Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan di Bawah Langit Malam
Menjelang malam, area taman di dekat danau sudah berubah.
Sebuah meja makan telah disiapkan menghadap langsung ke permukaan danau. Lampu-lampu kecil di sekitar gazebo memberikan cahaya lembut, sementara beberapa staf villa memastikan semuanya tertata dengan rapi.
Tiffany yang baru keluar dari villa langsung mengernyit.
"Kenapa tiba-tiba makan malam di luar?"
Gavin yang sudah menunggunya hanya tersenyum.
"Karena kita sedang liburan."
Tiffany menatap meja makan yang sudah tertata.
"Kamu yang mengaturnya?"
"Sedikit."
Tiffany masih terlihat curiga.
"Sedikit?"
Gavin menarikkan kursi untuknya.
"Sudahlah, Sayang. Cepat duduk."
Tiffany akhirnya duduk.
Ia tidak tahu bahwa sejak kemarin Gavin sudah membicarakan rencana malam ini dengan Paman Liu.
Dan di tempat yang tidak terlihat oleh Tiffany, persiapan terakhir untuk kejutan yang Gavin simpan sejak mereka berangkat sudah selesai dilakukan.
Gavin kemudian duduk di seberangnya.
Tiffany memperhatikan makanan yang tersaji.
"Kenapa banyak sekali?"
"Banyak?"
"Iya."
Gavin melihat meja.
Kemudian mengangguk santai.
"Menurutku biasa saja."
Tiffany langsung menatapnya dengan alis sedikit terangkat.
"Jangan bilang kamu mau menghabiskan semuanya."
Gavin mengambil sendok.
"Kalau tidak habis, kita bisa menghabiskannya bersama para pelayan."
Gavin tertawa kecil.
Makan malam pun dimulai.
Tidak ada suasana formal seperti jamuan keluarga Chen.
Hanya dua orang yang duduk di tepi danau sambil menikmati makanan dan udara malam.
Sesekali Gavin mengobrol tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Tentang perjalanan mereka.
Tentang perahu kemarin yang menurutnya sama sekali tidak hampir terbalik.
Tentang bagaimana Tiffany ternyata mudah panik hanya karena perahu bergoyang sedikit.
"Itu bukan sedikit!" protes Tiffany.
"Menurutku sedikit."
"Kalau sampai jatuh ke air bagaimana?"
"Kan ada aku."
Tiffany berhenti makan.
Gavin mengatakannya begitu saja.
Tanpa nada khusus.
Tanpa maksud menggoda.
Seolah-olah kalimat itu memang sudah sewajarnya keluar dari mulutnya.
Tiffany akhirnya kembali mengambil makanannya. Tatapannya sempat tertahan beberapa detik pada Gavin sebelum ia berpura-pura kembali fokus pada hidangannya.
"Tapi lain kali kamu mendayungnya jangan terlalu kuat."
"Iya, iya."
Gavin mengangguk.
"Tante selalu benar."
Tiffany langsung mendongak.
"Jangan panggil aku Tante."
"Kenapa?"
"Lihat, di sini banyak pelayan. Nanti mereka curiga."
"Baik, Sayang."
Gavin tersenyum.
Tiffany hanya mendengus kecil. Ia menundukkan wajah dan kembali menyantap makanannya, berusaha mengabaikan senyum puas yang terlihat jelas di wajah Gavin.
Setelah makan malam selesai, mereka tidak langsung kembali ke villa.
Tiffany berjalan menuju pagar kayu di tepi gazebo.
Ia bersandar di sana sambil memandang permukaan danau.
Pantulan lampu-lampu kecil bergerak mengikuti riak air.
Gavin berdiri tidak jauh darinya.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya menikmati keheningan.
Kemudian Gavin melirik jam tangannya.
Ia melihat ke arah villa.
Seseorang dari kejauhan memberikan isyarat kecil.
Gavin membalas dengan anggukan singkat.
Tiffany memperhatikannya.
"Apa?"
Gavin langsung memasang wajah polos.
"Apa apanya?"
"Sejak tadi kamu melihat ke arah sana."
"Enggak."
Tiffany menyipitkan mata.
Gavin kemudian menunjuk langit.
"Lihat saja."
"Lihat apa?"
"Sebentar lagi."
Tiffany semakin bingung. Dahinya sedikit berkerut, sementara matanya masih mengikuti arah tangan Gavin.
"Sebentar lagi apa?"
Gavin tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum sambil berdiri di sampingnya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
DUAR!
Suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Tiffany tersentak dan spontan mengangkat wajah.
Satu cahaya terang melesat ke langit.
Sesaat kemudian—
BOOM!
Semburan cahaya mekar di atas kegelapan.
Sebuah kembang api besar terbuka seperti bunga raksasa di langit. Percikan-percikan cahaya menyebar ke segala arah, kemudian perlahan turun seperti hujan bintang sebelum menghilang.
Tiffany terdiam.
Belum sempat ia berkata apa-apa, ledakan berikutnya menyusul.
DUAR!
Kali ini cahaya yang muncul jauh lebih besar.
Percikan terang membentuk lingkaran lebar di langit sebelum pecah menjadi puluhan titik kecil.
Pantulannya terlihat jelas di permukaan danau.
Gavin langsung berseru.
"Wah!"
Tiffany menoleh.
Gavin berdiri dengan wajah yang terlihat jauh lebih antusias daripada biasanya. Matanya bahkan tampak berbinar melihat kembang api yang memenuhi langit.
"Lihat itu!"
"Aku lihat."
"Yang tadi bagus, tapi yang ini lebih besar!"
Tiffany kembali menatap langit.
