Happy Reading
Anna Gurviena bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan dan selalu membuatnya kesal dan marah mungkin laki-laki itu tidak punya perasaan, saat sahabatnya memberitahu bahwa laki-laki itu adalah kakak kelas barunya, bahkan Anna tidak peduli.
Alvin Dirgantara tidak suka melihat lelaki yang menyakiti perempuan dengan cara selingkuh bukannya ia mendekati gadis itu karena suka, Tidak sama sekali. Ia hanya menolong gadis itu saat kenyataan pahit ada dihadapan gadis itu.
Gibran Sanjaya, tidak pernah berpikir akan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap gadis yang telah ia tabrak dan hasilnya membuat kaki gadis itu bermasalah. Ia tidak mungkin lepas tanggung jawab terhadapnya dan saat itulah ia mulai dekat dengan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gestiagt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34:Daun yang Gugur
Crsss…crsss…crrss.
Dalam keheningan itu, yang terdengar hanyalah suara air yang mengalir dari kran,Gibran membiarkannya terus mengalir. Sementara lama ia menatap bayangnya didalam cermin.
Kosong.
Gibran tak benar benar memikirkan sesuatu segalanya kadang datang dan pergi terlintas begitu saja tapi, yang paling membuat ia muak adalah kenyataan ini. Disaat ia akan memulai semuanya dan hancur begitu saja, jika ini semua memang takdir apalagi yang harus ia lakukan? Memaksakan kehendak? Itu tidak mungkin dengan berat hati ia akan menerima semuanya bahwa Anna adalah adik kandungnya.
Bahkan Gibran tak pernah mengenal Anna sebagai adik kandung sebelumnya. Gibran mengambil segenggam air dan mulai membasuh wajahnya,terasa dingin menyelimutinya ia lantas mengambil handuk kecil yang tergantung didekatnya saat ia mulai merasa pikirannya sedikit lebih tenang.
Gibran berjalan keluar dari kamar mandi menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Anna, untuk melihat kondisi gadis itu.
Saat ia hendak berbelok ayahnya tiba tiba memanggil, ia menoleh dan menghampiri ayahnya disebuah lorong sebelah kanan.
“Ada apa ayah?”Tanya Gibran datar.
“Ada yang ingin ayah bicarakan!”Ayahnya menyeret Gibran kesebuah kantin kecil yang ada dirumah sakit ini.
“Gibran!”panggil ayahnya tegas.
Gibran hanya bersikap tidak peduli dan hanya menanggapi panggilan ayahnya dengan mengangkat sebelah alis, sebenarnya ia masih marah dan kesal terhadap orang ini tapi apa daya orang ini adalah ayahnya.
“Kau harus menjauh dari Anna!”Suaranya tegas dan keras.
Hatinya seketika dipukul dengan benda keras, Gibran mengernyit dan matanya menatap ayahnya dengan tajam.”Apa maksud ayah?”
“Kau harus menjauh! Hilangkan perasaan terlarang itu, ayah akan mengirimmu ke New York!”Jelas ayahnya sangat tegas.
Gibran meninggikan suaranya dan menekankan setiap kata katanya.”Aku tidak akan pernah pergi dari sisinya!”
Satu tamparan Ayahnya berhasil mendarat dipipi Gibran.”Untuk apa Ayah menamparku?”Tanya Gibran tidak terima.
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Perasaanmu atau kenyataan?”Bentaknya, orang orang yang ada dikantin saling berbisik melihat pertengkaran Ayah dan anak ini tapi mereka tak sedikitpun memperdulikannya.
“Sebenarnya ini salah siapa? Ayah! Kenapa kau tidak pernah menceritakan semua ini, kenapa disaat ini terjadi kau baru menceritakan semuanya.”Balas Gibran.
Gibran tidak mau disalahkan dalam hal ini, ia melakukan ini karena ia tidak tahu bahwa Anna adalah adiknya dan perasaan itu mungkin tidak akan pernah ada.
Ayahnya terdiam tak berbicara mungkin dia mengumpat dalam hatinya, Gibran mendorong kursi kebelakang dengan kasar dan beranjak dari sana tapi saat itu juga yahnya memanggil, Gibran menengok sebelum ia beranjak.
“Ayah sudah mempersiapkan semuanya! Kau akan pergi besok dan ingat lupakan Anna!”Ucap ayahnya.
“Terserah!”Suara Gibran melemah tanda ia tidak mau berdebat lagi dengan ayahnya.
Gibran berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai pada sebuah ruangan intensive yang ia tuju, melihat dari jendela trasnparant sesosok gadis yang terbaring lemah dan laki-laki itu duduk disamping Anna. Alvin ia adalah lelaki yang Anna cintai. Gibran yakin Anna masih mencintai Alvin dan belum mencintainya, memang Tidak boleh mencintainya.
Ia baru tahu jika Alvin juga mencintai Anna, ia seperti sudah merampas kebahagian mereka memisahkannya dengan kehadiran dirinya ditengah tengah mereka.
Sudah seminggu semenjak Anna koma gadis itu sampai sekarang tidak sadarkan diri, posisi tidurnya masih sama tak berubah sedikitpun, matanya tertutup rapat seakan tidak mau terbuka.
