Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 33 Aku Belum Siap
Elena duduk termenung dikursi teras depan rumah Nia untuk mencari angin.
Morning sickness yang dialami oleh Elena cukup parah. Wanita itu benar-benar tidak bisa makan sama sekali meskipun makanan itu tidak berbau bumbu.
Semua jenis makanan juga tidak bisa masuk ke dalam mulutnya sehingga ia hanya meminum susu hamil saja setiap harinya. Elena juga sempat diinfus di rumah Nia selama 4 hari karena kondisi tubuhnya benar-benar lemah.
Tapi beberapa hari ini wanita itu sudah mau makan meski sedikit.
"Nak, jangan pernah kamu menyakiti seorang wanita, baik itu lahir maupun batin, karena kamu sendiri terlahir dari seorang wanita juga." ucap Elena seraya mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
Elena berharap anaknya kelak tidak akan meniru kelakuan ayahnya yang menyakiti seorang wanita. Ia tidak ingin bila ada Elena, Elena yang lainnya yang tentu saja merasakan sakitnya disakiti.
"Lagi apa El?" tanya Nia yang baru saja datang dari toko.
Dari kejauhan, Nia sudah melihat Elena yang sedang duduk termenung sembari terus mengusap perut wanita itu.
Beruntung Elena memiliki seorang teman yang sangat baik serta pengertian padanya.
Nia bahkan sudah menganggap Elena sebagai saudaranya sendiri.
"Lagi cari angin Nia," ucap Elena.
"Apa kamu mau jalan-jalan?" tanya Nia.
"Memangnya boleh?" tanya Elena balik, pasalnya ia teringat dengan ucapan dokter Via yang meminta dirinya banyak beristirahat.
"Boleh dong, ayo kita jalan-jalan." ajak Nia kemudian menarik tangan Elena untuk bangkit dari duduknya.
Elena menurut, dia mengikuti kemana Nia menarik tangannya.
Elena pikir dia akan mengajaknya jalan-jalan menggunakan motor tapi ternyata Nia mengajaknya jalan-jalan dengan berjalan kaki.
Setelah mengetahui bila hendak berjalan kaki Elena dengan cepat menahan tangannya yang ditarik oleh Nia.
"Kenapa? kamu tidak mau jalan-jalan?" tanya Nia.
"Aku takut nanti ada yang melihatku," jawab Elena.
Nia menganggukkan kepalanya, mengerti apa yang Elena rasakan.
"Jangan khawatir El. Ayo ikut aku," ucap Nia menarik lagi tangan Elena.
Elena terpaksa mengikuti Nia yang menarik tangannya yang ternyata wanita itu membawa dirinya ke toko aksesoris.
"Kamu tunggu di sini," ucap Nia meminta Elena menunggu di kursi tunggu di dalam toko tersebut.
Elena menganggukkan kepalanya kemudian duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan di sana.
Melihat Elena sudah duduk di kursi, Nia segera mencari sesuatu yang dibutuhkan oleh temannya untuk menyamar.
Nia mengambil satu buah topi, masker dan juga kacamata. Tidak lupa juga Nia mengambil ikat rambut untuk mengikat rambut Elena.
Setelah dirasa cukup, Nia segera membayarnya belanjaannya pada kasir.
"Aku dandani ya El," ucap Nia.
"Hahh?" Elena tercengang melihat barang yang ada di tangan Nia.
"Untuk apa itu?" tanya Nia pada akhirnya.
"Untuk kamu menyamar," jawab Nia kemudian mulai mengikat rambut Elena yang panjang itu.
Rambut Elena diikat satu sedikit tinggi seperti kuncir kuda oleh Nia, lalu dipasangkan topi dikepala wanita itu.
Setelahnya Elena diminta oleh Nia mengenakan masker dan kacamata hitam.
"Nah kan sudah nggak kelihatan kalau kamu Elena," ucap Nia menelisik penampilan Elena.
Elena tersenyum pada Nia di balik masker, jadi yang bisa dilihat oleh Nia hanya mata wanita itu yang menyipit.
"Ayo kita jalan-jalan," ajak Nia kemudian merangkul tangan Elena.
