Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan—2
Tolong, jangan!" Kasih memohon dengan tangan gemetar. Ia mengatupkan kedua tangannya.
Pria yang tak lain adalah Hendra menatap dengan amarah. "Aku sudah mencarimu kesegala penjuru. Dan malam ini aku menemukanmu. Kau memintaku melepaskan begitu saja?" bentak Hendra yang sudah hampir gila, sebab tidak dapat menahan gejolak hasratnya.
Golok di tangannya melayang dan siap mencencang kaki Kasih, dengan tujuan agar tidak dapat di gerakkan, ataupun melarikan diri.
Kasih memejamkan kedua matanya. Tak ingin melihat kengerian yang akan menimpa dirinya.
Tap!
Sebuah tangkapan di pergelangan tangan Hendra yang mencengkram dengan kuat, hingga buku-buku tangannya memutih.
"Hah!" Hendra menoleh ke arah orang yang sudah mencegah tindakannya. "Kau... Mengapa ikut campur?! Ini bukan urusanmu!" ucapnya dengan penuh amarah.
Pemuda yang sudah mencengkramnya tak lain adalah Farhan.
Ia melayangkan tinjunya.
BUUUGH!
Pelipis Hendra pecah, dan cairan darah mengalir dari ujung lukanya.
Farhan menarik tangan lawannya ke arah belakang.
Hendra meringis kesakitan. "LEPAS!" pekiknya dengan suara yang tertahan.
"KAU GAK AKAN BISA MENYENTUH DIA LAGI!"
PLAK!
PLAK!
Farhan menampar pipi Hendra berulang kali hingga bengkak.
Sedangkan lampu jalan mendadak mati.
WUUUSH!
Tiba-tiba suara Mbah Jati terdengar dari arah belakang.
"Bunuh dia. Biar kutukan segera aktif."
Farhan menoleh ke arah sumber suara. Dimana sosok pria berpakaian serba hitam yang di penuhi asap terlihat
Tiba-tiba angin kencang bertiup....
"FARHAN! LEPASKAN!" Teriakan Nawang Wulan yang sudah berada di depannya, dan tidak tahu sejak kapan sang mama hadir di tempat ini.
Suaranya membuat paving blok trotoar bergetar.
Farhan langsung melepaskan cekikannya. "PERGI!" bentaknya dengan nada geram.
Saat bersamaan, Mbah Jati meniupkan angin yang mengandung racun.
Wuuuusssh!
Angin tersebut menuju ke arah Farhan.
Dengan gerakan cepat, Nawang Wulan melesat, dan mengibaskan rambut panjangnya, hingga menahan racun tersebut.
Traaak!
Angin beracun tersebut langsung terhalangi oleh rambutnya, dan membuat rambut itu mengeras sejenak layaknya stalagmit es, dan perlahan mencair.
Hendra yang melihatnya tercengang, dan wajahnya memucat, karena ia merasa jika Nawang Wulan terlihat bukan seperti manusia biasa.
Sedangkan Mbah Jati terpental kebelakang, karena Nawang Wulan melemparkan sebuah tombak miliknya ke arah sosok tersebut.
Tiba-tiba saja, sosok Iblis Kalajengking menyelamatkan Mbah Jati.
Wuuuussh!
Mereka menghilang dikegelapan malam.
Farhan mengucek matanya. Ia mel8hat itu semua, dan merasa ada yang salah pada penglihatannya.
Saat bersamaan, polisi datang di waktu yang tepat. Dimana mereka sedang patroli untuk kejahatan anak jalanan. Hendra diborgol dan di bawa naik ke mobil patroli Polisi.
Farhan yang kebingungan menghampiri Nawang Wulan. "Ma... kok Mama bisa ada di sini secepat ini?"
Nawang Wulan tak menjawab pertanyaan puteranya langsung. Tetapi ia menatap ke arah Kasih yang baru membuka matanya karena ketakutan.
Gadis itu di kejutkan oleh Farhan dan Nawang Wulan yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
"Mama tadi gak sengaja ketemu kamu. Karena mau belanja. Udah, sekarang kamu pulang. Bahaya di tempat seperti ini." ia mencoba mengingatkan.
Sedangkan dalam hati Nawang Wulan, ia ngedumel. Sebab hampir saja ketahuan, sembari memegang dadanya. Hampir saja ia ketahuan, karena keceplosan dan mengungkap jati dirinya.
"Kasih, kemarilah," ucap Nawang Wulan dengan suara yang lembut.
Kasih menatap dengan gemetar, dan ia hanya menurut saja. Sebab ia tak ingin kejadian mengerikan itu terulang lagi.
"Farhan, antar Kasih pulang ke rumah," ucap Nawang Wulan dengan nada dingin. Sedangkan Farhan melongo. Sebab ia tak pernah melihat mamanya semarah itu.
