Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTUKARAN PELAJAR (1)
Hari-hari pertama Naya di Amerika sangat padat. Orientasi. Pertemuan dengan host family. Sekolah baru. Dokumen dan penyesuaian jadwal. Tak ada Nara yang bisa selalu menemaninya. Dan itu justru hal pertama yang membuat Naya menyadari sesuatu. Dalam bayangannya, berada di kota yang sama berarti mereka bisa bertemu kapan saja.
Kenyataannya tidak. Nara punya kuliah. Naya punya sekolah. Nara punya tugas. Naya punya host family dengan aturan sendiri. Terkadang mereka bahkan hanya bisa bertemu akhir pekan.
Namun sekarang jarak bukan lagi delapan ribu mil. Kadang hanya tiga puluh menit. Kadang empat puluh menit. Dan itu sudah terasa seperti keajaiban.
Pertemuan pertama mereka setelah Naya benar-benar mulai sekolah terjadi pada Sabtu pagi. Nara mengajaknya mengunjungi Stanford. Pagi baru saja menyentuh kawasan Stanford University ketika sinar matahari California perlahan jatuh di antara deretan pohon palem yang membingkai jalan menuju kampus. Udara masih terasa sejuk, sementara langit biru membentang luas di atas bangunan-bangunan bergaya arsitektur Romanesque yang menjadi ciri khas universitas tersebut. Di kejauhan, Hoover Tower berdiri menjulang, seolah menjadi penanda bahwa di tempat inilah berbagai gagasan besar pernah lahir dan berkembang.
Semangat untuk menciptakan sesuatu terasa kuat di lingkungan kampus. Kedekatan Stanford dengan Silicon Valley membuat universitas ini memiliki hubungan erat dengan dunia teknologi dan kewirausahaan. Tidak sedikit mahasiswa yang datang dengan sebuah pertanyaan sederhana, kemudian mengubahnya menjadi penelitian, prototipe, bahkan perusahaan. Di tempat ini, kegagalan tidak selalu dianggap sebagai akhir perjalanan. Sebaliknya, kegagalan sering menjadi bagian dari proses menemukan sesuatu yang lebih baik.
Di antara kesibukan tersebut terdapat pula suasana yang tenang. Halaman rumput yang luas menjadi tempat mahasiswa membaca, berdiskusi, atau sekadar beristirahat. Di sekitar Main Quad, langkah kaki bergema di sepanjang koridor batu. Tidak jauh dari sana berdiri Memorial Church, sebuah bangunan megah yang memberikan kesan berbeda dari laboratorium dan pusat teknologi yang tersebar di berbagai bagian kampus.
Naya berdiri di depan kampus dengan mata berbinar. Ia memasuki kawasan utama Stanford bersama Nara. Suasananya terasa seperti memasuki sebuah kota kecil yang dibangun khusus untuk ilmu pengetahuan. Bangunan berwarna krem dengan atap genteng merah berdiri mengelilingi halaman-halaman luas. Lorong-lorong beratap yang panjang menghubungkan satu gedung dengan gedung lainnya. Mahasiswa berjalan cepat sambil membawa laptop dan buku, sebagian mengendarai sepeda menuju ruang kuliah, laboratorium, atau perpustakaan.
“Jadi ini tempat yang bikin kamu sibuk terus?”
Nara berjalan di sebelahnya. “Selamat datang di penyebab semua penderitaan.”
Naya tertawa.
Mereka berjalan melewati halaman luas. Gedung-gedung kampus. Mahasiswa dengan sepeda. Pepohonan. Tempat-tempat yang selama ini hanya Naya lihat melalui foto.
Nara menunjuk sebuah bangunan.
“Itu perpustakaan.”
“Tempat kamu sering ketiduran?”
“Aku tidak pernah ketiduran.”
“Kak Nara.”
“Sekali.”
“Katanya tiga kali.”
“Siapa yang bilang?”
“Sabrina.”
Nara berhenti. “Kamu ngobrol sama Sabrina?”
Naya tersenyum misterius.
“Rahasia.”
Nara menggeleng. Mereka melanjutkan berjalan. Kemudian seseorang memanggil.
“Nara!”
Naya menoleh. Sabrina datang bersama dua mahasiswa lain. Ketika melihat Naya, ia langsung tersenyum lebar. “You must be Naya.”
Naya sedikit canggung.
