Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.

Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!

Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)

Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32: Taktik licik akuntan modern dan jatuhnya mental pasukan istana

Pangeran Mo Cheng berdiri tegak di undakan kereta kuda dengan tangan bertumpu pada gagang pedangnya. Jubah zirah ringannya berkilau di bawah terik matahari siang, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat para warga yang mengantre di gerbang kota langsung mundur teratur karena ketakutan.

Di hadapannya, Wakil Panglima Liu yang mengenakan zirah emas mengkilap tampak menunggangi kuda dengan dagu terangkat angkuh. Namun, jika dilihat lebih dekat, jakun pria itu naik-turun menelan ludah secara kasar saat mata elang Pangeran Mo Cheng mengunci pergerakannya.

"Yang Mulia Pangeran Mo Cheng," sapa Wakil Panglima Liu dengan nada yang dibuat sehormat mungkin, meski senyumnya tampak penuh kepalsuan. "Hamba hanya menjalankan perintah resmi dari kediaman Perdana Menteri. Akhir-akhir ini, banyak penyelundup zat terlarang yang mencoba masuk ke ibu kota. Demi keamanan kekaisaran, hamba harus memeriksa seluruh kereta tanpa terkecuali. Termasuk... kereta besi tertutup di belakang Anda."

Xie Jian yang berdiri di samping kuda pangeran sudah menumpangkan tangannya di gagang pedang, siap menebas kepala pria angkuh itu jika sang jenderal memberi perintah.

Sementara itu, di dalam kereta, otak Xie Yufei sudah berputar dengan kecepatan tiga ratus kilometer per jam.

(Waduh, waduh! Ini namanya pemblokiran sepihak tanpa surat perintah dari pengadilan tertinggi kekaisaran! Kalau Mas Jenderal langsung main tebas pedang, Perdana Menteri licik itu pasti bakal pakai momen ini buat memfitnah Mas Jenderal di depan Kaisar dengan tuduhan pemberontakan atau penganiayaan pejabat publik. Gak bisa! Mas Jenderal gak boleh kemakan provokasi murahan ini. Harus dilawan pake jalur hukum dan sanksi sosial alias cancel culture versi dinasti kuno!)

Yufei buru-buru mendekati jendela kereta, menyibak tirai sedikit, lalu berbisik dengan suara yang cukup keras agar bisa didengar oleh Pangeran Mo Cheng dan Xie Jian.

"Abang Jian! Cepat kumpulkan beberapa prajurit logistik! Ambil kertas perkamen kosong dan kuas, lalu tulis dengan huruf besar-besar di papan pengumuman darurat!" bisik Yufei dengan mata berbinar licik.

Xie Jian menoleh dengan bingung, begitu pula Pangeran Mo Cheng yang diam-diam menajamkan pendengarannya untuk menangkap isi kepala gadis ajaib itu.

(Hehehe, mari kita bikin panggung drama publik! Tulis di papan itu: 'PENGUMUMAN: Akibat pemeriksaan sepihak tanpa alasan logis oleh Wakil Panglima Liu, gerbang kota ditutup total untuk rakyat jelata. Distribusi beras, sayur, dan pasokan air bersih untuk warga ibu kota akan terlambat hingga tiga hari ke depan. Silakan salurkan protes Anda ke kediaman Perdana Menteri.' Biar tahu rasa lo! Di dunia modern, trik bikin macet jalanan demi kepentingan politik itu bakal langsung diamuk massa satu negara!)

Mendengar taktik boikot sosial yang sangat licik namun luar biasa efektif di dalam otak Yufei, Pangeran Mo Cheng hampir saja kehilangan kendali atas wajah datarnya. Dia melirik Xie Jian dan memberikan anggukan samar yang sangat tipis.

Xie Jian yang dasarnya memang cerdas, langsung menangkap maksud tersebut. Tanpa membuang waktu, dia memerintahkan tiga prajuritnya untuk berteriak dengan lantang ke arah ratusan warga kota yang sedang mengantre di belakang mereka.

"Wahai rakyat ibu kota!" teriak Xie Jian dengan suara internal yang bergaung kuat. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini! Rombongan militer Pangeran Mo Cheng yang baru saja pulang membasmi ancaman di Hutan Terlarang sengaja ditahan di sini! Akibat pemeriksaan dari Wakil Panglima Liu ini, gerbang tidak akan dibuka untuk siapa pun sampai besok pagi! Pasokan logistik makanan kalian hari ini terpaksa tertahan di luar!"

Mendengar teriakan itu, ratusan warga kota yang tadinya diam ketakutan langsung kasak-kusuk heboh. Suasana gerbang kota yang tadinya tegang berubah menjadi riuh rendah penuh protes.