Ia mengangguk pelan, dan menatap ke arah Kasih. "Ayo..." ajak Farhan, sembari menuju ke arah mobil. "Ma..." ia dikejutkan dengan ekspektasi lainnya.
Saat dimana ingin mengajak sang mama pulang bersama, tetapi Nawang Wulan sudah hilang dari pandangannya.
"Lho... Mama kemana?" tanyanya dengan nada bingung.
Ia mengedarkan pandangannya, dan tidak melihat keberadaan sang mama. Hanya kegelapan yang semakin kelam.
"Kasih... Kamu lihat mama dimana?"
Kasih menggeleng pelan, sembari menundukkan kepalanya.
Meskipun di landa kebingungan, ia memilih untuk masuk le dalam mobil.
****
Waktu memperlihatkan pukul sebelas malam.
Farhan masuk le dalam rumah. Sedangkan Kasih mengekorinya dari arah belakang.
Saat ini, ia melihat Nawang Wulan sudah berada di sofa. Ia tidak tahu bagaimana caranya sang mama bisa secepat itu tiba di rumah.
Jikapun naik mobil, maka setidaknya menggunakan kecepatan yang cukup tinggi.
Ia tercengang melihat kedua orangtuanya yang terlihat cukup tenang. Seolah tadi tidak terjadi apapun.
"Ma, Papa... jujur. Kalian nutupin sesuatu dari aku kan?" Farhan menodong keduanya dengan pertanyaan yang sudah lama menggumpal di hatinya.
Rayyan terbatuk. "Gak ada, Nak." jawabnya dengan mencoba bersikap tenang.
Nawang Wulan menghela nafasnya dengan berat. "Yang ada, kami takut kehilangan kamu." ia kembali menatap puteranya. "Kalian harus menikah siri dulu. Kita lakukan ruwatan Sengkolo. Kemudian tirakat selama tujuh hari. Penyucian di Sungai. Kalau samapai gagal satu saja... nyawa yang akan jadi taruhannya."
Farhan melongo. Ia merasakan ada kejanggalan pada sang Mama.
Pernah suatu malam, ia memergoki Nawang Wulan sedang memakan kembang kantil yang masih kuntum dan juga mawar putih saat pukul dua belas malam.
Saat ia tanya, Nawang Wulan selalu menghindar, dengan alasan yang selalu saja rumit.
"Kok Mama tau sampai sedetail itu?"
Nawang Wulan kembali memasang wajah tenang. "Mama... sering belajar ilmu kejawen dari kitab-kita kuno." jawabnya dengan nada berbohong.
Farhan menoleh ke arah Kasih.
Sedangkan Kasih yang dilirik oleh sang pemuda merasa gugup. "Pak... tolak saja... Saya gak mau bapak kena sial karena saya. Saya akan pergi jauh dari kehidupan, Bapak." ucapnya dengan nada bergetar.
Bulir bening jatuh di sudut matanya.
Sesaat Farhan mengingat Kasih yang hampir bunuh diri di jembatan tempo hari. Ia juga ingat janji mau melindungin sang gadis.
Farhan menghela nafasnya dengan berat. "Baiklah, aku setuju. Tetapi nikah siri terlebih dahulu... Sedangkan untuk menikah secara negara nanti dulu." ia memberikan pilihan.
Kasih.tak dapat menjawab. Sebab ia kini tak punya pilihan.
Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia sesungguhnya diam-diam menyukai Farhan.
Nawang Wulan mendekap Farhan dari arah belakang. "Makasih, Nak. Besok malam pertama kita akan melakukan ruwatan. Dan ini tidak boleh di lewati," ucapnya dengan nada bergetar. Meskipun dalam hatinya ia merasakan hatinya bergetar.
Ia merasa bersalah atas semuanya. Tetapi tak punya pilihan, sebab ia juga tak ingin jika Farhan mengetahui siapa jati dirinya.
*****
Keesokan harinya. Farhan dan juga Kasih duduk diatas balai di belakang taman belakang rumah. Tempat dimana saat malam purnama, Nawang Wulan sering duduk sendirian di sana.
Ia akan mengumpulkan kuntum bunga kantil, kenanga, dan juga mawar putih, lalu memakannya, layaknya camilan.
"Buka pakaian kalian, dan ganti dengan kain putih."
Nawang Wulan memberikan selembar kain putih dengan panjang tiga meter untuk masing-masing orang.
Semoga mereka bisa menemukan Kasih yah.. ☺
Sekalian tuh ajak Roro Penguk, biar dia nggak gangguin keluarganya Rayyan lagi.. 🧐
Tubuhnya sebesar rumah pihak pengembang? 🤭
Ohya Kak.. si Gita dan suaminya, orang yang pertama kali bawa Kasih ke panti asuhan ketika Kasih masih bayi, kok nggak di munculin sih..
Apa dia mereka beda kota dengan tempat tinggal Kasih.. 😌