Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32.Titah yang berubah.
Detik itu terasa berlangsung selamanya. Li Hua dan Li Yun masih berdiri terpaku, wajah mereka masih sangat dekat satu sama lain. Tidak ada yang berani bergerak sedikit pun, kedua orang itu sama-sama menahan napas, jantung berdebar kencang hingga terdengar jelas di telinga masing-masing. Pipi Li Hua terasa panas membara, matanya terbelalak menatap manik mata Li Yun yang juga belum berkedip. Ia ingin mundur, tapi kakinya terasa berat seakan tertanam ke dalam tanah. Li Yun pun tampak sama terpukauannya, matanya menatap bibir gadis itu sejenak sebelum kembali bertemu pandang, napasnya terasa lebih berat dari biasanya.
Keheningan yang manis namun menegang itu tiba-tiba pecah seketika oleh suara teriakan Qiao'er yang terdengar nyaring dari kejauhan.
"Nona! Nona Hua'er!"
Keduanya tersentak seketika, seakan tersadar dari mimpi yang sama. Mereka serentak melangkah mundur dengan tergesa-gesa, menjauh satu sama lain dengan wajah yang sama-sama memerah. Li Yun segera membalikkan tubuhnya, membelakangi Li Hua, tangannya ia lipat di depan dada berusaha terlihat tenang dan berwibawa meski telinganya terasa panas. Li Hua menunduk, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah padam.
Belum sempat mereka menenangkan diri, Qiao'er berlari mendekat dengan napas terengah-engah, senyumnya lebar sekali, dan sama sekali tidak menyadari keanehan yang baru saja terjadi di antara mereka berdua.
"Nona! Ternyata hari ini aku tidak perlu ke dapur lagi lho! Nyonya Zhang menugaskan pelayan khusus untuk menyiapkan semua makanan di kediaman kita! Jadi aku bisa menemani Nona sepanjang hari!" seru Qiao'er riang, matanya berbinar gembira.
Li Hua menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu kencang, lalu memukul pelan bahu pelayannya itu.
"Dasar kamu... aku pikir ada gempa atau kebakaran, berteriak sekeras itu! Kaget aku dibuatnya," ucap Li Hua, mencoba terdengar biasa saja meski suaranya masih sedikit bergetar. "Kirain ada apa, ternyata cuma soal makanan."
Qiao'er tertawa cengengesan. "Maaf ya Nona, aku terlalu bersemangat tadi."
Syukurlah... itu hanya kecelakaan, batin Li Hua sambil menenangkan diri, namun pipinya masih terasa panas. Tapi... itu kan ciuman pertamaku. Dan harusnya dengan pria tipeku bukan Raja Iblis yang menyebalkan!
Tiba-tiba suara Li Yun terdengar dari belakangnya, sedikit canggung namun terdengar jelas. "Memangnya itu yang pertama untukmu?"
Li Hua menoleh cepat, matanya mengerjap bingung. "Hah? Apa maksudmu?"
Li Yun berdeham pelan, namun nadanya terdengar sedikit kesal. "Itu bukan yang pertama untukku."
Li Hua dan Qiao'er saling bertukar pandang, sama-sama bingung mendengar ucapan yang tiba-tiba itu.
"Apa yang pertama?" tanya Li Hua semakin bingung, dahinya berkerut. "Kau bicara apa sih, Pangeran?"
Qiao'er juga mengangguk setuju, menatap Li Yun dengan mata berbinar penuh tanya. "Iya, Pangeran, maksudnya apa ya?"
Li Yun terlihat seketika menyadari dia hampir saja mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak diucapkan. Dia berdeham lebih keras, membetulkan posisi kerah bajunya dengan tergesa-gesa, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya terlihat sedikit memerah, namun dia berusaha menutupinya dengan suara yang tegas.
"Ah... tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa lapar. Sudah cukup lama kita berdiri di sini. Ayo kita masuk dan sebelum dingin, Nona," ucapnya cepat, lalu tanpa menunggu jawaban dia langsung berjalan masuk ke kediaman dengan langkah yang sedikit terburu-buru, meninggalkan kedua gadis itu yang saling menatap bingung di belakangnya.
Li Hua menatap punggungnya yang menjauh dengan dahi berkerut. "Dia aneh sekali pagi ini. Tiba-tiba bicara begitu lalu pergi begitu saja."
"Mungkin Pangeran terlalu lapar, Nona," sahut Qiao'er sambil tersenyum. "Yuk, kita masuk juga."
Sementara itu, di kediaman Shi Yin yang sunyi dan sepi, An Fu bergerak senyap seperti bayangan. Tidak ada satu pun pelayan yang melihat kehadirannya. Dia menyelinap masuk melalui jendela samping yang sedikit terbuka, lalu dengan cekatan namun tetap tenang, dia meletakkan isi kantong kain itu ke berbagai sudut ruangan.
