Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Di tengah riuh rendah tawa Daddy Wira dan Papa Damian yang baru saja melakukan high-five di atas pasir putih, Kak Anita yang berdiri di sebelah Aurel langsung menyenggol lengan adik sepupunya itu dengan kedipan mata yang teramat jenaka. Senior perempuan itu meletakkan kedua tangannya di pinggang, memandang Aurel yang masih membekap wajahnya yang memerah padam sempurna.

"Tuh, denger sendiri kan, Rel? Jawaban dari Reyhan taktis dan lempeng banget, spek dewa!" goda Kak Anita dengan nada suara lembutnya yang renyah, sukses membuat Aurel semakin salah tingkah tingkat tinggi di balik telapak tangannya. "Sepupu aku yang satu itu emang jarang ngomong, tapi sekali ngomong langsung ngunci draf analisis hati orang. Gimana? Lo siap-siap aja ya kalau liburan akhir bulan ini status lo berubah dari partner kelompok matkul jadi partner dinasti keluarga!"

"Kak Anitaaa! Ih, jangan ikut-ikutan kompor dong!" seru Aurel dengan volume suara yang tertahan di balik jemarinya, mencoba meredakan debaran jantungnya yang gila-gilaan.

Kak Anita justru tertawa puas, lalu dengan gerakan alami penuh kasih sayang, ia merangkul hangat pundak Aurel dan mengelus lembut rambut panjang gadis itu berulang kali. "Lagian lo berdua itu cocok banget tahu, Rel. Reyhan itu tipikal cowok yang sabar, dewasa, dan selalu pasang badan jagain lo diam-diam dari kemarin. Taktik Daddy Wira siang ini emang juara parah buat mencairkan ketegangan maba!"

Bang Edward yang berdiri di sebelah mereka langsung bersedekap dada dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, memotong pembicaraan dengan gaya kating siaga satu. "Wah, Sayang, kamu kok malah dukung sabotase udara ini sih? Inget ya, aku tetep kapten keamanan yang memegang kendali protokol jarak aman satu meter buat Bocil!"

"Udah, Edward, diem deh! Kamu dari kemarin urat posesifnya nggak putus-putus," omel Kak Anita gemas sembari mencubit pelan lengan kekasihnya, membuat Bang Edward langsung meringis manja dan kembali menurut dalam sekejap.

Aurel perlahan menurunkan kedua tangannya dari wajah, mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat manis demi menutupi salah tingkah gila-gilaannya dari pandangan seisi pantai. Jantungnya masih berdegup dengan sangat keras bertalu-talu di dalam rongga dada.

Secara refleks, dari balik kacamata hitamnya, Aurel mencuri pandang kembali ke arah stan payung pantai seberang. Di sana, Reyhan sedang meneguk kembali kelapa mudanya dengan pembawaan yang luar biasa tenang, lempeng, dan teduh. Cowok berjaket denim itu membalas tatapan sekilas Aurel dengan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat, sarat akan kesabaran dan keikhlasan yang begitu luas di manik matanya.

Meskipun labirin buntu hatinya yang dihuni oleh cinta sepihak kepada Bang Edward belum sepenuhnya runtuh, tanggapan dewasa dari Reyhan dan limpahan kasih sayang dari Kak Anita siang ini terbukti menjadi tameng pelindung sunyi yang teramat menenangkan. Di bawah terik matahari Pantai Pandawa yang cerah, Aurel mengembuskan napas panjang yang hangat, siap mengukir draf lembaran hidup barunya yang semakin penuh warna kehangatan bersama dinasti keluarga besar mereka.

Setelah riuhnya drama perjodohan spontan dan jebakan kano mereda, suasana di Pantai Pandawa siang itu bertransformasi menjadi arena keseruan murni bagi keenam muda-mudi tersebut.

