Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelan Matahari
Benturan pertama tidak menghasilkan suara ledakan, melainkan keheningan absolut yang menyedot seluruh udara dari Alun-Alun Pencerahan.
Saat pilar ketiadaan Kaelen berbenturan dengan badai cahaya emas Sang Kaisar, realitas di sekitar mereka terdistorsi. Pualam putih di bawah kaki mereka hancur menjadi partikel debu yang melayang lambat di udara, kehilangan gravitasinya. Gelombang kejut tak kasat mata menyapu keluar, memaksa armada Behemoth Darat seberat ratusan ton terdorong mundur sepuluh meter, roda rantainya menggores aspal dalam-dalam.
Jenderal Kael, Lyra, dan Silas terhempas ke geladak baja kendaraan mereka, mencengkeram apa pun yang bisa dipegang agar tidak tersedot ke dalam pusaran benturan tersebut. Pasukan Garda Kekaisaran yang masih hidup tersungkur ke tanah, beberapa dari mereka kehilangan kesadaran hanya karena merasakan tekanan energi dari dua entitas tersebut.
"Ini bukan pertarungan sihir..." Silas berteriak di tengah deru angin yang memekakkan telinga, matanya terbelalak ngeri menatap dua bayangan di tengah alun-alun. "Mereka merobek hukum fisika dunia ini!"
Di pusat kekacauan, Sang Kaisar tidak sedikit pun mengubah postur tenangnya. Jubah putihnya berkibar pelan, seolah ia hanya sedang berdiri di tengah hembusan angin musim semi. Ia mengangkat jari telunjuknya.
Akar-akar emas raksasa yang melayang di belakang punggungnya—akar dari Jantung Astral—berubah wujud. Ujung-ujungnya menajam menjadi ribuan tombak cahaya padat, lalu melesat menembus ruang dan waktu, menyerang Kaelen dari segala arah secara bersamaan. Itu bukan sekadar sihir elemen; itu adalah energi penciptaan murni yang bisa mengubah karbon menjadi berlian dalam sepersekian detik.
Kaelen tidak merunduk. Ia tidak menghindar.
Pemuda itu menghentakkan kakinya, memusatkan Domain Null pada gauntlet obsidiannya. Lengannya yang berlapis baja purba bergerak dengan kecepatan yang meninggalkan jejak bayangan ungu di udara. Setiap kali tombak emas itu mendekat, Kaelen menangkis, meninju, atau mencengkeramnya.
TRANG! CRAAAK!
Logam mekanis beradu dengan cahaya padat. Setiap kali cakar gauntlet Kaelen menyentuh akar emas tersebut, energi purbanya dimatikan, dipaksa hancur kembali menjadi ketiadaan. Kaelen berjalan maju, satu langkah demi satu langkah, merobek badai tombak cahaya itu dengan tangannya sendiri.
"Artefak yang luar biasa," suara Sang Kaisar bergema di dalam kepala Kaelen, lembut namun memuakkan. "Diciptakan oleh nenek moyang manusia yang ketakutan pada kesempurnaan. Tapi senjata itu memiliki kelemahan yang fatal, Kaelen. Senjata itu dipakai oleh makhluk biologi yang terbuat dari daging yang membusuk."
Kaisar membalikkan telapak tangannya.
Tiba-tiba, akar-akar emas itu berhenti menyerang gauntlet Kaelen. Alih-alih menusuk, akar-akar itu menyebar, mengelilingi Kaelen bagai sangkar raksasa, lalu memancarkan suhu panas yang setara dengan inti matahari.
Udara di sekitar Kaelen terbakar. Oksigen lenyap seketika. Jubah hitam Kaelen hangus menjadi abu yang berterbangan. Kulit di lengan kiri dan wajah Kaelen mulai melepuh hebat, memerah, lalu menghitam. Rambutnya terbakar. Gauntlet obsidiannya mungkin bisa menghancurkan sihir yang disentuhnya, tapi gauntlet itu tidak bisa melindungi sisi manusia Kaelen dari suhu ekstrem yang memanggangnya dari segala sisi.
"Kaelen!" Lyra menjerit dari kejauhan, mencoba bangkit berdiri, namun Jenderal Kael menahan tubuhnya kuat-kuat.
"Jangan ke sana! Kau akan menjadi abu sebelum menyentuh pelataran!" bentak Kael, wajahnya dipenuhi keputusasaan.
Di dalam sangkar cahaya yang mendidih itu, Kaelen berhenti melangkah. Otot-otot organ dalamnya menjerit. Paru-parunya terasa seperti menghirup kaca cair. Inti Leviathan di dadanya berputar sangat kencang, mengeluarkan peringatan mematikan ke dalam saraf otaknya.
Peringatan. Suhu biologis mencapai batas kritis. Kerusakan jaringan 60%. Kematian inang dalam 10 detik.
Kaelen menatap Sang Kaisar yang berdiri tanpa cela di ujung sana. Kaisar benar. Selama Kaelen masih berusaha mempertahankan tubuh manusianya—menahan rasa sakit, melindungi jantung dan paru-parunya—ia tidak akan pernah bisa memenangkan perang ini. Ia hanyalah manusia rapuh yang memegang senjata dewa.
Jika manusia tidak bisa membunuh dewa, batin Kaelen, kelopak matanya yang melepuh perlahan terbuka, maka aku akan berhenti menjadi manusia.
Kaelen memutus insting bertahan hidup biokimianya.
Menggunakan antarmuka gauntlet obsidiannya, Kaelen memaksa mesin itu untuk menyuntikkan energi netral langsung ke dalam tulang belakangnya. Ia membunuh rasa sakitnya sepenuhnya. Ia menonaktifkan kebutuhan paru-parunya akan oksigen dengan menggantinya menggunakan sirkulasi mana murni.
