Emily tidak sengaja menemukan seorang pria terbawa arus sungai dalam keadaan lemah. Berusaha menyelamatkan seorang pewaris besar, dan takdir membawa mereka saling terpikat.
Namun sayangnya, tak selamanya Joshua bisa berada dekat dengan Emily meskipun rasa nyaman telah bersemayam. Kenyamanan singkat itu membuat hati Joshua tersentuh, namun harapannya harus kandas saat mengetahui bahwa Emily di bawa pergi untuk pindah ke kota.
Tanpa sengaja mereka bertemu di sebuah bar ketika Emily sedang menjadi pelayan. Pekerjaan yang acap kali membuat wanita itu sering dipandang sebelah mata. Bahkan label wanita kupu-kupu malam tersemat di akhir namanya.
Dapatkah Emily mendapatkan hidup dan cinta dalam pernikahan yang lebih sempurna? Begitupun dengan Joshua, apakah cinta yang dulu membuat Joshua terpikat masih tersisa setelah ia tahu bahwa Emily bukan wanita dari kalangan yang sederajat dengannya? Lalu dapatkah sang pewaris bertahan hidup dengan statusnya ketika pengkhianat berada di dekatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meldy ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Joshua
Joshua yang sedang terduduk diam sembari beristirahat sejenak setelah mengerjakan beberapa proyek yang hampir siap, tiba-tiba ia dikejar dengan kedatangan istirnya.
Senyuman bahagia membuatnya senang saat melihat kehadiran istrinya itu. Ia langsung menyambut dengan penuh semangat sembari memberikan ciuman dan pelukan mesra.
"Sudah bertemu dengan Santi, Sayang?"
"Udah, Yang. Tadi itu memang aku dan Santi sedikit berdebat karena ternyata dia mendengar banyak hal buruk tentangku dari Alona dan juga beberapa karyawan di sini. Mungkin saja memang mereka tidak suka denganku atas pencapaian yang telah aku raih, tapi sudahlah semuanya sekarang sudah membaik. Santi juga memberikan kita sebuah fakta yang baru," sahut Emily sembari memperlihatkan ponselnya.
"Baguslah kalau kedekatan kalian kembali membaik, Sayang. Tapi, apa yang Santi berikan itu? Ponsel? Maksudnya untuk apa ponsel ini?" Joshua terheran.
"Tunggu sebentar, ya. Aku akan memperlihatkan sebuah fakta dan itu juga membuatku sangat tidak menyangka."
"Baiklah, Sayang. Aku ingin melihatnya sekarang."
Terlihat Han membuat rencana baru untuk kembali mencelakai Joshua bersama dengan Kendrick dan Bos Joodim Bee. Terlebih Joshua baru mengetahui rahasia terbesar saat kejadian penembakan atas dirinya terdahulu.
Ternyata orang terbesar yang selalu mengintai dan diam-diam memiliki niat buruk rupanya Han, terlebih saat dengan terang-terangan mendengar pembicaraan mereka dari rekaman.
Betapa tidak pernah Joshua bayangkan jika Han rupanya orang yang selama ini membuat hidupnya menderita. Bukan hanya bekerja sama dengan Mama Rossa, tetapi juga dengan musuh terbesar dari Joshua.
"Kurang ajar! Rupanya diam-diam dia menginginkan agar aku tiada. Itu sebabnya Han begitu menentang keras hubungan kita berdua, Emily. Dengan terang-terangan Han berpikir jika Alona yang lebih baik untukku, dan sekarang aku mengerti kenapa dia bisa melakukan itu. Rupanya ada udang di balik batu besar yang justru akan mengigit ku dari belakang," geram Joshua dengan amarah yang besar.
"Tenanglah, Joshua. Kau tidak boleh gegabah karena mereka bermain licik, Sayang. Aku tidak ingin rencana mereka berhasil terjadi hanya karena kita sangat gegabah. Terlebih sekarang kita sudah tahu jika Han diam-diam ingin membunuhmu, maka itu artinya kita ikuti jalan main mereka, tapi juga kita akan memikirkan tentang rencana baru supaya bisa melumpuhkan Han, Kendrick, dan Bos Joodim. Mereka semua tidak boleh sadar jika kita telah mengetahui tentang ini," saran Emily demi kebaikan keduanya.
Joshua terdiam sejenak, sembari batinnya berkata. "Aku sungguh baru sadar kalau rupanya istriku bukan hanya cantik, tapi juga sangat pintar bermain siasat."
Dengan tiba-tiba Joshua mengigit sebelah pipi Emily sebelum ingin mencium bibirnya. Awalnya sedang marah, tetapi justru sekarang sengaja ingin menggoda Emily.
"Hei, Sayang. Mau apa? Ish jangan di sini juga, pintu ini belum di kunci loh."
"Aku hanya sangat senang karena memiliki dirimu, lagi pula aku tahu kalau pintunya tidak dikunci, Sayang. Mana mungkin aku biarkan tubuh indah istriku ini diintip oleh orang lain," sahut Joshua.
