Jatuh cinta, apakah mencintai seseorang harus ditunjukkan secara terang-terangan? Apakah mencintai seseorang harus dikatakan secara terus terang?
Bagaimana dengan pernyataan cinta yang ditolak? Haruskah menyerah dan melupakan, atau masih terus berjuang?
Semua adalah pilihan yang diambil oleh orang yang telah jatuh cinta. Pilihan yang akan membuat mereka menghadapi penyesalan pada akhir yang tak mereka inginkan. Juga merupakan pilihan yang akan membawa kebahagiaan jika semua berjalan seperti keinginan.
Lantas, bisakah mencintai seseorang hanya dengan melihatnya dari jauh? Bisakah rasa cinta itu terpendam demi membuat orang yang dicintai bahagia?
(Electio: Pilihan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
E - Dejavu
Begitu pertandingan usai, para murid kembali ke kelas masing-masing. Fais menunggu di depan pintu aula, ia mengikuti Ayra yang baru saja keluar. Gadis itu tak menuju kelasnya, ia berjalan memasuki lapangan indoor dan pergi ke kursi penonton.
"Sekarang kau akan menangis, Ayra? Lantas kenapa kau melepaskan nya?" Gumam Fais. Ia menyandarkan punggungnya di dinding mendengar suara tangis Ayra.
Cukup lama Ayra menangis disana, akhirnya gadis itu berhenti dan turun kelantai dasar. Fais bersembunyi dibalik tangga mendengarkan langkah kaki berat Ayra.
"Apa Kak Fais juga merasakan sakit ini saat memutuskan ku? Atau sepertinya dia baik-baik saja, pasti dia udah punya gebetan baru. Kak Fais kan ganteng, banyak yang suka, kenapa aku sangat bodoh memintanya kembali?"
Fais mendengar semua yang Ayra katakan, ia mencoba setenang mungkin tak membuat suara. Ia sudah memutuskan untuk tidak lagi mendekati Ayra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa bulan kemudian....
Kini Ayra duduk di kelas dua SMA, kali ini ia satu kelas dengan Tian dan Yasmin. Untungnya Ayra juga masih satu kelas dengan ketiga sahabatnya. Semua berlalu seperti sebelumnya, Ayra dan Tian kembali dekat. Yasmin menganggap Ayra sebagai rival dan sekaligus temannya. Fais dan juga teman-teman nya sudah tidak lagi dekat dengan Ayra. Mereka bahkan terlalu tak peduli hanya untuk sekedar menyapa.
"Telat lagi, Tian ah" bentak Ayra kesal. Ia berjalan menuju salah satu kursi panjang dan membaca bukunya disana. Selagi menunggu, Ayra tak mau membuang waktu hanya untuk berdiam diri.
Tak lama terdengar suara beberapa motor berhenti di dekat Ayra. Rasanya seperti dejavu, Ayra mendongakkan kepalanya menatap wajah yang sangat ia kenali. Ia kembali tertunduk melanjutkan bacanya, beberapa menit kemudian suara gerombolan motor lain datang dan menciptakan kebisingan. Ayra menutup bukunya lalu berjalan menghampiri Tian yang malah tiduran diatas motor.
"Kakak cantik, kok baca bukunya udahan sih?" Tanya seorang pemuda kala Ayra melewatinya.
"Kalian berisik" jawab Ayra cuek. Ia memukul dahi Tian dan meminta pemuda itu untuk berdiri.
Siswa junior itu tertawa kecil memandangi Ayra yang terlihat jutek padanya. Padahal wajahnya sangat tampan dan sudah menjadi idola para siswi di sekolah. Sayangnya Ayra tak begitu peduli bahkan tak pernah menatapnya saat mereka beberapa kali saling berpapasan.
"Bantu gue cari tau tentang Kak Ayra ya, kayaknya gue jatuh cinta nih, manis banget dia" ucap pemuda itu dengan senyuman lebar.
Fais tanpa sadar menatap tajam ke arah pemuda itu. Ia menjatuhkan helmnya dan membuat semua orang terkejut. Teman-teman Fais mencoba menahan tawa mereka, sudah pasti itu adalah wujud dari rasa cemburu. Gerbang akhirnya dibuka, para murid yang terlambat masuk dan melaporkan nama mereka kepada guru BK yang bertugas hari itu. Setelah itu barulah mereka masuk kedalam kelas masing-masing.
"Kak Ayraaa, nanti istirahat makan bareng yuk, gue yang traktir" tawar pemuda yang menyukai Ayra.
"Raja, loe tuh jadi anak keras kepala banget. Ayra gak suka sama loe, dia suka cowok lain" ucap Tian menarik tas Raja lalu mendorongnya menjauh dari Ayra.
"Yaelah Kak, emang siapa? Loe?" celoteh Raja kesal.
Ayra berhenti dan menoleh ke arah para pemuda itu. Matanya tak sengaja bertatapan dengan Fais yang melintas bersama teman-temannya. Gadis itu langsung berbalik dan berlari menaiki tangga pergi ke kelasnya. Tian dan Raja ikut berlari mengejar Ayra sebab arah tujuan mereka juga sama.
