Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Lo Licik? Gue Lebih Licik

Transmigrasi: Lo Licik? Gue Lebih Licik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Idola sekolah
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Klarina_za29

Cantik tapi licik itulah julukan untuk Araina Jordan. Perempuan yang serba bisa dan paling menyebalkan bagi keluarga dan teman-temannya.

Araina yang tidak terima di jodohkan oleh keluarganya memilih kabur dari rumah...., sayangnya nasib tidak mendukungnya.
Bukannya bahagia, Ia malah mengalami kecelakaan setelah kabur dari rumahnya.

Tapi.....
Bukannya mati Araina malah masuk ke tubuh orang lain!
"Sialan! Kenapa jadi seperti ini!" ucapnya begitu frustasi.

Jiwa Araina malah bertransmigrasi ke tubuh Freya Anastasia Smith..., gadis cantik lemah lembut yang selalu dilindungi oleh dua keluarga besarnya.
"Tidak masalah yang penting masih kaya" gumam Araina.

Namun semuanya berubah ketika satu persatu ingatan Freya mulai masuk ke kepala Araina.
Pusing? Muak?

Araina baru menyadari ternyata ia bertransmigrasi ke dalam sebuah novel dimana ia hanya adik sepupu dari protagonis pria.

Mati? Tentu saja! Freya hanya seorang figuran....
(Apa yang akan dilakukan Araina selanjutnya? Yaaa rahasiaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbedaan Yang Terasa Jelas

Pagi bergulir dengan sinar matahari tipis yang menembus jendela kaca setinggi plafon di ruang makan utama Mansion Smith. Suasana yang biasanya hening dan kaku, pagi ini terasa sedikit berbeda. Bau harum dari hidangan sarapan ala barat dan lokal beradu di atas meja panjang berukir mewah. Kakek Abraham dan Nenek Laura sudah duduk di ujung meja, disusul oleh lima pemuda keluarga Morgan dan Smith yang berpakaian rapi dengan seragam sekolah masing-masing.

Freya turun dari lantai dua dengan langkah santai, mengenakan seragam SMA Cipta Bangsa yang melekat pas di tubuhnya. Atasan kemeja putih bersih dipadu dengan rok lipit kotak-kotak bernuansa biru gelap. Ia menyapa kedua tetuanya dengan senyuman manis yang begitu alami.

"Selamat pagi Kakek, Nenek," sapa Freya lembut sambil mengecup pipi Nenek Laura dan Kakek Abraham secara bergantian.

"Selamat pagi, cucu kesayangan Nenek. Tidurmu nyenyak semalam?" balas Nenek Laura dengan binar mata hangat. Sikap manis Freya seolah menjadi penawar dahaga bagi rasa rindu yang terpendam selama setahun terakhir.

"Sangat nyenyak, Nenek," jawab Freya, langsung mengambil tempat duduk di sebelah Arga yang sudah menyiapkannya kursi.

Tak lama kemudian, Selena menyusul turun. Langkah kakinya terdengar agak ragu. Wajahnya dipoles riasan tipis untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya akibat kurang tidur dan emosi meluap-luap semalam. Ia mengenakan seragam yang berbeda—seragam SMA Wijaya Kusuma dengan atasan putih bersulam logo khas dan rok berwarna abu-abu gelap.

Melihat kedatangan Selena, atmosfer hangat di meja makan mendadak mengendur. Ingatan tentang drama kado dan tuduhan semalam masih membayang jelas di pikiran semua orang.

"Selamat pagi Kakek, Nenek... Abang-abang sekalian," cicit Selena dengan suara pelan dan sarat nada bersalah. Ia menundukkan kepala, memainkan ujung lengan seragamnya sebelum duduk di kursi paling ujung—berjarak cukup jauh dari posisi Freya.

Justin yang sedang mengunyah rotinya melirik sinis ke arah Selena, lalu berbisik cukup keras pada Langit yang duduk di sampingnya. "Drama part berapa lagi yang mau dimainin pagi ini?" kesalnya.

Langit menepuk paha kembarannya pelan, menyuruhnya diam meski matanya sendiri menatap Selena dengan dingin. Sebagai anggota keluarga Morgan, mereka berdua tidak pernah menyukai Selena yang terkesan selalu memaksakan diri agar dianggap sederajat dengan Freya.

"Selena, duduklah. Sarapan dulu sebelum berangkat," ucap Nenek Laura berusaha mencairkan suasana, walau suaranya kini tak sehangat saat menyapa Freya.

Selena mengangguk pelan. "Iya, Nenek. Maaf kalau Selena mengganggu suasana pagi ini."

