Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Benih Pengkhianatan
Gemuruh runtuhan semakin nyaring, debu batu melayang memenuhi ruangan, dan retakan di dinding semakin melebar seolah siap menelan kami hidup-hidup setiap saat. Erlan tak membuang waktu sedetik pun—ia segera merangkulku erat ke dadanya, melindungi kepalaku dengan lengannya yang kokoh, lalu berlari secepat mungkin menuju lorong keluar yang mulai tertutup bebatuan. Setiap langkah terasa berat, setiap hembusan napas bercampur debu yang menyengat, namun ia tak sekalipun melepaskan genggamannya. Kejadian ini bukan sekadar kerusakan fisik akibat amarah Sari: hancurnya tempat penyimpanan rahasia leluhur ini adalah tanda bahwa ia sengaja ingin menghapus setiap jejak kebenaran yang tersisa, sekaligus mengunci kami di dalam sana jika perlu. Dan ancaman tentang "benih lain" yang ia tanam terus berputar di benakku, menimbulkan rasa takut yang jauh lebih dingin daripada bahaya runtuhan ini—karena benih itu pasti tumbuh di tempat yang kami percayai, di sisi orang yang kami kira setia.
Sesampainya di ujung tangga, sepotong batu besar meluncur tepat di belakang kami, menutup sepenuhnya jalan masuk ke ruangan bawah tanah. Udara di luar terasa segar kembali, namun kelegaan itu tak bertahan lama. Langit senja yang tadi mulai memerah kini tertutup awan gelap yang datang tiba-tiba, seolah alam pun ikut merasakan ketegangan yang belum usai. Erlan duduk sebentar di sampingku, memeriksa apakah aku terluka, namun pandangannya tajam menatap ke arah hutan tempat Sari melarikan diri.
"Kemenangan kita belum sempurna," ucapnya pelan namun tegas, tangannya meremas rumput kering di tanah. "Kita berhasil menyatukan kembali bagian jiwaku yang terpisah, kita mematahkan sumpah yang didasari ketakutan... tapi kita lengah pada musuh yang bukan lagi mengejar kekuatan mutlak, melainkan dendam pribadi yang tak masuk akal. Sari tidak peduli pada keseimbangan atau takdir. Ia hanya ingin kita hancur dengan cara apa pun, bahkan jika itu berarti menghancurkan segalanya bersamaan dengan kita."
Hubungan sebab-akibatnya kini terlihat jelas: selama ini Sari bukan sekadar alat, melainkan seseorang yang memendam kebencian yang tumbuh dari perasaan terabaikan dan iri hati yang tak tersalurkan. Ketika harapannya mendapatkan kekuasaan dari sosok bayangan itu runtuh, ia tidak menyerah—ia justru beralih pada rencana yang jauh lebih kejam: merusak apa yang paling berharga bagi kami, dari dalam, menggunakan kepercayaan yang kami berikan kepada orang-orang di sekitar kami.
Kami segera kembali ke rumah dengan perasaan waspada yang mengerikan. Sepanjang perjalanan, pikiranku merambati daftar orang-orang yang selama ini mendukung kami: staf kepercayaan, kerabat jauh, rekan kerja yang setia, hingga orang-orang yang pernah kami bantu. Siapa yang mungkin telah disusupi? Siapa yang diam-diam mendengarkan bisikan Sari? Dan sejak kapan benih itu mulai ditanam? Ketidakpastian ini jauh lebih menyakitkan daripada menghadapi musuh yang terang-terangan, karena setiap senyuman, setiap ucapan baik, kini bisa jadi merupakan topeng yang menyembunyikan pisau yang siap menusuk tepat saat kami lengah.
Sesampainya di rumah, suasana tampak tenang seperti biasa, namun ketenangan itu kini terasa penuh kepura-puraan. Erlan segera memeriksa catatan-catatan terakhir Dimas yang tersimpan aman, mencari petunjuk apakah penjaga itu pernah mencurigai seseorang yang dekat dengan kami namun tak sempat ia sampaikan secara terang-terangan. Dan setelah menyusuri setiap halaman, sebuah catatan kecil yang terselip di sela-sela halaman akhir membuat darah kami berdesir hebat:
"Hati-hati pada mereka yang datang membawa kesetiaan tanpa alasan yang jelas. Dendam tidak selalu datang dari musuh lama. Kadang ia tumbuh pada mereka yang merasa berhak mendapatkan apa yang menjadi milikmu, namun tak pernah mendapatkannya. Dan yang paling berbahaya... mereka yang diam-diam mengagumi namun tak pernah bisa memilikinya, akan berubah menjadi pembinasa yang paling kejam saat kesempatan datang."
Kalimat itu seolah menunjuk tepat pada sosok Sari—namun apakah hanya dia? Atau masih ada orang lain yang memiliki perasaan serupa namun lebih pandai menyembunyikannya?
