Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : PRIA BERTATO NAGA HITAM
Chen memperbesar foto itu untuk ketiga kalinya.
Gambarnya semakin buram, tetapi tato di pergelangan tangan laki-laki berjaket abu-abu masih terlihat. Seekor naga hitam melingkar dengan kepala menghadap ke bawah.
Chen pernah melihat gambar serupa.
Bukan pada berita tentang perang distrik barat.
Melainkan pada sebuah kertas yang pernah dibakar ibunya di wastafel dapur.
Ia masih ingat bau hangusnya.
Waktu itu ibunya mengatakan kertas tersebut hanya tagihan lama yang sudah tidak diperlukan.
Chen menatap foto di layar ponselnya.
Kalau tagihan itu sudah selesai, mengapa ibunya sampai membakarnya?
Dan mengapa laki-laki bertato naga tersebut membawa kotak besinya?
Chen turun dari ranjang.
Ia berjalan ke pintu kamar, lalu berhenti ketika melihat jam di ponselnya.
Hampir tengah malam.
Shen Mo mungkin masih bekerja.
Chen sempat berpikir untuk menunggu sampai pagi, tetapi bayangan tangan laki-laki itu terus mengganggunya.
Ia membuka pintu.
Dua pengawal berdiri di koridor.
“Tuan Muda Chen?”
“Aku mau menemui Shen Mo.”
“Sebaiknya Anda beristirahat. Tuan Shen sudah meminta—”
“Aku menemukan sesuatu tentang ibuku.”
Kedua pengawal saling berpandangan.
Salah satunya menyentuh alat komunikasi di telinga.
“Mohon tunggu sebentar.”
Chen bersandar pada dinding.
Ia tidak membantah lagi.
Beberapa menit kemudian, pengawal itu mengangguk.
“Tuan Shen masih berada di ruang kerja. Kami akan mengantar Anda.”
Shen Mo sedang membaca laporan ketika Chen masuk.
Pria itu mengangkat kepala, lalu melirik jam.
“Kau tahu sekarang pukul berapa?”
“Tahu.”
“Dan kau masih belum tidur?”
Chen meletakkan ponselnya di meja.
“Lihat ini dulu.”
Shen Mo hendak menegur, tetapi urung ketika melihat wajah bocah itu.
Chen membuka foto terakhir.
“Ini diambil waktu kami pindah rumah.”
Shen Mo mengambil ponsel.
Dalam foto tersebut, seorang perempuan berdiri di ambang pintu. Di hadapannya ada laki-laki berjaket abu-abu yang membawa sebuah kotak besi biru.
“Ini ibumu?”
Chen mengangguk.
“Dan kotak itu yang tadi kau ceritakan?”
“Iya.”
Shen Mo memperbesar gambar.
“Siapa laki-laki ini?”
“Aku tidak ingat pernah melihat wajahnya secara langsung.”
“Tapi kau mengenal tatonya?”
Chen menunjuk pergelangan tangan laki-laki itu.
“Aku pernah melihat gambar yang mirip. Ibu membakar kertas dengan lambang seperti itu.”
Shen Mo terdiam.
Ia menatap gambar naga hitam tersebut cukup lama.
Lalu mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi Tiga.
“Aku mengirimkan satu foto. Periksa apakah laki-laki di dalamnya pernah muncul dalam arsip penyelidikan lama.”
“Baik, Tuan.”
“Jangan gunakan pengenalan wajah otomatis sebagai satu-satunya dasar. Gambarnya tidak jelas. Cocokkan juga pakaian, tato, dan riwayat lokasi.”
“Dimengerti.”
Shen Mo mengirim foto itu, kemudian mengembalikan ponsel Chen.
“Kau masih menyimpan foto aslinya?”
“Ini file asli.”
“Jangan diedit atau dihapus. Kita mungkin perlu memeriksa metadata dan membandingkannya dengan foto lain.”
Chen mengangguk.
Ia menarik kursi tanpa diminta.
Shen Mo memperhatikannya.
“Aku belum bilang kau boleh duduk.”
“Kalau aku berdiri, kau pasti menyuruhku duduk.”
Shen Mo menghela napas.
“Anak ini...”
Chen tidak tersenyum.
Ia kembali menatap foto ibunya.
“Aku tidak pernah bertanya siapa orang itu.”