Freya yang mendengar kalimat playing victim terselubung itu hanya tersenyum tipis dalam hati. 'Baru mulai sarapan sudah menyindir. Tipikal Selena,' batinnya.

"Sini Selena, makan yang banyak. Jangan dimasukkan ke hati masalah semalam, ya. Kita fokus ke sekolah hari ini," potong Freya dengan nada polos yang sangat mendukung perannya sebagai saudara sepupu penyayang.

Sontak perlakuan Freya membuat Kakek Abraham tersenyum bangga. "Dengar itu Selena. Freya saja yang menjadi korban tidak memperpanjang masalah ini. Jadikan kesalahan kemarin pelajaran berharga. Jangan sampai terulang."

Selena mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Rasa panas membakar dadanya. Di mata keluarga, Freya kini menjadi malaikat yang serba pemaaf, sedangkan dirinya diposisikan sebagai penjahat yang beruntung karena diberi belas kasihan.

"Iya Kakek, Selena paham," jawab Selena dengan senyum terpaksa yang terlihat amat kaku.

Piring-piring mulai diisi. Keheningan melingkupi meja makan selama beberapa saat, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Arga dengan sengaja mengambilkan sepotong pancake tebal dan memindahkannya ke piring Freya.

"Makan yang banyak, Ayaa. Kamu kurusan selama di Inggris. Hari ini kamu sekolah di SMA Cipta Bangsa, kamu butuh energi ekstra," kata Arga dengan perhatian berlebih.

"Terima kasih, Bang Arga," sahut Freya manis.

Melihat perhatian itu, Selena mencoba peruntungannya untuk mengambil hati abang sepupunya yang lain. Ia meraih piring berisi roti panggang dan mengarahkannya pada Langit.

"Bang Langit, ini roti panggang kesukaan Abang, kan? Selena ambilkan ya..." kata Selena dengan nada selembut mungkin, berusaha membangun kembali citra adik yang perhatian.

Namun belum sempat roti itu mendarat di piringnya, Langit secara refleks menggeser piringnya menjauh. Suasana di meja makan mendadak hening seketika.

"Gak usah, gua bisa ambil sendiri," tukas Langit datar tanpa memandang wajah Selena sedikit pun. Ia lalu mengambil croissant di dekatnya dan sibuk mengoleskan mentega.

Penolakan terang-terangan dari Langit menjadi tamparan keras bagi Selena. Wajahnya memerah padam. Air mata buatan yang biasa menjadi senjatanya kini menggenang di pelupuk mata.

"Ma-maaf Bang Langit... Selena cuma mau bantu," bisiknya seraya meletakkan kembali roti tersebut dengan tangan agak gemetar.

Justin terkekeh pelan, menikmati momen keterpojokan Selena. "Lagian aneh banget, mendadak perhatian. Buat apa coba?"

"Justin, jaga bicaramu!" tegur Kakek Abraham tajam, meski beliau sendiri tidak menyalahkan reaksi Langit. Rasa percaya keluarga ini terhadap Selena memang sudah goyah drastis.

Freya melirik Selena yang sedang berusaha menahan malu. 'Merasa tersingkirkan, Selena? Ini baru permulaan dari rasa sakit yang pernah kau berikan pada Freya asli,' pikir Freya tajam di balik ekspresi wajahnya yang tetap terlihat penuh keprihatinan.

"Sudah-sudah, cepat habiskan makanan kalian. Jam terus berjalan," sela Marvel menengahi. Tatapan matanya yang dingin mengintimidasi semua orang di meja makan untuk tidak melanjutkan perdebatan sia-sia tersebut.

Setelah sarapan yang penuh ketegangan itu selesai, mereka semua berdiri dan bersiap menuju kendaraan masing-masing di area carport yang dipenuhi deretan mobil mewah.

Pagi ini, pembagian kendaraan menjadi penegas batas posisi mereka. Karena perbedaan sekolah, rombongan terbagi menjadi dua.

SMA Wijaya Kusuma merupakan sekolah swasta elit yang berisikan anak-anak pengusaha papan atas, tempat di mana Langit, Justin, dan Selena menuntut ilmu. Sementara SMA Cipta Bangsa adalah sekolah berasrama internasional bertaraf tinggi yang berisikan anak-anak kalangan bangsawan dan konglomerat terpandang, tempat Kenan, Arga, dan kini Freya terdaftar.

"Selena, kamu berangkat bareng Langit dan Justin pakai SUV hitam," perintah Marvel singkat saat mereka berada di teras depan.