"Udah ish, jangan bikin tambah suka! Sayang, sebaiknya sekarang kita pikirkan tentang Han. Aku tidak mau kalau kamu sampai berbuat nekat tanpa melibatkan diriku. Aku takut keselamatan dirimu, Joshua."
"Tenanglah, Em. Kali ini aku sudah tahu musuh terbesar diriku ternyata tangan kanan yang paling aku percayai, dan itu tidak akan mungkin lagi terulang karena aku tidak akan membiarkan mereka bertiga menang melawan diriku. Kamu jangan cemaskan diriku, dan tidak perlu ikut dalam permasalahan kami. Sebaiknya nanti aku akan mengirim mu ke suatu tempat supaya kau aman saat aku ingin membalaskan semua kejahatan yang mereka ingin lakukan padaku."
"Tidak, Joshua. Aku ingin ikut membantumu karena aku tidak mau melihat suamiku terluka. Tolong, Sayang! Jangan sembunyikan aku, tapi aku ingin tetap membantu," paksa Emily dengan terus-menerus.
Berkali-kali Joshua menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Emily. Ini bukan sebuah permainan seperti di pasar malam, tapi dengan kematian antara aku ataupun mereka. Maka aku tidak mau membahayakan Nyonya CEO milikku ini terluka. Kau harus tetap selamat dan memperjuangkan semua perusahaan ini denganku ataupun tanpa diriku."
"Sayang! Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku marah denganmu!" Emily membentak saat ucapan Joshua sudah semakin membuatnya cemas.
"Hei, tidak begitu, Sayang. Kau seorang istri dari pewaris besar, dan tentu saja kau harus berjuang untukku dan penerus kita nanti. Menjadi istriku sudah memiliki resiko besar. Entah itu keberanian ataupun ikhlas untuk melepaskan. Emily, kali ini aku sudah tidak bisa membiarkan mereka membuat keonaran begitu saja, maka aku yang akan turun datang demi bisa membalas perbuatan itu. Jadi tolong, bekerjasama lah denganku supaya aku bisa tenang memikirkan rencana baru. Maka dari itu, jangan membantah saat aku berniat untuk membawamu pergi terlebih dahulu. Nantinya Santi yang akan menemanimu," jelas Joshua dengan sangat bersungguh-sungguh.
Tak kuasa menahan diri untuk harus membiarkan suaminya berperang melawan para pengkhianat. Hingga membuat Emily meneteskan air matanya.
"Sayang, percayalah jika tangisan ini yang akan membawaku kembali padamu. Kita tidak sedang bermain-main, tapi melawan teman baik yang paling kita percayai itu sangatlah sulit. Untuk itu, aku tidak bisa membuatmu terluka. Nantinya Papa dan Mama juga harus ikut denganmu. Mereka pasti akan mengerti."
"Tapi, kau berjanji untuk kembali setelah semaunya selesai, kan?" tanya Emily dengan penuh harap.
Joshua tidak tahu harus menjawab apa karena memang ia sedikit tidak yakin akan kemenangan. Namun ia mencoba untuk tetap tersenyum sekaligus berkata. "Aku berjanji."
"Bukan sekedar janji, Sayang. Tapi, aku ingin kau mengabulkan satu hal untukku."
"Katakan apa itu?"
"Biarkan aku mengajak Paman Husein untuk ikut melawan mereka untukku, Sayang. Dengan begitu hatiku akan sedikit lega, jika tidak aku takut sekali."
"Tapi, ini masalahku, Emily. Bagaimana mungkin aku melibatkan orang lain? Pamanmu tidak bersalah, justru aku yang sudah berhutang nyawa karena telah menyelamatkan diriku juga. Lebih baik urungkan niatmu, Sayang."
"Tidak mau karena aku tahu Paman Husein memiliki beberapa orang teman yang pintar beladiri. Dia juga pasti akan membantuku jika itu menyangkut tentangmu. Tolong, Sayang. Izinkan aku supaya aku lega membiarkan dirimu lepas." Emily terus memohon sampai menyatukan kedua tangan di hadapan suaminya.
"Baiklah, kali ini aku akan setuju. Tapi, jika dia tidak mau kamu jangan memaksanya."
"Tentu, Joshua. Aku yakin dia akan mau apalagi setelah tahu bahwa kamu sangat mencintaiku."
"Benarkah? Um ... aku jadi tidak percaya," tanya Joshua sembari mencolek dagu istrinya dengan berusaha menggoda.
"Sudah pasti aku sangat dan akan selalu seperti ini."
"Terima kasih banyak karena kamu sudah me jadi kekuatan terbesarku, Sayang."
"Sama-sama, Joshua. Namun, aku pun satu hal untukmu. Ini tentang masa depan kita berdua. Hanya saja ... aku takut kalau kamu tidak setuju dengan kabar ini."
"Katakan apa itu, Sayang?" tanya Joshua yang sangat penasaran.
pecat saja josh