Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - KUNCI KONTRAKAN TERAKHIR

Tiga hari setelah kami membakar semua foto lama di halaman rumah induk, kontrakan cat hijau nomor empat itu sudah terlihat seperti gudang. Karung-karung daster menggunung di depan pintu, kardus-kardus bertuliskan spidol "BONEKA AISYAH" dan "BUKU SALSA KELAS 5" berserakan di lantai semen.

Hari ini kami pindahan. Resmi.

Aku bangun jam lima pagi. Kebiasaanku memang jam segini sejak sebelas tahun lalu, sejak masih di rumah bocor itu, karena kalau kesiangan sumur belakang kering. Bedanya, pagi ini aku tidak bangun untuk menanak nasi atau live TikTok. Pagi ini aku bangun untuk menyapu kontrakan ini untuk terakhir kalinya.

Sembilan tahun, Ve. Aku tinggal di petak 400 ribu sampai 900 ribu ini sembilan tahun.

Di petak inilah dulu Pak Lurah datang sambil bawa kertas dan bilang, "Minggu depan kalau tidak ada buku nikah KUA, kosongkan." Saat itu aku hanya punya kertas HVS tipis tulisan nikah siri, mas kawin seratus ribu. Di petak ini juga Mbah Sarti pertama kali datang naik angkot dua jam, nafasnya ngos-ngosan karena umur, bawa rantang ayam goreng dua potong. Di petak ini juga Arga pertama kali mencium keningku setelah akad KUA dan bilang, "Mulai hari ini kamu Kirana binti Slamet yang sah." Di petak ini Aisyah pertama kali kubawa pulang dari rumah sakit dengan berat 2,8 kilo, dibungkus selimut kuning tipis. Di petak ini Salsa belajar menulis nama lengkapnya untuk pertama kali: Salsa Humaira Karim. Dan di petak ini juga, tujuh hari lalu, Mbah Sarti menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku, di kasur spring bed yang sekarang sudah kuikat di atas pick up.

Arga sudah bangun juga. Seragam satpamnya belum dipakai. Hari ini dia izin tidak jaga malam. Dia langsung angkat kasur spring bed itu berdua dengan Pak Karim. Pak Karim yang sekarang jalannya sudah agak pincang karena sakit lutut. Padahal sebelas tahun lalu, beliau yang menjemputku dari kebun karet pakai gerobak sapi karena aku sudah tidak punya tempat tinggal.

"Sudah, Kir, jangan dilap lagi lantainya. Nanti yang ngontrak baru yang ngepel," kata Arga melihatku masih mengepel lantai semen yang sebenarnya sudah bersih.

"Terakhir, Yah. Biar yang ngontrak baru enak," jawabku pelan.

Salsa dan Aisyah juga sudah bangun. Salsa sekarang sudah kelas 5, tingginya hampir sepantaran denganku. Dia yang paling rapi melipat daster. Dia melipat daster bunga biru itu dengan sangat hati-hati. Daster itu kan saksi hidup. Daster itu yang kupakai saat diusir. Daster itu yang kupakai saat mengandung Aisyah sembilan bulan di rumah bocor.

Aisyah masih dengan gigi ompongnya yang belum tumbuh sempurna. Dia memasukkan boneka kain sobek yang umurnya sebelas tahun, sama umurnya dengan pengasinganku, ke dalam kardus. Boneka itu sudah tidak berbentuk, tapi dia tidak pernah mau membuangnya. Katanya itu boneka dari Wonorejo.

Jam enam pagi, semua barang sudah di atas pick up. Kasur, lemari kecil tempat buku nikah hijau kami, lapak kayu yang selama ini jadi sumber nafkah, meja live, tiga karung besar berisi seratus potong daster, dan satu kotak kayu kecil berisi surat wasiat dan buku tabungan warisan Mbah Sarti.

Kontrakan kosong. Benar-benar kosong.

Aku berdiri di depan pintu. Di dinding masih ada bekas lakban. Bekas foto USG Aisyah 16 weeks 2 days yang dulu kutempel karena takut hilang. Di langit-langit masih ada gantungan untuk ayunan bayi dari kain jarik. Di pojok masih ada bekas panci alumunium penyok tempat dulu air hujan dari atap kontrakan lama menetes.

Aku tidak bisa menahan tangis. Bukan sedih karena meninggalkan kontrakan. Tapi haru. Karena dari petak sempit inilah aku membuktikan kalau anak yang dulu dibilang aib desa karena hamil duluan, bisa jadi juragan. Bisa menyekolahkan anak tirinya sampai SD favorit, anak kandungnya sampai TK.

"Terima kasih ya, kontrakan," bisikku sambil mengelus kusen pintu yang cat hijaunya sudah mengelupas. "Terima kasih sudah melindungiku dari hujan, padahal dulu atapmu juga bocor. Terima kasih sudah jadi saksi aku dihina sampai aku dipuji."

Pak Haji Sulaiman, pemilik kontrakan, datang jam setengah tujuh. Dia kaget lihat aku nangis.

"Lho, Nduk Kirana kok nangis? Nanti kalau kangen boleh main kesini lagi. Kunci dikembalikan saja, uang deposit 500 ribu nanti saya transfer ya," katanya ramah. Dulu dia galak, sekarang dia ramah, karena omzetku sudah lebih besar dari omzet kontrakannya.

Aku menyerahkan kunci. Kunci kecil berkarat itu. Kunci yang selama sembilan tahun kugenggam.