......................
Jam Istirahat.....
Ayra tengah membaca buku di taman depan ruang OSIS. Sambil menunggu Nina yang masih membuat laporan disana. Gadis itu tak fokus membaca novelnya hingga tak sadar ada seseorang yang duduk disebelahnya.
"Ra, oee" teriak seseorang sambil menjambak rambutnya.
"Kak Abi, ngagetin aja sih. Ada apa Kak?" Tanya Ayra. Ia menutup bukunya dan menatap Abi dengan seksama.
"Gini, gue mau ajak loe liburan sekalian merayakan ulang tahun Raka yang ketiga. Berangkat jumat malam, sampai Minggu pagi, mau gak? Papa Mama yang ajak"
Gadis itu terdiam dan menatap ke arah lain. Ia tak yakin Fais akan menerimanya begitu saja, Ayra tak mau Fais merasa tak nyaman didalam acara keluarganya. Abi kembali mengatakan jika Dela akan ikut, ia ingin Ayra menemani Dela juga agar tak terasa canggung. Ayra tak menolak, ia mengatakan pada Fais akan memikirkan ajakan tersebut.
Setelah Nina keluar ruangan, Ayra berpamitan pada Abi lalu mengajak Nina ke kantin. Ia sudah sangat lapar dan ingin makan sesuatu. Mereka berdua berjalan menuju kantin, tetapi sorakan dari lapangan outdoor membuat keduanya penasaran. Nina menarik tangan Ayra untuk menerobos kerumunan dan melihat apa yang ada disana. Mereka berdua berdiri paling depan melihat pertandingan basket antara Fais dan Tian. Ketua Tim basket saat ini dan mantan Ketua Tim basket.
Para siswi itu terus bersorak menyebut nama keduanya. Ayra ikut duduk menyaksikan pertandingan kedua siswa itu. Ia bahkan lupa dengan rasa laparnya.
"Kak, nih minuman" ucap Raja menawarkannya pada Ayra.
"Kok buat gue? Kan yang main senior loe tuh"
"Ya kan aku suka Kakak" jawab Raja asal sambil tersenyum.
Beberapa detik kemudian tiba-tiba saja bola basket melintas diantara mereka berdua dengan cepat hingga menabrak pagar pembatas. Bola itu terpental lalu Raja menangkapnya dan menatap ke arah lapangan.
"Wow wow, hati-hati dong Kak. Kak Ayra gak apa-apa kan?" Tanya Raja memperhatikan wajah Ayra.
"Iya gak apa-apa kok, cuma kaget aja hahaha" jawab Ayra.
"Sorry gak sengaja, loe gak apa-apa kan, toh gak kena juga" Celetuk Fais dingin lalu merebut bola basket dari tangan Raja. Ia berdiri memposisikan dirinya di depan Ayra, menatap gadisnya itu dengan seksama lalu bertanya, "Kamu gak apa-apa kan Ayra?"
Ayra hanya berdehem lalu pergi usai berterimakasih pada Raja. Ia menarik Nina pergi ke kantin untuk membeli beberapa jajanan. Setelah itu barulah Ayra pergi ke kelasnya sambil berbincang dengan Nina. Mereka membicarakan tentang pertandingan basket yang akan datang, Nina sangat ingin menonton pertandingan itu dengan Ayra dan yang lainnya. Pasalnya Ayra tak pernah mau bila diajak menonton pertandingan basket, takut gagal move on katanya. Padahal sahabat Ayra tau jika dirinya masih belum move on dari Fais.
"Ayra, aku mau bicara" kata Fais menghentikan perjalanan Ayra dan Nina. Ia tak menunggu persetujuan Ayra dan langsung menarik tangannya pergi menjauh dari Nina.
Mereka berdua berdiri di tempat sepi dan saling berpandangan. Hati Ayra masih saja berdebar kencang melihat Fais dihadapannya. Rasa suka pada cinta pertama memang tak mudah dilupakan bagi seorang wanita.
knp Novel my housemate dihapus ???
baru benarrrr....
Katakan sejujurnya walau pahit... 😆
Fais is the Best!!! 😘😘
jgn kasi celah si pelakor.... 👍👍
sebel deh..
koq malah. tambah oon yaa???
ntah kpn berubah nya si fais nih....
mangkanya umumkan aj. kl Ayra tu istri loe...
kan hasilnya untukmu juga... 😘💪👌
sayangi. dan cintai istrimu, nasehati ia, kawal sll dan yg plg utama Berdo'a...😘💪
love u more fais-ayra😍
lanjut dan semangat, thor
Smg pernikahan Ayra fais langgeng...
syaluuut bg mereka yg menikah muda
yg bs menjaga diri dan Kehormatannya
Today, vote 4 Fa-Ay! 😘😍
apapun hrs diceritakan ke pasangan..
jgn tonjolkan ego..
ayra sdh benar koq malah loe yg nyimpang..... jauhi miss komunikasi