Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBICARAN "BAPAK-BAPAK" DI BALKON
Cahaya senter dari Raka masih menyilaukan mata ketika pria itu dengan tegas melangkah masuk ke dalam pantry. Dia tidak bertanya dua kali. Dengan gerakan cepat dan penuh otoritas khas Male Lead yang sedang melindungi kekasihnya, Raka mencengkeram lengan jas Kevin.
"Kita perlu bicara. Sekarang. Di luar," ucap Raka, suaranya datar namun sarat dengan ancaman.
Kevin tidak menolak. Dia hanya menatap Raka dengan tatapan meremehkan, lalu menoleh sekilas ke arah Vania yang masih berdiri kaku di antara rak kaleng biskuit. Sudut bibir Kevin terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh arti sebelum dia membiarkan dirinya diseret keluar dari ruangan sempit itu.
Begitu pintu pantry tertutup, Vania menghela napas panjang, merapikan gaun malamnya yang sedikit kusut. Larasati, yang berdiri di belakang Raka, langsung menarik lengan Vania.
"Kak Van, ayo kita dengarkan!" bisik Larasati, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Vania menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan mati rasa. Ini dia. Tropes 'Menguping Pembicaraan Pria di Balik Pintu Kaca'. Biasanya di sinetron, heroine akan mendengar rencana jahat villain. Tapi kali ini? Aku akan mendengar dua pria berotot saling mengukur ego mereka. Luar biasa.
Mereka menyelinap keluar melalui pintu dapur, lalu berjongkok di balik pot tanaman hias raksasa yang berada tepat di samping pintu kaca balkon. Dari sana, mereka bisa melihat Raka dan Kevin berdiri berhadapan di balkon yang menghadap ke taman belakang. Angin malam berhembus kencang, mengibarkan ujung jas mereka dengan dramatis. Lampu bulan menyinari wajah mereka yang sama-sama keras dan penuh determinasi.
Vania dan Larasati menempelkan telinga mereka ke kaca pintu yang dingin.
"Jawab aku dengan jujur, Kevin," suara Raka terdengar jelas melalui celah pintu kaca, berat dan penuh dengan kebencian yang tertahan. "Apakah kau benar-benar mencintainya, atau ini hanya obsesi sesaatmu untuk menghancurkan apa pun yang kubutuhkan? Kau sudah memiliki target utamamu, yaitu aku dan Larasati. Kenapa kau peduli siapa yang bersama Vania?"
Vania memutar matanya. Ah, Raka. Masih saja berpikir bahwa seluruh alam semesta ini berputar di sekitar dirimu. Kevin tidak peduli padamu, Rak. Dia cuma terobsesi padaku. Tapi ya, logika Male Lead 90-an memang selalu narsis.
Di balkon, Kevin tertawa. Tawa yang rendah, sinis, dan sangat merendahkan. Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka hingga mereka hanya berjarak satu jengkal.
"Cinta? Obsesi? Raka, kau terlalu dramatis. Kau masih berpikir dalam kotak yang sangat sempit," ucap Kevin, suaranya bergema di balkon yang sepi. "Dalam dunia bisnis, aku tidak menggunakan istilah-istilah puitis yang lemah itu. Aku menyebutnya long-term asset acquisition. Vania adalah aset yang sangat langka, bernilai tinggi, dan memiliki potensi return yang tidak terbatas."
Di balik pintu kaca, Vania langsung merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pulpen. Dia mulai menulis dengan cepat.
"Apa yang kau bicarakan, Kevin?!" suara Raka meninggi, jelas tidak mengerti dengan terminologi yang digunakan pria di depannya. "Kau bicara tentang Vania seperti dia adalah saham di bursa efek!"
"Aku sedang melakukan hostile takeover terhadap hatinya," lanjut Kevin tanpa rasa bersalah, tangannya menunjuk dada Raka. "Dan pada akhirnya, aku akan mencapai monopoli pasar emosional. Tidak akan ada pesaing lain yang diizinkan masuk. Aku akan memegang eksklusivitas distribusi afeksinya. Itu adalah strategi bisnis yang sempurna, Raka. Kau tidak akan pernah memahaminya karena otakmu hanya diisi oleh puisi dan tatapan mata yang dalam."
Vania berhenti menulis. Dia menatap catatan di bukunya, lalu menatap Kevin yang sedang berpose angkuh di balkon. Dengan wajah yang sangat serius, Vania menambahkan satu baris lagi di bawah catatannya: Subjek Kevin menunjukkan gejala delusi korporat tingkat lanjut. Perlu rujukan ke psikiater, bukan ke ruang rapat direksi.
