Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
Pekerjaan pertama setelah kunci bengkel pindah ke tanganku datang dari rumah seorang pedagang pakaian bernama Bu Nuraini. Pompa airnya menyala terus, tetapi air di lantai dua hanya menetes seperti orang sedang ragu menangis.
Aku membawa Binsar dan Liza. Fadli tidak ikut karena motornya sedang diperiksa setelah mengeluarkan suara baru yang menurutnya “lebih artistik”. Pak Tor tetap di rumah. Sebelum kami berangkat, ia hanya berkata, “Catat alat masuk. Catat alat keluar.”
Binsar mengangkat kotak perkakas. “Sekarang kita profesional kali.”
“Kita sejak dulu profesional,” kataku.
Liza menatap papan nama yang masih miring. “Jangan membuat pernyataan yang sulit dibuktikan.”
Rumah Bu Nuraini besar, penuh lemari kaca dan gulungan kain. Ia menemui kami dengan gelang emas tebal di tangan kanan. Seorang anak laki-laki berusia sekitar dua puluh tahun duduk di ruang tamu sambil menatap ponsel, earphone menutup telinga. Bu Nuraini memperkenalkannya sebagai Rafi.
“Jangan kotori lantai,” katanya sebelum kami sempat melepas sepatu. “Pompa di belakang. Kamar mandi atas jangan dipakai.”
Masalahnya bukan pada pompa, melainkan kapasitor lemah, sambungan kabel yang panas, dan pelampung tangki yang macet. Aku membagi tugas. Binsar memeriksa jalur dari panel kecil dekat kamar mandi bawah. Liza mencatat material dan mengambil foto kondisi awal dengan izin.
“Obeng minus mana?” teriak Binsar dari dalam.
“Di kotak sebelah kanan.”
“Tak ada.”
“Tengok benar-benar.”
“Aku sudah tengok sampai masa depanku. Tak ada.”
Aku sedang di atas tangga, jadi ia mencari alat cadangan di rak dekat pompa. Pekerjaan selesai dalam dua jam. Air mengalir deras ke lantai atas. Bu Nuraini memeriksa keran satu per satu seolah kami mungkin menyembunyikan air di pipa.
Ia membayar sesuai kuitansi. Untuk beberapa menit, semuanya berjalan seperti pekerjaan normal. Aku bahkan sempat berpikir keberhasilan memang membosankan dan mungkin itu bagus.
Kami sudah memasukkan alat ke motor ketika Bu Nuraini memanggil dari pintu dengan suara berubah. “Tunggu.”
Ia berdiri tanpa gelang emas di tangan. “Gelangku hilang.”
Liza langsung menghentikan Binsar yang hendak menjawab. “Terakhir dilihat kapan, Bu?”
“Tadi sebelum kalian datang. Kutaruh di laci dekat pompa karena mau cuci tangan.”
Binsar menelan ludah. “Laci mana?”
Bu Nuraini menunjuk rak kecil di lorong. “Kau tadi buka.”
“Aku cari obeng.”
“Obeng di laci perhiasan?”
“Aku tak tahu itu laci perhiasan. Bentuknya laci biasa.”
Rafi akhirnya melepaskan earphone. Ia melihat ibunya, lalu kami, tanpa ekspresi. Bu Nuraini menyuruhnya memanggil polisi lingkungan. Lima menit kemudian dua petugas datang bersama seorang pria yang sering terlihat mengikuti Kepling NATO.
“Tak perlu dibesar-besarkan,” kata pria itu. “Kalau barang dikembalikan, selesai.”
Binsar meletakkan kotak alat di tanah. “Aku tak ambil.”
“Periksa saja,” kata Bu Nuraini.
Wajah Binsar merah. “Periksa kotakku, kantongku, motor pun periksa. Tapi jangan bilang aku pencuri.”
Petugas membuka kotak alat. Semua obeng, tang, isolasi, dan sekrup dikeluarkan ke lantai. Salah satu dari mereka menepuk saku Binsar. Ia mulai menangis, tetapi mulutnya tetap bekerja.
“Aku miskin bukan berarti semua benda mengilap mau kumakan. Gelang sebesar itu pun tak muat di leherku.”
