Indonesia
NovelToon NovelToon
JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

JATUH CINTA PADA SEORANG GANGSTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

masa iya?

"Halo, ada orang?" Shayen Morgan kembali bersuara, mencoba menyadarkan sosok gadis di hadapannya.

Detik selanjutnya bagaikan terpaan angin, Aurora Grey mendekat dan menghambur ke arahnya. Memeluk tubuhnya dengan erat tanpa aba-aba, beruntung cowok itu tidak sampai terhuyung ke belakang.

Sungguh! Shayen Morgan tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

"Katanya udah punya pacar, tapi kok peluk-peluk—" Shayen Morgan tidak melanjutkan ucapannya.

Tiba-tiba rasa panik memenuhi rongga dadanya mendapati Aurora Grey terisak di pelukannya. Menghela nafas pelan, cowok itu akhirnya melingkarkan tangannya di tubuh Aurora Grey yang terasa bergetar—membalas pelukan gadis itu dengan perhatian.

"Jangan nangis, aku kan udah pulang."

Sementara di tempatnya, Aurora Grey hanya menggeleng dan menenggelamkan wajah cantiknya di dada Shayen Morgan. Mencengkram erat pakaian Shayen Morgan, seolah gadis itu takut kehilangan.

"Kangen, ya?" bisik Shayen Morgan perhatian, tentu itu bukan sebuah kalimat ejekan.

Perlahan Aurora Grey menggerakkan kepalanya untuk mengangguk, membenarkan. "Ba-banget," sanggah Aurora Grey tertahan karena sesenggukan.

Tanpa bisa ditahan, Shayen Morgan semakin melebarkan senyumannya. "Sama," gumam Shayen Morgan tanpa sadar.

"Kamu nggak pernah bales pesan aku!" celetuk Aurora Grey mengutarakan kekesalannya pada sang pacar.

"Nggak pernah ngabarin!" imbuhnya.

"Iya. Maaf ya, Rora."

"Kenapa sih, kamu lama banget di sana!"

Aurora Grey semakin merasa sesak ketika merasakan Shayen Morgan memeluknya erat sambil mengusap punggungnya dengan sabar. "Aku kan kuliah, di sana."

"Kamu nggak kangen sama aku?"

"Kangen, Rora." Shayen Morgan berbisik dengan lembut di telinganya. "Jangan nangis, nanti nggak cantik lagi."

Mendengar itu Aurora Grey mengadahkan kepalanya sambil menatap Shayen Morgan dengan kedua mata basah. "Se-sekarang masih cantik?" tanya Aurora Grey dengan nafas tersedat.

Jemari Shayen Morgan terulur untuk menghapus jejak air mata di wajah Aurora Grey. "Cantik," puji Shayen Morgan membalas sorot mata Aurora Grey dengan gemas.

Sial! Aurora Grey selalu berhasil membuat seorang Shayen Morgan, yang kaku dan dingin luluh dengan sikapnya.

"Udah ya, nangisnya?" ucap Shayen Morgan menenangkan, sementara Aurora Grey tengah menyeka hidungnya yang basah dengan pakaian Shayen Morgan.

Cowok itu membiarkannya saja. Sudah menjadi hal yang biasa sejak dulu.

Memori ketika mereka menonton film bersama setelah pulang sekolah bersama, menguar. Di mana Aurora Grey yang selalu berakhir menangis, karena baper—akan menyeka air mata dan ingusnya dengan dasi sekolah milik Shayen Morgan.

"Jangan nangis lagi, ya?" pinta Shayen Morgan sebelum merapikan surai pendek gadis itu yang tampak sedikit berantakan karena hembusan angin sore itu.

Aurora Grey menggeleng tidak setuju. "Masih kangen." gumam Aurora Grey malu-malu sebelum kembali mendekat.

Menempelkan keningnya di dada cowok itu. Persetan dengan harga diri—lagi pula, ketika bersama Shayen Morgan gadis itu selalu bertingkah manja.

Semua masih sama, tidak ada yang berubah. Akan Aurora Grey pastikan mereka tetap seperti ini sampai kedepannya. Tapi memangnya dia mampu?

Tanpa keduanya sadari, sebuah motor melaju—melewati sepasang kekasih itu dengan kecepatan di atas rata-rata.