Sebuah suara derak mengerikan terdengar dari dalam tubuh Kaelen. Tulang-tulangnya retak dan mengeras, disusupi oleh serat-serat logam mikro dari gauntlet yang merambat naik hingga ke lehernya. Pendar biru pucat di Inti Leviathan meledak menjadi hitam pekat, mengisap seluruh warna di sekitarnya. Mata kiri Kaelen berubah total menjadi hitam layaknya jurang tanpa dasar, sementara mata kanannya menyala ungu menyilaukan.
Kaisar mengernyitkan alis untuk pertama kalinya. "Apa yang kau..."
Kaelen tidak lagi melangkah. Ia berteleportasi.
Bukan dengan sihir ruang, melainkan dengan menghancurkan resistensi ruang di depannya menggunakan Domain Null absolut. Dalam seperseribu detik, Kaelen telah menembus sangkar inti matahari itu tanpa mempedulikan dagingnya yang hangus, dan muncul tepat di hadapan Sang Kaisar.
Tangan kiri Kaelen yang melepuh dan berdarah mencengkeram leher Kaisar, menahannya di tempat.
Kaisar membelalakkan matanya yang bercahaya bintang. Tidak pernah ada satu makhluk pun yang bisa menyentuhnya selama ribuan tahun.
"Makhluk biologi ini," suara Kaelen bukan lagi suara manusia. Itu adalah dengungan frekuensi mesin purba yang saling bergesekan, membelah isi kepala Kaisar, "baru saja merobek lehermu."
Kaelen menarik lengan kanannya ke belakang. Gauntlet obsidian raksasa itu memancarkan pusaran vakum hitam yang melahap cahaya di seluruh alun-alun, menciptakan kegelapan malam di tengah siang hari.
Dengan kekuatan kinetik yang bisa membelah benua, Kaelen meninju tepat ke ulu hati Sang Kaisar.
BLAAAAAARRRR!
Dada Sang Kaisar meledak. Jubah putihnya hancur. Namun, alih-alih darah, tinju Kaelen menembus sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh rasi bintang dan cahaya nebula. Tubuh Sang Kaisar bukanlah daging. Itu adalah proyeksi dari Jantung Astral dunia itu sendiri. Seluruh urat nadi sihir di benua ini terhubung langsung ke dalam luka yang menganga di dada sang dewa.
Kaisar yang dadanya telah berlubang tidak mati. Ia tertawa, tawanya bergema dengan nada ribuan lonceng.
"Kau menghancurkan wadahku, Kaelen," bisik Kaisar, menatap lengan Kaelen yang tertanam di dalam pusaran nebula di dadanya. "Tapi aku adalah Jantung Astral. Aku adalah aliran sihir yang memberi hidup pada tanah ini, yang menumbuhkan tanaman, yang memberikan kehangatan. Jantungku ada di seluruh dunia ini."
Kaisar mencengkeram pergelangan tangan gauntlet Kaelen.
"Untuk membunuhku, kau harus menghisap seluruh sihir di dunia ini, Kaelen," lanjut Kaisar, senyumnya berubah menjadi seringai kemenangan yang mengerikan. "Kau harus mematikan Akar Magma di setiap klan. Kau harus mencabut nyawa planet ini. Kau harus menjerumuskan seluruh umat manusia kembali ke zaman kegelapan di mana mereka saling membunuh dengan batu. Apakah sang Pahlawan Ketiadaan sanggup melakukannya?"
Di belakang sana, Jenderal Kael dan Silas mendengar kata-kata itu melalui resonansi magis. Silas memucat hebat. Jika Kaelen menelan Jantung Astral, seluruh peradaban sihir akan runtuh. Jutaan orang yang bergantung pada alat medis magis, penghangat ruangan sihir, dan pertanian elemen akan mati. Ini adalah jebakan moral absolut.
Kaelen terdiam. Lengan obsidiannya masih tertanam di dalam dada Sang Kaisar. Wajah manusianya yang setengah hangus tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia menatap nebula bintang di dalam dada makhluk itu.
Lalu, Kaelen tersenyum asimetris. Sebuah senyuman kelam yang membuat tawa Sang Kaisar terhenti seketika.
"Zaman kegelapan?" bisik Kaelen, suaranya sedingin es abadi. "Kau mengira aku datang untuk menyelamatkan peradabanmu?"
Mata ungu Kaelen menyala buas.
"Dunia ini sudah busuk karena cahayamu. Aku tidak datang untuk menyelamatkannya. Aku datang untuk meresetnya."
Tanpa sedikit pun keraguan, Kaelen membuka polaritas Inti Leviathan hingga batas maksimal. Pusaran Null di dadanya dan di gauntlet obsidiannya bergabung menjadi satu pusaran singularitas raksasa—sebuah lubang hitam.
"TIDAK! KAU ORANG GILA!" raung Sang Kaisar, wajah tenangnya akhirnya hancur oleh kepanikan mutlak saat ia merasakan energi Jantung Astralnya disedot dengan rakus ke dalam tubuh Kaelen.
Kaelen menelan cahaya itu. Ia menelan seluruh energi magis di Ibukota. Ia menyedot kekuatan yang mengalir di seluruh benua. Di kejauhan, langit yang terang benderang mulai menghitam. Kristal-kristal sihir di pualam istana retak dan mati. Lilin-lilin abadi di seluruh rumah warga padam. Mesin Pemakan Dewa sedang melakukan apa yang diciptakan untuknya: mengakhiri era sihir.
Dan saat dunia di sekitarnya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan mutlak, Kaelen berdiri sebagai satu-satunya entitas yang tak tergoyahkan, mengubah kejatuhan umat manusia menjadi fajar baru yang akan dibangun di atas ketiadaan.