Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Pertemanan
Aqila Fauziah Pratama adalah seorang anak tunggal, usianya 27 tahun dan bekerja dibidang asuransi. Perkenalannya bersama Reihan adalah saat usianya 11 tahun ketika menghadiri salah satu pesta kenalan orang tua mereka.
Hari itu mereka tak saling kenal, dan baru bertemu untuk pertama kalinya. Bagi Aqila yang baru bertemu Reihan pertama kalinya, menganggap Reihan adalah laki-laki yang keren dan ganteng.
Dan, bagi Reihan sendiri yang saat itu terseret dalam pertemuan yang membosankan, bertemu Aqila mungkin sedikit membuatnya terhibur, terlebih sosok Aqila yang sangat ceria.
"Hai! namaku Aqila, salam kenal." tanpa malu-malu Aqila mendekati Reihan yang duduk diam dibangkunya bersama dengan minuman yang dia bawa.
"Ada anak kecil dipesta?"
"Sembarangan, aku sudah besar tauuuu.. " protes Aqila tak suka dibilang anak kecil.
"Iya deh, sudah besar." Reihan tertawa kecil mendengar celetukan anak kecil yang baru pertama kali ia temui itu.
Saat itu, Reihan menganggap Aqila seperti anak kecil yang lucu, karena tubuhnya memang mungil dan kecil, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang cukup tinggi dengan badan yang cukup berisi di usianya yang baru 16 tahun.
Pesta yang membosankan itu menjadi lebih menarik karena anak kecil yang tanpa malu-malu mendekatinya dan terus mencoba untuk dekat dengannya itu terus saja menceritakan hal tak terduga.
"Cerewet juga." batin Reihan, yang saat itu mendengar Aqila terus berceloteh di depannya dengan penuh percaya diri.
Karena rumah mereka cukup dekat ditambah dengan kedekatan orang tua mereka, membuat keduanya sering bertemu dan menjadi cepat akrab. Walau ada perbedaan pada usia mereka, namun terkadang Reihan mengajak Aqila untuk bertemu dengan teman-temannya.
Aqila pun juga kadang mengajak Reihan untuk jalan-jalan bersama, bahkan mereka sering kali jalan berdua saja. Tak ada kecanggungan atau bahkan merasa malu, keduanya cukup nyaman satu sama lainnya.
Banyak yang mengira mereka berpacaran, namun sebenarnya hubungan mereka hanyalah sebatas pertemanan biasa? Tak ada ikatan yang serius dalam kedekatan mereka selama ini. Walau banyak yang ingin mendoakan keduanya bisa bersatu. Tapi, baik Reihan dan Aqila, hingga kini masih nyaman dalam kesendiriannya.
"Aku di undang ke nikahan anaknya Rustam bulan depan." pak Septian yang akhirnya sampai dirumah dan bergabung bersama untuk makan malam, membuka obrolan dengan sang istri.
"Rustam yang teman sekolah papa itu?" Rosita menjawabnya sembari mengambilkannya lauk.
"Iya, katanya anaknya yang bungsu bakalan menikah bulan depan."
"Wah, perasaan dia baru menikahkan anaknya yang kedua, kan?, tapi udah mau menikahkan anak bungsunya? Aku kok jadi sedikit iri."
"Karena anaknya sudah pada dewasa juga, jadi untuk apa menundanya kalau sudah ketemu sama jodohnya."
"Anak kita juga ada yang sudah besar dan dewasa, tapi belum ada kepikiran buat menikah?"
"Udah gitu, gimana mau dapat jodoh, kalau dia aja terlalu cuek begini?"
Merasa mamanya sedang menyindirnya, Reihan hanya bisa diam tak mau membela diri. Terus memakan makanannya dengan mode pasrah, seolah sudah biasa.
"Iya, kapan sih kakak akan menikah? Cepetan dooong, jangan jomblo terus." Raisa ikut meledek sang kakak. "Biar nggak digangguin sama kak Aqila lagi." lanjutnya, namun dengan nada yang sangat pelan, hingga tak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.
"Kalian semua lagi bersekongkol nih ceritanya?" akhirnya Reihan mulai bersuara dengan ekspresi pura-pura cemberut di depan kedua orang tuanya dan adiknya yang sedang meledeknya.
"Apanya yang bersekongkol, orang kita lagi bahas anaknya teman papa kamu yang mau nikah." Dewi Rosita pura-pura mengelak.
Canda tawa mengiringi makan malam Reihan dan keluarganya. Masih ada Aqila yang bergabung bersama mereka, namun kali ini ia banyak diam dan sesekali menutupinya dengan senyum tipisnya ketika ada pembahasan seputar pernikahan Reihan. Entah mengapa hal itu sangat mengusik hatinya.
"Pernikahan?"