Jam delapan, pick up jalan. Pelan. Meninggalkan gang kontrakan yang sudah sangat hafal dengan langkah kakiku. Ibu-ibu kontrakan yang dulu melaporkanku ke Pak Lurah karena hamil tanpa buku nikah, sekarang melambaikan tangan dari depan pintu masing-masing. Ada yang teriak, "Nduk Kirana, jangan lupa dasternya kalau ada model baru!"

Perjalanan satu jam ke Wonorejo terasa lama. Kami lewat kebun karet. Tempat rumah bocor itu dulu berdiri. Sekarang sudah tidak ada. Sudah rata. Ditumbuhi pohon pisang dan singkong. Aku menoleh. Tidak ada lagi rasa takut. Dulu setiap lewat sini aku merinding karena ingat bau kemenyan dan suara tet tet tet air hujan jatuh ke panci. Sekarang yang ada hanya rasa lega. Kutukan itu sudah kubakar bersama foto-foto tiga hari lalu.

Lewat warung Bu Lasmi. Bu Lasmi yang dulu mengusirku karena takut warungnya sepi kalau ada perempuan hamil duluan numpang duduk. Sekarang warungnya penuh dengan daster jualanku. Dia melambaikan tangan.

Lewat rumah Bu Tati. Bu Tati yang dulu membawa tiga ibu PKK dengan sapu lidi mengusirku dari rumah bocor karena aku nikah siri tanpa izin Mbah Sarti. Sekarang dia pakai daster bunga biru yang kuberi gratis. Dia juga melambaikan tangan.

Jam sembilan pagi, kami sampai.

Rumah induk Mbah Sarti berdiri kokoh. Tidak seperti rumah bocor. Dindingnya bata, atapnya genteng utuh, halamannya luas dua ratus meter persegi. Pintunya sudah terbuka. Pak Karim sudah membersihkannya kemarin. Tidak ada lagi daun kering.

Kami menurunkan barang satu per satu.

Kasur spring bed kumasukkan ke kamar belakang. Kamar yang dulu adalah kamarku sebelum diasingkan. Kamar dekat dapur. Kamar tempat aku dulu selalu disuruh Mbah Sarti mencuci piring dan menyapu halaman jam lima pagi. Sekarang kamar itu sudah kucat hijau muda, sama persis seperti warna kontrakan. Biar Salsa dan Aisyah tidak kaget.

Lemari kecil kutaruh di kamar tengah. Meja live kutaruh di ruang tamu. Lapak kayu dua kali satu meter yang dulu di depan kontrakan, sekarang kusandarkan di ruang tamu. Nanti akan kujadikan lapak besar lima kali tiga meter. Biar muat seratus potong daster warisan modal tiga puluh juta dari Mbah Sarti.

Siang jam dua belas, semua selesai.

Kami makan siang pertama di rumah induk. Bukan di lantai semen kontrakan, tapi di lantai keramik ruang tengah rumah induk. Lauknya opor ayam Bu Minah yang dimasak di dapur rumah induk, bukan di dapur kontrakan. Telur dadar lima butir dibagi enam orang. Nasi wangi banyak. Sambal terasi. Krupuk. Es teh manis.

Sama seperti makan di kontrakan. Tapi rasanya beda. Lebih lega. Lebih luas. Tidak ada lagi rasa takut diusir minggu depan.

Malam jam delapan, hujan turun. Deras. Seperti biasa di bulan November. Dulu kalau hujan deras di kontrakan 400 ribu, aku panik ambil panci. Kalau hujan deras di rumah bocor, aku panik karena atap bolong tiga titik. Sekarang hujan deras di rumah induk, aku tenang. Gentengnya tidak bocor. Tidak ada suara tet tet tet.

Salsa dan Aisyah sudah tidur di kamar belakang. Memeluk boneka sobek sebelas tahun itu. Di kamar yang dulu adalah kamarku yang disuruh nyapu halaman.

Aku dan Arga duduk di ruang tamu yang masih berantakan karung daster. Di depan kami ada sertifikat tanah dan buku tabungan BRI. Saldonya sekarang lima puluh juta. Tiga puluh juta warisan, dua puluh juta tabunganku sendiri dari hasil daster.

"Kir, kita sudah pindah ya. Akhirnya," kata Arga pelan sambil menggenggam tanganku.

Aku mengangguk. Menatap keluar jendela. Ke arah kebun karet. Ke arah makam Mbah Sarti dan Mira yang bersebelahan. Hujan masih deras.

Sebelas tahun lalu aku diasingkan ke rumah bocor karena hamil duluan. Diusir Mbah Sarti dengan sapu lidi. Dihina Bu Lasmi. Didobrak Rendo yang lempar baju bayi 35 ribu. Diusir Pak Lurah karena hanya punya kertas HVS nikah siri. Melahirkan Aisyah 2,8 kilo dengan takut mati seperti Mira.

Sembilan tahun aku bertahan di kontrakan cat hijau dari 400 ribu sampai 900 ribu. Jadi juragan daster. Mengantar Salsa masuk SD favorit. Mengantar Aisyah masuk TK.

Tujuh hari lalu Mbah Sarti wafat di pangkuanku di kontrakan itu dengan penyesalan dan wasiat rumah induk.

Dan hari ini, aku kembali. Bukan sebagai Kirana yang diusir. Tapi sebagai Kirana pemilik rumah induk dua ratus meter persegi. Pemilik tabungan lima puluh juta. Ibu dari dua anak yang sudah sekolah favorit.

Aku sudah pulang ke Wonorejo, Ve.

Dan untuk malam ini, itu cukup.

Bersambung...

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!