Melihat antusiasme anak-anaknya, Daddy Wira, Om Tom, Papa Crish, dan Papa Damian kompak memilih untuk tetap duduk santai di bawah naungan payung pantai yang teduh. Bersama Mommy Zeline, Mama Ellen, Mama Olivia, dan Mama Catherine, para orang tua itu tampak begitu menikmati suasana pesisir, menyesap kelapa muda segar, sembari sesekali tertawa renyah memantau tingkah ajaib anak-anak mereka dari kejauhan.

Di area bibir pantai, air laut yang jernih setinggi pinggang menjadi saksi formasi baru kano dinasti maba dan kating yang sangat seru.

Tiga unit kano plastik kini sudah siap terapung di atas riak ombak. Formasinya kali ini berganti menjadi lebih adil; Gino dan Shirin terpaksa melanjutkan dayung kano kuning mereka, Bang Edward dan Kak Anita menaiki kano merah di sisi kanan, sedangkan Aurel dan Reyhan berada di kano biru di sisi tengah—sebuah posisi yang secara otomatis membuat Aurel kembali deg-degan setengah mati.

"Oke! Karena semua instrumen kano sudah fiks di atas air, saatnya kita mulai balapan simulasi ketangkasan laut Bali!" seru Gino heboh, sudah bersiap dengan dayungnya sembari mengedipkan mata jahil ke arah Shirin di depannya. "Rin, mendayungnya yang singkron ya! Tunjukkan pada dinasti keluarga kalau calon menantu dan calon istri spek dewa ini bisa melaju paling depan!"

"Gino! Sekali lagi lo sebut kata itu, dayung ini beneran melayang ke jidat lo!" semprot Shirin salah tingkah tingkat tinggi, wajahnya kembali merona merah padam kuadrat karena sedekat itu di atas air bersama Gino.

Bang Edward langsung meledak dalam tawa renyah dari kanonya, merangkul pinggang Kak Anita sekilas. "Hahaha! Jangan mau kalah, Sayang! Ayo kita potong jalur mereka dari kanan!"

Sementara itu, di kano biru, Aurel duduk di posisi depan dengan memegang dayung plastik tebalnya. Jantungnya berdegup begitu keras, bertalu-talu gila-gilaan di dalam rongga dada karena efek ucapan perjodohan Daddy Wira tadi masih menyisakan salah tingkah yang luar biasa.

Di posisi belakangnya, Reyhan duduk tegap dengan posisi mengemudi yang sangat tenang. Cowok berjaket denim itu perlahan menurunkan dayungnya ke air, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Nggak usah kaku begitu pegang dayungnya, Partner," bisik Reyhan dengan nada suara beratnya yang sangat tenang, lempeng, dan stabil—sebuah pembawaan dewasa yang selalu sukses mengalirkan rasa aman yang instan ke dalam dada Aurel. "Lo cukup dayung santai aja di depan ikuti ritme air. Bagian belokan taktis dan dorongan laju belakang biar gue yang kunci, oke?"

Aurel tertegun sejenak, lalu menoleh sedikit ke belakang dan mendapati sepasang mata teduh milik Reyhan sedang menatapnya dengan samudera kesabaran dan keikhlasan yang teramat luas. Rasa asing dan canggung yang sempat membuatnya tidak nyaman seketika mencair, berganti dengan kehangatan familier yang menenangkan jiwanya.

Aurel mengulas sebuah senyuman ceria yang paling tulus. "Oke, Rey! Siap laksanakan!" sahut Aurel dengan tawa cemprengnya yang khas.

"Satu, dua, tiga... MULAI!" pekik Gino lantang.

Seketika itu juga, ketiga kano langsung melaju membelah riak air laut Pantai Pandawa yang hijau toska. Suara cipratan air yang riuh berpadu seru dengan pekikan heboh Shirin yang kanonya lagi-lagi oleng akibat Gino sengaja mendayung dengan gaya manuver buaya, serta tawa lepas Bang Edward dan Kak Anita yang melaju konstan di sebelah kanan.

Aurel tertawa terbahak-bahak sembari mendayung dengan penuh semangat, merasakan bagaimana kano birunya melaju dengan sangat stabil dan aman di bawah kendali taktis dari cowok denim di belakangnya.