“Yes.”
Sabrina memeluknya singkat.
“Finally!”
Naya tertawa. Nara memandang mereka berdua.
“Kenapa semua orang bilang finally?”
Sabrina menatap Naya. “He talks about you a lot.” (Nara selalu membicarakan tentangmu kepada kami)
Nara langsung menyela. “No, I don’t.” (Mana ada)
Sabrina mengabaikannya.
“He does.” (Beneran)
Naya menoleh ke Nara.
“Oh?”
“Jangan percaya dia.”
Sabrina tersenyum. “Welcome to California.” (Selamat datang di California)
“Thank you.” (Terima kasih)
Setelah Sabrina dan dua temannya pergi, Naya berjalan beberapa langkah tanpa bicara. Nara melihatnya.
“Kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
“Naya.”
Naya tersenyum.
“Dia baik.”
Nara mengangguk.
“Aku bilang juga apa.”
Naya berhenti.
“Dan cantik.”
Nara langsung tahu. “Naya.”
“Apa?”
“Kita baru ketemu lagi.”
“Aku cuma observasi.”
“Tapi tipeku adalah yang cantik ada cute-nya sepertimu.” Goda Nara sambil menjulurkan lidahnya.
“Ihhh, Kak Nara…” Naya tersipu malu dan untuk menutupinya ia berusaha mencubit Nara namun dirinya berhasil mengelak sambil tertawa. Kali ini tidak ada kecemburuan seperti dulu. Karena sekarang Naya sudah melihat Sabrina sebagai manusia nyata. Bukan karakter dalam imajinasinya. Bukan perempuan asing dalam foto. Hanya seorang teman Nara. Dan ternyata jarak memang sering membuat sesuatu terlihat jauh lebih besar daripada kenyataannya.
***
Sore itu, Nara membawa Naya ke salah satu tempat favoritnya di kampus. Sebuah area tenang di bawah pepohonan. Mereka duduk berdampingan. Untuk beberapa menit tidak ada percakapan. Naya memandang langit.
“Langit yang sering Kak Nara foto?”
Nara mengangguk.
“Iya.”
“Biasa aja.”
Nara menoleh tidak percaya.
“Serius?”
Naya tertawa.
“Bercanda.”
Angin California bergerak pelan. Naya menutup jaketnya lebih rapat.
Nara berkata, “Aneh.”
“Apa?”
“Selama ini aku selalu membayangkan kalau kamu ada di sini.”
“Terus?” Naya menatapnya.
“Sekarang beneran ada.”
Naya tersenyum. “Kecewa?”
“Sedikit.”
Naya langsung memukul lengannya. Nara tertawa.
“Bercanda.”
Mereka kembali diam. Kemudian Naya berkata,
“Kak Nara.”
“Hmm?”
“Enam bulan.” Nara memahami. Program Naya hanya enam bulan. Setelah itu ia harus kembali ke Indonesia dan menjalani sebagai siswi SMA Perguruan TA. Jarak yang sekarang mengecil akan kembali melebar.
Nara memandang ke depan. “Jangan hitung dari sekarang.”
“Tapi tetap akan datang.”
“Aku tahu.”
Naya menunduk. Aneh. Ketika mereka terpisah ribuan kilometer, ia selalu berharap bisa berada di tempat yang sama. Sekarang setelah harapan itu tercapai, ia justru mulai takut kehilangan lagi.
Nara berkata, “Kita punya enam bulan.”
Naya menatapnya. “Jangan habiskan enam bulan itu takut sama bulan ketujuh.”
Kalimat itu membuat Naya diam.
Kemudian tersenyum. “Sejak kapan kamu pintar ngomong begitu?”
“Stanford.”
“Bohong.”
“Bayar mahal. Harus ada hasil.”
Naya tertawa.
***
Beberapa minggu berikutnya menjadi salah satu masa paling bahagia dalam hubungan mereka. Mereka tetap sibuk. Namun sekarang ada sesuatu yang dulu tidak mereka punya. Kemungkinan bertemu. Sabtu sore di kafe. Jalan kaki setelah kelas. Makan malam sederhana.
Naya mengerjakan tugas sekolah sementara Nara membaca materi kuliah. Kadang mereka hampir tidak bicara selama satu jam. Namun hanya dengan berada di meja yang sama, semuanya terasa cukup. Seperti yang dulu sering mereka lakukan di perpustakaan sekolah.
