Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, bahkan saat orang tua pemuda itu tidak setuju, mampukah mereka bersatu memperjuangkan cinta mereka. baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan sayang
Ana langsung terlihat linglung mendengar ucapan Dewa, emang wajahnya selalu bikin Dewa lapar apa, setiap dekat dengannya cowok itu selalu minta makan, ia mengabaikan panggilan sayang yang Dewa ucapkan.
"Belum makan?" tanya Ana pelan.
"Belum, banyak yang tutup rumah makan, lagian pengen makan disuapin." ucap Dewa tidak kalah pelan. Ana mendengus pelan. Tapi melihat wajah Dewa ia kasian juga.
"Ya udah, yuk, kak Tian yuk makan dulu baru ngobrol lagi." ajak Ana berdiri, Tian tersenyum senang, karena ia memang sudah lapar.
"Maaf ya An, ngerepotin, nih bocah tadi yang nyeret gue sampai kesini, kata nya kangennya udah akar kuadrat." ledek Tian membuat Dewa langsung melotot tidak terima.
"Asal jeplak aja mulut loe, gua tampol juga baru tahu rasa." balas Dewa garang. Eli yang melihat situasinya jadi menerka-nerka apa sebenarnya hubungan antara Ana dan pemuda yang dipanggil Dewa itu.
"Eh tunggu lupa, kenalin ini teman aku namanya Eli, Eli ini mas Dewa dan ini kak Cristian, teman kampus aku." ucap Ana memperkenalkan, Eli hanya mengangguk canggung.
"Salam kenal ya El, duh kalau ada duo Al seru nih, manggilnya, jadi Al dan El," seloroh Cristian sembari terkekeh sementara Eli hanya memutar bola matanya malas, Dewa melipat bibirnya menahan tawa.
"Sudah, ayo makan, debat terus nanti gak ada habisnya." ucap Ana melangkah menuju meja makan.
"Mas Dewa mau makan yang mana?" tanya Ana langsung, kebiasaan dirumah Dewa kalau mereka makan bersama. Dewa melihat makanan diatas meja dengan muka bingung.
"Ini makanan apa?" tunjuk Dewa di mangkok terlihat berisi kuah santan.
"Opor ayam, yang ini sambal goreng, yang ini cumi pedas, mas Dewa mau yang mana?" tanya Ana lagi.
"Yang bisa aku makan yang mana," Dewa malah bertanya balik, Ana hanya menghela nafas, berusaha sabar melayani tuan muda kaya raya yang tidak terbiasa makan, makanan rumahan. Ana pun mengisi piring dengan nasi dan opor ayam dan sedikit sambal goreng kentang dan teri, juga sedikit cumi, ia tahu Dewa tidak bisa makan makanan pedas, ia pun duduk manis disamping Dewa, dengan sigap Dewa menyerong kan duduknya menghadap Ana, dan dengan cepat Dewa melahap satu suapan membuat Tian dan Eli melongo, Dewa tersenyum puas, ia sudah kangen momen seperti ini.
"Baru ditinggal beberapa hari mas Dewa udah kelihatan kurus, gak makan lagi, gak usah manja mas, tinggal makan aja lho kok susah," omel Ana kembali menyuapi bayi besarnya, Dewa hanya diam, senang mendengar Omelan Ana.
"Kak Tian, cepat makan kok malah bengong." tegur Ana melihat Tian yang tidak juga mengambil makan, malah melihat kearahnya.
"Iya, ini mau ngambil, gue kan mandiri, gak kayak yang Ono, dah kayak bayi," sindir Cristian melirik Dewa kesal.
"Iri bilang bos." jawab Dewa dengan mulut penuh. Tian tersenyum miring.
"Gue mah gak manja, kasian aja masa pacar jadi seperti babu." jawab Tian menohok, tapi dasarnya Dewa yang pinter ngeles ia menjawab.
"Sewot, Ana aja gak keberatan, lagian kan namanya juga pacar kan saling memanjakan, ya kan yang.." ucap Dewa yang langsung mendapat geplakkan dari Ana.
"Mampus!" ucap Tian tertawa penuh kemenangan.
"Kok, di pukul sih yang.." protes Dewa mengusap kepalanya.