Elena tidak menolak ajakan Nia, dia mengikuti sahabatnya itu mengajaknya pergi jalan-jalan.
Kedua wanita itu menyusuri jalanan kota itu dengan berjalan kaki. sore hari seperti ini tentunya jalan raya dipadati oleh banyak kendaraan yang berlalu-lalang membuat polusi udara di mana-mana.
Meski demikian, tidak mengurungkan niat kedua wanita yang sedang berjalan kaki tersebut.
Dari jarak yang cukup jauh Elena melihat ada warung bakso. Entah kenapa dirinya ingin makan bakso itu, padahal selama sebulan ini Elena tidak bisa makan apa-apa.
"Kita makan bakso yuk," ajak Elena menoleh pada Nia yang sedang menggandeng tangannya.
"Kamu mau bakso itu, El?" tanya Nia.
Elena menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Oke, kita ke sana." ucap Nia.
Kedua wanita itu kemudian menghampiri warung bakso tersebut.
Rupanya Nia sudah kenal dengan penjual bakso itu. Kata Nia penjual bakso itu adalah temannya saat ia SMP dan SMA.
Setelah memesan bakso, Nia segera mengajak Elena duduk di salah satu meja yang kosong.
Tidak lama kemudian, bakso yang dipesan oleh Nia datang dengan diantarkan oleh teman Nia sendiri.
"Sudah lama aku nggak lihat kamu Nia," ucap teman Nia itu yang bernama Indri.
"Aku merantau ke Jakarta Ndri," ucap Nia.
"Terus ini siapa?" tanya Indri melihat pada Elena.
"Oh, ini teman aku dari Jakarta. Kenalin namanya Lena," ucap Nia.
Indri menganggukan kepalanya terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Elena.
"Indri," "Lena," ucap Indri dan Elena bersamaan sembari berjabat tangan.
Setelahnya, Indri meminta pelayan mengantarkan satu mangkok bakso untuk dirinya. Indri sengaja meminta pelayan mengantarkan bakso untuk dirinya, agar ia bisa makan bersama dengan Elena dan Nia.
"Oiya Nia, kakak ku juga yang kerja di Jakarta baru datang kemarin," ucap Indri.
"Benarkah?" tanya Nia menanggapi ucapan Indri.
"He'em. Sebentar lagi dia ke sini, nanti kamu aku kenalin deh sama kakak ku." ucap Indri.
Nia menganggukkan kepalanya. Selama ia berteman dengan Indri, Nia belum pernah melihat kakak dari temannya itu.
Tidak lama kemudian bakso milik Indri datang.
Ketiga wanita itu akhirnya makan bakso bersama.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka menghabiskan bakso tersebut.
"Mau nambah?" tanya Indri pada Elena dan Nia tapi kedua wanita yang ditanyai oleh Indri itu menggelengkan kepalanya.
"Indri," panggil seseorang yang baru saja masuk ke warung bakso tersebut.
Deg!
Elena terkejut mendengar suara pria yang memanggil wanita di sampingnya. Ia kenal dengan suara itu.
'Suara itu? suara itu, seperti suara Hendri?" tanya Elena dalam hatinya.
Indri yang dipanggil namanya oleh seseorang segera menoleh ke sumber suara.
"Eh Mas Hendri udah datang ternyata, ayo sini Mas," ucap Indri.
Wajah Elena yang tadi ceria, seketika berubah menjadi pucat.
'Apa aku akan ditemukan sekarang? Ya Allah aku belum siap,' batin Elena.
Hendri yang dipanggil oleh Indri segera menghampiri ketiga wanita yang sedang duduk bersama di satu meja.
Elena buru-buru mengenakan lagi maskernya, yang tadi ia lepas karena makan bakso.
Beruntung posisi Elena duduk membelakangi pintu masuk, sehingga Hendri yang datang belum sempat melihat wajah Elena.
"Aku cari-cari di depan, ternyata kamu di sini," ucap Hendri pada adiknya itu.
"Iya Mas, aku disini lagi duduk sama teman-teman aku. Ayo kenalan sama mereka," titah Indri pada kakaknya itu.
Hendri kemudian menatap pada kedua teman adiknya, menatap Nia terlebih dahulu barulah menatap Elena.