Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Malu di tanggung sakit
Di dalam kamar mandi, Zevanna duduk bersandar di lantai keramik yang dingin dan basah. Shower di atasnya masih menyala, mengucurkan air yang membasahi seluruh tubuhnya hingga baju santai yang ia kenakan basah kuyup.
Awalnya, Zevanna masuk ke kamar mandi cuma buat menyiram wajahnya agar rasa malu luar biasa itu mereda. Tapi karena pikirannya kalut dan matanya buram oleh air mata malu, kakinya terpeleset mengenai lantai licin.
Rasa sakit yang luar biasa mendadak menjalar dari pergelangan kaki kanannya. Bunyi krak yang cukup nyaring mengiringi rasa nyeri yang menusuk sampai ke tulang. Kakinya terkilir parah, dan dalam hitungan detik, area pergelangan kakinya mulai membengkak kebiruan.
"Nhh..." Zevanna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan suara tangisnya agar tidak terdengar keluar.
Sejak kecil, Zevanna memang tipe orang yang kalau sakit atau sedih selalu menangis dalam diam. Kebiasaan menahan napas sambil membiarkan air mata menetes tanpa suara sudah jadi insting alaminya. Bibirnya gemetar hebat, napasnya tersedak-sedak, dan lelehan air mata bercampur dengan kucuran air shower di wajahnya.
Ia mencoba berdiri. Kedua tangannya mencengkeram tepi wastafel dengan gemetaran. Tapi baru saja kaki kanannya menyentuh lantai sedikit saja, rasa sakitnya seperti ditusuk jarum beracun.
Bruk!
Zevanna ambruk lagi ke lantai wet basah, meringkuk memeluk lututnya yang gemetar.
Sementara itu di luar kamar, Aruna sudah pamit pulang karena dijemput oleh suami dan anaknya. Setelah mengantar kakaknya ke depan pintu, Areksa melangkah naik ke lantai dua dengan senyum miring yang masih tersisa di wajahnya. Niat awalnya, ia ingin menjahili dan menggoda Zevanna habis-habisan soal insiden cemburu salah sasaran tadi.
Tok, tok, tok.
"Nana? Kamu masih di dalam?" panggil Areksa dari balik pintu kamar mandi. Nggak ada jawaban. Cuma terdengar gemericik air shower yang menyala terus-menerus.
"Nana, jangan sembunyi di kamar mandi terus. Kakak Aruna udah pulang tuh," goda Areksa lagi sambil mengetuk pintu.
Tetap tidak ada sahutan. Tapi insting Areksa mendadak menangkap sesuatu yang aneh. Suara shower terlalu lama menyala, dan sama sekali tidak ada pergerakan di dalam.
"Zevanna? Kamu nggak apa-apa di dalam?" Nada suara Areksa berubah, senyum bercandanya menghilang seketika. Rasa khawatir mulai mendominasi dadanya.
Areksa memutar gagang pintu. Terkunci dari dalam.
"Zevanna! Buka pintunya!" panggil Areksa, kali ini dengan nada panik. Tanpa pikir panjang lagi, Areksa mundur dua langkah, lalu mendobrak pintu kayu itu dengan bahunya.
BRAK!
Pintu terbuka paksa. Dan pemandangan di dalam kamar mandi seketika membuat jantung Areksa serasa berhenti berdetak.
Zevanna terduduk lemas di lantai basah kuyup di bawah kucuran shower. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab dengan air mata yang terus mengalir deras tanpa suara, dan kakinya membengkak besar hingga meradang kebiruan.
"Nana!"
Semua niat jahil dan gengsi Areksa luntur tak berbekas dalam hitungan detik. Pria itu langsung berlutut di lantai yang basah, mengabaikan celana dan kemejanya yang ikut basah kuyup. Tangan Areksa dengan cepat mematikan kran shower, lalu merengkuh tubuh dingin istrinya ke dalam pelukan.
"Kamu kenapa?! Ya Tuhan, Nana!" suara Areksa bergetar hebat, panik setengah mati saat merasakan tubuh Zevanna yang gemetaran dan dingin seperti es.
Zevanna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia cuma menggeleng pelan, menggigit bibirnya sampai berdarah demi menahan jeritan sakitnya. Air matanya terus mengalir membasahi dada kemeja Areksa.
"S-sakit... Sa..." bisik Zevanna akhirnya, suaranya parau dan sangat lirih.
Areksa mengusap bibir berdarah istrinya dengan lembut seolah mengatakan jangan di gigit.
Melihat pergelangan kaki Zevanna yang membengkak abnormal, Areksa langsung paham. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu telak. Kalau saja ia tidak membiarkan permainan gengsi dan bercandaan konyol ini berlarut-larut, Zevanna tidak akan panik dan jatuh seperti ini.
"Maaf... Maafkan aku, Nana," bisik Areksa penuh penyesalan. Tanpa membuang waktu, Areksa mengangkat tubuh Zevanna dalam gendongan bridal style, membawanya keluar dari kamar mandi dan membaringkannya perlahan di atas kasur.
Dengan sigap, Areksa mengganti baju Zevanna yang basah kuyup dengan pakaian kering, tanpa sifat mesum kambuh seperti biasanya, hanya rasa khawatir yang lebih mendominasi. Ia menyelimutinya dengan kain besar dan tebal, lalu menyuruh kepala pelayan memanggil Pak Tarjo—seorang tukang urut profesional langganan keluarga yang biasa menangani cedera terkilir.
