Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.
Keesokan harinya, pendar fajar merayap pelan di selasar kamar rumah sakit. Aluna sudah terbangun sejak subuh, menatap datar langit-langit kamar yang putih. Di dalam dadanya, badai trauma itu tak lagi bergemuruh hebat; berganti menjadi hamparan dingin yang pekat. Ia telah berdamai dengan keadaan, bukan karena menyerah pada takdir, melainkan karena telah memutuskan jalan hidupnya sendiri.
Pagi itu, Hayden entah berada di mana. Sejak fajar menyingsing, sosok tegap berjas hitam itu tak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan Rendra pun tak terlihat bersiaga di koridor. Aluna memanfaatkan celah kebebasan langka ini tanpa membuang waktu.
Saat Dokter Siska melakukan pemeriksaan rutin pagi, Aluna menatap sang dokter dengan raut wajah tenang namun tak terbantahkan.
"Dokter, saya minta izin untuk pulang hari ini," ujar Aluna tegas.
Dokter Siska mengernyit ragu, meneliti lembar catatan medis di tangannya. "Nona Aluna, kondisi fisik Anda memang sudah stabil, tapi luka sayatan di pergelangan tangan Anda masih sangat baru. Tuan Hayden juga berpesan agar—"
"Ini tubuh saya, Dokter," potong Aluna cepat, suaranya tenang tanpa getaran. "Saya sudah merasa jauh lebih baik. Kalau Dokter tidak memberikan izin resmi, saya akan tetap keluar dari rumah sakit ini sekarang juga."
Melihat ketetapan hati yang mengeras di mata gadis itu, Dokter Siska akhirnya hanya mampu menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi Anda harus berjanji untuk tetap mengganti perban dan merawat lukanya secara teratur."
Proses pemulangan diurus dengan cepat. Suster Maya masuk ke kamar VIP membawa pakaian ganti milik Aluna. Dengan telaten dan penuh kelembutan, suster muda itu membantu Aluna mengemas barang-barang pribadinya yang tak seberapa ke dalam tas kain.
"Nona Aluna benar-benar yakin mau pulang sekarang?" bisik Suster Maya seraya merapikan ujung lengan kemeja Aluna agar menutup bebat perban tebal di tangannya. "Bagaimana kalau Tuan Hayden tahu?"
Aluna menyunggingkan senyum tipis—senyuman pertama yang tulus setelah sekian lama. "Biarkan saja, Suster. Dia bukan pemilik hidup saya. Semakin cepat saya pergi dari sini, semakin baik."
Suster Maya mengangguk paham. Ia lalu merogoh ponselnya dan memesankan taksi online menggunakan akun pribadinya agar jejak kepulangan Aluna tak terlacak oleh sistem pengawasan rumah sakit yang dikuasai Hayden.
"Taksi sudah menunggu di pintu belakang area IGD, Nona," tutur Suster Maya pelan seraya menyerahkan tas kain pada Aluna. "Lewat sana lebih aman untuk menghindari pengawal."
Aluna menggenggam erat tangan Suster Maya, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru yang membuncah. "Suster Maya... terima kasih banyak. Untuk semuanya. Untuk bantuan Suster kemarin, dan untuk kebaikan Suster pada saya dan Kak Romeo."
Suster Maya tersenyum manis, membalas genggaman itu dengan hangat. "Sama-sama, Nona Aluna. Jaga diri Baik-baik ya. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan perawatan luka, hubungi saya kapan saja."
Dengan langkah mantap namun hati-hati, Aluna melangkah keluar membelakangi kamar VIP tersebut. Kepulangannya hari ini benar-benar tanpa sepengetahuan Hayden.
*
Taksi berhenti di depan sebuah rumah sederhana berdinding cat krem yang mulai mengelupas di pinggiran kota. Aluna turun, membayar ongkos taksi, lalu melangkah menyusuri halaman kecil yang tenang.
