Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?
Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Masa Lalu Alletta
Alletta sudah kembali ke kamarnya usai melapor ke Tetua Danton, papanya. Dari balik jendela, ia melihat hujan gerimis yang turun. Pertanyaan Milly tadi dan hujan ini mengingatkannya pada masa lalunya. Hari itu juga turun hujan gerimis seperti saat ini, ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang panti asuhan. Ia berdiri di pintu panti sambil menggenggam erat tas kain lusuh miliknya. Di dalam tas itu tersimpan beberapa baju, sebuah boneka kecil yang telah kehilangan satu mata dan selembar kertas berisi gambar keluarga yang ia gambar sendiri. Rambutnya dikepang sederhana dan jantungnya berdebar penuh harapan.
Selama bertahun-tahun ia hanya melihat keluarga demi keluarga berdatangan menjemput anak-anak di panti. Pernah suatu ketika ia melihat dari balik pintu kaca panti, ada seorang anak yang menangis bahagia saat dipeluk orang tua angkatnya. Ia juga melihat ada anak panti lain yang membiasakan diri memanggil ayah dan ibu. Ia sungguh-sungguh pernah punya harapan yang besar jikalau ia akan punya keluarga.
Ia berbeda dari Milly, yang diadopsi Nenek Dorothy sejak bayi, ia diadopsi saat usianya hampir genap 7 tahun. Ia sudah bisa membedakan mana benar dan salah. Tapi ia tidak mau kalah. Mendengar cerita Milly yang begitu disayangi oleh Nenek Dorothy bahkan semasa kecil Milly tidak pernah tahu dirinya adalah anak adopsi. Maka ia pun mengarang cerita. Ia bercerita ke orang-orang yang ia temui jika ia juga diadopsi sejak bayi.
Hari itu ia sangat bahagia. Karena ia akan punya rumah, punya kamar, punya keluarga. Ia ingat saat Pak Danton menggenggam tangannya di depan ibu panti dan berkata lembut padanya, "Mulai sekarang kamu akan ikut kami." Mata kecilnya berbinar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa seperti anak-anak sebayanya yang bakal punya papa mama di rumah. Suatu entitas yang disebut keluarga.
Sepanjang perjalanan, ia membayangkan mungkin ada meja makan besar di rumah dan mereka sekeluarga makan bersama. Ia juga membayangkan seseorang akan bertanya bagaimana ia melewati harinya, bagaimana ia dipeluk ketika sedih dan mungkin sudah ada kamar indah dan baju bagus yang menunggunya di rumah.
Namun, ketika mobil melewati gerbang besar rumah yang akan ia tempati, ia perlahan menyadari sesuatu. Rumah itu terlalu sunyi, tidak kehangatan di dalamnya. Meski awalnya ia masih berharap semua keluarga punya cara berbeda. Mungkin kasih sayangnya tidak ditunjukkan dengan pelukan tapi dengan sederet aturan. Ia berpikir mungkin Pak Danton dan istrinya hanya butuh waktu. Tapi hari demi hari berlalu dan ia mulai mengerti. Pak Danton tidak membawanya pulang sebagai anak yang seharusnya dilindungi dan dikasihi. Ia hanyalah bidak kecil dalam permainan catur orang dewasa.
Di rumah, ia belajar banyak aturan. Tidak boleh keluar tanpa izin. Tidak boleh berbicara dengan orang luar, maka tidak heran teman pertamanya adalah Milly. Tidak boleh menolak perintah. Tidak boleh bertanya lebih dari apa yang diberitahu. Harus patuh. Harus menjaga rahasia dan urusan klan. Tapi tidak ada satupun yang mengajarinya bagaimana menjadi seorang anak.
Masa kecilnya berlalu di ruangan yang sunyi. Kadang di dalam kamar besar yang indah dan kadang ada di balik jeruji besi bawah tanah.
Ia masih ingat kapan pertama kali dibawa turun ke tempat yang menjadi bisikan diantara para pelayan klan. Pintu besi tua di lorong terbuka dengan suara derit panjang. Udara dingin dan lembab menyambutnya. Aroma dinding batu yang basah, karat besi dan kegelapan memenuhi nafasnya.
Waktu itu ia masih terlalu muda untuk memahami kenapa tempat yang mirip penjara ini ada di bawah rumahnya.
Langkah kakinya menggema di sepanjang lorong sempit. Tok.. Tok.. Tok.. Setiap suara terasa semakin berat saat ia melewati deretan pintu besi. Di balik beberapa pintu terdengar suara rantai bergerak. Suara nafas pelan. Ia berhenti berjalan dan menatap ke arah sel-sel gelap di sisi lorong. Itu adalah pertama kali ia melihat tempat yang paling menyeramkan.