Seminggu berlalu.

Aurora Grey benar-benar membuktikan ucapannya, untuk berubah menjadi murid yang lebih baik. Gadis itu ingin meningkatkan nilainya dengan bersungguh-sungguh. Aurora Grey jelas tidak terpengaruh dengan godaan setan seperti Alberto dan Rami—yang selalu menghasutnya agar kembali ke jalan yang buruk dan menyontek.

Nggak! Pokoknya Aurora Grey harus jadi orang jujur selama seminggu penuh.

Gila sih! Peletnya Shayen Morgan terbukti manjur. Dasar bucin!

"Kalau ini gimana?" Lagi-lagi Aurora Grey menanyakan sebuah soal yang dirinya rasa sulit kepada Shayen Morgan.

Yeah! Walaupun dari 30 soal, dirinya cuma bisa mengerjakan 7 soal. Itu pun belum tentu benar.

"Ini pakai rumus yang tadi, Persamaan garis sejajar."

"Garis 2x + y - 2 \= 0 kalau melalui titik (-2,3) jadinya gini ..." Aurora Grey menumpukan wajahnya di tangan, memperhatikan dengan sungguh-sungguh ketika Shayen Morgan menjelaskan pengerjaan soal di hadapannya.

"Hasilnya 2x + y + 1 \= 0, jawabannya B bukan C."

Aurora Grey mengangguk-anggukkan kepalanya.

Padahal mah, bingung doi.

"Kerjain nanti lagi, makan dulu!" ujar Shayen Morgan menarik buku-buku pelajaran milik Aurora Grey.

"Ish! Aku belum paham beneran tau, cuma pura-pura ngerti," keluh Aurora Grey ketika Shayen Morgan meletakkan sepiring pasta di hadapannya.

"Nanti aku jelasin lagi." Seketika wajah Aurora Grey berubah menjadi cerah.

Ya gimana nggak cerah, orang selama seminggu ini semua tugas dan materinya dibantu kerjakan oleh sang pacar. Duh! Enaknya punya pacar pinter. Tapi ya gitu... Aurora Grey sering ngerasa insecure sama Shayen Morgan. Dirinya jelas tidak sebanding dengan Shayen Morgan jika dilihat dari sisi manapun.

"Kamu kok bisa pinter banget, makan apa?" tanya Aurora Grey, random.

"Makan buku."

"Ish! Serius tau!" desis Aurora Grey sebal dengan jawaban dari Shayen Morgan.

"Makan nasi, Rora."

"Kok kamu mau sih, pacaran sama aku." Shayen Morgan hampir tersedak mendengar penuturan tiba-tiba dari Aurora Grey.

"Kenapa?" sanggah Shayen Morgan tanpa ekspresi berarti.

Aurora Grey menunduk menatap piring makanannya, menghindari sorot mata Shayen Morgan yang semakin membuatnya canggung untuk berbicara. "Aku kan bodoh El, nggak pinter kayak kamu."

"Aku juga nggak cantik-cantik amat! Di Boston pasti banyak yang lebih cantik dan pinter dari aku. Kamu nggak ada niatan buat selingkuh?"

Aurora Grey mengangkat wajahnya mendapati Shayen Morgan tidak kunjung menyahut. Cowok itu belum bersuara. Sesaat gadis itu terkejut mendapati tatapan dingin yang Shayen Morgan layangkan kepadanya.

"Kamu mau aku selingkuhin?" tawar Shayen Morgan yang membuat Aurora Grey menggigit bibir bawahnya diam-diam.

"Ya... ng-nggak apa-apa... kalau kamu mau," bisik Aurora Grey mulai sadar diri.

Kesalahannya yang melibatkan Kay Morgan jelas tidak bisa dimaafkan, jika Shayen Morgan sampai tahu. Dan sebelum itu terjadi, Shayen Morgan juga boleh melakukan hal yang sama. Setidaknya dirinya juga harus sama sakitnya dengan Shayen Morgan nantinya.

"Nggak mau." Sanggahan tegas dari Shayen Morgan itu sukses membuat Aurora Grey mengangkat wajahnya, membalas tatapan cowok itu dengan sungguh-sungguh. "Buang-buang tenaga, satu aja udah pusing. Gimana kalau dua?"

