Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Nyawa Bagas yang Dipertaruhkan
Matahari sore mulai condong ke barat saat Bagas berjalan pulang sendirian dari sekolah. Hari ini ia pulang lebih awal karena ada kegiatan ekstrakurikuler yang dibatalkan. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu berjalan sambil membolak-balik buku catatan kecil di tangannya, masih memikirkan celah strategi musuh yang baru saja ia temukan tadi pagi. Ia ingin segera pulang dan menunjukkan temuannya pada Ayah dan Ibu, berharap bisa sedikit meringankan beban pikiran mereka yang sedang berat karena krisis perusahaan.
Jalan dari sekolah ke rumah biasanya hanya memakan waktu lima belas menit berjalan kaki. Bagas sering memilih berjalan kaki daripada dijemput mobil pengawal — ia suka melihat suasana kota, mengamati orang-orang yang lalu lalang, dan terkadang berhenti sejenak untuk memberi makan kucing liar di pinggir jalan. Ia tidak tahu bahwa hari ini, pilihannya untuk berjalan sendirian akan menjadi kesalahan yang hampir merenggut nyawanya.
Tiga pria berpakaian hitam dengan topi rendah sudah mengawasinya sejak ia keluar dari gerbang sekolah. Mereka berjalan beriringan di seberang jalan, menjaga jarak agar tidak terlihat mencurigakan. Saat Bagas berbelok ke gang kecil yang sepi yang biasa ia lewati sebagai jalan pintas, mereka segera mempercepat langkah dan menyusul masuk ke gang yang sama.
Bagas yang peka merasakan ada yang tidak beres. Ia mendengar langkah kaki cepat di belakangnya. Saat ia menoleh, jantungnya hampir copot melihat tiga pria asing yang berjalan mendekat dengan wajah dingin dan penuh niat buruk. Refleks pertahanan diri yang diajarkan Ayahnya sejak kecil langsung bekerja. Anak laki-laki itu segera berlari secepat mungkin, berusaha keluar dari gang sempit itu menuju jalan raya yang ramai.
“Tangkap dia! Jangan biarkan dia lari!” teriak salah satu pria itu kasar.
Langkah kaki mereka mengejar semakin dekat. Bagas bisa merasakan bayangan mereka hampir menutupi tubuhnya. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak karena berlari sekuat tenaga, tapi kakinya yang kecil tidak sanggup mengimbangi langkah panjang orang dewasa. Salah satu pria itu hampir berhasil meraih kerah baju belakangnya ketika tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang masuk dari ujung gang, memotong jalan antara Bagas dan para pengejarnya.
“NAIK!” teriak Reno yang mengendarai motor itu dengan wajah tegang dan penuh amarah. Ia sudah mengawasi Bagas dari jauh sejak tadi pagi — janjinya untuk menjaga keluarga Lala membuatnya selalu waspada, dan nalurinya memberitahunya ada bahaya yang mengintai anak laki-laki itu hari ini.
Bagas tidak membuang waktu. Ia melompat naik ke jok belakang motor, memeluk pinggang Reno erat-erat. Reno segera memutar gas sekuat tenaga, melaju keluar dari gang sempit itu menuju jalan raya yang ramai. Tiga pria itu mengutuk kasar, lalu segera masuk ke mobil hitam yang sudah menunggu di ujung jalan dan mulai mengejar mereka.
“Pegang erat-erat, Bagas!” teriak Reno di atas suara deru mesin. Matanya tajam mengawasi jalan di depan sekaligus melihat ke kaca spion melihat mobil hitam yang semakin mendekat. Jantungnya berdetak kencang bukan karena takut pada dirinya sendiri, tapi karena ia tahu satu kesalahan kecil saja bisa membuat nyawa anak laki-laki di belakangnya melayang. Ia sudah bersumpah di depan Agung untuk menjaga keluarga mereka. Ia tidak akan membiarkan sumpah itu diingkari.
Pengejaran yang mendebarkan terjadi di jalanan kota yang padat. Reno membelah kemacetan dengan keahlian mengemudi yang luar biasa, berbelok tajam di tikungan-tikungan sempit, berusaha melepaskan diri dari mobil hitam yang terus menempel di belakangnya. Namun mobil itu jauh lebih cepat dan bertenaga. Di sebuah jalan sepi yang kebetulan lengang karena perbaikan jalan, mobil hitam itu berhasil memotong jalan mereka dan menabrak bagian belakang motor dengan keras.