“Waktu itu kau masih kecil.”
“Aku sudah cukup besar untuk bertanya.”
“Tapi kau tidak tahu ada alasan untuk bertanya.”
Chen menunduk.
Shen Mo membiarkannya diam beberapa saat sebelum membuka berkas lain di tabletnya.
“Ada sesuatu yang perlu kau ketahui.”
Chen langsung mengangkat wajah.
“Tentang Hengda?”
“Ya.”
Shen Mo memutar tablet agar bisa dilihat bersama.
“Empat tahun lalu, ibumu pernah membuat pengaduan terhadap Biro Penagihan Hengda.”
Chen membaca bagian atas dokumen.
Nama ibunya tercantum sebagai pelapor.
Ia mengenali tulisan itu, tetapi tetap perlu beberapa detik untuk menerimanya.
“Ibu melapor ke polisi?”
“Menurut catatan yang kami peroleh, dia pernah mengajukan pengaduan. Kami belum mendapatkan berkas lengkapnya.”
“Kenapa?”
“Akses terhadap dokumen lama memerlukan prosedur. Timku sedang mengurusnya.”
Chen membaca ringkasan yang ditampilkan.
Pelapor menyatakan telah memenuhi permintaan pembayaran, tetapi masih menerima penagihan berulang disertai ancaman.
Ia berhenti pada kata terakhir.
“Ancaman?”
Shen Mo mengangguk.
“Begitu yang tertulis.”
“Ancaman seperti apa?”
“Belum dijelaskan dalam ringkasan.”
Chen menggulir layar.
Di bagian bawah terdapat keterangan bahwa pengaduan tersebut telah dicabut.
“Ibu mencabutnya?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Itu yang sedang kita cari tahu.”
Chen memandangi tanggal pencabutan.
Satu hari sebelum mereka pindah.
Ia mengingat hari itu dengan jelas.
Ibunya tidak memasak. Mereka makan roti yang dibeli dari toko dekat rumah. Setelah itu, perempuan tersebut memasukkan pakaian ke koper dan mengatakan bahwa mereka akan tinggal di tempat baru.
Chen sempat menangis karena harus meninggalkan teman sekolahnya.
Ibunya memeluknya sampai ia tertidur.
“Aku ingat malam itu,” gumam Chen.
Shen Mo menunggu.
“Ibu bilang kami akan memulai hidup baru.”
“Lalu?”
“Dia tidak bilang kami sedang melarikan diri.”
Shen Mo tidak buru-buru membenarkan kesimpulan tersebut.
“Kita belum tahu alasan kepindahannya.”
Chen menatapnya.
“Tapi waktunya sama.”
“Benar. Dan itu patut diperiksa.”
Chen kembali membaca berkas.
“Kalau Ibu sudah membayar, kenapa mereka tetap menagih?”
“Bisa jadi ada sengketa jumlah utang. Bisa juga ada penagihan yang tidak sah. Kita belum punya dokumen perjanjiannya.”
Chen mengepalkan tangan.
“Bagaimana kalau mereka memang sengaja tidak mau berhenti?”
Shen Mo memandangnya.
“Kalau begitu, kita harus menemukan buktinya.”
Pukul dua belas lewat lima belas, Tiga datang ke ruang kerja.
Mantelnya masih basah oleh hujan.
Ia membawa sebuah map tipis dan tablet.
“Maaf membuat Anda menunggu, Tuan.”
Shen Mo mengangguk ke kursi.
“Apa yang kau temukan?”
Tiga meletakkan tablet di meja.
“Foto yang dikirimkan tadi belum cukup jelas untuk memastikan identitas laki-laki tersebut. Tetapi kami menemukan seseorang dengan tato serupa dalam dokumentasi penyelidikan tiga tahun lalu.”
Ia membuka sebuah foto.
Seorang laki-laki bertubuh sedang berdiri di depan gudang, mengenakan jaket kulit hitam. Wajahnya terlihat lebih jelas dibandingkan foto milik Chen.
Pada pergelangan tangan kanannya terdapat tato naga.
Chen langsung mendekat.
“Dia?”
Tiga menggeleng.
“Kami belum bisa memastikan. Bentuk tatonya mirip, tetapi sudut dan kualitas kedua foto berbeda.”
Shen Mo menunjuk layar.
