersenyum.
“Bagus.”
Mereka kemudian berjalan menuju pesawat. Di belakang mereka, keluarga besar mulai menyusul dengan suara dan langkah masing-masing.
Arsen membantu Elena. Raka masih membawa barang Hana meskipun terus mengomel karena jumlahnya bertambah. Nayla menunjukkan foto terakhir kepada Kael. Susan dan Gilberth kembali memperdebatkan sesuatu yang tidak jelas.
Amara menoleh sebentar. Kemudian ia tersenyum.
Ketika pesawat mulai meninggalkan landasan, Amara menyandarkan kepala pada kursinya. Leon duduk di sampingnya, sementara suara keluarga mereka terdengar dari beberapa baris di belakang.
Ia menutup mata sebentar, hanya menikmati beberapa menit sebelum Jakarta kembali menyambut mereka dengan segala urusannya.
Leon menggenggam tangannya.
“Amara.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Amara membuka mata.
“Untuk apa?”
“Sudah ikut liburan bersamaku.”
Amara tersenyum.
“Aku kira aku yang harus berterima kasih.”
“Kenapa?”
“Karena kau membawaku pergi.”
Leon menggeleng.
“Kita pergi bersama.”
Amara memandangnya.
“Ya.”
Pesawat terus bergerak menembus langit. Swiss perlahan tertinggal jauh di belakang mereka, bersama empat belas hari yang akan menjadi salah satu bagian paling sederhana sekaligus paling berharga dalam kehidupan mereka.
Dan di hadapan mereka, Jakarta sudah menunggu. Kali ini, Amara pulang bukan sebagai perempuan yang ingin melarikan diri dari kesibukan.
Ia pulang sebagai seseorang yang tahu kapan harus bekerja keras, kapan harus melindungi orang-orangnya, dan kapan harus membiarkan dirinya menikmati hidup yang selama ini ia perjuangkan.