Di tengah riuh rendah suara cipratan air dan pekikan heboh kano Gino yang oleng di sebelah kiri, kano biru yang dinaiki Aurel dan Reyhan melaju dengan sangat stabil. Aurel awalnya mendayung dengan penuh semangat, tawa cemprengnya sempat lepas menyemangati tim maba.

Namun, fokusnya mendadak pecah saat pandangannya secara refleks terlempar ke arah kanan.

Di atas kano merah yang melaju konstan, Bang Edward dan Kak Anita sedang memamerkan kemesraan yang teramat nyata. Ombak kecil sempat menghantam lambung kano mereka, membuat Kak Anita refleks memekik pelan karena terkejut. Dengan gerakan cepat yang penuh proteksi, Bang Edward langsung melepaskan satu tangan dari dayungnya, merangkul erat pinggang Kak Anita dari belakang demi menyeimbangkan posisi duduk kekasihnya.

Kating siaga satu itu kemudian mencondongkan wajahnya ke dekat pelipis Kak Anita, membisikkan sesuatu yang membuat Kak Anita meledak dalam tawa renyah yang teramat bahagia. Tatapan sepasang mata elang Bang Edward saat menatap wanita di depannya begitu lekat, memancarkan binar cinta yang luar biasa eksklusif dan mendalam.

Melihat pemandangan romantis yang tersaji secara langsung di atas permukaan air laut yang berkilau itu, jemari tangan Aurel yang sedang mencengkeram dayung plastik seketika membeku kaku. Dayungannya terhenti di udara.

                Deg.

Dada Aurel rasanya seperti dihantam oleh ombak raksasa yang teramat dingin. Pusaran rasa cemburu yang menusuk dan sesak yang luar biasa mendadak bergejolak hebat di hulu hatinya, merobek seluruh dinding kebahagiaan semu yang ia rasakan sejak tadi pagi. Air matanya mendadak mendesak ingin keluar di sudut kelopak mata, membuat pemandangan air laut di depannya buru-buru mengabur.

Aurel menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong pada riak air yang menyentuh dinding kano biru mereka. Bahunya tampak menegang kaku menahan pasokan rasa perih yang menjalar sampai ke tulang batinnya.

    Kenapa di tempat seindah ini pun, gue tetep harus nonton kenyataan kalau lo selamanya bukan milik gue, Bang? batin Aurel pilu, napasnya terasa tersumbat berat di tenggorokan. Segala perhatian manis Bang Edward saat memotongkan daging iga semalam atau saat membetulkan letak topinya tadi pagi, seolah langsung runtuh terbentur fakta kejam bahwa sekat "Adik Kecil" tidak akan pernah bisa bergeser.

Di posisi belakang kano, Reyhan langsung menyadari berhentinya dayungan Aurel dan perubahan drastis pada gestur tubuh partnernya. Sebagai cowok dengan intuisi yang luar biasa tajam, sepasang mata teduh milik cowok denim itu melirik lambat ke arah kano merah Bang Edward, lalu kembali menatap punggung kaku Aurel.

Dada Reyhan sempat berdesir halus merasakan denyut perih yang hampa, namun samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dirinya membuat cowok denim itu menarik napas panjang secara perlahan. Ia tidak menuntut perhatian, tidak juga menunjukkan binar cemburu karena tahu posisi hatinya.

Dengan gerakan yang sangat tenang dan lempeng, Reyhan mengayunkan dayungnya lebih kuat demi menyeimbangkan kano mereka yang sempat terbawa arus, lalu berbisik pelan dengan nada suara beratnya yang teramat teduh dan stabil. "Partner... dayung depannya tolong diturunkan lagi ke air. Dorongan arus dari kanan agak kuat sore ini. Tenang aja, bagian belakang biar gue yang jaga kencang."

Mendengar bisikan kalimat tenang nan penuh pemahaman dari Reyhan dari arah belakang, ketegangan di pundak Aurel perlahan melunak samar. Kalimat suportif dari cowok denim itu seolah menjadi jangkar pelindung sunyi yang instan menahannya agar tidak tenggelam dalam rasa sedih.