"Kamu pusing pacaran sama aku?" sahut Aurora Grey tersinggung.

"Iya, kamu buat aku kepikiran terus."

Sumpah! Shayen Morgan bukan jenis orang yang gemar melemparkan sebuah kalimat picisan agar terlihat romantis, karena semua yang keluar dari mulut cowok itu selalu tulus, apa adanya. Pastilah cowok itu tidak sadar, jika saat ini Aurora Grey tengah meremas ujung pakaiannya sendiri, menahan diri untuk tidak tersenyum.

Teriak boleh nggak sih?

"Kamu suka mikirin aku?" pancing Aurora Grey seraya senyum-senyum nggak jelas.

"Iya," jawab Shayen Morgan jujur dan seperti biasa dengan wajah datar kayak triplek.

"Kenapa?" tanya Shayen Morgan yang kebingungan melihat Aurora Grey senyum-senyum kayak cacing kepanasan.

"Nggak apa-apa. Cuma lagi baper," jawab Aurora Grey yang hanya dibalas anggukan dari Shayen Morgan. "Oh." Detik selanjutnya Shayen Morgan kembali menyantap makanannya dengan tenang.

Dih! Masih aja jadi kulkas berjalan, ini orang!

"Kamu nggak ada oleh-oleh buat aku?" Lagi-lagi Shayen Morgan hanya menggeleng, sementara Aurora Grey kembali mendengus kesal.

"Ck! Nggak romantis banget." Shayen Morgan dengar sindiran itu, tapi dia hanya cuma diam dan mengangguk membenarkan.

Ya gimana dong, dia nggak romantis aja Aurora Grey bisa bucin setengah mati, gimana kalau dia romantis? Ngajakin nikah pasti si Rora.

"Kamu mau lanjut kemana?" tungkas Shayen Morgan tiba-tiba.

"Lanjut apa?"

"Kuliahnya. Kamu rencananya mau kuliah di mana?" Mendapat pertanyaan seperti itu, kedua mata Aurora Grey jadi bergerak tidak fokus.

"Aku masih kelas 11, belum kepikiran lah!" decak Aurora Grey sebelum memasukkan makanan ke mulutnya.

Sebelumnya, saat ini mereka tengah berada di salah satu restoran pinggir jalan.

"Mulai dipikirin dari sekarang, Rora. Nanti kalau udah kelas 12 tinggal fokus buat UTBK."

"Iya-iya!" ujarnya seraya mengaduk-aduk makanannya.

Jadi nggak selera makan, kan!

"Kamu ... mau lanjut di Boston lagi, ya?" gumam Aurora Grey hati-hati.

"Nggak. Lanjut kuliah di sini."

"SUMPAH?!" teriak Aurora Grey histeris sambil gebrak meja. Kaget dong Rora.

Sesaat Shayen Morgan melirik ke sekitar ketika beberapa orang menoleh ke meja mereka, akibat ulah Aurora Grey. "Iya. Aku pengen daftar UI, tapi nggak bisa tahun depan. Aku mau tunda dulu."

Aurora Grey tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum senang. "Jadi kita nggak LDR lagi?"

"Iya, kalau kamu masih mau pacaran sama aku."

"Mau kok!" serunya yang membuat Shayen Morgan menatapnya dengan sorot mata geli.

"Btw... kenapa kamu nunda kuliah?"

Shayen Morgan mengalihkan pandang ke arah lain. "Nggak apa-apa, itung-itung istirahat," bohongnya yang sukses membuat Aurora Grey mengangguk mengerti.

Aurora Grey menghela nafasnya, mendadak merasa sangat kecil jika melihat rencana hidup Shayen Morgan yang seolah sudah tertata rapi. Tidak sepertinya. Bayangan ingin jadi apa saja tidak ada.

Bahkan rumus logaritma, dia nggak hafal.

"Enak ya jadi orang pintar, pilih Universitas tinggal nunjuk. Kamu pasti keterima di UI, El." Aurora Grey berujar dengan yakin.

"Kamu mau daftar UI? Biar kita bisa daftar bareng."