"Yang.. Yang.. Geli mas dengernya, kita gak sedekat itu ya." balas Ana tapi masih juga menyuapi Dewa sedangkan Eli terlihat planga-plongo melihat kelakuan ketiga orang dihadapan nya.
"Astaga, ternyata bukan hanya teman nya saja yang otaknya geser ternyata masih ada yang lain." gumam Eli bergidik ngeri.
"Kita kan pacar," jawab Dewa gak mau kalah.
"Bilang lagi, biar diusir mas Dewa sekarang juga sama emak," ancam Ana, langsung membuat Dewa terdiam.
"Gak boleh pacaran ya?" tanya Dewa polos, Ana mengangguk mantap, Dewa meringis, dan langsung mengambil alih piring ditangan Ana begitu mendengar suara langkah mendekat.
"Eh pada makan, ya udah terusin, makan yang banyak." ucap pak Adam tersenyum ramah.
"Iya pak, makasih, kita numpang makan." jawab Cristian sopan.
"Iya makan saja, disini bebas, Ana temannya dijamu dengan baik, bapak tinggal dulu kalau begitu." ucap pak Adam Ana hanya mengangguk, pak Adam berjalan menjauh menuju kamarnya.
"Bapak loe An?" tanya Tian langsung, Ana mengangguk.
"Loe calon mantu malah diem aja, bukannya memperkenalkan diri." sindir Tian pedas, Dewa hanya melirik sekilas ia sendiri saja masih kaget dengan kehadiran bapaknya Ana, bagaimana ia bisa menyapa, Dewa pun kembali makan, tidak meladeni sindiran teman laknatnya.
"Sudah, jangan ngobrol terus cepat selesaikan makan." peringat Ana dan mereka semua mengangguk, tidak lama mereka pun selesai dan kembali keruang tamu.
"Kita jadi gak kerumah Bu Ismi, ini Jono sama Abdul sudah mau nyampe." ucap Eli kepada Ana.
"Waduh, lupa, mas Dewa aku tinggal kerumah guru aku gak papa?" tanya Ana, Dewa langsung menggeleng ribut.
"Gak, masa kamu tega ninggalin aku yang datang jauh-jauh, besok kan masih bisa kesana, aku antar deh besok." jawab Dewa.
"Emang mas Dewa mau nginep?" tanya Ana kaget.
"Iya, ada penginapan dekat sini gak, besok ajak aku jalan-jalan ketempat wisata yang ada disini, bosen lihat gedung terus dikota." jawab Dewa memelas.
"Eh, panjol, rencananya gak nginep ya, kita kan belum pamit " sela Tian gemas.
"Tinggal telpon aja apa susahnya sih," balas Dewa santai.
"Gak bawa baju ganti Cok." lagi Tian menyela.
"Kayak orang susah aja loe gak bisa beli baju." cemoh Dewa membuat Tian kesal.
"Ada kan, penginapan disini yang." tanya Dewa lagi, membuat Ana membulatkan kedua matanya.
"Gak usah panggil gitu, disini gak ada penginapan, ada, tapi hampir satu jam dari sini." jawab Ana, yang membuat mereka melongo.
"Masa gak ada, terus kita nginep dimana, aku gak mau pulang ya pokoknya." rajuk Dewa, gak habis pikir, masa tidak ada penginapan ditempat tinggal pacarnya, padahal tempatnya bukan di pelosok juga. Tian terkekeh melihat tingkah Dewa yang berubah bila sudah bersama Ana.
"Astaga, cinta merubah segalanya." gumam Tian menggeleng pelan, namun gumaman Tian masih bisa didengar oleh Eli.
"Jadi, Ana pacaran beneran sama tuh cowok, anjir, kok bisa." gumam Eli tidak habis pikir, seorang Ana mau berpacaran, tidak tahu saja, kalau semuanya berawal dari ancaman, dan Ana belum menerima Dewa seutuhnya sebagai pacar, tapi majikan.
"Gimana El, kayak nya aku gak bisa kalau ninggalin mereka, nih masih ribut kayak gini, belum Nemu solusi," tanya Ana kepada sahabat karibnya.
"Ya udah besok aja kalau gitu, ogah juga gue berangkat cuma sama mereka berdua." ucap Eli menunjuk kedua cowok yang berjalan menuju kearah mereka.