Reno kehilangan keseimbangan. Motor terguncang hebat, lalu terguling ke pinggir jalan. Sebelum tubuh mereka menghantam aspal keras, Reno dengan refleks cepat memutar tubuhnya, memeluk Bagas erat-erat dan menjadikan dirinya sebagai bantalan saat mereka jatuh berguling ke tanah.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh punggung dan lengan Reno yang tergores aspal kasar. Tapi ia tidak peduli. Hal pertama yang ia lakukan setelah berhenti berguling adalah memeriksa keadaan Bagas.
“Kau baik-baik saja, Nak? Apakah ada yang sakit?” tanyanya parau sambil menahan rasa nyeri yang menusuk di tulang rusuknya.
Bagas gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, tapi ia menggeleng pelan. Air mata ketakutan mulai menetes dari matanya yang bulat.
“Aku… aku tidak apa-apa. Tapi kau terluka, Kak Reno!”
Tiga pria itu turun dari mobil, berjalan mendekat mereka dengan wajah dingin. Salah satu dari mereka memegang tongkat besi di tangannya.
“Kau pikir bisa lari dari kami, Nak?” ujar pria ketua itu sinis. “Lepaskan anak itu. Kalau tidak, kau akan mati sia-sia di sini hari ini.”
Reno perlahan bangkit berdiri, menempatkan tubuhnya di depan Bagas sebagai perisai hidup. Wajahnya pucat karena rasa sakit, tapi matanya memancarkan keberanian yang tak tergoyahkan.
“Kalian harus melewati mayatku dulu sebelum bisa menyentuh sehelai rambut pun dari kepalanya,” suara Reno rendah namun menggelegar penuh tekad. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan pisau lipat tua yang selalu ia bawa — pisau yang dulu pernah diberikan ayahnya sebelum meninggal dunia.
Pertarungan sengit tak terelakkan. Reno bertarung dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya yang terluka. Ia berhasil melukai dua dari mereka, tapi jumlah lawan yang banyak dan luka yang ia derita membuatnya perlahan mulai kewalahan. Saat pria ketua itu mengayunkan tongkat besi ke arah kepala Bagas yang bersembunyi di belakangnya, Reno tanpa ragu menahan hantaman itu dengan tubuhnya sendiri.
Bruk!
Tongkat besi menghantam bahu kiri Reno dengan keras. Pria itu mengerang kesakitan, lututnya hampir lemas jatuh ke tanah, tapi ia tetap berdiri tegak. Ia tidak akan menyerah. Tidak akan pernah menyerah menjaga keluarga yang sudah memberinya kesempatan kedua untuk hidup sebagai orang baik.
Tepat saat keadaan mulai tampak tidak berdaya, suara sirene polisi dan deru mobil pengawal keluarga Saraswati terdengar mendekat dari kejauhan. Tiga pria itu panik. Mereka saling berpandangan, lalu segera berlari masuk ke mobil mereka dan melarikan diri sebelum sempat tertangkap.
Reno akhirnya tidak sanggup menahan rasa sakitnya lagi. Tubuhnya jatuh lemas ke tanah, tepat saat Agung dan Larasati turun dari mobil dengan wajah pucat pasi dan penuh ketakutan. Mereka menerima telepon dari tim pengawal yang melacak keberadaan Bagas, dan sepanjang perjalanan ke sini hati mereka hampir copot membayangkan hal buruk yang bisa terjadi pada putra kecil mereka.
“BAGAS!” teriak Larasati histeris, berlari mendekat dan memeluk putranya erat-erat seolah takut anak itu akan menghilang jika ia melepaskan pelukannya. Air matanya mengalir deras membasahi rambut Bagas, tangannya memeriksa seluruh tubuh anak itu berulang kali untuk memastikan tidak ada luka serius. “Kamu baik-baik saja, ya? Katakan pada Ibu kamu tidak apa-apa!”
Bagas mengangguk pelan sambil menangis tersedu di pelukan ibunya. “Aku baik, Bu. Berkat Kak Reno. Dia menyelamatkanku. Dia terluka parah, Bu. Tolong bantu dia!”