Langsung saja Aurora Grey menggeleng. Hampir saja dirinya tertawa. "Ish! Kamu lupa apa, kalau pacar kamu ini bodoh—"

"Nggak bodoh, cuma males," sela Shayen Morgan.

"Sial!" umpat Aurora Grey yang membuat Shayen Morgan mengangkat sebelah alisnya.

"Jangan ngomong kasar, Rora." Aurora Grey senyum manis mendengar peringatan itu.

Duh! Suka kelepasan ngomong kasar emang dia. Soalnya ngomong kasar kan enak.

"Kelepasan hehehe..." katanya sambil nyengir.

Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terlintas di kepala Aurora Grey. "Masuk UI pake sogokan bisa nggak ya, Shayen?"

Pemuda itu hanya menggelengkan kepala saja.mereka terus mengobrol santai,

***************

Waktu berlalu begitu cepatnya keesokannya harinya..

Bunyi pantulan bola terdengar jelas, bersahutan dengan teriakan gadis-gadis yang menyemangati di pinggir lapangan.

"Mau ngeliatin dia sampe mata lo keluar juga nggak bakal dapet kalau lo cuma anteng, Kay!" sindir Kael William lumayan lantang, seraya merebut bola basket dari tangan Kay Morgan.

Cowok itu men-dribblenya sebelum melakukan shooting untuk mencetak poin.

Langsung saja gemuruh dari bucinnya Kael William berkobar.

Kay Morgan mendengus ketika Devandra—yang berada di tim Kael William—mengejeknya. Cowok itu juga mengarahkan jempolnya ke bawah mendapati wajah Kay Morgan semakin berubah masam.

"Adek Kay lagi galau, ya?" celetuk Devandra yang dihadiahi tatapan tajam oleh Kay Morgan.

Bukan apa-apa, hanya saja Aurora Grey baru saja lewat di lorong kelas bersama teman-temannya. Devandra yakin, gadis itu lah yang mencuri atensi milik Kay Morgan sampai lengah dari serangan Kael William.

"Mampus! Galau kayak tai," imbuh Kael William ikut memanas-manasi. "Makannya minta maaf!"

Digo yang baru saja menerima Chest pass dari Tristan, sesaat melirik ke arah Kay Morgan. "Nyakitin bisa, masa minta maaf nggak bisa?"

"Ya nggak, Tristan?" Jangan harap cowok itu akan menggubris Digo, karena Tristan hanya melirik sekilas sebelum berlari merebut bola dari arah kiri.

"Ya Allah Tristan! Lo reinkarnasinya Limbad apa gimana? Tiap diajak ngomong, diem terus!" gerutu Digo kehabisan kesabaran.

"Hahahaha ... mampus! Tristan cuma ngomong sama orang-orang penting," sahut Devandra menertawakan kekesalan Digo.

Digo langsung tersenyum licik. "Berarti lo juga nggak penting, Setan!"

"Bajingan!" umpat Devandra menyadari kalau Digo ada benarnya.

Kelimanya kembali bermain Basket, sampai kedatangan Sofia dan Brina yang membelah kerumunan membuat mereka menoleh.

Melihat sosok Ruka mendekat, Devandra, Digo, serta Kael William mendelik-panik. "Bayar duit Pensi!" bentak gadis itu ketika telah sampai ke dalam lapangan.

"Nanti! Duit gue di kelas."

"Sama, Ruka!"

"Dari kemarin lo pada ngomongnya gitu! Bayar sekarang aja!" titah Jennie galak. Maklum, kesel banget doi kalau harus nagihin duit dari gembel-gembel kayak mereka bertiga.

"Bayar cepet!"

"Nanti ya, neng geulis! Abang Devandra lagi nggak punya duit."

"Najis lo, Dev!" umpat Jennie sebelum beralih kepada Kael William dan Digo. "Duit Pensi, mana?"

Selama 10 menit, Kay Morgan dan Tristan hanya diam memperhatikan ketiga temannya memberikan banyak alasan kepada dua gadis itu. Jika kalian tanya kenapa Tristan nggak ikut kena sambar—itu karena doi udah bayar duit pensi jauh-jauh hari. Kalau Kay Morgan sih masih kelas 11, jadi nggak disuruh bayar.