Aurel buru-buru menyeka sudut matanya yang sedikit basah dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang demi memakai kembali topeng cerianya. Ia kembali menurunkan dayungnya ke air dengan senyum tipis yang dipaksakan. Di bawah terik matahari Pantai Pandawa siang itu, di balik rahasia getir cinta sepihaknya yang tetap terkunci rapat di dalam labirin buntu, Aurel tahu rasa sakit itu masih ada, namun luasnya kesabaran dari Reyhan di belakangnya terbukti menjadi kekuatan sunyi yang membuatnya tetap kuat melangkah maju membelah ombak Bali.

Karena fokusnya sepenuhnya terbagi pada kemesraan Bang Edward dan Kak Anita, dayungan Aurel menjadi sangat kacau dan berat sebelah. Riak ombak Pantai Pandawa yang datang dari sisi kanan mendadak bergulung sedikit lebih tinggi, menghantam lambung kano biru mereka yang posisinya tidak siap.

"Eh, eh... Rey!" pekik Aurel panik saat keseimbangan kanonya mendadak goyah.

Reyhan sebenarnya sudah berusaha taktis memutar dayung belakangnya demi mengunci posisi kano. Namun, karena Aurel refleks bergerak panik ke arah kiri, hukum fisika di atas air tidak bisa bohong. Kano biru itu oleng seketika dalam hitungan detik.

BYUURRR!

Dunia di mata Aurel terasa berputar sesaat sebelum tubuhnya terjatuh sepenuhnya, terempas masuk ke dalam pelukan air laut Pantai Pandawa yang hijau toska. Air laut yang asin langsung membasahi seluruh tubuh, dress kasual, hingga jaket tebal pemberian Kak Anita yang kini terasa teramat berat karena menyerap air.

Aurel langsung menyembul kembali ke permukaan sambil terbatuk-batuk kecil, mengucek matanya yang perih terkena air garam. Rambut panjangnya kini basah kuyup menempel kaku di wajahnya. Namun, belum sempat ia menguasai rasa paniknya, sebuah lengan kokoh yang tegap langsung menyusup di bawah ketiaknya, menopang tubuh Aurel dengan sangat sigap agar tetap mengapung aman.

Reyhan ada di sana, ikut basah kuyup dengan kaus kasualnya yang mencetak jelas lekuk dada bidangnya. Wajah cowok berjaket denim itu tampak sedikit basah, namun ekspresi wajah lempeng, tenang, dan tatapan mata teduhnya sama sekali tidak luntur. Pembawaan dewasanya seketika mengalirkan rasa aman yang instan ke dalam dada Aurel.

"Nggak apa-apa, Partner? Ada yang luka?" tanya Reyhan dengan nada suara beratnya yang teramat stabil dan menenangkan, menyeka anak rambut yang menutupi kening Aurel dengan jemari tangannya yang panjang secara perlahan.

Aurel tertegun kaku dalam jarak sedekat itu di tengah gulungan air laut. Jantungnya mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, berdegup dengan sangat keras hingga dentumannya bertalu-talu gila-gilaan di dalam rongga dadanya. Rasa deg-degan parah bercampur salah tingkah tingkat tinggi langsung merajai dirinya, melarutkan seluruh sisa rasa sesak dan cemburunya akibat Bang Edward tadi tanpa sisa.

Dari kejauhan, kano kuning milik Gino dan Shirin langsung meluncur mendekat, diikuti teriakan heboh dari Gino yang insting kompornya langsung meledak maksimal di tengah laut. "BHUHAHAHA! Waduh, waduh! Pangeran Denim sama Partner-nya mendadak simulasi berenang romantis ya di laut Bali! Kapten Edward, benteng pertahanan lo jebol total lewat jalur air, nih!"

"Gino! Diem deh lo!" semprot Shirin salah tingkah, walau matanya ikut melirik cemas sekaligus geli menatap Aurel yang sudah berubah menyerupai kucing basah.