Malam semakin larut, saat kami sedang berdiskusi di ruang kerja, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari gudang penyimpanan dokumen penting. Erlan segera meraih senjata yang disiapkan secara diam-diam, lalu memberi isyarat agar aku tetap berada di belakangnya dengan aman. Saat kami mendekat, pintu gudang sedikit terbuka, dan cahaya senter dari dalam menerangi siluet seseorang yang sedang memegang berkas-berkas rahasia yang berisi data keuangan perusahaan serta rencana perlindungan yang kami susun. Saat orang itu berbalik, napasku tercekat.
Itu adalah Rina—sekretaris kepercayaan Erlan selama lima tahun terakhir, wanita yang selalu tampak sopan, tepat waktu, dan tak pernah terlihat menyembunyikan apa pun. Namun saat ia melihat kami, wajahnya yang biasanya lembut kini berubah dingin dan penuh kepahitan.
"Kalian pikir semua orang akan terus tunduk pada kalian selamanya?" ucapnya dengan suara bergetar menahan amarah yang sudah lama terpendam. "Selama ini aku ada di sini, melayani, bekerja keras, berharap suatu hari kau akan melihatku, Erlan. Tapi kau hanya melihatnya..." Ia menunjukku dengan tatapan tajam penuh iri. "Wanita yang mati dan kembali hidup, yang entah apa keistimewaannya hingga kau rela melakukan apa saja demi dia. Sari memberiku kesempatan untuk mengubah segalanya. Dia memberiku cara untuk membuatmu sadar bahwa kau tidak bisa mendapatkan segalanya dengan mudah."
Erlan maju selangkah, matanya tak percaya namun tetap tenang. "Kau mengira apa yang kau lakukan ini akan membuatku melihatmu? Kau mengira pengkhianatan akan menggantikan apa yang sudah ada di antara kami? Kau bukan hanya menjual kepercayaanku, Rina. Kau menjual keselamatan banyak orang hanya demi perasaan yang tak pernah kau sampaikan dengan jujur."
"Karena tidak ada yang akan mendengarkanku!" bentaknya histeris. "Kalian semua hanya melihat apa yang tampak di permukaan! Dan sekarang, saat rencana kami berjalan... kalian tidak akan bisa menghentikannya lagi. Apa yang Sari tanam bukan hanya pada aku. Ia sudah menyiapkan segala sesuatu agar saat waktunya tiba, orang yang paling kau percaya akan menjadi senjata yang menghancurkanmu seketika."
Belum sempat Erlan bertanya lebih lanjut, Rina dengan sigap melempar sebotol cairan pembakar ke tumpukan dokumen di sudut ruangan. Api segera berkobar dengan cepat, menyebar hebat menguasai ruangan dalam hitungan detik. Saat Erlan berusaha memadamkan api atau menahannya, Rina berlari keluar menuju pintu belakang yang sudah terbuka—tempat Sari kemungkinan besar sudah menunggunya di sana.
Kami berhasil memadamkan sebagian api sebelum merambat ke ruangan lain, namun dokumen-dokumen penting yang menjadi bukti perlindungan dan jejak kejahatan mereka sudah hangus menjadi abu. Dan yang jauh lebih mengerikan adalah pengakuan Rina: benih itu bukan hanya satu. Ada orang lain yang lebih dekat, yang lebih dipercaya, yang kini telah dikuasai oleh pengaruh jahat itu.
Saat kami berdiri di tengah asap yang perlahan menghilang, ponsel Erlan berdering. Bukan pesan, melainkan rekaman suara yang dikirim tanpa identitas pengirim. Suara yang terdengar jelas di sana membuat darah kami berhenti mengalir sejenak: itu adalah suara orang yang selama ini menjadi penasihat kepercayaan ayah Erlan, orang yang hadir saat perjanjian nikah kontrak kami dibuat, orang yang kami anggap sebagai pelindung kedua keluarga kami.
Suaranya terdengar tenang namun mengerikan:
"Waktunya hampir tiba, Tuan Muda. Segala sesuatu yang kau bangun... akan kuberikan pada mereka yang lebih pantas memilikinya. Termasuk wanita yang kau cintai."
Panggilan terputus. Di luar sana, angin malam menderu kencang seolah memberi isyarat bahwa pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai—bukan melawan kekuatan gaib, melawan dendam, iri hati, dan pengkhianatan dari orang-orang yang kami anggap keluarga sendiri. Dan pertanyaan yang kini menghantui kami tanpa henti adalah: siapa lagi yang sebenarnya bisa kami percaya? Dan apakah orang yang paling kami andalkan selama ini justru orang yang sudah lama menunggu waktu yang tepat untuk menusuk kami dari belakang?