Saat membuka pintu kayu yang berderit pelan, pemandangan hangat menyambutnya. Romeo sedang duduk di atas kursi roda dekat jendela, memegang sebuah buku.
"Kak Romeo..." panggil Aluna lirik.
Romeo seketika menoleh. Wajahnya yang semula muram langsung berbinar cerah. "Aluna?! Astaga, kamu sudah pulang, Dik?"
Aluna melangkah mendekat, menjatuhkan tasnya, lalu langsung berlutut dan memeluk erat tubuh kakaknya. Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Romeo, menghirup aroma rumah yang begitu ia rindukan. Di pelukan kakaknya, benteng dingin yang ia bangun seakan sedikit mencair.
"Aluna kangen sama Kakak..." bisik Aluna, suaranya agak serak.
Romeo mengusap lembut rambut adiknya, terkekeh pelan. "Kakak juga kangen. Tapi kenapa tiba-tiba sudah boleh pulang? Bukannya kata Hayden kamu harus dirawat beberapa hari lagi?"
"Aluna sudah sembuh, Kak. Aluna lebih nyaman istirahat di rumah," sahut Aluna beralasan seraya menegakkan tubuhnya, memaksakan senyum manis.
Namun, kehangatan di rumah sederhana itu tak bertahan lama. Baru saja Aluna hendak melangkah ke dapur untuk mengambilkan minum, suara deru mobil mewah terdengar berhenti tepat di depan pagar. Tak lama kemudian, pintu depan yang tak terkunci didorong kasar dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Cengkeraman pintu terbuka lebar, menampilkan tiga sosok yang membawa pendar ketegangan menusuk. Haris Mahendra berdiri di depan dengan raut wajah berwibawa yang sarat amarah, didampingi Dania Mahendra yang menatap sekeliling rumah kecil itu dengan pandangan jijik. Di samping mereka, Valerie Pricilia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada, matanya membara penuh kebencian.
"Ternyata benar di sini tempat sembunyimu, wanita murahan!" bentak Valerie tanpa basa-basi, suaranya yang melengking memecah keheningan rumah.
Romeo terkejut setengah mati. Ia memutar kursi rodanya dengan cemas. "Maaf... Anda sekalian siapa? Ada urusan apa datang ke rumah kami?"
Haris Mahendra melangkah masuk tanpa diundang, matanya menatap tajam ke arah Aluna yang berdiri membeku di dekat meja makan. Namun, saat tatapan Haris beralih pada Romeo yang duduk di kursi roda, langkah pria paruh baya itu mendadak terhenti.
"Kamu... Romeo?" tanya Haris, alis tebalnya bertaut heran. "Romeo Wijaya, staf analisis data di divisi pemasaran pusat?"
Romeo membelalakkan mata, mengenali sosok di hadapannya. "Tuan... Tuan Haris Mahendra? Bapak Pemilik Perusahaan?"
Haris tertegun. Ia mengenal betul Romeo sebagai salah satu karyawan berprestasi yang berdedikasi tinggi di perusahaannya, bahkan ia tahu betul kejadian kecelakaan yang membuat pemuda itu lumpuh. "Kenapa kamu ada di sini? Apa hubunganmu dengan wanita ini?"
Valerie langsung menyela dengan nada ketus dan beracun. "Om Haris! Pasti dia kakak Wanita ini, wanita inilah yang sudah menggoda Hayden dan merusak rencana pernikahan kami! Dia sengaja memanfaatkan kebaikan Hayden untuk merayunya!"
"Cukup, Valerie!" potong Romeo dengan suara meninggi, membela adiknya penuh naluri. "Tolong jaga bicara Anda! Aluna bukan wanita seperti itu! Semua ini cuma salah paham besar!"
Romeo menatap Haris dengan pandangan memohon. "Tuan Haris, saya bersumpah Aluna tidak pernah menggoda Hayden. Hayden membantu biaya pengobatan saya semata-mata karena saya sahabatnya dulu dan beliau sangat baik hati. Tidak ada hubungan gelap apa pun di antara mereka!"
