Indonesia
NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Mode Pura-Pura Budeg dan Bayang-Bayang Masa Lalu

"Kenapa? Lo takut diputusin secara sepihak sama Erlangga? Atau lo takut dimarahin habis-habisan sama bokap lo karena nekat kabur dari rumah suami?" goda Adit telak, mengunci kemenangan argumennya malam itu di dalam apartemen.

Sella terdiam seketika, ritme napasnya memburu. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan gejolak emosi. Bukan hanya sekadar takut diputusin secara sepihak, namun ia benar-benar tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Erlangga jika harus mengetahui kenyataan sepahit ini lewat sambungan telepon. Apalagi jika kenyataan itu meluncur langsung dari mulut pria kaku sekaku robot seperti Adit.

"Lo jahat banget, Om," bisik Sella lirih, kedua bahunya merosot lemas tanda menyerah kalah.

Adit perlahan menurunkan tangan kanannya, tatapan mata elangnya sedikit melembut saat melihat gurat keputusasaan yang tergambar jelas di wajah cantik Sella.

"Gue nggak jahat, Sella. Gue cuma mau memastikan lo aman di kota asing ini. Sekarang cepat pilih: pulang sama gue baik-baik ke apartemen utama, atau gue benar-benar memencet tombol panggil ini?"

Sella menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap permukaan lantai kayu apartemen pribadinya dengan perasaan kalah telak. "Iya... gue ikut pulang. Tapi balikin dulu ponsel gue!"

"Nanti, kalau kita sudah sampai di apartemen utama," jawab Adit tegas tanpa ada celah negosiasi.

Pria itu berbalik badan dan melangkah lebar menuju ke arah pintu keluar, memberikan isyarat tangan agar Sella segera mengikutinya.

"Cepat jalan, sebelum gue berubah pikiran dan beneran menelepon si Aji."

Sella menghentakkan kaki ketsnya kesal di atas lantai, mengekor pasrah di belakang langkah Adit dengan belahan bibir yang mengerucut lima sentimeter.

Awas lo ya Kanebo Kering, bakal gue balas semua kelakuan lo di apartemen nanti! batinnya geram setengah mati.

****

Mobil Ferrari hitam metalik itu melesat cepat membelah jalanan Kota Paris yang mulai meremang ditelan senja. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, atmosfer udara terasa jauh lebih dingin daripada embusan angin AC yang menyala. Adit mencengkeram kemudi dengan satu tangan kanan, sementara tangan kirinya sesekali bergerak memijat pelipis kepalanya yang berdenyut pening.

"Gue nggak habis pikir, selain kelakuan lo ajaib, ternyata lo jago memeras isi dompet gue juga ya. Lo tahu nggak nominal yang tertera di notifikasi HP gue pas lo maraton belanja tadi? Tahu nggak?!" tanya Adit, nada suaranya naik satu oktav karena berusaha memecah keheningan.

Sella yang duduk di kursi penumpang depan hanya menatap lurus ke arah jendela kaca. Wajah cantiknya tampak datar tanpa ekspresi, belahan bibirnya terkatup sangat rapat, seolah-olah Adit hanya sedang berbicara pada angin lalu. Gadis berusia 19 tahun itu benar-benar sedang memasang mode pura-pura budeg tingkat dewa untuk membalas dendam.

Adit menghela napas lelah, mencoba menurunkan sedikit ego korporatnya di depan sang istri. "Hampir satu M tahu nggak? Sa-tu M! Miliar, bukan ribu! Gue sampai terpaksa meninggalkan rapat direksi penting gue di kantor cabang, lari-laki kayak orang gila menyusuri jalanan cuma demi mencari lo yang lagi asyik nge-mall!"

Hening tanpa jawaban. Sella masih bergeming kaku, bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikit pun ke arah Adit.

"Heh, lo dengar gue nggak sih?!"

Adit mulai gemas. Pria itu mendadak menepikan mobil mewahnya secara mendadak di bahu jalanan yang agak sepi.