Dari tepi pantai, Bang Edward yang melihat adiknya tercebur langsung melotot dramatis, berteriak kencang sembari mendayung kano merahnya secepat kilat. "Woi, Reyhan! Jarak aman satu meter tetap berlaku di dalam air ya! Jangan modusin adek gue pas kebalik!"

Aurel yang mendengar rentetan teriakan heboh abangnya dan ledekan Gino, langsung menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah padam sempurna di balik telapak tangannya yang basah, tidak kuat menahan gempuran rasa salah tingkah gila-gilaan siang ini. Sembari berpegangan pada pundak tegap Reyhan yang dengan sabar menuntunnya berjalan menepi ke arah pasir putih, Aurel merasakan debaran dada baru yang aneh namun teramat menyejukkan. Samudera kesabaran dan keikhlasan dari cowok denim di sebelahnya terbukti selalu sukses menjadi tameng pelindung sunyi yang menjaganya di tengah badai emosi liburan mereka.

Derap langkah kaki yang berat karena pakaian basah kuyup akhirnya membawa Aurel dan Reyhan menapakkan kaki kembali di atas hamparan pasir putih Pantai Pandawa. Sisa-sisa air laut masih menetes deras dari ujung dress kasual dan jaket tebal Aurel.

Melihat anak-anak mereka menepi dalam kondisi menyerupai kucing basah, Mommy Zeline dan Mama Catherine langsung melesat heboh dari bawah payung pantai. Kedua ibu itu berlari kecil sembari masing-masing mendekap selembar handuk putih tebal yang masih wangi.

"Astaga, Aurel! Reyhan!" pekik Mommy Zeline heboh, langsung menyampirkan handuk tebal itu ke sekeliling bahu Aurel yang masih sedikit bergetar karena dingin. "Kalian ini ada-ada saja, ya. Tadi siang diledakkan rencana pasang-pasangan sama Daddy, eh... sorenya malah langsung kompak jatuh berenang berdua di laut! Kompak bener kalau urusan bikin jantungan orang tua!"

Mama Catherine yang sedang sibuk mengeringkan rambut basah Reyhan dengan handuk satunya, langsung meledak dalam tawa renyah, melirik jenaka ke arah Mommy Zeline. "Hahaha! Iya, Zel! Ini namanya sehidup semati versi maba perkuliahan. Kanonya oleng sedikit, jatuhnya pun harus barengan biar adil. Taktik alam semesta emang lebih pinter daripada denah kamar kita semalam!"

Mendengar rentetan kalimat godaan yang meluncur blak-blakan dari kedua ibu mereka di atas pasir putih, wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna. Rasa deg-degan parah bercampur salah tingkah tingkat tinggi kembali bergemuruh hebat di dalam rongga dadanya, membuat seluruh tubuhnya mendadak terasa hangat hingga ke hulu telinga.

Namun, di tengah riuhnya godaan para ibu, sebuah perhatian manis dari Reyhan mendadak meruntuhkan sisa pertahanan tenang Aurel.

Reyhan yang juga basah kuyup dengan kaus kasual yang mencetak jelas dada bidangnya, sama sekali tidak memedulikan badannya sendiri yang kedinginan. Dengan gerakan yang teramat tenang, lempeng, dan luar biasa dewasa, Reyhan melangkah maju mengikis jarak di depan Aurel. Tangan panjangnya terulur lembut, mengambil alih ujung handuk putih di bahu Aurel, lalu dengan sangat telaten dan hati-hati, ia mulai mengusap sisa-sisa butiran air laut yang masih membasahi pipi, kening, hingga ke sudut kelopak mata Aurel agar tidak perih terkena air garam.

"Biar nggak perih matanya, Partner," bisik Reyhan dengan nada suara beratnya yang teramat teduh, stabil, dan sarat akan perhatian murni. Cowok berjaket denim itu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat hangat, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aurel dengan samudera kesabaran dan keikhlasan yang begitu luas.

