takdir tak pernah berjalan seperti yang kita inginkan, semuanya sudah digariskan dan ditentukan oleh sang pencipta. Begitu pula yang dirasakan dan dijalankan oleh Nita dan Karin.
Seorang ibu yang membenci anak nya sendiri dan seorang anak yang selalu merindukan kasih sayang ibunya.
Apa yang terjadi pada Nita hingga Nita membenci anaknya? dan bagaimana Karin tubuh besar tanpa kasih sayang?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Karin dan Dirga 12
"karena kamu yang menyuapkan nya kepada ku, apa pun yang kamu suapan kan kepada ku, aku pasti akan memakannya. Meski pun itu racun sekali pun!" tutur Dirga setelah meminum air pemberian Karin, dan dia juga tidak mengerti mengapa dia sampai seperti itu, membuat Karin langsung menatapnya dengan pandangan tidak mengerti, mengapa Dirga bisa menjadi orang yang sebodoh itu?
Namun belum sempat Karin bertanya Dirga sudah menjawabnya duluan, "jangan tanyakan kepada ku mengapa? Karena aku juga tidak tahu mengapa Karin?" ujar Dirga menjawab pertanyaan yang sedang dipikirkan Karin tanpa melihat kearah Karin, seolah mengetahui bahwa Karin akan bertanya tentang itu.
"baiklah Karin tidak akan bertanya, tapi bapak harus berbaring dulu dan Karin akan pergi sebentar ke apotik, Karin akan membeli obat untuk bapak." tutur Karin sembari membantu Dirga berbaring lalu menyelimuti tubuh Dirga dengan selimut tebal, "bapak tidak apa-apakan kalau Karin tinggal sebentar?" tanya Karin kemudian setelah dia menyelimuti tubuh Dirga, karena dia sedikit merasa ragu meninggalkan Dirga sendiri dalam keadaan seperti itu, namun dia harus meninggalkannya sebentar.
"tidak apa-apa, tapi cepatlah kembali!" seru Dirga dengan mata terpejam.
"hmm, Karin hanya akan pergi sebentar." jawab Karin meyakinkan kemudian mengambil dompetnya, lalu pergi.
Karin pergi ke apotik terdekat yang berada tak jauh dari hotel, lalu masuk ke apotik itu dan membeli obat diare dan juga obat alergi untuk kulit gatal-gatal karena alergi terhadap makanan, setelah mendapatkan obat yang ia cari dia pun langsung kembali ke hotel, dan bergegas masuk kedalam kamar yang ia tempati bersama Dirga.
"pak, minum obatnya dulu ya." ujar Karin sembari menyentuh lembut pipi Dirga yang terasa sedikit dingin ditangannya karena basah oleh keringat, Karin menyentuh pipi itu dan menyeka keringat diwajah Dirga dengan sentuhan sangat lembut. Dirga merasakan sentuhan itu perlahan dia membuka matanya yang tertutup dan melihat kearah Karin, yang sedang berdiri disisi tempat tidur dimana Dirga sedang berbaring.
Lalu menyentuh tangan Karin yang sedang membelai wajahnya, "kamu sudah kembali Karin?" tanya Dirga begitu dia melihat Karin, dan memegang tangan Karin lalu kemudian berusaha untuk duduk.
"hmm, Karin sudah kembali, kan tadi Karin sudah bilang Karin hanya akan pergi sebentar." tutur Karin sembari tersenyum manis kepada Dirga, lalu melepas tangannya dari tangan Dirga, dia memeluk pinggang Dirga dengan melingkarkan kedua tangannya, dan membantu Dirga untuk duduk.
Setelah Dirga duduk Karin langsung membuka obat yang tadi ia beli, "setelah meminum obat ini bapak harus tidur lagi, tubuh bapak perlu istirahat yang cukup." tutur Karin sembari letak tiga butir obat ditangan Dirga dengan berbeda warna, yaitu obat diare, obat alergi dan antibiotik.
"terimakasih Karin" ucap Dirga dengan suara pelan karena masih lemas, setelah menerima obat itu, lalu meminum semua dengan bersamaan.
"bapak sudah minum obat. Sekarang tidur lagi ya?!" ujar Karin dan langsung dituruti oleh Dirga dengan kembali membaringkan tubuhnya.
"kamu jangan tidur terlalu malam ya Karin! Tidak perlu mengerjakan pembukuan itu sampai larut, jika sudah letih berbaringlah disini." Dirga berbicara dengan mata mulai terpejam, dia sudah merasa sangat mengantuk karena efek obat yang ia minum, karena obat itu juga mengandung obat tidur. Tapi sebelum tidur tangannya masih sempat menepuk bagian tempat tidur disebelah, menunjukkan kepada Karin bahwa dia harus tidur disana.
"hmm, Karin akan tidur sebentar lagi." kata Karin pelan sambil membetulkan selimut Dirga, lalu kemudian berjalan menuju sofa. Dia ingin mengerjakan pembukuan dulu sedikit, sebelum dia merasakan kantuk dan sambil menunggu rasa kantuk datang.