"Apa?! Pasokan beras kami tertahan?!"

"Kami sudah mengantre sejak subuh! Kenapa Wakil Panglima Liu malah mempersulit keadaan?!"

"Pangeran Mo Cheng baru saja menyelamatkan kita dari serangan Hutan Terlarang, kenapa malah diperiksa seolah beliau penjahat?!"

Sorakan ketidakpuasan dari warga mulai menggema, menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi pasukan penjaga gerbang. Wajah Wakil Panglima Liu yang tadinya angkuh, kini mendadak berubah menjadi pucat pasi. Dia tidak menyangka pasukan khusus Pangeran Mo Cheng akan menggunakan trik mengadu domba mereka dengan opini publik masyarakat seperti ini.

Pangeran Mo Cheng melangkah satu undakan ke depan, menatap Liu dari atas dengan senyuman dingin yang sangat mengintimidasi.

"Bagaimana, Wakil Panglima Liu?" ucap Pangeran Mo Cheng, suaranya pelan namun menusuk hingga ke tulang. "Apakah kau ingin tetap melanjutkan pemeriksaan sepihakmu ini di depan seluruh rakyatku yang mulai kelaparan, atau kau ingin aku melaporkan tindakan penahanan logistik militer ini langsung ke hadapan Ayahanda Kaisar sekarang juga?"

Tubuh Wakil Panglima Liu langsung gemetar di atas kudanya. Di belakangnya, ratusan warga sudah mulai melempar sayuran busuk dan batu kecil ke arah pasukannya sebagai bentuk protes. Jika situasi ini diteruskan, posisinya sebagai wakil panglima bisa dicopot besok pagi karena memicu kerusuhan massal di gerbang kota.

"Hamba... hamba tidak berani! Ini pasti hanya salah paham, Yang Mulia!" ucap Wakil Panglima Liu dengan terbata-bata, nyalinya menciut total. Dia buru-buru turun dari kudanya dan membungkuk dalam-dalam. "Buka gerbang! Cepat buka gerbang utama dan biarkan rombongan Pangeran Mo Cheng lewat terlebih dahulu!"

Para penjaga gerbang dengan panik langsung menarik tuas besi, dan gerbang megah Ibu Kota Kekaisaran akhirnya terbuka lebar tanpa ada satu pun kereta yang berani mereka sentuh.

Kereta kuda mewah kembali melaju perlahan, memasuki area ibu kota yang ramai dan megah, meninggalkan Wakil Panglima Liu yang masih sibuk menahan amarah publik di belakang.

Di dalam kereta, Yufei langsung melakukan selebrasi kemenangan dengan gaya heboh di dalam hatinya:

(YESSS!!! Netizen dinasti kuno emang gak ada lawan kalau soal urusan perut! Mampus lu Wakil Panglima Liu, makanya jangan main-main sama kekuatan hukum opini publik! Saham Mas Jenderal naik lagi, dan masa depan skincare premium gue semakin di depan mata! Ibu kota, Royal Glow by Yufei datang.)

Pangeran Mo Cheng yang baru saja kembali masuk ke dalam kereta dan menutup pintunya, langsung menatap Yufei dengan pandangan yang sangat intens dan penuh rasa kagum tersembunyi.

"Taktik yang sangat kotor, Nona Xie," ucap Pangeran Mo Cheng dengan nada suara beratnya, namun matanya memancarkan binar geli yang sangat jelas. "Tapi aku harus mengakui... itu adalah cara paling efisien untuk membungkam anjing-anjing Perdana Menteri tanpa perlu mengotori pedangku."

DEG!

Yufei yang sedang asyik merayakan kemenangan langsung tersedak ludahnya sendiri saat menyadari Mas Jenderal menatapnya dengan senyum tipis yang super menawan dari jarak dekat.

(Aduh... Mas Jenderal kalau lagi natap penuh penghargaan gini kenapa auranya malah makin mirip oppa-oppa Korea di drama romantis sih?! Jangan senyum mulu napa Mas, jantung gue belum siap dapet serangan fajar di siang bolong begini!)

Telinga Pangeran Mo Cheng perlahan kembali memerah mendengar istilah 'oppa-oppa Korea' dari pikiran Yufei, namun dia memilih untuk tetap mempertahankan wibawanya saat kereta mereka mulai memasuki area jalanan istana kekaisaran yang penuh dengan intrik baru yang lebih besar.

1
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦kocak....kocak
paijo londo
🤭🤭🤭yeee pangeran mo Cheng salah tingkah tuh
Siskasuryaningsih
bagus thor, tapi jangan terlalu lebay iya thor, mcam novel mu yg lalu
heldahell: novelku yg mana ya kak? apa udah ku hapus ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!