Ruka sebagai perwakilan dari ekskul Cheers serta penanggung jawab uang kas untuk Pensi bersama Jennie, sebenarnya males banget sama orang-orang kayak mereka. Udah ditagih dari kemarin nggak bayar-bayar.

Sekarang Ruka dan Jennie nggak bakal biarin tiga curut itu lolos.

"Gitu aja, lama!" dengus Ruka setelah berhasil merampok ketiganya.

"Buat beli bensin nanti, Ruka."

"Bodo amat!"

Tak lama gadis itu melangkahkan kaki keluar dari lapangan. Duh! Nggak tahan dong kalau panas-panasan di sana. Melihat Ruka nyelonong gitu aja, mereka mengerutkan dahinya—bingung.

Ada yang kurang dari Queen Bee SMA Garuda Indonesia itu.

"Eh! Neng Ruka nggak godain adek Kay Morgan lagi?" seru Devandra terheran-heran.

Mendengar itu, Ruka menoleh sekejap. Lantas menggeleng tanpa minat. "Gue mau fokus UTBK! Males ngejar-ngejar yang nggak pasti." Jawaban dari Ruka itu membuat semua orang tercengang.

Sementara Jennie yang emang udah gedeg banget sama tingkah Ruka, lantaran terus ngejar-ngejar Kay Morgan sampai kayak nggak ada harga dirinya, tersenyum puas.

Selepas kepergian kedua gadis cantik itu, Devandra melebarkan mulutnya bersama Digo. Keduanya bertepuk tangan heboh setelahnya.

Ini sih namanya sejarah!

Ya gimana dong, mereka udah lebih dari satu tahun jadi saksi bisu kebucinan Ruka ke Kay Morgan. Dari sekian gadis yang naksir Kay Morgan, cuma Ruka yang tahan sama tolakan serta kekejaman dari cowok itu. Pokoknya definisi tahan banting banget lah!

"Sukurin lo, Kay! Ditinggal Neng Ruka."

"Bodo!" balas Kay Morgan yang nggak ada nyesel-nyeselnya.

Kael William terkekeh kecil. "Jangankan Ruka, Devandra! Ditinggal sama Raisa juga Kay Morgan bodo amat!" sahut Kael William melebih-lebihkan.

Digo tersenyum licik, cowok itu melirik ke arah Kay Morgan yang hanya diam di tempatnya. "Iya lah! Kay Morgan kan sukanya sama..."

"RORA!!!" teriak semuanya sebelum tertawa puas.

Kay Morgan mendadak cengo kayak orang bego. Mukanya juga merah, membuat teman-temannya semakin tertawa puas. Cowok itu kaget.

Masa iya, dia suka sama Rora?

Tiba-tiba Gerombolan Kay Morgan dibubarkan oleh Pak Budi yang mendapati mereka berkumpul dan bermain basket bersama. Ingat kan peraturan baru yang tidak memperbolehkan mereka berkumpul bersama? Bukan apa-apa, hanya saja para guru sebisa mungkin harus mengantisipasi kenakalan mereka.

Apa lagi setelah skandal besar yang mereka perbuat.

"Sekarang bubar! Masuk kelas masing-masing!" bentak Pak Budi galak. Menatap satu persatu murid yang berdiri berjajar di hadapannya.

Gadis-gadis yang semula jadi tim hore kelimanya mendadak raib alias udah pada kabur.

"Iya, Pak!" jawab mereka, serempak. Ketika mereka berniat keluar dari lapangan, tiba-tiba saja Pak Budi memanggil nama salah seorang di antara mereka.

"Kay Morgan, ikut bapak sebentar!" Mereka saling melempar tatapan bingung, namun dengan cepat mendorong Kay Morgan untuk menghadap Pak Budi—seolah menjadikan cowok itu sebagai tumbal.

Lantas keempatnya pergi keluar lapangan untuk pergi ke kantin.

"Kamu sudah ketemu Pak Ginanjar?" tanya Pak Budi, tiba-tiba.

Kay Morgan yang sudah menghadap pria paruh baya itu menggeleng kecil. "Belum sempat ketemu, Pak."

"Bocah sontoloyo! Belum sempat ketemu atau nggak mau ketemu?"

"Belum sempat, Pak," balas Kay Morgan kalem.

"Kamu tau kan, Pak Ginanjar mau bicarakan apa sama kamu?"