Saat Karin sedang mengerjakan pembukuan, tiba-tiba ponsel Dirga yang sejak tadi terletak diatas meja bergetar.
Dret, dret, dret, dret. Ponsel itu bergetar dan bergerak-gerak diatas meja, karena Dirga memang tidak suka memakai nada dering. Sebuah panggilan masuk dari nomor kontak dengan nama Alia tertera dilayar nya.
Karin melihat ponsel itu dan mendekatinya, lalu mengambilnya. Karin melihat layar ponsel itu dan keningnya sedikit berkerut, saat dia melihat nama kontak si pemanggil.
"Alia" gumam Karin menatap tajam nomor kontrak tersebut, hingga getar pada ponsel tersebut berhenti Karin tetap tak berniat mengangkat panggilan itu.
Sampai akhirnya panggilan masuk itu mati, meninggalkan notifikasi satu panggilan tak terjawab disana. Lalu!
Ting, Ting, Ting! Berderet-deret pesan masuk ke ponsel itu, dan Karin tidak bisa membacanya atau pun melihatnya karena ponsel itu terkunci, dan hanya bisa dibuka dengan sidik jari atau pun kata sandi. Karin tidak tahu kata sandi ponsel Dirga dan satu-satunya cara dia bisa membuka ponsel itu hanyalah dengan sidik jari Dirga.
Meski dia penasaran dengan isi pesan itu dan ingin membuka ponsel Dirga, tapi dia tak lantas melakukannya, Karin justru meletakkan ponsel itu kembali ke meja lalu melanjutkan pekerjaannya, namun saat dia mulai mengetik tiba-tiba dia kembali teringat akan nama Alia tersebut, dia tahu siapa orang yang bernama Alia itu, dan seperti apa hubungan orang itu dengan Dirga, karena sempat mengetahuinya sedikit.
Itu pun dulu ketika dia masih kelas dua SMA, dan dia sangat tahu siapa orang itu, orang itu tak lain adalah wanita yang tak sengaja ia temui bersama dengan Ririn beberapa saat lalu, yaitu mantan guru honorer yang pernah mengajarnya dulu dan juga orang yang membuat Dirga diberhentikan secara paksa sebagai guru. Wanita itu sangat menyukai Dirga, dia begitu tergila-gila kepada Dirga dan membuatnya nekat menyatakan cintanya dihalaman sekolah, dihadapan hampir seluruh murid, mempermalukan sekolah.
"Ting, Ting, Ting." pesan kembali masuk di ponsel Dirga, membuat rasa penasaran Karin semakin memuncak, dan akhirnya dia pun kembali mengambil ponsel tersebut, lalu membawanya mendekati Dirga. Pelan-pelan Karin mendekatkan ponsel itu ke tangan Dirga, lalu memegang jari telunjuk Dirga dengan sangat hati-hati dan menempelnya pada sensor sidik jari yang terdapat pada ponsel tersebut.
Dalam sekejap layar ponsel itu pun terbuka, dan dengan gerakan cepat Karin mulai menyusuri setiap aplikasi, dan kemudian membuka aplikasi chat di ponsel itu. Saat aplikasi chat itu terbuka mata Karin langsung tertuju pada chat dengan nama Alia, yang begitu banyak mengirim pesan namun tak satupun ada yang dibuka. Melihat itu Karin semakin penasaran lalu jarinya pun mulai menekan dan membuka chat tersebut.
Isi chat Alia
Alia: yang! Kamu dimana?
Alia: kok teleponku nggak pernah diangkat sih?
Alia: kamu lagi sibuk apa sih yang? Kok terus cuekin telepon ku!
Alia: yang aku rindu loh sama kamu!
Alia: yang angkat dong telepon ku!
Alia: yang! 😭😭😭
Alia: kamu jahat ya sama aku yang! 😭
Alia: aku betulan cinta sama kamu yang! 😭
Alia: yang tolong dong angkat teleponku!🙏🙏🙏
Alia: aku rindu banget dan pengen denger suara mu yang😭😭😭
Alia: please yang!
Alia: angkat dong yang!😭😭😭🙏🙏🙏
Alia: yang aku nggak peduli kamu mau cuekin aku seperti ini sampai kapan, tapi kamu harus tahu yang bahwa aku tidak akan pernah menyerah!
Alia: aku akan terus berusaha untuk mendapatkan hati mu yang.❤️❤️
Alia: aku akan bersabar untuk mendapatkan hati mu yang!❤️❤️❤️
Alia: karena aku sangat mencintaimu yang🥰🥰🥰
Alia: aku akan terus menunggu mu yang!
Karin membaca seluruh chat itu dengan menautkan kedua alisnya, perasaan sebal dan kesal memenuhi hatinya, meski tak satupun chat itu dibalas oleh Dirga, namun tetap saja Karin merasa tidak suka melihat semua chat itu, apa lagi setiap dia melihat nama kontak Alia, yang diberi nama dengan Alia, membuatnya jadi bertanya-tanya tentang nama apa yang diberikan Dirga pada nama kontak miliknya.
kirain kamu anak baik baik..