Ditatap sedekat itu di depan kedua orang tua mereka, ditambah sentuhan tangan Reyhan yang teramat lembut di wajahnya, seketika membuat seluruh tubuh Aurel membeku kaku bak patung. Jantungnya berdegup begitu keras, bertalu-talu gila-gilaan sampai rasanya sesak. Pusaran cemburu akibat kemesraan Bang Edward dan Kak Anita di atas kano tadi bener-bener telah larut sepenuhnya, menguap tanpa sisa digantikan oleh debaran baru yang aneh namun menyejukkan jiwanya.

"Woi, Reyhan! Jarak aman satu meter woi! Tangan lo dikondisikan jangan nempel-nempel di muka adek gue!"

Teriakan lantang penuh kepanikan dari Bang Edward yang baru saja melompat turun dari kano merahnya di tepi pantai seketika memecah atmosfer manis tersebut. Senior siaga satu itu berlari heboh dengan wajah melotot dramatis, siap mengaktifkan kembali mode intel pengawasannya yang sempat kecolongan jalur air.

Aurel buru-buru menarik kepalanya sedikit ke belakang, lalu menyembunyikan wajah panasnya di balik lilitan handuk tebal pemberian ibunya demi menutupi salah tingkah gila-gilaannya yang sudah di level maksimal. Sembari melirik sekilas ke arah Reyhan yang hanya terkekeh renyah tanpa dosa menanggapi amukan jenaka Bang Edward, Aurel mengembuskan napas panjang yang hangat. Di bawah terik matahari Pantai Pandawa yang mulai meredup sore itu, ia sadar; kesabaran dan perlindungan sunyi dari cowok denim di sebelahnya terbukti selalu menjadi oase terindah yang menjaganya di tengah badai emosi liburan keluarga besar mereka di Bali.

Aroma sabun mint yang segar dan uap hangat sisa mandi masih mengambang tipis di dalam kamar bernuansa tropis milik Reyhan di lantai dua koridor kiri. Reyhan yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, kini sedang duduk santai di tepi tempat tidur besar dengan mengenakan kaus rumahan santai abu-abu dan celana pendek hitam. Pembawaannya tetap terlihat luar biasa tenang, lempeng, dan stabil tanpa beban.

Klek.

Daun pintu kamar mendadak berayun terbuka dengan sentakan pelan, memunculkan sosok Gino yang sudah berganti pakaian santai dengan handuk putih yang tersampir di lehernya. Tanpa ba-bi-bu, cowok buaya premium itu langsung mengunci pintu dari dalam, melangkah lebar, lalu menarik kursi kayu di dekat meja rias dan memposisikannya tepat di hadapan Reyhan dengan wajah penuh selidik yang teramat serius.

Reyhan menaikkan sebelah alisnya, menatap kaku ke arah sahabat karibnya. "Ngapain lo masuk kamar gue pake ngunci pintu segala, Gin? Muka lo tegang bener kayak mau minta bocoran jawaban kuis statistik."

Gino tidak langsung menjawab. Ia condongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam langsung ke dalam manik mata teduh milik Reyhan dengan pandangan seorang pengamat sosiologi maba tingkat tinggi. "Rey, draf candaan di pantai tadi siang udah lewat. Sekarang gue mau nanya sebagai sahabat se-perjuangan draf Pak Baskoro yang paling serius. Tentang aksi manis lo ngelapin air laut di muka Aurel depan para nyokap tadi sore."

Reyhan hanya mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat tipis dan hambar, kembali menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur dengan santai. "Ya terus kenapa? Gue kan cuma menjalankan fungsi sosial sebagai partner kelompok yang baik, biar mata Aurel nggak perih kena air garam."

"Halah, alasan lo terlalu taktis dan profesional, Rey! Nggak mempan buat gue!" potong Gino cepat, melotot tidak percaya dengan pembelaan lempeng sahabatnya. "Gue ini buaya kompleks yang radarnya tajam, Rey. Gue bisa lihat bedanya perhatian murni karena tugas kuliah, sama perhatian dari seorang cowok yang matanya memancarkan samudera keikhlasan yang besar. Dan rasa penasaran gue malam ini bener-bener udah di ujung tanduk."