Agung berjongkok di samping Reno yang terbaring lemah di tanah, wajahnya penuh rasa bersalah dan kekaguman yang mendalam. Ia mengangkat tubuh pemuda itu dengan hati-hati, menahan air mata yang hampir tumpah melihat luka-luka parah di tubuh Reno yang semuanya diderita demi melindungi putranya.
“Kau sudah melakukan lebih dari yang seharusnya, Nak. Terima kasih. Terima kasih banyak. Aku tidak akan pernah melupakan ini seumur hidupku.”
Reno tersenyum lemah, matanya mulai terpejam karena lelah dan rasa sakit yang luar biasa.
“Aku hanya… menepati janjiku, Pak. Menjaga keluarga kalian… adalah tugasku.”
Malam harinya, suasana di rumah sakit terasa hening dan berat. Reno terbaring lemah di ruang perawatan intensif, bahu kirinya diperban tebal, luka-luka di tubuhnya sudah diobati. Dokter mengatakan tidak ada luka dalam yang serius, tapi ia butuh istirahat total selama beberapa minggu agar bisa pulih sepenuhnya.
Di ruang tunggu, Agung duduk memegangi kepalanya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat menahan emosi yang meluap-luap. Rasa bersalah yang mendalam menghantam hatinya — rasa bersalah karena gagal melindungi putranya sendiri, rasa bersalah karena Reno harus terluka parah demi kesalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Larasati duduk di samping suaminya, menarik tubuh pria itu masuk ke dalam pelukannya. Ia tahu betapa hancurnya hati Agung saat ini. Pria itu selalu berusaha terlihat kuat di depan siapa pun, tapi di dalam hatinya, ia hanyalah seorang ayah yang takut kehilangan anaknya dan merasa gagal menjalankan tugasnya.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Yang,” bisik Larasati lembut sambil mengusap punggung suaminya berulang kali. “Kita tidak pernah tahu kapan bahaya akan datang. Yang penting sekarang Bagas selamat. Reno juga akan sembuh. Itu yang paling utama.”
Agung mengangkat wajahnya, matanya merah dan basah oleh air mata yang tidak sanggup ia tahan lagi.
“Tapi hampir saja, Laras. Hampir saja aku kehilangan putra kita. Hampir saja Reno meninggal demi kesalahanku yang tidak bisa mengamankan keluargaku sendiri. Dulu saat kita di kontrakan, aku sering takut tidak bisa memberikan keamanan yang cukup untuk kalian berdua. Aku berjanji saat kita sudah kaya raya, aku akan memberikan perlindungan terbaik di dunia untuk keluargaku. Tapi lihat apa yang terjadi? Bahkan dengan semua pengawal dan kekayaan yang kita miliki, bahaya tetap bisa mendekati anak-anak kita kapan saja.”
Larasati mencium kening suaminya dalam-dalam, air matanya sendiri menetes jatuh membasahi wajah pria itu.
“Tidak ada perlindungan yang sempurna di dunia ini, Yang. Bahkan orang terkaya sekalipun tidak bisa menjamin keselamatan mutlak bagi orang yang dicintainya. Yang penting adalah kita selalu berusaha. Yang penting adalah kita selalu ada untuk satu sama lain saat bahaya datang. Dan Reno… dia membuktikan bahwa keluarga kita tidak hanya terdiri dari darah daging saja. Dia adalah bagian dari kita sekarang. Dan dia akan kita jaga sebaik mungkin sebagai balasan atas apa yang telah dia lakukan untuk Bagas.”
Di sudut ruang tunggu, Lala berdiri diam memandangi wajah adiknya yang sudah tertidur lelap di kursi panjang karena kelelahan. Tangannya gemetar memegang kain dingin yang ia tempelkan di dahi Bagas. Hatinya masih berdebar kencang membayangkan betapa dekatnya adiknya dengan kematian hari ini. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi adiknya, merasa bersalah karena selama ini ia terlalu asyik dengan urusannya sendiri di desa sampai lupa bahwa bahaya juga mengintai keluarganya di kota.
Reno yang terbaring di ruang perawatan tiba-tiba membuka matanya perlahan. Ia melihat Lala yang berdiri di dekat pintu kaca dengan wajah penuh air mata dan rasa bersalah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengetuk pelan kaca jendela untuk menarik perhatian gadis itu.