“Siapa namanya?”
“Luo Cheng.”
Shen Mo mengangkat kepala.
Nama itu membuatnya teringat sesuatu.
“Luo Cheng dari kelompok pengamanan pelabuhan?”
“Benar, Tuan.”
Shen Mo bersandar perlahan.
“Tiga tahun lalu, dia dilaporkan hilang setelah ledakan gudang.”
“Ya. Namun tidak ada bukti kematiannya.”
Chen memandang mereka bergantian.
“Dia anggota Black Dragon?”
Tiga menjawab hati-hati.
“Dia pernah diselidiki karena diduga menjadi penghubung beberapa kelompok di distrik barat. Namanya muncul dalam laporan yang berkaitan dengan Black Dragon, tetapi tidak ada putusan yang memastikan keanggotaannya.”
“Lalu kenapa dia datang ke rumah kami?”
“Kita belum tahu apakah itu benar-benar dia,” kata Shen Mo.
Chen menatap foto di layar.
Ia memahami perbedaannya.
Mirip bukan berarti sama.
Tetapi sulit mengabaikan kemungkinan bahwa laki-laki yang membawa kotak ibunya adalah seseorang yang pernah terkait perang distrik barat.
“Di mana Luo Cheng sekarang?” tanya Shen Mo.
“Belum diketahui.”
“Kerabat?”
“Sedang diperiksa.”
“Hubungan dengan Hengda?”
Tiga membuka catatannya.
“Ada satu petunjuk. Luo Cheng pernah tercatat sebagai petugas keamanan lepas di kawasan pergudangan tempat Hengda beroperasi. Namun kami belum menemukan kontrak langsung dengan biro tersebut.”
Shen Mo mengangguk.
“Jangan memaksakan hubungan yang belum terbukti.”
“Baik, Tuan.”
Chen memperhatikan foto Luo Cheng.
Ada bekas luka kecil di dekat alis kiri laki-laki tersebut.
Ia memperbesar foto ibunya lagi.
Wajah laki-laki berjaket abu-abu itu sebagian tertutup bayangan.
Bekas lukanya tidak terlihat.
Chen mendesah kesal.
“Tidak cukup jelas.”
Shen Mo menoleh.
“Karena itu kita butuh bukti lain.”
Tiga kemudian membuka halaman berikutnya.
“Ada satu informasi tentang Yucheng Western Freight.”
“Perusahaan yang sekarang menggunakan bangunan Hengda?” tanya Shen Mo.
“Benar. Menurut catatan kepemilikan gedung, penyewa barunya masuk dua tahun lalu.”
“Siapa yang menandatangani perjanjian sewa?”
“Seorang perwakilan perusahaan bernama Sun Qiao.”
Shen Mo mengernyit.
“Sun Qiao?”
“Ya.”
Shen Mo meraih map laporan keuangan Wang.
Ia membalik beberapa halaman, lalu berhenti pada daftar nama pihak yang pernah menyetujui pembayaran pemasok.
Sun Qiao tercantum di sana.
Bukan sebagai pegawai Crown Tower.
Melainkan sebagai perwakilan salah satu perusahaan rekanan.
Shen Mo meletakkan map.
“Jadi nama yang sama muncul dalam dua urusan berbeda.”
Tiga mengangguk.
“Kami sedang memeriksa apakah orangnya memang sama.”
Chen melihat perubahan wajah Shen Mo.
“Kau mengenalnya?”
“Belum secara pribadi.”
“Tapi Wang pernah berurusan dengannya?”
“Namanya muncul dalam dokumen pembayaran yang berada di bawah tanggung jawab Wang.”
Chen memikirkan informasi itu.
“Berarti Wang mungkin tahu siapa yang memakai gedung lama Hengda.”
“Mungkin,” jawab Shen Mo.
“Kalau begitu, kita tanya dia.”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Wang memang menyembunyikan sesuatu, pertanyaan itu akan memberitahunya bahwa kita sudah menemukan alamat tersebut.”
Chen mengatupkan bibir.
Ia tidak menyukai keharusan menunggu.
Namun kali ini ia tidak membantah.
Setelah Tiga keluar untuk melanjutkan pemeriksaan, Shen Mo menyuruh Chen kembali beristirahat.
Bocah itu berdiri, tetapi belum mengambil ponselnya.