Kay Morgan mengangguk kecil. "Jangan menyia-nyiakan kesempatan bagus seperti ini, Kay Morgan. Mumpung masih kelas sebelas, jadi belum sepadat dan sesibuk kelas dua belas jadwalnya."

"Lagi pula kamu sudah tidak ikut OSIS lagi, jadi pasti banyak waktu luangnya. Daripada digunakan buat kumpul-kumpul nggak jelas sama teman-teman kamu itu, bukannya lebih baik kalau digunakan buat gali potensi taekwondo kamu?"

Lagi-lagi Kay Morgan hanya mengangguk. Cowok itu mendengarkan dengan baik-baik. Diam-diam dirinya juga membenarkan apa yang Pak Budi katakan kepadanya.

Jujur saja, Kay Morgan bukan tipikal orang yang pintar sekali dalam pelajaran. Secara akademik, kemampuannya standar—yaah, nggak goblok-goblok banget. Nggak sepintar kakaknya juga. Kalau beneran merhatiin ya pasti ngerti, kalau nggak ya... gitu.

Jadi, terbesit pikiran untuk Kay Morgan mengikuti arahan gurunya. Lagi pula ketika dirinya kelas sepuluh dan belum sebadung ini, cowok itu sering mengikuti perlombaan taekwondo antar sekolah dan provinsi.

Memang sehebat itu dirinya. Tapi mendadak ketika kelas 11, Kay Morgan jadi malas ikut-ikutan lomba begitu. Maklum, sibuk OSIS. Kalau sekarang, Kay Morgan kan free alias udah di-kick dari kedudukannya sebagai ketua OSIS.

Kecewa sih pasti, nyesel juga. Dikeluarin dari organisasi karena masuk penjara dan terlibat aksi kekerasan. Bahkan dicap sebagai kriminal. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya memang salah. Tidak bisa dibantah, itu konsekuensi yang harus dirinya terima.

"Udah, begitu ya Kay Morgan. Mengerti maksud bapak kan?"

"Iya, Pak!" sahut Kay Morgan seraya mengangguk kecil.

Pak Budi lantas menepuk-nepuk bahu muridnya itu. "Bapak tidak keberatan kamu nakal! Itu wajar, anak cowok terus masih kelas 11 kalau nggak nakal, malah aneh."

Kay Morgan tersenyum canggung.

"Tapi ingat, semua ada batasannya. Intinya, jangan rusak masa depan. Yang lalu biarkan saja, anggap aja pelajaran."

"Kamu nyesel, kemarin?" Kay Morgan mengangguk membenarkan.

"Nyesel, Pak! Saya minta maaf," ujarnya sopan dan bersungguh-sungguh.

"Bagus kalau menyesal. Jangan diulangi lagi! Semua orang pantas dapat kesempatan kedua, sekarang buktikan ke teman-teman kalau kamu juga pantas dapat itu."

"Ngerti?" Tanpa sadar Kay Morgan menaikkan pandang, menatap sorot mata guru olahraganya itu dengan sendu.

Entah bagaimana, satu-satunya orang yang mengajarinya tentang kesempatan kedua adalah orang asing.

"Ngerti, Pak! Terima kasih," gumam Kay Morgan seraya mengulum senyum tipis.

"Bapak ke kantor dulu! Kamu boleh pergi," ujar Pak Budi sebelum pergi dari hadapan Kay Morgan.

Setelah itu Kay Morgan termenung.

Kesempatan kedua?

Kay Morgan tersenyum miris diam-diam. Apa orang kayak dia pantes dapetin itu?

1
falea sezi
🤣 harusnya Rora di buat jago beladiri🤣🤣 ini menye menye bgt 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Prettygirls: Hmm belum tau aja,masih polos2 itu
total 1 replies
Prettygirls
Serius yahh udah ku update 🤣
falea sezi
lanjut q kirim bunga🤣
Prettygirls
Hi kak falae bantu like yah biar semangat terus nulisnya🙏
falea sezi
🤣🤣🤣🤣kau bkin baper semua tau🤭
Enz99
bagus
Prettygirls: Terima kasih kak jangan lupa baca buku yg cinta terlarang diantara kita saudara tiri🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!