Larasati di sebelahnya justru meremas-remas tangannya sendiri, pipinya memerah padam. "Aww, Kak Van..." bisik Larasati, suaranya bergetar karena terharu. "Dengar itu. Romantis sekali! Dia mau memonopoli hati Kakak! Itu artinya Kakak adalah satu-satunya bagi dia!"
Vania menatap Larasati dengan tatapan tidak percaya. "Las, itu bukan romantis. Itu bahasa psikopat. Dia bicara tentang aku seperti aku adalah perusahaan yang mau dia bangkrutkan. Harusnya aku jauhi penjahat ini, tapi malah harus menghadapi bocah clingy yang pakai jas seharga mobil."
Di balkon, Raka mengertakkan giginya. Wajahnya memerah karena marah, bukan karena terharu. Dia menepuk dada Kevin dengan keras.
"Dengar baik-baik, Kevin!" bentak Raka. "Vania sekarang sudah seperti keluarga bagiku! Dia sangat dekat dengan Larasati. Dia melindunginya, mengajarnya, merawatnya saat aku tidak bisa. Dia bukan pion dalam permainanmu! Aku tidak akan membiarkan kau mempermainkan perasaannya hanya untuk melukaiku. Jika kau menyakitinya, kau berurusan denganku!"
Wajah Kevin berubah. Senyum sinisnya lenyap, digantikan oleh tatapan dingin yang mematikan. Angin di balkon berhembus lebih kencang, seolah-olah semesta sedang memberikan efek suara dramatis untuk momen ini. Ego Kevin, yang sebesar gedung pencakar langit, baru saja diinjak-injak oleh Raka.
"Kau pikir niatku remeh, Raka?" desis Kevin, suaranya merendah, bergetar karena amarah yang tertahan. "Kau pikir aku hanya melakukan ini untuk membuatmu cemburu? Kau pikir aku hanya ingin merebut Vania karena dia pernah mengejarku? Kau benar-benar tidak mengerti apa-apa tentang wanita itu, dan kau benar-benar tidak mengerti apa-apa tentangku."
Kevin mencondongkan tubuhnya, menatap Raka dengan tatapan yang penuh dengan rivalitas dan dominasi. "Vania bukan alat untuk melukaimu. Dia adalah... prioritas. Dan aku tidak pernah gagal dalam mengakuisisi apa yang menjadi prioritasku."
"Kau gila," gumam Raka, menggelengkan kepalanya dengan tatapan jijik. "Kau benar-benar gila, Kevin."
"Dan kau naif," balas Kevin cepat.
Vania di balik pintu kaca menghela napas panjang, menutup buku catatannya, dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Dua pria ini benar-benar tidak bisa diselamatkan. Satu berpikir dengan puisi, satu lagi berpikir dengan neraca keuangan. Dan aku terjebak di tengah-tengahnya. Aku rindu tahun 2026. Aku rindu pria yang kalau nembak cuma bilang 'kita jalan yuk', bukan 'aku mau melakukan monopoli pasar emosional'.
Tiba-tiba, suasana di balkon berubah. Kevin tidak lagi menatap Raka dengan tatapan meremehkan. Dia menatap lurus ke arah pintu kaca, seolah-olah dia bisa melihat Vania yang bersembunyi di baliknya. Tatapan itu gelap, intens, dan penuh dengan keseriusan yang membuat bulu kuduk Vania meremang.
"Aku akan melakukan apa pun untuknya, Raka," ucap Kevin, suaranya tidak lagi bergema dengan arogansi, tapi bergema dengan ketulusan yang mengerikan dan mutlak. "Bahkan jika aku harus menghancurkan aturan dunia ini."
Hening.
Larasati menahan napasnya, tangannya mencengkeram lengan Vania erat-erat.
Vania menatap Kevin dari balik kaca. Jantungnya berdegup kencang. Aturan dunia ini? batin Vania, rasa dingin merambat di punggungnya. Dia tidak bicara tentang aturan masyarakat. Dia bicara tentang naskah. Dia bicara tentang plot sinetron ini.
Vania menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan hampa.
Oh, tidak, batinnya. Pria ini benar-benar akan menghancurkan naskahnya. Dan aku yang akan terjebak di reruntuhannya.
BERSAMBUNG...