“Diam dulu,” bisikku.
“Kenapa aku yang diam? Mereka yang menuduh.”
Aku berdiri di depan petugas. “Kalau mau periksa, periksa kami semua.”
“Kau pemilik usaha?” tanya pria pengikut Kepling.
Kunci bengkel di sakuku terasa menyentuh paha. “Iya.”
“Berarti tanggung jawabmu.”
Kalimat itu tidak salah, tetapi cara ia mengucapkannya seperti sedang menunggu aku jatuh. Aku ingin membalas dengan makian. Liza mencengkeram lenganku sebelum suara keluar.
Aku meminta petugas mencatat semua barang yang sudah diperiksa. Pria pengikut Kepling tertawa kecil dan berkata urusan sederhana tidak perlu kertas. Liza langsung mengeluarkan buku kuitansi kosong, menulis waktu, nama rumah, dan daftar alat, lalu meminta mereka membubuhkan tanda tangan. Tawa pria itu berhenti. Sejak ancaman pertama, Liza memperlakukan setiap detail seperti baut kecil: mudah diabaikan, tetapi bisa membuat seluruh sambungan lepas.
Bu Nuraini mengatakan ada kamera di lorong. Kami masuk kembali. Rekamannya tidak sempurna. Sudut kamera hanya menangkap sebagian rak dan pintu kamar mandi. Pada pukul sembilan lewat dua puluh, Binsar terlihat masuk, membuka laci, membungkuk, lalu menutupnya.
“Itu dia,” kata Bu Nuraini.
“Aku cari obeng,” kata Binsar, suaranya serak.
“Kau buka dua laci.”
“Karena laci pertama isinya kain.”
Di layar, Binsar memang membuka laci kedua selama beberapa detik. Tangannya masuk ke dalam. Dari sudut kamera, tidak terlihat apa yang ia ambil. Setelah itu ia pergi membawa sesuatu kecil.
Petugas menghentikan video. “Apa itu?”
Binsar melihat layar dengan wajah kosong. “Obeng kecil. Pegangannya hitam.”
Aku tahu kami memiliki obeng seperti itu. Aku juga tahu alasan itu terdengar seperti kebohongan yang disiapkan terburu-buru. Keyakinanku kepada Binsar tidak hilang, tetapi untuk sesaat muncul ruang kecil di kepalaku yang bertanya: bagaimana kalau?
Binsar melihat keraguan itu. “Kau pun curiga?”
“Tidak.” Jawabanku terlalu cepat.
Ia tertawa pendek, lalu mengusap hidung. “Wajahmu bilang lain.”
Liza meminta rekaman diputar dari sepuluh menit sebelum kami datang sampai setelah kami pergi. Bu Nuraini protes karena terlalu lama, tetapi Liza tidak bergeser dari depan monitor.
“Kalau mau menuduh berdasarkan kamera, kita lihat semua kamera,” katanya.
Video berjalan. Aku naik tangga. Liza masuk membawa kuitansi. Binsar bolak-balik. Rafi beberapa kali melewati lorong sambil melihat ponsel. Setelah pekerjaan selesai, kami keluar satu per satu.
“Berhenti,” kata Liza.
Gambar dihentikan tiga menit setelah kami meninggalkan lorong. Di tepi layar tampak bayangan seseorang masuk dari arah ruang tamu. Orang itu tidak langsung terlihat karena berdiri di luar jangkauan kamera. Hanya tangan dan sebagian kausnya yang muncul ketika laci dibuka.
Kaus itu berwarna hitam dengan garis putih di lengan. Aku menoleh ke Rafi. Ia memakai kaus yang sama.
Rafi memasang kembali earphone, tetapi tangannya gemetar ketika menyentuh ponsel.
Liza memperbesar gambar. Di pantulan kaca lemari, terlihat bentuk tubuh seseorang membungkuk di depan laci setelah kami selesai bekerja.
“Ada orang lain yang masuk,” katanya.
Ruangan mendadak diam. Binsar menatap layar, lalu menatap Rafi. Bu Nuraini tidak lagi melihat kami. Untuk pertama kalinya sejak gelang itu hilang, ia melihat anaknya sendiri.