Dengan sebuah gerakan yang sangat cepat, Adit mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Sella dan menyingkap topi rajut putih milik gadis itu. Sepasang mata elangnya langsung membelalak sempurna saat melihat benda putih kecil menyumbat lubang telinga gadis itu. Tanpa permisi, Adit merenggut paksa salah satu earphone nirkabel itu hingga terlepas dari telinga Sella.

"Oh, jadi lo sengaja ya memakai ginian dari tadi?!" semprot Adit tepat di depan daun telinga Sella.

"Mau membuat gue kena serangan darah tinggi terus mati muda gitu? Lo seneng kalau statusnya berubah jadi janda, hah?!"

Sella tersentak kaget, ia akhirnya menolehkan kepala dengan tatapan mata yang berapi-api menahan amarah. Ia merebut kembali earphone-nya dengan gerakan kasar.

"Apaan sih, Om?! Berisik tahu nggak! Lagian kalau lo mati muda, gue malah untung besar! Gue dapat warisan melimpah terus bisa langsung kawin lari sama Erlangga tanpa ada gangguan drakula kaku kayak lo!"

Rahang Adit mengeras rapat mendengar nama Erlangga kembali disebut dari bibir istrinya. Ia semakin mendekatkan wajah tampannya, mengunci tatapan mata bulat Sella dengan intensitas yang tinggi.

"Jangan harap. Selama lo masih memakai marga Abraham di belakang nama lo, jangankan kawin lari, memimpikan dia pun resmi gue larang! Paham?!"

Sella mendengus kencang, membuang muka kembali menatap ke luar jendela kaca mobil. "Terserah! Dasar diktator! Balikin ponsel gue!"

"Nggak akan. Sampai lo bisa menjelaskan dengan logis kenapa lo banting barang belanjaan dan kabur kayak maling jemuran dari apartemen tadi," ucap Adit sambil kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan.

"Ck, nyebelin lo, Om! Seharusnya lo yang menjelaskan ke gue, siapa cewek itu sebenarnya? Apa lo punya simpanan wanita lain selain gue di Paris?!" semprot Sella, suara melengkingnya memenuhi kabin mobil. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap wajah Adit dengan tatapan menuntut yang tak terbantahkan.

Adit terdiam sejenak, cengkeraman tangannya pada roda kemudi sedikit mengendur kaku. Ia menghela napas panjang yang terasa sangat berat, sorot matanya yang tajam mendadak meredup, digantikan oleh bayang-bayang masa lalu keluarganya yang kelam.

"Udah gue bilang, urusan ini nggak sesederhana yang lo kira, Sella," ucap Adit dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat berat.

"Dia itu mantan kekasih gue waktu zaman kuliah dulu. Kita terpaksa putus hubungan karena gue harus mengambil penerbangan darurat balik ke Jakarta buat mengurus roda perusahaan almarhum bokap gue yang berantakan hancur lebur."

Adit menepikan mobilnya sejenak di sudut jalan lain, membiarkan mesin Ferrari hitam itu menderu halus di tengah keheningan Paris.

"Gue merasa bersalah... sangat bersalah sama dia. Gara-gara bokap gue, bokapnya Jasmine yang dulu bertindak sebagai asisten pribadi bokap gue, harus ikut terseret ke dalam penjara karena kasus konspirasi pembunuhan berencana itu. Beliau dihukum dua puluh tahun penjara, sementara bokap gue... lo tahu sendiri dari berita nasional, resmi dieksekusi mati."

Sella tertegun seketika di tempat duduknya. Amarah yang tadinya meluap-luap di dalam dadanya mendadak surut lenyap, digantikan oleh sebuah rasa sesak yang aneh. Ia melihat bagaimana rahang Adit yang mengeras rapat, seolah sedang menahan beban sejarah kelam keluarga besar Abraham yang begitu menyiksa mentalnya.

"Gue awalnya juga kaget kalau Jasmine itu ternyata anaknya Om Sebastian Wijayanto. Selama kita pacaran dulu di masa kuliah, gue nggak pernah tahu detail latar belakang keluarganya," lanjut Adit lirih, sepasang matanya menatap kosong ke arah bentangan jalanan di depan.