Gino menjeda kalimatnya, menarik napas panjang, lalu menurunkan nada suaranya menjadi sangat serius dan mendalam. "Jujur sama gue, Rey. Apa bener yang selama ini ada di pikiran gue... kalo lo beneran cinta dan suka sama Aurel?"

Mendengar pertanyaan telak dan blak-blakan yang meluncur langsung dari mulut Gino, gerakan tangan Reyhan yang sedang memegang handuk kecil seketika membeku kaku di udara. Keheningan kamar mewah itu mendadak terasa begitu pekat, hanya menyisakan desau angin malam pantai Seminyak yang berembus pelan dari celah gorden balkon.

Sebagai cowok dengan intuisi yang luar biasa tajam dan kedewasaan yang matang, Reyhan perlahan menurunkan handuknya ke atas kasur. Ia menatap lurus ke arah Gino. Tidak ada kepanikan, tidak ada binar salah tingkah yang canggung, dan tidak ada keagresifan di wajahnya. Namun, di dalam hulu hatinya yang terdalam, sebuah denyut perih yang hampa akibat kenyataan pahit bahwa hati Aurel masih seutuhnya terkunci di dalam labirin buntu bersama Bang Edward kembali merayap pelan.

Reyhan menarik napas panjang secara perlahan, mengembuskannya lambat demi menata samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dadanya, sebelum akhirnya sebuah anggukan mantap yang sangat tenang lolos dari wajah lempengnya.

"Iya, Gin. Tebakan lo seratus persen fiks bener," sahut Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang luar biasa stabil dan jujur. "Gue emang suka... dan gue emang cinta sama Aurel sejak awal kelompok kita terbentuk."

Gino seketika membelalakkan matanya sempurna, tertengun kaku di kursinya dengan mulut setengah terbuka akibat syok massal mendapatkan konfirmasi langsung dari pangeran denim kelompok mereka "G-gila... jadi beneran, Rey?! Tapi kalau lo suka sama dia, kenapa selama di Bali ini lo malah kelihatan santai banget dan terus-terusan melangkah mundur secara teratur pas Bang Edward kasih perhatian manis ke Aurel?!"

Reyhan menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat teduh, hangat, dan dipenuhi oleh kebesaran hati yang luar biasa luas. "Karena gue tahu isi hati Aurel yang sebenarnya, Gin. Gue nggak sengaja dengar pengakuan jujur dia di kafe rooftop kemarin malam sebelum kita berangkat. Hati Aurel... selamanya masih milik Bang Edward, bukan gue. Dia bahkan nggak tahu kalau gue menaruh perasaan ke dia."

Reyhan menatap ke arah luar jendela balkon yang meremang malam itu, melanjutkan untaian kalimat dewasanya yang membuat Gino terenyak kagum. "Mencintai Aurel buat gue bukan berarti gue harus memaksakan hati dia untuk berbalik arah dan merusak dinasti keluarga mereka, Gin. Perasaan Aurel ke Bang Edward datang tanpa sebab, dan dia nggak salah dalam hal ini. Makanya, kesabaran gue saat ini adalah bentuk perlindungan sunyi terbaik yang bisa gue kasih. Selama di Bali ini, gue memilih untuk tetap tinggal menjadi partner terbaik yang suportif, menjaga agar senyum ceria di wajahnya tetep utuh, tanpa perlu membuat dia merasa tertekan oleh perasaan gue. Bagi gue, melihat dia bahagia... sudah lebih dari cukup."

Gino terdiam seribu bahasa, menatap sahabat di depannya dengan rasa hormat yang luar biasa besar membuncah di dadanya. Kedewasaan dan keikhlasan Reyhan malam ini terbukti memiliki spek yang jauh lebih tinggi dari draf analisis mana pun. Di balik riuhnya ombak pantai Bali dan megahnya liburan keluarga besar mereka, rahasia terbesar perasaan Reyhan kini resmi terkunci aman di antara dua sahabat, siap mengawal jalannya petualangan liburan mereka dengan penuh kehangatan yang mendalam.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!