Suatu hari Naya berkata, “Lucu.”
“Apa?”
“Dulu kita video call tiga puluh menit saja sudah senang.”
Nara melihat laptopnya. “Sekarang kamu duduk dua jam di depan aku dan kita hanya bicara tiga kalimat.”
“Bosan?”
“Enggak.”
“Terus kenapa?” Naya tersenyum.
Nara menatapnya. “Karena kamu ada.”
Naya langsung kembali melihat bukunya. Namun pipinya sedikit memerah. Salah satu ekspresi yang disukai Nara.
***
Namun jarak yang mengecil membawa tantangan yang berbeda. Jika dulu masalah mereka adalah tidak bisa melihat kehidupan satu sama lain, sekarang mereka justru mulai melihatnya terlalu dekat.
Naya melihat betapa sibuknya Nara sebenarnya. Ia melihat hari-hari ketika Nara hanya tidur beberapa jam. Melihat tekanan kuliah. Melihat bagaimana Nara kadang menatap laptop terlalu lama sambil memijat pelipis.
Nara juga melihat sisi lain Naya. Naya ternyata cukup mudah merasa tertekan untuk menjaga nilainya karena merasa harus belajar lebih keras dibandingkan yang lain. Merasa bahwa secara akademis ia masih jauh dari harapan. Padahal tidak demikian, menjadi lima besar seangkatan dan menjaganya hingga sekarang serta memutuskan untuk mengikuti pertukaran pelajar saja menurut Nara adalah prestasi yang sangat luar biasa lompatannya dari seorang Naya.
Suatu malam di sebuah kedai kopi, Nara memperhatikan Naya yang terus menghapus tulisan di laptopnya.
“Sudah sejam.”
Naya tidak menoleh. “Hmm.”
“Naya.”
“Aku lagi ngerjain.”
“Kamu belum makan.”
“Nanti.”
Nara menutup laptop Naya.
“Eh, jangan ditutup dulu.”
“Makan dulu.”
“Aku belum selesai.”
“Kamu dari siang belum makan.”
“Aku enggak lapar.”
Nara menatapnya. Naya akhirnya menyerah.
“Oke.”
Ia mengambil sandwich. Kemudian berkata, “Kamu sekarang kayak Papa.”
“Bagus.”
“Enggak bagus.”
“Kalau kamu enggak bisa jaga diri, seseorang harus cerewet.”
Naya tersenyum kecil. “Kamu dulu juga sering lupa makan.”
Nara berhenti. “Benar.”
“Nah.”
Mereka saling melihat. Kemudian tertawa. Mungkin seperti itulah hubungan mereka berubah. Dulu mereka hanya tahu versi terbaik satu sama lain. Sekarang mereka mulai belajar menyaksikan hari-hari buruk. Kelelahan. Kegagalan. Kebiasaan menyebalkan. Ketidaksempurnaan. Dan anehnya, mereka justru semakin merasa dekat.
***
Pada bulan ketiga program Naya, musim mulai berubah. Suatu malam mereka duduk di dekat kampus setelah makan. Naya menyandarkan kepala ke bahu Nara. Tidak ada percakapan beberapa saat. Kemudian Naya bertanya, “Kamu pernah nyesel?”
“Nyesel apa?”
“Pergi.”
Nara berpikir cukup lama. “Pernah.”
Naya sedikit menjauh.
“Serius?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Bulan pertama.” Nara menatap langit. “Semua terlalu cepat. Bahasa. Kuliah. Orang-orang. Aku sempat mikir mungkin aku enggak seharusnya ada di sini.”
Naya tidak pernah mendengar cerita itu.
“Kok kamu enggak bilang?”
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
“Kalau aku cerita, semuanya jadi nyata.”
Naya memandangnya.
Nara melanjutkan,
“Dan aku juga takut kamu bilang pulang saja.”
“Aku enggak akan bilang begitu.”
“Aku tahu sekarang.”
Naya tersenyum. “Kalau sekarang?”
“Enggak nyesel.” Nara menggeleng.
“Karena Stanford?” Tanya Naya lagi.
Nara memandangnya. “Bukan cuma.”
Naya tahu arah jawabannya.
“Jangan gombal.”
“Aku belum ngomong.”
“Aku tahu.”
Nara tertawa.
***