Lala segera masuk ke dalam kamar, berjalan mendekat dengan langkah ringan agar tidak menyakiti Reno.
“Kau jangan banyak bergerak dulu, Kak Reno. Dokter bilang kau harus istirahat total,” katanya pelan, suaranya pecah karena menahan isak tangis. “Terima kasih… terima kasih sudah menyelamatkan Bagas. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak ada di sana hari ini.”
Reno tersenyum lemah, mencoba mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka untuk mengusap air mata di pipi Lala.
“Jangan menangis, Lala. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Bagas… dia seperti adikku sendiri. Dan melindunginya sama saja dengan melindungi sebagian dari dirimu. Aku tidak akan pernah membiarkan apa pun terjadi pada orang-orang yang kau cintai. Bahkan kalau itu berarti aku harus mempertaruhkan nyawaku sendiri.”
Air mata Lala semakin deras mengalir mendengar kata-kata itu. Ia menggenggam tangan Reno yang hangat dengan kedua tangannya, menempelkannya di wajahnya yang basah oleh air mata.
“Kau bodoh, Kak Reno. Sangat bodoh. Jangan pernah mempertaruhkan nyawamu lagi demi kami. Aku tidak bisa membayangkan dunia tanpa kehadiranmu sekarang. Tidak hanya Bagas yang membutuhkanmu. Aku… aku juga membutuhkanmu.”
Reno menatap mata gadis yang dicintainya itu dengan tatapan penuh cinta yang tidak lagi ia sembunyikan. Ia tahu cintanya mungkin masih dianggap terlalu dini atau tidak pantas karena perbedaan status dan latar belakang mereka. Tapi hari ini, setelah hampir kehilangan segalanya, ia sadar bahwa ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencintai dan menjaga gadis ini selagi ia masih bernapas.
Malam semakin larut. Agung berdiri sendirian di balkon rumah sakit, menatap hamparan lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di bawahnya. Wajahnya kini sudah tenang, tapi matanya memancarkan ketegasan yang dingin dan mengerikan. Ia sudah cukup lama bertahan, cukup lama bersikap baik dan hanya membela diri saat diserang. Tapi hari ini, musuhnya sudah melewati batas terakhir yang tidak boleh dilanggar siapa pun. Mereka sudah berani menyentuh nyawa anaknya. Mereka sudah membuat orang yang dianggapnya sebagai keluarga sendiri terluka parah.
Ia mengeluarkan telepon genggamnya, menekan nomor kepala tim intelijen pribadinya yang paling setia. Saat suara orang di ujung telepon menjawab, suara Agung terdengar rendah dan penuh amarah yang membeku.
“Kita ubah strategi. Mulai detik ini, kita tidak lagi hanya bertahan. Kita serang balik. Cari tahu semua kelemahan Viktor Reinhard. Cari tahu semua rahasia kotornya, semua kejahatan yang pernah dia lakukan. Aku ingin dia hancur total. Aku ingin dia merasakan sendiri bagaimana rasanya hampir kehilangan semua yang dia miliki. Dan aku ingin dia tahu — bahwa keluarga Saraswati tidak akan pernah diam saja saat darah mereka ditumpahkan.”
Telepon ditutup. Agung menatap langit malam yang gelap, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar berniat menghancurkan seseorang sampai tidak ada yang tersisa sama sekali. Ia tidak lagi menjadi pria baik hati yang selalu memberi maaf pada musuh yang bertobat. Kali ini, ia adalah ayah dan kepala keluarga yang marah karena anak dan keluarganya disakiti. Dan tidak ada yang lebih mengerikan daripada seorang ayah yang siap melakukan apa saja demi melindungi orang-orang yang dicintainya.
Di kejauhan, di hotel mewah tempat Viktor Reinhard menginap, pria Jerman itu menerima laporan kegagalan rencananya hari ini. Ia tidak marah. Ia justru tersenyum lebar, seolah semakin tertantang melihat ketangguhan keluarga Saraswati.
“Bagus. Mereka mulai menunjukkan taringnya sekarang,” gumamnya pelan sambil memutar gelas anggur merah di tangannya. “Permainan ini semakin menarik. Mari kita lihat seberapa jauh mereka bersedia pergi demi melindungi satu sama lain. Dan seberapa besar rasa sakit yang bisa mereka tanggung sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.”