Kembang api terus bermunculan.
Ada yang meledak menjadi ribuan percikan kecil, menyebar seperti bunga yang membuka kelopaknya. Ada pula yang meledak bertingkat, satu ledakan disusul ledakan kedua dan ketiga beberapa saat kemudian.
Langit malam yang sebelumnya gelap kini dipenuhi cahaya.
Setiap dentuman menggema di sekitar danau.
Cahaya yang berkilauan bahkan memantul di mata Tiffany.
Namun wanita itu hanya tersenyum.
Gavin masih sibuk menunjuk ke atas.
"Itu! Lihat!"
"Aku lihat, Gavin."
"Yang itu keren."
"Iya."
"Kenapa jawabannya cuma iya?"
Tiffany menoleh kepadanya.
"Memangnya aku harus bagaimana?"
"Entahlah. Sedikit antusiaslah."
Tiffany hanya tersenyum melihat Gavin yang begitu antusias.
Tiffany kembali melihat langit.
Senyumnya tidak hilang.
Di antara suara ledakan dan cahaya yang terus bermekaran, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Kotak hitam besar.
Benda yang dibawa Gavin sejak mereka berangkat.
Saat itu Gavin begitu cepat menutup kopernya ketika Tiffany bertanya.
Persiapan untuk di villa.
Tiffany perlahan menoleh kepada pria di sampingnya.
"Gavin."
"Hm?"
"Yang kamu bawa waktu berangkat..."
Gavin masih menatap langit.
Tiffany menunjuk ke arah kembang api.
"Ini?"
Gavin akhirnya menoleh.
Senyum jahil muncul di wajahnya.
"Baru sadar?"
Tiffany menatapnya.
"Jadi benar?"
"Ya."
"Kamu sudah merencanakannya dari awal?"
Gavin mengangkat bahu.
"Sedikit."
Tiffany kembali memandang langit.
Untuk beberapa saat, ia tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian pandangannya beralih ke arah villa.
Di kejauhan, Paman Liu berdiri bersama beberapa pelayan.
Tiffany memperhatikannya sebentar dan memanggilnya.
"Paman Liu."
Pria paruh baya itu segera mendekat.
"Ya, Nona?"
Tiffany menunjuk ke langit.
"Ini semua suamiku yang merencanakannya?"
Paman Liu sempat melirik Gavin.
Gavin langsung memasang wajah santai.
Paman Liu tersenyum tipis.
"Tuan muda memang sudah meminta kami menyiapkannya sejak kemarin."
"Oh..."
Tiffany terdiam.
Paman Liu kemudian kembali ke tempatnya, meninggalkan mereka berdua.
Tiffany menatap Gavin.
Pria itu hanya mengangkat bahu.
"Kenapa?"
Tiffany menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Ia kembali memandang langit.
Satu ledakan besar kembali memenuhi pandangan mereka.
Cahayanya menyebar begitu luas hingga sesaat seluruh taman dan permukaan danau terlihat terang.
Tiffany tersenyum.
Tanpa sadar, ia kembali mengingat masa kecilnya.
Tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan.
Taman.
Danau.
Gazebo.
Pohon besar tempat ia dulu bermain.
Dulu, ia datang ke tempat ini bersama keluarganya.
Namun malam ini...
Ia mendapatkan satu kenangan baru.
Bersama pria yang selama ini ia anggap hanya sebagai suami kontrak.
Pria yang menyebalkan.
Pria yang selalu menggodanya.
Pria yang suka menggoda wanita lain dengan menyebut mereka manis atau cantik, tetapi kepadanya justru dengan santainya memanggilnya—
"Tante."
Tiffany menghela napas kecil.
Namun senyumnya tetap ada.
Dasar pria sialan.
Ia melirik Gavin.
Pria itu masih terlihat begitu antusias memperhatikan kembang api.
Selama ini kupikir dia cuma bisa membuat masalah.
Tiffany kembali melihat langit.
Tidak kusangka... dia juga bisa membuat hal seperti ini.
Ada sedikit perubahan dalam pandangannya terhadap Gavin.
Bukan sesuatu yang besar.
Bukan pula sesuatu yang membuatnya tiba-tiba melupakan bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak.
Hanya sebuah kesadaran kecil.
Ternyata Gavin bukan sekadar pria yang suka membuatnya kesal.
Ia juga bisa memperhatikan hal-hal kecil.
Bahkan bisa membuat sebuah tempat yang penuh kenangan masa kecil Tiffany memiliki kenangan baru.
Gavin tiba-tiba menoleh.
"Kok lihat aku?"
Tiffany langsung mengalihkan pandangan.
"Siapa yang melihat kamu?"
"Tadi jelas-jelas."
"Aku melihat kembang api."
"Tadi pandanganmu mengarah ke sini."
"Perasaanmu saja."
Gavin menyipitkan mata.
Tiffany segera menunjuk ke langit.
"Lihat! Itu bagus."
Gavin spontan kembali menatap ke atas.
"Wah!"
Tiffany diam-diam tersenyum.
Untuk malam itu, ia membiarkan Gavin terus mengoceh tentang kembang api.
Ia tidak keberatan.
Malam itu tidak perlu diisi percakapan serius.
Tidak perlu membicarakan perasaan.
Tidak perlu mempertanyakan apa arti semua ini bagi hubungan mereka.
Cukup duduk berdampingan.
Mendengarkan suara dentuman.
Melihat cahaya yang menghiasi langit.
Dan menyimpan satu kenangan baru di tempat yang telah menyimpan begitu banyak kenangan lama Tiffany.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Tiffany tidak ingin malam itu cepat berakhir.