Selena mendongak, matanya menatap mobil sedan sport milik Kenan yang sudah bersiap mengantar Freya. "Bang Marvel... apa Selena tidak bisa sekali saja diantar bareng Freya? Selena mau mengobrol banyak hal di jalan..."

"Sekolah kalian beda arah, Selena. Jangan membuang waktu dan bikin kekacauan baru," balas Marvel tegas tanpa bisa dibantah.

Justin yang sudah memegang kunci mobil melambaikan tangan ke arah Freya dengan cengiran lebar. "Gua jalan dulu ya, Ayaa! Kalau ada yang nakal di Cipta Bangsa, kasih tahu Bang Kenan sama Arga!"

"Hati-hati di jalan, Bang Justin, Bang Langit!" seru Freya riang.

Langit menepuk kepala Freya pelan sebelum berjalan menuju mobilnya. "Belajar yang benar, Ayaa. Nanti sore Bang Langit jemput."

Selena terpaksa mengekor di belakang Langit dan Justin dengan langkah berat. Saat masuk ke dalam mobil SUV, ia melihat dari balik kaca bagaimana mesranya Kenan membukakan pintu mobil untuk Freya, sementara Arga merapikan kerah seragam gadis itu dengan penuh kasih sayang.

Mobil SUV yang dikendarai Justin melaju lebih dulu meninggalkan garasi Mansion Smith. Di dalam mobil, suasana sangat dingin. Justin dan Langit fokus pada jalanan dan ponsel mereka, sama sekali tidak berniat mengajak Selena berbicara.

Selena yang duduk di kursi belakang mengepalkan tangannya rapat-rapat. Matanya menyipit penuh dendam.

'Lihat saja nanti, Freya. Kamu boleh menang di mansion ini. Tapi begitu di luar, aku akan pastikan hidupmu tidak pernah tenang. Elvano juga milikku, dan aku tidak akan membiarkanmu merebutnya kembali!' batin Selena dengan kemarahan yang membakar dada.

Sementara di dalam sedan sport Kenan, Freya duduk manis di samping Kenan yang sedang menyetir, dengan Arga duduk di kursi belakang.

"Ayaa, kalau ada apa-apa di sekolah, langsung cari Abang di kelas XII-IPA 1 ya," ujar Kenan sambil melirik adik sepupunya melalui kaca spion.

"Atau cari gua di lapangan basket!" timpal Arga dari belakang.

Freya tersenyum lebar, menatap pemandangan kota di luar jendela. Rencana pembalasan dendamnya berjalan sangat lancar. Pagi ini Selena sudah dibuat tersudut tanpa Freya harus mengotori tangannya sendiri. Kini, panggung permainan berikutnya telah siap di SMA Cipta Bangsa, di mana Elvano dan berbagai intrik baru sedang menunggunya.

"Tenang saja, Abang. Ayaa bisa menjaga diri dengan baik kok," jawab Freya dengan pameran senyum paling manis, menutupi seringai tipis yang tersirat di matanya.

~ To Be Continue

1
Sribundanya Gifran
lanjut
aku
lanjuuuuuttt 😁😁
Sribundanya Gifran
lanjut
aku
next 😁
aku
cieeelah freya yg d pggl princessm vano, aq yg senyum2 kamvrett 🤣🤣
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
aku
🌹 semangat update autor 😁🙏
Susi Nugroho
Lanjut
aku
aih, gk dihukum gt si kamvret?? cm diskors? 😌 kok aq yg greget jg sm yg tua2 tuh. gk teges. 🙏
aku
maaf tor, selena bukan yasmin 😁 typo ya hehe
Klarina_za29: Haaa iyaaa udah diperbaiki yaa🤭
total 1 replies
aku
mantep! cb bongkar jg pura2 pingsannya itu, biar makin malluuuu 😃🤣
mksh tor , berasa dkit bgt tor, bisakah nmbh lg? 😁😁 🌹
aku
🌹🌹 semoga autor kalap, up 5 bab , amin!!! 😁😁
aku
kaku dah tu muka 🤣🤣
Mineaa
siap untuk pertunjukan di hari ulah nenek..... 💪
Sulicungliieee
ᥣɑ𐓣ʝυ𝗍 𝗍𝗁𝗈𝗋....ᑯꪱᜒ𝗍υ𐓣𝗀𝗀υ υρ 𐓣ɣɑ

.
Susi Nugroho
Nggak sabar nunggu mereka berdua bertemu....
Yuyun Suprapti
up lg kk💪
Yuyun Suprapti
up lg yg banyak kk💪
Susi Nugroho
Nggak sabar nunggu lanjutannya.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!