Indonesia
NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Diatas Ketinggian Kota.

Dua bulan berlalu bagai hembusan angin sejuk yang perlahan mengikis setiap sisa kecanggungan di antara Zaid dan Nara.

Rumah yang dulunya terasa sepi oleh batasan-batasan canggung kini mulai dipenuhi kehangatan. Senyum menyapa di pagi hari, tawa kecil di meja makan, hingga obrolan ringan menjelang malam telah menjadi rutinitas manis yang makin mendekatkan dua insan tersebut.

Malam itu, langit Jakarta dihiasi cahaya bintang yang cerah. Zaid membawa Nara ke sebuah restoran rooftop bernuansa elegan dan romantis di pusat kota.

Sinar lampu-lampu kota (city lights) membentang indah di bawah mereka, dipadu dengan cahaya redup lilin di atas meja serta alunan musik jazz lembut yang mengalun tenang.

Nara tampil anggun dengan gaun panjang berwarna sage green, warna favoritnya. yang dipadukan dengan kerudung senada yang terpasang rapi.

Sementara Zaid terlihat begitu tampan dan matang dengan kemeja putih yang dilipat rapi hingga siku.

"Tempatnya indah sekali, Mas," bisik Nara lembut, menatap cahaya kota dari balik dinding kaca. Tangannya perlahan menyesap jus jeruk segar di atas meja.

Zaid menatap istrinya tanpa berkedip. Ada cahaya kekaguman yang tak lagi ia sembunyikan dalam manik matanya.

"Saya senang kalau kamu menyukainya, Nara."

Seusai hidangan utama selesai dinikmati, Zaid meletakkan serbetnya dengan tenang. Pria itu memperbaiki posisi duduknya, menopang jemarinya rapat di atas meja, lalu menatap Nara dengan raut wajah yang sedikit lebih serius namun tetap hangat.

"Nara... ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," ujar Zaid tenang, suaranya mengalun seperti melodi yang menenangkan.

Nara menengadah, membalas tatapan suaminya dengan dahi berkerut halus. "Soal apa, Mas?"

"Saya ingin kamu membuat sebuah jadwal khusus untuk kita berdua. Satu atau dua hari dalam seminggu, khusus untuk kita menghabiskan waktu bersama, tanpa gangguan pekerjaan, tanpa urusan panti, hanya kita," terang Zaid mantap.

Nara tertegun sejenak, matanya membelalak tipis. "Jadwal? Maksud Mas Zaid... semacam agenda kencan begitu?"

Zaid mengangguk pelan tanpa ragu.

 "Bisa dibilang begitu. Kamu yang menentukan aktivitasnya. Mau jalan-jalan, nonton, mencoba resep baru di rumah, atau sekadar jalan sore di taman. Saya akan menyesuaikan jadwal kerja saya dengan schedules yang kamu buat."

Nara sempat terdiam, jemarinya saling bertautan di atas pangkuan. Rasa bingung menyergap benaknya.

Pria yang dihadapannya ini adalah sosok yang sangat logis dan terstruktur, bahkan untuk urusan membangun kedekatan sebagai pasangan suami istri pun, Zaid menyikapinya dengan pendekatan yang begitu sistematis.

Namun, di balik rasa heran itu, hati kecil Nara tak bisa memungkiri adanya desir hangat yang melingkupi dadanya. Ia tahu betul, ini adalah ikhtiar tulus Zaid untuk pernikahan mereka yang diawali tanpa dasar cinta.

Nara menyunggingkan senyum tipis yang amat manis.

"Baiklah, Mas. Kalau itu demi kebaikan hubungan kita, aku akan buatkan jadwalnya. Tapi... kenapa tiba-tiba Mas Zaid berpikir sampai sejauh ini?"

Zaid menghela napas pendek, terkekeh pelan menutupi rasa canggungnya yang langka muncul. Ia memajukan sedikit tubuhnya ke arah Nara.

"Sebenarnya... ini berkat wejangan dari Paman Firman," Ujar Zaid jujur.

"Om Firman?" Nara menaikkan sebelah alisnya, teringat sosok paman Zaid yang berwibawa namun tegas itu.

"Iya," Zaid tersenyum tipis, mengingat percakapan panjangnya dengan Pak Firman beberapa hari lalu.

"Paman rupanya diam-diam memperhatikan kita. Beliau sempat menyentil saya saat acara keluarga minggu lalu. Paman bilang, melihat cara saya bertukar sapa dengan kamu masih terlalu formal, seperti rekan bisnis yang saling menghormati, bukan seperti sepasang suami istri yang sedang membangun kehangatan."

Nara menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa kecil yang hampir meledak.

