Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback lagi
Esok harinya, di saat matahari mulai duduk di singgah sananya dengan cahaya terik yang menyengat kulit, Liam mengajak Dania untuk bermain di rumahnya.
Setelah memohon dengan rengekan khas anak kecil, Ibu Dania akhirnya mengizinkannya, toh itu rumah Kepala Desa yang pasti aman.
Disana, Liam menuntun Dania untuk berkeliling. Mulai dari ruang tamu, dapur dan kamar yang nantinya diperuntukkan Dania dan Ibunya.
"Wah, luas banget rumahmu."
"Ya kan? Jadi kamu bisa banget tinggal disini."
Tampak sinar kebahagiaan yang terpancar di wajah tampan Liam. Rasanya tak sabar untuk tinggal bersama Dania sebagai keluarga.
"Kita ke halaman belakang yuk! Di sana ada kolam ikan, kayaknya ini sudah waktunya mereka makan deh."
Dania yang juga merasa sangat gembira, menyambut ajakan Liam.
Dengan langkah berjingkat riang, keduanya pergi ke kolam ikan. Tak lupa juga mereka membawa pelet yang nantinya mereka sebar untuk makan ikan.
Sungguh ironi, sepertinya aktivitas memberi makan ikan adalah aktivitas yang biasa bagi Liam. Berbeda dengan Dania yang merasa momen ini adalah anugrah yang luar biasa. Ia tak perlu lagi merasakan perih dan panasnya pipi saat terkena pukulan, dan ia juga tak perlu lagi mengemis untuk hanya sekedar makan.
Dania sangat bahagia.
Rumah Liam sama hangatnya dengan Panti Asuhan milik Jax.
"Aduh... Kamu lapar nggak? Aku lapar banget nih. Ibu masak apa ya? Yuk Dan, kita makan siang."
Dania mengikutinya begitu saja, meski hati kecilnya berkata apakah boleh ia menerima makanan begitu saja.
"Bu... Ibu masak apa?" Kata Liam begitu sampai di dapur.
"Masak ikan," lalu tatapan Ibu Liam tertuju pada Dania yang diam saja. "Eh ada Dania."
Dania hanya tersenyum saat namanya dipanggil.
"Yuk kita makan bareng-bareng."
Keraguan seketika muncul di hati Dania. Bukan karena Ibu Liam, tentu saja bukan. Beliau sangat ramah dengan senyum indah terukir di bibirnya.
Keraguan itu muncul karena sebelumnya ia tak pernah bisa makan begitu saja tanpa bekerja keras sebelumnya. Mungkin pernah satu kali di Panti Asuhan Jax, tapi suasana disana beda. Disana ada banyak anak yang memiliki nasib yang tak jauh berbeda dengannya.
Ah... Ini karena Dania yang merasa kerdil.
"Ada apa, Dan? Kamu nggak suka ikan?"
Liam bisa dengan jelas melihat kegusaran hati Dania. Tangan yang saling bertaut dan pandangan mata yang selalu menunduk, siapa yang akan gagal menebaknya.
"Mmm... Aku cuma.."
Tak menunggu Dania menyelesaikan kalimatnya, Liam langsung menyambar tangan Dania.
"Udah ah ayuk... Udah laper banget ini."
Mereka akhirnya menikmati santap siang yang lezat.
"Bu, boleh aku bawa satu untuk Ibu nanti?" Pinta Dania dengan mata yang berbinar.
"Tentu saja, ambil semua yang kamu inginkan," Ucap Ibu Liam.
Liam tersenyum saat Ibunya dengan lembut dan hangat memperlakukan Dania.
Saat Dania selesai membungkus satu ikan goreng lezat buatan Ibu Liam, dia pun pamit.
"Aku antar sampai ke Puskesmas," ucap Liam.
Dania mengangguk dan mereka bersepeda menuju tempat Ibu Dania berada. Namun di tengah perjalanan Dania teringat dengan Ikan yang ia bungkus. Ternyata bungkusan itu tertinggal di meja makan karena ia tergesa-gesa pulang.
"Biar aku ambilin!"
"Tidak, aku saja. Kamu tunggu di pos kampling ini. Atau... Kamu mau sekalian pulang aja, biar aku nanti ke Puskesmas sendirian."
Liam menggeleng.
"Tidak, aku tunggu di sini saja."
Dania membalik sepedanya, bergegas mengayuh kembali menuju rumah Liam seorang diri.
Kini tanpa adanya Liam disampingnya, Rumah hangat itu terasa sedikit asing. Membuat Dania sadar bahwa yng membuatnya nyaman adalah Liam, bukan rumahnya.