Haris menghela napas berat, raut amarah di wajahnya sedikit melunak. Sebagai pengusaha berpengalaman, ia tahu betul kepribadian Romeo yang jujur dan pekerja keras. "Kalau memang begitu, kenapa ada berita liar dan foto-foto Hayden menggendong adikmu di rumah sakit?"
Sebelum Romeo sempat menjawab, Dania Mahendra melangkah maju dengan senyum sinis yang sarat manipulasi.
"Mas Haris, jangan mudah percaya," tutur Dania dengan nada menyindir yang halus namun berbahaya. "Anak muda zaman sekarang sangat pandai berakting. Bisa saja adiknya ini berpura-pura polos di depan kakaknya, tapi di belakang... siapa yang tahu? Mengingat dia dulu bekerja sebagai model lukis, tentu dia tahu cara memikat pria berkuasa seperti Hayden demi mengangkat derajat keluarganya."
Kata-kata Dania menghantam dada Aluna bagai belati tumpul. Ia melihat bagaimana wajah Romeo mendadak pucat dan bingung mendengar sebutan 'model lukis' yang selama ini disembunyikan Aluna dari kakaknya.
Valerie menimpalinya dengan tawa mengejek. "Benar, Om! Wanita seperti dia ini benalu! Dia pasti mengancam Hayden menggunakan nama baik keluarga Mahendra!"
Aluna mengepalkan tangannya kuat-kuat di samping tubuh. Amarah yang membakar dadanya tak lagi ditujukan pada dirinya sendiri, melainkan pada keangkuhan keluarga kaya di hadapannya ini yang merasa bisa menghakimi hidup orang lain sesuka hati. Aluna melangkah maju, berdiri tepat di depan Romeo, menutupi kakaknya dari pandangan intimidasi ketiga orang tersebut.
"Cukup!" tegas Aluna dengan suara dingin, lurus, dan sarat ketajaman yang membekukan ruangan.
Valerie menyeringai sinis. "Kenapa? Kamu malu karena rahasiamu terbongkar di depan kakakmu sendiri?"
Aluna menatap Valerie, Dania, dan Haris Mahendra satu per satu dengan sorot mata yang tak lagi memancarkan rasa takut. Tidak ada air mata. Tidak ada getaran ketakutan.
"Tuan Haris Mahendra, Nyonya Dania, dan Anda... Nona Valerie," ucap Aluna dengan nada datar namun penuh harga diri. "Dengar baik-baik. Saya tidak pernah meminta Hayden datang ke dalam hidup saya. Saya tidak pernah mengemis harta, nama besar, atau cinta dari putra Anda."
"Aluna..." bisik Romeo cemas seraya menggapai tangan adiknya, namun Aluna tetap berdiri tegak.
"Jika kalian takut nama besar Mahendra Group tercemar atau pertunangan mewah kalian terganggu karena keberadaan saya..." Aluna jeda sejenak, menatap Haris dengan keberanian mutlak. "...kalian tidak perlu repot-repot datang dan memaki di rumah menyedihkan ini. Mulai hari ini, detik ini juga, saya akan pergi dari kota ini. Saya akan membawa kakak saya pergi jauh dan menghilang sepenuhnya dari kehidupan Hayden Mahendra."
Haris Mahendra terdiam, agak terkejut mendengar ketegasan tanpa ragu dari bibir gadis muda itu.
"Aluna, apa maksudmu pergi?!" tanya Romeo kaget, menarik-narik ujung baju adiknya.
"Saya pastikan Hayden tidak akan pernah menemukan saya lagi," lanjut Aluna, mengabaikan pertanyaan kakaknya demi menyudahi drama menjijikkan ini. "Jadi, silakan ambil kembali putra agung kalian, dan jangan pernah menapakkan kaki di rumah ini lagi."
*
*
*