"Oalah... jadi Mas Zaid tersentil kata-kata Om Firman?"

"Paman Firman ada benarnya, Nara," lanjut Zaid penuh kesungguhan, tatapannya mengunci mata Nara rapat-rapat.

"Beliau mengingatkan saya bahwa rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah itu tidak roboh hanya dari badai besar, tapi bisa merenggang kalau kita tidak memupuk kehangatan kecil setiap hari. ... Paman minta saya perbaiki itu. Dan saya mencerna nasihat beliau dengan sangat serius, karena saya memang ingin pernikahan kita ini berjalan dengan membahagiakan untuk kamu dan saya."

Kata-kata Zaid yang begitu jujur dan bertanggung jawab meluncur mulus tanpa benteng gengsi. Nara meratapi betapa beruntungnya ia memiliki Zaid.

Pria yang mungkin tidak pandai merangkai kata-kata manis mendayu-dayu, namun selalu memanifestasikan cintanya lewat tindakan nyata dan rasa tanggung jawab yang amat tinggi.

"Terima kasih ya, Mas..." bisik Nara tulus, matanya berkaca-kaca oleh haru. "Terima kasih karena selalu berusaha menjadi suami yang terbaik buat aku."

"Saya yang harusnya berterima kasih karena, kamu mau bersabar menghadapi pria kaku seperti saya," balas Zaid seraya tersenyum lembut.

.

.

Tiba-tiba, lagu romantis bernuansa classic ballad mulai dimainkan oleh band akustik di sudut restoran. Beberapa pasangan suami istri di restoran itu mulai beranjak menuju area berdansa kecil di tepi rooftop.

Zaid berdiri dari kursinya. Ia mengancingkan satu kancing jas santainya, lalu melangkah mengikis jarak ke samping kursi Nara. Pria itu mengulurkan telapak tangan kanannya ke hadapan Nara, menundukkan kepalanya sedikit bagai seorang pangeran.

"Mbak Nara... mau berdansa sebentar dengan saya?" bisik Zaid dengan nada suara bernuansa berat yang amat memikat.

Jantung Nara berdegup kencang, berdesir hebat bagai ribuan kupu-kupu terbang di dalam perutnya.

Wajahnya merona merah sempurna. Tanpa ragu, Nara meletakkan telapak tangan kecilnya di atas telapak tangan Zaid yang hangat dan kokoh.

"Dengan senang hati, Mas Zaid."

Zaid menuntun Nara pelan menuju area lantai kayu tepi rooftop. Di bawah naungan pendar sinar rembulan dan gemerlap lampu kota yang membiru dari kejauhan, Zaid meletakkan tangan kirinya dengan lembut di pinggang Nara, sementara tangan kanannya merengkuh erat jemari Nara. Nara menyandarkan tangan kirinya di bahu tegap Zaid.

Mereka mulai bergerak perlahan, mengikuti irama musik yang mengalun lembut. Langkah Zaid yang tenang membimbing setiap pergerakan mereka dengan amat pas.

Jarak mereka begitu dekat. Nara dapat mencium aroma maskulin bercampur wangi yang khas dari tubuh Zaid. Kehangatan yang memancar dari dada suaminya, seolah menjadi tempat paling aman di seluruh dunia baginya.

"Mas..." panggil Nara pelan, menengadah menatap garis rahang Zaid yang tegas.

"Ya, Nara?"

"Mulai minggu depan, di dalam jadwal yang aku buat... wajib ada agenda jalan-jalan sore ke taman bunga dan masak bareng di rumah. Mas Zaid tidak boleh menolak," bisik Nara dengan binar mata yang berani dan jahil.

Zaid terkekeh renyah, sebuah suara tawa yang kini makin sering Nara dengar dan makin ia cintai. Pria itu makin mengetatkan dekapan tangannya di pinggang Nara, menarik tubuh istrinya sedikit lebih rapat ke dalam pelukannya.

"Perintah diterima, Istriku. Saya tidak akan berani menolak," bisik Zaid tepat di dekat telinga Nara, sebelum akhirnya mengecup kening Nara dengan lembut dan lama di bawah cahaya lilin sore menjelang malam. Entah dorongan apa yang membuat Zaid berani mengecup Nara di sini.

Nara memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati setiap detik sentuhan tulus itu. Di atas ketinggian kota malam itu, dua hati yang awalnya asing kini telah benar-benar menemukan rumahnya satu sama lain.

1
Apriyanti
Alhamdulillah sdh bersama
lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga Nara jg jatuh cinta pd zaid
Apriyanti
wah so sweet bgt si🤭
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah semoga mereka cepat jatuh cinta🙏
Apriyanti
wah sampe ikutan nahan nafas aku thor 🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!