"Aku harus cepat," celotehnya.
Dengan langkah yang cepat sampai ia lupa mengucap salam, Dania masuk ke rumah begitu saja.
Sayup-sayup ia mendengar dua orang yang sedang berdebat di ruang makan. Perlahan suara itu semakin jelas selaras dengan langkah Dania yang mendekat.
"Kamu yakin mau menampung Dania dan Ibunya di sini?" Suara lantang Ibu Liam terdengar mengawali.
"Tentu saja, mereka membutuhkan bantuan kita."
"Membutuhkan? Bukan karena kamu masih ada rasa sama Ibu Dania? Dan kamu suruh aku menerima mereka? Jangan bercanda!"
"Sayang, itu sudah masa lalu. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu. Dan mereka hanya membutuhkan bantuan."
Ayah Liam melembutkan suaranya, berusaha menenangkan istrinya dengan memeluknya dari belakang.
"Tidak!!! Sampai kapanpun aku tidak akan menerima anak itu di rumah ini! Biarkan mereka tinggal di rumah lain, atau biarkan saja mereka kembali ke rumahnya itu!"
"Ibu... Kenapa kamu bisa sekejam ini! Lihat keadaan mereka! Kamu mau laki-laki jahanam itu kembali menyiksa mereka?"
"Lebih baik daripada menjadi beban dan merusak rumah tanggaku." Jawab Ibu Liam. Ucapannya bagai kalimat ketok palu yang dilontarkan oleh seorang hakim. Kepala desa yang gagah dan berkharisma sekalipun tak berkutik kalau sudah penguasa alam yang memutuskan.
Dania menunduk. Bagai tersengat listrik dengan tegangan tinggi, tubuhnya terasa sangat panas namun tak bergerak.
"Beban ya?" Gumamnya.
Langkah kecilnya menjauh dari tempatnya berdiri. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia dengarkan, hatinya sudah habis dengan rasa kerdil dan kecewa. Bukan kecewa pada Ibu Liam, sungguh tidak. Sangat wajar kalau responnya seperti itu. Namun Dania sangat kecewa pada dirinya yang hanya bisa menjadi beban bagi teman tersayangnya.
Bukan menjadi teman yang mendukungnya, tapi malah beban.
Dania menghela napasnya dan melanjutkan kayuhan sepedanya.
"Pulanglah Liam!" Ucapnya begitu sampai ke pos kampling tempat Liam menunggu.
"Lah, kenapa? Aku mau nemenin kamu kok."
"Nggak usah."
'Aku nggak mau menjadi beban,' lanjutnya dalam hati.
"Nggak usah apanya? Ayo aku temenin."
"Aku bilang nggak usah ya nggak usah. Ck! Ribet banget jadi orang."
Kebiasaan buruk yang tak pernah bisa ia hilangkan. Berteriak marah ketika menutupi sesuatu, membuat Dania sedikit merasa bersalah pada temannya yang kini menatapnya dengan mata yang basah.
Tak ingin melihat kemelow-an itu lagi, Dania kembali mengendarai sepedanya secepat yang ia bisa. Meninggalkan Liam dengan segala pertanyaan dan kesedihan. Kayuhan sepedanya terlalu cepat hingga air matanya menghilang tertiup angin.
"Aku harus cari tempat lain untuk ibu."
Hatinya terasa sangat berat karena mau tidak mau ia harus mencari seseorang yang mau menampungnya.
"Haah... Ujung-ujungnya kami tetap menjadi beban."
.
.
.
Dengan perasaan yang tak karuan, Dania langsung pergi ke ranjang Ibunya. Namun bukan wajah teduh Sang Ibu yang ia temukan, tapi ranjang kosong tanpa penghuni.
"Ibu? Ibu kemana? Apa ke kamar mandi?"
Bergegas ia mencari di kamar mandi tapi tak juga menemukannya. Lalu ia melanjutkan pencarian ke setiap sudut Puskesmas yang tidak luas itu.
"Permisi, pasien atas nama Rani sedang dimana ya? Saya tidak bisa menemukan Ibu saya," tanyanya pada petugas yang berjaga.
"Mmm... Ibu Rani? Beliau sudah dijemput oleh walinya."
"Wali? Tapi Ibu cuma punya aku," hatinya mencelos. Siapa yang dimaksud dengan wali?
Jantungnya memburu, keringat ketakutan membasahi keningnya, dan matanya kosong karena tak sanggup membayangkan Ayah yang jahat itu menjemput Ibunya.
"Yang menjemput Bu Rani adalah Pak Adam, suami Bu Rani."
.
.
.