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
“Apa?”
“Kalau kotak Ibu masih ada, apakah kau akan membawanya kembali?”
“Kalau kami menemukannya dan memang milik ibumu, kami akan berusaha mengembalikannya melalui cara yang benar.”
“Walaupun isinya sesuatu yang buruk?”
Shen Mo menatapnya.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
Chen mengangkat bahu.
“Ibu selalu menyembunyikannya.”
“Orang dewasa kadang menyembunyikan sesuatu bukan karena mereka melakukan kesalahan.”
“Lalu karena apa?”
“Karena mereka takut orang yang mereka sayangi ikut menanggung akibatnya.”
Chen terdiam.
Shen Mo berdiri dan mengantar bocah itu sampai pintu.
“Besok kau tetap mulai di lantai keuangan. Tapi urusan Hengda dan Black Dragon akan ditangani tim penyelidikan. Kau tidak perlu mengejar orang-orang itu sendiri.”
“Aku tahu.”
Shen Mo memandangnya ragu.
“Kau benar-benar tahu?”
Chen mengangguk.
“Aku cuma ingin membaca laporan yang memang boleh kubaca.”
“Bagus.”
Chen melangkah keluar.
Namun sebelum pintu tertutup, ia menoleh.
“Shen Mo.”
“Ya?”
“Kalau ternyata Ibu berutang kepada orang-orang berbahaya, itu tidak berarti dia orang jahat, kan?”
Shen Mo menatapnya beberapa saat.
“Tidak, Chen. Berutang tidak membuat seseorang menjadi orang jahat.”
Chen mengangguk kecil.
Lalu pergi bersama pengawal.
Setengah jam kemudian, Shen Mo masih berada di ruang kerja ketika Tiga mengirim pesan baru.
Identitas Sun Qiao telah dicocokkan. Orang yang menandatangani sewa bangunan Hengda adalah orang yang sama dengan perwakilan rekanan dalam dokumen pembayaran Wang.
Shen Mo segera menelepon.
“Sudah dipastikan?”
“Foto identitas dan nomor registrasinya cocok, Tuan.”
“Bagus. Lanjutkan pemeriksaan hubungan bisnisnya.”
“Ada satu masalah.”
“Apa?”
“Sun Qiao dijadwalkan menghadiri pertemuan pemasok di Crown Tower besok pagi.”
Shen Mo menatap kalender rapat di layar komputernya.
Pukul sembilan.
Pertemuan itu berlangsung di lantai keuangan.
Lantai yang sama tempat Chen akan memulai tugas pertamanya.
“Siapa yang mengundangnya?”
“Undangan tercatat berasal dari kantor Wang.”
Shen Mo terdiam.
Lalu ia berkata, “Jangan batalkan pertemuan. Ubah pengaturan keamanan secara diam-diam. Semua tamu harus melalui pemeriksaan standar, dan Chen tidak boleh berada dalam pertemuan itu.”
“Baik, Tuan.”
Shen Mo memutus sambungan.
Ia membuka kembali foto lama milik Chen.
Laki-laki berjaket abu-abu itu masih memegang kotak besi biru.
Shen Mo memperhatikan wajah ibu Chen.
Perempuan itu tidak sedang tersenyum.
Tangannya mencengkeram sisi pintu, sementara tubuhnya sedikit menghalangi jalan masuk.
Seolah tidak ingin laki-laki tersebut melangkah lebih jauh.
Ponsel Shen Mo kembali bergetar.
Kali ini pesan dari nomor tidak dikenal.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya sebuah foto.
Shen Mo membukanya.
Sebuah kotak besi biru terletak di atas meja kayu.
Pengunci peraknya tampak rusak.
Di sampingnya terdapat kuitansi tua dengan cap merah Biro Penagihan Hengda.
Shen Mo langsung berdiri.
Pesan kedua menyusul.
Anak itu sudah menemukan foto lama, bukan?
Shen Mo merasakan rahangnya mengeras.
Belum sempat ia membalas, pesan ketiga muncul.
Jangan biarkan dia membuka kembali urusan ibunya.
Lalu pesan terakhir masuk.
Kalau Chen ingin tahu siapa yang membawa kotak itu, suruh dia bertanya kepada Shen Mo mengapa Crown Tower pernah membayar Hengda.