Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Seorang Bima
Renata mendapat pesan yang cukup mengejutkan dari kakak iparnya, yang kembali datang bersama kedua orang tuanya, untuk menghadiri sidang korupsi Bagas yang akan dilakukan nanti siang.
Tetapi, bukan itu yang membuat Renata terkejut. Melainkan, isi pesan yang bersangkutan dengan rumah yang dia tempati sejak menikah dengan Bagas.
Segera saja, Renata mengendarai sepeda motornya cepat, untuk menghampiri Bima dan mertuanya. Kemudian, betapa terkejutnya dia, saat sudah ada dua orang pria yang memasang plang di depan pagar rumahnya.
BANGUNAN DAN TANAH INI DISITA OLEH PIHAK BANK
Renata pun mendatangi pria itu terlebih dahulu. “Permisi, Pak.” Wanita itu sedikit membungkuk untuk menyapa dengan sopan kedua pria di hadapannya saat ini.
“Eh ... maaf, sebelumnya, Bu.” Rafi yang sudah ketiga kalinya bertemu Renata, cukup terkejut dengan kedatangan wanita itu. “Saya beberapa kali sempat ke sini, untuk memberitahukan perihal hal ini. Tetapi, tidak ada orang sama sekali,” imbuhnya dengan sopan.
Renata mengangguk. “Iya, saya memang sudah tidak tinggal di sini. Kalau begitu, mari mampir dulu. Sekalian saya juga ingin bertanya perihal penyitaan rumah ini,” ujar wanita itu ramah.
Lantas, Rafi dan satu rekannya itu mengikuti Renata. Serta keluarga Bagas juga mengikuti wanita itu, yang juga penasaran dengan kedatangan orang-orang dari Bank itu.
Semua terdiam menunggu Rafi untuk berbicara. Lantas pria itu sedikit berdeham sebelum membuka suaranya. “Jadi, begini, Bu. Sebelumnya, Ibu sudah tahu perihal hutang Pak Bagas. Karena memang bukan hanya surat-surat mobil yang menjadi jaminannya, juga surat rumah ini. Karena, Pak Bagas cukup banyak mengambil pinjaman,” jelasnya membuat keluarga Bagas terkejut. Tetapi tidak untuk Renata. Wanita itu sudah merasa tidak kaget lagi.
“Dan karena, Pak Bagas tidak ada membayar angsuran dengan semestinya. Jadi, kami dari pihak bank dengan amat sangat terpaksa untuk menyita rumah ini. Karena ini juga sudah persetujuan dari kedua belah pihak dalam kontrak yang ditandatangani oleh Pak Bagas.” Rafi menyelesaikan penjelasannya, tanpa ada yang menyelanya sedikit pun. Karena sepertinya, keluarga Bagas masih cukup terkejut untuk menerima kenyataan.
Setelah sedikit berbincang, para pihak Bank itu pun pergi. Meninggalkan Renata dan keluarga Bagas yang sudah berada di teras rumah itu dalam diam.
Santi tidak sedikit pun membuka suara, karena Bima sudah mewanti-wanti ibunya itu untuk tidak lagi memperkeruh suasana, jika masih mau ikut menghadiri sidang putra bungsunya. Terlebih, Bima sama sekali tidak melepaskan genggamannya di tangan ibunya itu.
“Renata, apa yang sebenarnya terjadi, Nak?” Burhan menatap sendu menantunya itu. Yang selama ini selalu lembut dan sabar menghadapi istri dan anaknya.
Renata mengulas senyum tipis. Kemudian menggeleng. “Seperti yang dikatakan oleh pihak Bank, Pa. Mas Bagas meminjam uang yang Renata sendiri tidak tahu berapa, dan untuk apa uangnya. Karena, selama ini semua uang, dipegang penuh oleh Mas Bagas, kecuali uang untuk keperluan belanja bulanan,” ungkap wanita itu, membuat Bima cukup terkejut.
“Jadi ... selama ini, Bagas yang mengatur keuangan di dalam rumah tangga kalian, Ren?” Bima semakin mendesis marah, tatkala mendapat anggukan dari adik iparnya itu.
“Ya Tuhan! Apa sebenarnya yang ada di pikiran anak itu? Sampai tidak memercayai istrinya untuk memanage uang!” keluh Bima memijit pelipisnya, yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
“Ya itu pasti karena istrinya saja yang tidak bisa diberi kepercayaan!” celetuk Santi yang tidak lagi bisa menahan diri.
“Lalu ... apa Bagas bisa diberi kepercayaan dengan memegang uang, sampai mempunyai hutang yang tidak tahu untuk apa?!” Bukan Renata yang menjawab. Tetapi, Bima lah yang menyentak ucapan mamanya sendiri. Yang sudah cukup marah dengan kelakuan adiknya sendiri.
“Bima!” seru Santi tidak terima dengan sikap putra sulungnya.
“Berhenti membela Bagas, Ma. Bukankah cukup terlihat bagaimana sikap Bagas yang sebenarnya!” Bima tidak lagi menahan emosinya. Kemudian, beralih menatap tajam Renata.
“Renata? Jangan bilang ... jika Bagas pernah tidak menafkahimu?” tanyanya penuh selidik, yang membuat Renata sendiri tak kuasa untuk mengelaknya.
“Benar-benar anak itu! An*jing!” Renata sangat terkejut mendengar umpatan yang keluar dari kakak iparnya untuk pertama kalinya. Padahal perangai Bima lebih lembut dan pendiam daripada suaminya.