Gibran mendengar perkataan ayahnya walaupun ia sangat tidak peduli, dan mungkin sekarang hari terakhirnya bersama Anna melihat gadis itu jika besok ia benar benar pergi ke New York. Hatinya memang tidak dapat dibohongi tapi ayahnya benar ia harus melupakan Anna dan menghilangkan perasaan terlarang yang sudah ada ini.
Sesosok laki-laki ini keluar dari ruangan Anna dan sekarang Gibran berhadapan dengannya. Tatapannya dingin seakan tak memperdulikan keberadaannya tapi Gibran mencoba berbicara dengan Alvin.
“Bisa kita bicara?”sahut Gibran sambil mengajak Alvin duduk dideretan kursi rumah sakit.
Laki-laki ini tidak banyak bicara dengan Gibran selama mereka bertemu dirumah sakit bahkan seakan mereka adalah orang asing yang tak mau mengenal. Dan sekarang Gibran akan memepercayakan Anna pada laki-laki yang ada dihadapannya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu!”kata Gibran dengan menatap serius Alvin.
“Apa?”sahut Alvin pendek suaranya terdengar datar dan putus asa.
Gibran sedikit gugup melihat Alvin, dia terlihat sangat berantakan dan frustasi semenjak Anna tidak sadarkan diri selalu berada dekat gadis itu kapanpun. Gibran yakin Alvin bisa menjaga Anna selama Gibran takkan ada disisi adiknya. Yah, adik. Bahkan kata itu serasa aneh ketika ia ucapkan.
“Kau sangat mencintainya bukan?”Tanya Gibran menginginkan ketegasan darinya.
Alvin mengerjap, mengangkat wajah menatap Gibran matanya berkaca kaca dan hanya bisa mengatakan satu kata yang ada dari lubuk hatinya yang paling dalam.”Selamanya” lirihnya
Kemudian Alvin berdiri berjalan dua langkah lalu terdiam, tanpa berkata apa-apa tatapannya kosong. Selama satu menit keheningan menyelimuti lorong ini. Ia menghela nafas lalu berkata.”Bahkan sangat mencintainya, perasaan khawatir selalu menyelimutiku setiap hari! Rasa tenang seakan lenyap dalam kehidupanku.”suara Alvin tercekat dan serak.
Alvin menelan ludah sejenak.”Aku akan terus menunggu hingga kelak dia bangun dan akan menjadi orang pertama melihat Anna membuka matanya lagi. Melihat bola matanya yang selalu menyinari hatiku,wajahnya ketika tersenyum. Aku merindukannya dan sekarang Anna hanya terbaring tanpa bergerak sedikitpun.”
Gibran menahan nafas mendengar perkataan Alvin, ia telah salah menilai laki-laki ini ketika Anna pertama kali menceritakannya berpikir untuk merebut hati Anna bahkan mereka berdua saling mencintai Gibran merasa bersalah telah menjadi penengah diantara mereka. Meninggalkan Anna mungkin ini yang terbaik.
“Aku yakin kamu bisa menjaga Anna, mencintainya dengan tulus dan aku ingin mempercayakan Anna kepadamu!”seru Gibran menatap lurus laki-laki didepannya.
Sejenak Alvin terdiam mencerna kalimat yang dilontarkan Gibran, Ia menoleh lalu bertenya dengan sedikit ragu.”Apa maksudmu? Bukankan kau kekasihnya?”
Gibran memutar bola matanya, ia tahu pertanyaan itu bakal muncul dari mulut Alvin walaupun secara batin ia belum siap untuk menceritakannya tapi ini tidak bisa dirahasiakan.”Aku bahkan tidak berhak mencintai Anna karena kenyataannya, kenyataan yang baru terungkap Anna adalah… adalah adikku!” suara Gibran semakin memelan pikirannya menerawang jauh.
Alvin mengernyit tatapannya tidak bisa diartikan tapi raut wajahnya menandakan masih bingung dan tidak percaya.”Adik, bagaimana bisa?”tanyanya pelan.
“Setiap kali mengingatnya aku selalu tidak percaya tapi ini kenyataanya Anna adalah adikku, dan kamu mungkin ditakdirkan bersama Anna! Karena Anna sangat mencintaimu.”Jelas Gibran pandangannya lalu beralih.
Mata Alvin tebelalak.”Anna mencintaiku? Bahkan dia belum menjawabnya”.kata Alvin.”Bagaima mungkin kau tahu?”
Gibran menghela nafasnya panjang. Mencoba mengingat semuanya.”Sebelum aku bersama Anna, gadis ini selalu menceritakan tentangmu bahwa dia mencintaimu, merindukanmu karena kau pergi meninggalkannya ke Jogja!”
Alvin menatap Gibran tanpa berkata menginginkan Gibran melanjutkan kalimatnya.”Anna kecewa padamu karena kau tidak pernah mengabarinya, ia berpikir kau tidak mempunyai perasaan apapun kepadanya dan ia pikir kau tidak akan pernah kembali. Tapi aku yakin sampai sekarang Anna masih mencintaimu!”
Gibran berharap dengan menjelaskan semuanya Alvin bisa membuat Anna jauh lebih bahagia daripada sebelumnya agar Alvin tidak merasa salah paham dengan semua ini. Tentang perasaanya Gibran yang harus berkorban dan ia bertekad untuk memulai hidupnya lagi pada lembaran baru di New York nanti.
Thanks Thor dan semangat sll! 🥰💪
lanjut dan semangat?!!!!!