"Gue merasa berutang nyawa dan masa depan sama dia, Sella. Itu alasan utama kenapa gue nggak bisa bersikap kasar atau langsung mengusir dia begitu saja dari hadapan gue."

Sella terdiam seribu bahasa, jemari tangannya bergerak abstrak memainkan ujung jaket kulit hitamnya. "Jadi... lo masih menyimpan rasa cinta sama dia karena rasa bersalah itu?" tanya Sella pelan, nadanya hampir menyerupai sebuah bisikan halus.

Adit menolehkan kepalanya, menatap wajah Sella dengan tatapan mata yang sangat sulit untuk diartikan secara logis. "Rasa bersalah dan rasa cinta itu beda tipis, Sella. Tapi yang pasti dan harus otak lo tahu, sekarang ada dokumen hukum negara yang menyatakan kalau istri sah gue itu lo, bukan dia."

Sella memalingkan wajah cantiknya ke arah lain, berusaha keras menyembunyikan semburat warna merah padam di pipinya karena salah tingkah.

"Tetap saja nyebelin. Kenapa nggak bilang cerita dari awal? Pakai acara berbicara mesra di ruang kerja apartemen segala."

"Siapa yang berbicara mesra?! Dia yang tiba-tiba datang datang menyelinap masuk!" bantah Adit ketus, kembali menjalankan mobilnya menuju apartemen utama.

"Sudah, nggak usah membahas urusan masa lalu itu lagi. Intinya, jangan pernah berani kabur-kaburan lagi dari rumah. Jantung gue rasanya mau copot mencari lo keliling kota, tahu!"

"Cie... Om drakula takut kehilangan gue ya?" goda Sella, mencoba mencairkan kembali atmosfer canggung meskipun hati kecil mahasiswanya masih terasa sedikit perih.

Adit hanya mendengus pelan mendengar godaan tersebut, namun sudut bibir tegasnya sedikit terangkat ke atas—membentuk sebuah senyuman tipis yang sengaja ia sembunyikan dari pandangan mata Sella.

Begitu langkah kaki mereka berdua berpijak di area lobi penthouse Avenue Montaigne, ponsel pintar milik Adit bergetar hebat di balik saku celananya. Nama Gavin terpampang jelas di atas layar digital. Adit memberikan isyarat tangan agar Sella melangkah masuk ke dalam kamar duluan, sementara dirinya memilih melangkah agak menjauh ke sudut balkon luar dengan raut wajah yang mendadak kembali menegang kaku.

"Kenapa, Pak Gavin? Apa penyelidikan rahasia soal dalang pengirim video ancaman itu sudah membuahkan hasil?" tanya Adit tanpa basa-basi. Nada suaranya terdengar sangat rendah, parau, dan dipenuhi oleh tekanan intimidasi bisnis.

"Belum beres total, Pak. Sepertinya pihak musuh menggunakan tim hacker dan orang-orang profesional yang sangat ahli di bidangnya. Tim IT utama kita kesulitan melacak titik koordinat IP mereka karena terus-menerus berpindah tempat," lapor Gavin dari seberang sambungan internasional, nada suaranya terdengar sangat cemas.

"Tapi ada satu lagi hal darurat dan mendesak yang harus saya sampaikan langsung kepada Anda, Pak. Potongan video rekaman Anda bersama istri Anda... sempat viral di beberapa platform media sosial beberapa menit yang lalu."

Seluruh tubuh tegap Adit seketika menegang kaku bagai balok es. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya mencekik rongga tenggorokannya sendiri.

"Apa?! Viral?!"

"Iya, Pak. Tapi tenang, tim keamanan bursa saham kita sudah bergerak sangat cepat untuk menghapus video dan tautan artikel tersebut di semua media sosial serta portal berita internasional. Meskipun... jujur saja, kita sangat membutuhkan tenaga dan suntikan dana ekstra untuk menutup mulut beberapa pihak agar masalah ini benar-benar bersih tanpa jejak."

1
Wien Ibunya Fathur
lanjut
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru
Soobin Chan: makasih/Smile/
total 1 replies
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!