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal, Ren, kepada Mas?” Bima mengerang frustrasi. “Biar Mas tidak mengambil tindakan buat sewa pengacara, agar kamu bisa rujuk kembali. Kalau begini, Mas menyesal dan sangat merasa bersalah sama kamu,” tambahnya yang sudah tampak kacau, mendengar perilaku adiknya sendiri.
“Maaf, Renata. Maafin Papa yang tidak bisa mendidik Bagas dengan benar. Dan memang pantas ... jika kamu menggugat cerai anak papa. Lebih baik seperti itu, Nak. Kamu terlaku baik untuk bersanding dengan anak papa yang kurang ajar itu.” Burhan menatap sedih dan malu kepada Renata, bahkan pria paruh baya itu sudah meneteskan air matanya. Sangat berbeda dengan Santi yang terdiam dengan wajah ketusnya, yang lebih percaya pada putranya.
...****************...
Suasana pengadilan cukup ramai dengan adanya beberapa wartawan. Tidak heran, karena ini menyangkut perusahaan yang sudah masuk daftar lima besar perusahaan yang paling berpengaruh di negaranya.
Saat memasuki ruang persidangan pun, sudah ada beberapa yang datang, dan kedua netranya membulat sempurna. Saat di depan sana sudah ada Lukas menatap lembut kepadanya, Pak Agung, Egi, dan juga satu pengacara.
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benak wanita itu. Terlebih, Lukas sampai turun tangan sendiri ke dalam persidangan, dan lagi, mereka duduk di kursi saksi, kecuali Lukas yang duduk di kursi belakangnya.
Renata mencoba mengenyahkan pikiran-pikirannya, dan segera mengambil duduk di sebelah Burhan. Sampai matanya kembali mendapati Bagas melangkah, memasuki ruangan dengan tangan yang di borgol.
Namun, tak lama dia menatap kedatangan Bagas. Renata tersentak dengan getaran yang berasal dari ponselnya.
Lukas;
Have a nice day
Sedikit kejutan untuk kamu hari ;)
Renata membaca berulang pesan dari Lukas, dan menoleh ke arah pria itu dengan wajah penasarannya. Yang hanya mendapat senyuman jahil dari Lukas. Sungguh itu membuat Renata sedikit kesal.
Sebenarnya berapa banyak teka-teki yang Lukas buat. Sampai tidak berhenti membuatnya terkejut di setiap momen genting di rumah tangganya.
Renata;
Apa yang sebenarnya terjadi?
Lukas;
Its show time, Renata
Tepat dia selesai membaca pesan dari Lukas. Persidangan pun dimulai oleh Hakim yang bertugas. Akhirnya, Renata memutuskan fokus dengan proses sidang Bagas, sambil menerka-nerka kejutan apa yang disiapkan oleh Lukas.
Perjalanan proses sidang kali ini cukup mengejutkannya dan juga pihak keluarga Bagas. Tidak henti-hentinya pihak Lukas yang memberikan persaksikan, akan perbuatan Bagas selama 6 bulan terakhir selama di perusahaan, yang intinya pria itu melakukan korupsi, karena sudah kecanduan judi online, pengeluaran lainnya untuk membayar lunas cicilan rumah, dan juga gaya hidup mewah, yang Renata tidak tahu menahu. Sampai akhirnya, Bagas gelap mata melakukan tindakan korupsi.
Lebih mengejutkannya lagi, saat Pak Agung dan Egi yang menjadi saksi itu adalah seorang mata-mata yang disuruh langsung oleh Lukas, mendengar dari penuturan sang pengacara tersebut.
Keluarga Bagas tidak bisa menahan malu, dan marah, karena tidak ada sedikit pun pembelaan dari Bagas. Yang berarti memang pria itu melakukannya. Sungguh, wajah kedua orang tua Bagas sangat terlihat kecewa dan malu bersamaan.
Namun, tidak dengan Bima. Pria itu memandang tajam adiknya yang sekarang sudah dibawa kembali oleh polisi, karena sidang sudah selesai dilaksanakan, dengan pria itu mendapat hukuman penjara yang cukup sangat lama.
Bima segera mencegat Bagas yang hampir keluar dari ruang sidang. Meminta sedikit waktu kepada polisi yang bertugas, untuk berbicara dengan adiknya itu.
Bima menatap nyalang adiknya. “Breng*sek!” serunya, yang sudah menghadiahi satu tonjokan tepat di wajah Bagas. “Mas menyesal telah memberi bantuan ke kamu, Sialan! Seharusnya Mas biarkan saja, Renata secepatnya bercerai dengan kamu!” tambahnya membabi buta.
“Bima! Jangan, Nak. Bagas ini adikmu,” raung Santi menangis, mencoba mencegah Bima. Namun, terhalang Burhan yang mencegah wanita itu. Membiarkan Bima melampiaskan kekecewaan kepada putra bungsunya yang sangat membuat malu keluarga.
“Biarkan putra bungsu Mama ini menyadari kesalahannya! Tidak usah membela Bagas terus menerus!” sentak Burhan marah.
Suasana semakin kacau saat Bima tak kunjung selesai menonjok Bagas, sampai polisi mengamankannya. Sungguh, kejadian ini membuat Renata sedikit pusing melihatnya, dan memilih untuk segera pergi dari tempat itu.
Lukas;
Suka dengan kejutannya;)
Tenang saja, masih ada kejutan lagi untukmu, Renata
*
*
*
Selamat beraktivitas teman-teman
Hayoo sudah pada gak sabar yaa kejutan dari Lukas
Atau gak sabar melihat Renata membungkam keluarga Bagas 🤭🤭🤭
Tenang-tenang sudah waktunya kok, dan tinggalkan jejak sebanyak-banyaknya yaa 😁
See you next chp 😘😘😘
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