"Ini adalah tempat bagi mereka yang mengkhianati klan," beritahu Pak Danton. Suaranya terdengar datar tak ada belas kasihan.
"Tidak semua orang pantas mendapatkan kebebasan," tandas Pak Danton.
"Kadang seperti kuda liar, seseorang butuh dikendalikan. Dan ini tempat yang tepat untuk mengendalikan mereka," imbuhnya kembali menegaskan.
Ia menatap dingin ketika melihat bagaimana orang-orang disana hidup tanpa cahaya matahari, tanpa keluarga dan tanpa pilihan. Saat itu ia juga menyadari dirinya tak berbeda. Sekalipun ia tidak dirantai atau dikurung di balik jeruji besi. Tapi hidupnya ditentukan oleh Pak Danton sejak ia diadopsi.
Sayangnya seperti kata Milly. Ia juga pernah tinggal di salah satu sel penjara bawah tanah ini. Karena ia melanggar perintah ayahnya. Ia tidak menunggu perintah, ia memasuki wilayah terlarang atas inisiatifnya sendiri.
Ketika semua orang mengira ia sudah tidur di kamarnya seperti biasa. Ia justru bergerak mengunjungi sel bawah tanah. Ia melewati koridor belakang yang sudah jarang digunakan. Ada pintu kayu tua di ujung lorong yang menjadi jalan pintas menuju ruang bawah tanah.
Dulu ia pernah melihatnya dari kejauhan. Pintu itu selalu terkunci dan dijaga. Dengan tangan gemetar ia membuka kunci yang ia curi dari penjaga. Klik. Suara putaran kunci yang berhasil dibuka itu seperti suara paling keras yang memekakkan telinga. Ia menahan nafas, menunggu apakah ada yang datang. Namun ketika tidak ada yang datang, ia lanjut mendorong pintu itu perlahan. Ia kemudian menuruni tangga batu ke bawah. Saat sudah sampai di bawah, ia melihat lorong panjang dengan deretan pintu besi. Tempat itu sama seperti yang pernah ia lihat. Ia berjalan melewati sel-sel gelap. Beberapa sel itu kosong, tapi beberapa masih berisi tahanan. Orang-orang yang melihatnya terkejut.
"Siapa kamu?" suara pria serak terdengar dari balik jeruji.
"Aku.. tinggal di atas," jawabnya pelan.
"Anak klan?"
Waktu itu seingatnya ia hanya menunduk. Karena ia tidak tahu apakah ia harus menyangkal atau mengiyakan. Sesungguhnya ia tidak tahu apakah dirinya bisa disebut anak klan. Ia berlari meninggalkan mereka menuju ruangan lain di ujung sel. Itu ruangan penyimpanan dokumen. Ruangan itu berisi catatan nama-nama orang klannya dan rencana klan yang disusun bertahun-tahun. Dan diantara semua catatan itu ia menemukan namanya sendiri.
Tangannya membeku ketika membaca tulisan di atas kertas tua itu. Catatan itu berisi tentang dirinya, alasan kenapa ia dibawa dan diadopsi dari panti. Tentang tujuan sebenarnya--mereka mengira ia adalah sang Pelihat itu. Seorang yang di kemudian hari diketahui ternyata bukan dirinya. Ia ternyata bukan yang dipilih. Ia hanya bayangan dari yang dipilih karena memiliki tanggal lahir sama.
Tiba-tiba terdengar suara di ujung lorong yang mencarinya. Ia panik, tapi ia tahu ia tidak akan bisa lari dari tempat ini. Ia berdiri kaku ditengah lorong gelap. Tangannya masih menggenggam dokumen yang baru ia temukan.
Pintu besi di belakangnya terbuka dengan suara keras. Beberapa bayangan hitam masuk dengan wajah dingin.
"Kamu sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak kamu lihat." Suara salah satu bayangan hitam itu terdengar menakutkan.
Ia mundur selangkah. "Aku hanya ingin tahu kebenarannya."
Dalam hitungan detik, kedua tangannya ditarik ke belakang. Klik. Gelang besi dingin mengunci pergelangan tangannya. Ia menatap borgol besi pada tangannya sendiri. Ia dibawa kembali melewati lorong penjara. Suara borgol bergema tiap kali tangannya bergerak. Dan ketika salah satu pintu sel terbuka, ia didorong masuk dengan kasar.
Brak!!! Pintu besi tertutup di belakangnya. Ia duduk di lantai dingin dalam penjara. Ia menghabiskan berminggu-minggu dalam penjara karena pemberontakannya.
Tetua Danton baru membebaskannya setelah ia menunjukkan sikap patuh dan penurut. Tidak lagi bersikeras mengetahui rahasia klan.
***