Pertama di dapur, di balik tumpukan kayu bakar. Lalu di gudang, di antara tumpukan kotak tua. Kemudian di kamar tidur Shi Yin — dia meletakkan beberapa ekor di bawah tempat tidur, satu di balik tirai jendela, dan bahkan dia berani memasukkan dua ekor ke dalam lemari pakaian Shi Yin, tersembunyi di balik lipatan gaun sutra kesayangannya. Setiap kali tikus itu bergerak, dia tersenyum tipis membayangkan wajah Nona Pertama saat menemukannya nanti.
"Nona Kedua benar-benar memiliki selera balas dendam yang unik... dan kejam," bisik An Fu pelan pada dirinya sendiri sambil menutup pintu lemari perlahan. "Mengetahui Nona Shi Yin sangat takut pada tikus, lalu meletakkannya di setiap sudut ruangan yang ia tempati. Ini bukan menyakiti tubuh, tapi melumpuhkan ketenangannya sepenuhnya. Pasti dia akan berteriak sekuat tenaga sampai seluruh kediaman mendengarnya.Pasti saat menemukan tikus-tikus itu dia akan membuat gempar kediaman nya."
Setelah memastikan tidak ada jejak yang tertinggal, An Fu menyelinap keluar kembali dengan keheningan yang sempurna. Tidak ada yang tahu dia pernah ada di sana. Kediaman Shi Yin tampak sama tenangnya dari luar, namun di dalamnya sudah menanti kejutan yang akan mengganggu hari dan malamnya dengan sangat efektif.
Waktu berlalu, matahari perlahan naik tinggi ke langit, menyinari seluruh kediaman besar Keluarga Zhang. Suasana pagi yang damai berlangsung sejenak, hingga tiba-tiba suara ketukan yang keras dan teratur terdengar di gerbang utama kediaman. Suara genta pemberitahuan kedatangan tamu penting berbunyi panjang dan nyaring, membuat semua orang yang berada di kediaman berhenti melakukan aktivitas dan saling berpandangan.
Tuan Zhang dan Nyonya Zhang segera berjalan keluar diiringi seluruh anggota keluarga yang ada, termasuk Li Hua dan Qiao'er yang baru saja selesai sarapan. Mereka semua berlutut di halaman depan, sesuai tata cara menyambut utusan dari istana kekaisaran.
Di hadapan mereka berdiri seorang kasim istana yang berpakaian rapi dan berwibawa, memegang gulungan kekaisaran dengan kedua tangannya. Dia membuka gulungan itu perlahan, lalu suaranya terdengar lantang menggema di seluruh halaman.
"Demi perintah Kaisar Agung — dengarkan titah ini! Putri Keluarga Zhang, Shi Yin, dinikahkan dengan Putra Mahkota negeri Tang liang sebagai jembatan persahabatan dan perdamaian. Dan untuk memperkuat ikatan persaudaraan antar negeri, Putri Kedua Keluarga Zhang, Li Hua, dinikahkan dengan Putra Mahkota Kerajaan Ye Lu sebagai putri mahkota. Semua persiapan pernikahan akan diurus oleh istana. Demikianlah titah Kaisar, laksanakan dengan sebaik-baiknya!"
Keheningan yang menyusul terasa begitu berat dan mengejutkan. Tuan Zhang dan Nyonya Zhang saling berpandangan dengan mata terbelalak tak percaya. Shi Yin yang baru saja keluar ke teras kamarnya mendengar itu dan langsung terpaku di tempatnya, mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar.
"P-Putra Mahkota...?" gumam Nyonya Zhang pelan, tangannya menutup mulutnya. "Hua'er akan menjadi putri mahkota...?"
Li Hua sendiri tertegun, jantungnya berdebar kencang namun bukan karena bahagia. Dia tahu persis apa yang terjadi selanjutnya dalam cerita buku itu. Pernikahan politik ini hanyalah awal dari bencana yang lebih besar.
Di sudut halaman yang agak jauh, Li Yun berdiri tegap mendengarkan setiap kata yang diucapkan kasim itu. Matanya menyala tajam, cengkeraman tangannya begitu kuat hingga urat-urat di pergelangan tangannya terlihat jelas. Dia tidak berlutut, hanya berdiri diam dengan tatapan yang penuh ketegangan. Saat kasim itu selesai membacakan titah dan pergi, dia berbalik cepat ke arah An Fu yang berdiri di belakangnya.
"An Fu," ucapnya rendah namun tegas, suaranya dingin dan berwibawa, sama sekali tidak seperti Li Yun yang mereka kenal selama ini. "Kirim utusan segera ke istana Tang Liang. Beritahu mereka aku kirim utusan untuk menjemput diriku pulang. Dan ingat harus sebelum acara pernikahan mereka diadakan,karena aku sendiri yang akan menyambut kedatangan kakak iparku."
An Fu membungkuk hormat, matanya berbinar bangga. "Siap, Pangeran. Segera akan saya laksanakan."
Li Yun melangkah pergi dengan langkah yang tegas dan cepat, menghilang di balik koridor panjang, meninggalkan Li Hua yang masih berdiri terpaku di tempatnya dengan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.