Zevanna terus melenguh kesakitan hingga kedua tangannya mencengkram kuat kedua sisi kemeja Areksa. Pria itu segera menangkup wajah merah istrinya, menenangkannya. Kedua ibu jarinya mengusap pelan pipi dingin Zevanna. "Sabar ya!" bisik Areksa sebelum mengecup seluruh wajah istrinya memberi ketenangan kepada wanita itu.
Zevanna menggeleng-geleng kepala kuat di dada Areksa. "Aku nggak bisa nahan sakit. Kamu tahu itu" lirihnya.
Areksa tahu betul, Zevanna memang tidak bisa menahan rasa sakit sedikitpun. Itu sering terjadi saat-saat mereka masih pacaran di bangku SMA. Tapi bedanya, Zevanna nggak pernah menampilkan wajah sakit, lebih memilih menyembunyikannya. Sekarang, Zevanna banyak menyalurkan emosinya dan itu hal yang sangat bagus baginya.
"Sial!" umpat Areksa kala mendengar suara tangis Zevanna semakin menjadi. Dengan gerakan cepat, ia membawa tubuh istrinya ke dalam gendongannya, menimbang wanita bak seorang bayi. Bibirnya tanpa henti mengecup bahu Zevanna. "Jangan takut. Ada aku disini, Dear"
Setengah jam kemudian, Pak Tarjo sudah berada di dalam kamar. Areksa duduk di samping Zevanna, menggenggam erat kedua tangan istrinya yang masih terasa dingin.
"Ini terkilir parah, tuan muda. Uratnya terkunci di dalam. Harus ditarik dan dibetulkan posisinya sekarang juga, kalau enggak bisa bengkak makin parah," terang Pak Tarjo sambil membaluri pergelangan kaki Zevanna dengan minyak urut hangat.
"Lakukan pelan-pelan, Pak. Jangan sampai makin sakit," perintah Areksa, suaranya cemas luar biasa. Matanya tidak lepas menatap wajah pucat Zevanna.
Pak Tarjo memegang pergelangan kaki Zevanna. "Tahan ya, Nyonya..."
Baru saja jari Pak Tarjo menekan titik pusat memar di kaki Zevanna...
"AARRGGHHH! JANGAAANNN! SAKIIITT!"
Jeritan histeris meluncur keras dari tenggorokan Zevanna. Pertahanan diri Zevanna yang biasanya selalu menahan tangis, jebol seketika. Rasa sakitnya begitu dahsyat sampai-sampai Zevanna berteriak histeris seperti orang kesurupan! Matanya melotot tajam, otot-otot lehernya menegang, dan tubuhnya memberontak hebat di atas kasur.
"AARRGGHH! LEPAS! AREKSA SAKITTT! LEPASKANNN!" jerit Zevanna melengking, tangannya mencengkeram dan mencakar lengan Areksa dengan sangat kuat hingga kulit pria itu tergores merah.
"Nana! Tahan, sayang! Tahan sebentar!" Areksa panik setengah mati. Ia langsung mendekap tubuh atas Zevanna erat-erat, menahan gerakan liar istrinya agar tidak melukai kakinya sendiri.
"AARRGGHHH! BUNDAA! SAKITTT! AREKSA SURUH DIA BERHENTII!" Zevanna menangis histeris, badannya meliuk-liuk kesakitan bagaikan orang yang sedang kerasukan roh jahat. Air matanya membakar pipi, membasahi wajahnya yang makin pucat pasi.
Pak Tarjo dengan cepat memanfaatkan momen itu untuk menarik dan memutar pergelangan kaki Zevanna dengan satu gerakan tegas.
KRAK!
"AAAAAARRRRGGGGHH—!"
Jeritan puncak Zevanna terputus di udara. Suaranya mendadak habis. Rasa sakit luar biasa yang menghantam sarafnya membuat kesadaran wanita itu melayang seketika.
Tubuh Zevanna yang tadinya memberontak keras, mendadak terkulai lemas di pelukan Areksa. Kepala Zevanna terkulai bersandar di dada Areksa, matanya terpejam rapat, namun lelehan air mata masih terus berlinang mengalir pelan melewati pipinya yang pucat.
Zevanna pingsan.
"Zevanna? Nana?!" Areksa membelalak kaget. Ia menepuk-nepuk pipi istrinya dengan gemetaran. "Nana, bangun! Pak Tarjo, kenapa dia pingsan?!"
"Nggak apa-apa, tuan muda. Nyonya pingsan karena menahan sakit yang terlampau hebat. Tapi posisi uratnya sudah kembali normal. Sekarang tinggal dikompres dan diistirahatkan," jelas Pak Tarjo tenang sambil membalut kaki Zevanna dengan perban.
Areksa mengembuskan napas lega, meski dadanya masih berdegup kencang oleh trauma melihat istrinya menjerit histeris tadi. Setelah Pak Tarjo pamit keluar, kamar kembali hening.
Areksa membenarkan posisi tidur Zevanna di atas kasur. Ia mengusap lelehan air mata yang masih tersisa di pipi pucat istrinya dengan ibu jari, penuh kelembutan dan rasa kasih yang mendalam. Bekas cakaran Zevanna di tangannya sama sekali tidak ia pedulikan.
Areksa mengecup kening Zevanna lama, menyalurkan seluruh rasa penyesalan dan cintanya.
"Maafkan aku, Nana..." bisik Areksa lirih di telinga istrinya yang sedang pingsan. "Aku janji, aku nggak akan pernah main-main sama gengsi bodoh ini lagi."