Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Kesedihan Widuri
Di dalam alam bawa sadar, Wati masih sangat menikmati suasana bahagia yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Wati merasa sangat betah di alam ini, sehingga dirinya tidak menyadari bahwa dia berada di alam bawah sadar.
Waktu berjalan di alam bawah sadar berbeda dengan waktu di alam nyata.
Wati pingsan masih dalam hItungan jam, namun pengalaman yang dialaminya disana seolah-olah sudah bertahun-tahun.
Saat ini Wati sedang tiduran di atas pangkal paha lelaki idamannya yang bersandar disebatang pohon tua, ditemani berbagai kupu-kupu dan beberapa burung kecil yang berkicau di dekat mereka.
Semuanya tampak menyenangkan dan menenangkan batin Wati berbanding terbalik dengan keadaan di alam nyata, di mana dirinya tergores luka hati akibat perbuatan Slamet dan peristiwa kecemburuannya terhadap Widuri sang pemilik warung makan di persimpangan jalan itu.
Serta peristiwa terhukumnya seluruh siswa yang di bawah perwaliannya karena melawan guru lainnya, padahal dirinya sebagai seorang guru selalu mengajarkan tata. Hal ini juga membuat luka batin di dalam hatinya.
Ketika Wati terhanyut pada suasana yang menyenangkan itu, tiba-tiba, Wati melihat orangtuanya datang dan menarik tangannya dengan paksa hingga dirinya bangkit dari posisi tidur berbantalkan paha dari lelaki tampan impiannya.
Wati ditarik ayahnya dan lelaki tampan impiannya di tahan oleh tangan-tangan yang begitu banyak sehingga lelaki pujaannya itu tertahan dan tidak dapat bergerak lagi hingga sedikit demi sedikit tubuh dan wajah lelaki itu mulai terkubur oleh banyaknya tangan-tangan yang menarik tubuhnya,
Tanpa disadari Wati kini dIrinya sudah berada di tempat berbeda, di mana dirinya berada di tempat di mana dirinya berada di antara beberapa lelaki yang memeluk dan menyerahkannya kepada lelaki lainnya secara bergantian seolah-olah dirinya adalah piala bergilir.
Peristiwa ini terjadi dalam beberapa putaran, di mana setiap lelaki bebas memeluk tubuhnya, meraba tubuhnya, menciumnya serta memperlakukannya semau mereka.
Wati dalam posisi tidak berdaya, namun anehnya di antara lelaki itu terdapat wajah pria yang dibencinya Slamet, serta John, juga mantan pacarnya dan beberapa lelaki lainnya yang masih terlihat muda namun Wati mengenal hanya sekilas saja.
Setelah peristiwa itu Wati dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng terbuat dari kayu batang pohon yang di hiasi dedaunan dari batang kayu pohon yang tersusun menyerupai kadang burung yang berada di tanah.
Wati berteriak-teriak hingga menangis pun di dalam kerangkeng, namun semua orang tidak memperdulikannya. Mereka hanya tersenyum dan tertawa bersama-sama, seolah-olah senang dengan apa yang terjadi terhadap Wati. Mereka juga mengelilingi kerangkeng tempat Wati berada.
Wati melihat senyum angkuh setiap pria itu, melihat Slamet berjalan tepat di depannya, Wati berkata,
Tolong... Tolong lepaskan aku dari sini Slamet, Tolong Aku.. Kumohon!" ucap Wati sambil menangis dan mengikuti gerakan tubuh Slamet yang berjalan mengelilingi kerangkeng tempatnya terkurung, namun Slamet hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkah kakinya tanpa terganggu sedikit pun.
Lalu tiba-tiba melintas John dIhadapannya, Wati kembali meminta John untuk membantunya keluar, namun John juga mengindahkan rintihan dan tangisan Wati.
Wati merasa lemas dirinya sudah tak sanggup lagi, dirinya sudah sangat lelah karena tangisannya.
Wati berdiri terdiam, bersandar pada dinding kayu kerangkengnya dan tiba-tiba bermunculan gambaran masa lalunya di sekitarannya.
Wati kini dapat dengan jelas melihat setiap peristiwa itu dengan jelas. ***
Harjo sedang mengelap tetesan air mata Wati secara perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian.
Widuri dari balik etalase dagangannya melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh Harjo.
Hatinya kembali diliputi gundah gulana, namun tidak mampu menghentikan Harjo, sebab Wati saat ini belum sadarkan diri juga.
Sedikit butiran air membasahi sudut matanya, setetes butiran itu terasa hangat melintasi pipinya yang putih hingga terjatuh.
Widuri segera menyeka pipinya, sebab tidak ingin ada orang lain yang tahu.
Tiba-tiba Wati tersadar dengan meneriakkan nama
"HArjo..." teriaknya keras langsung memeluk tubuh Harjo yang sebelumnya berada di sampingnya.
Wati berteriak kencang menyebut nama Harjo, karena di dalam gambaran yang bermunculan di sisinya, memperlihatkan Harjo sedang merangkul seorang wanita berpakaian kebaya merah dan menggunakan hiasan rambut bersanggul dengan maka up tebal layaknya pengantin wanita dan Harjo menggunakan jas hitam kilat dengan kantong jasnya dihiasi bunga mawar merah tampak elegan. ***
Wati menikmati rangkulannya pada tubuh Harjo dengan erat seolah-olah telah lama berpisah dan tidak ingin berpisah lagi, namun kini di alam nyata bukan seperti sebelumnya.
Harjo hanya dapat membiarkan saja Wati memeluk tubuhnya, sebab Wati baru saja tersadar dari keadaan pingsannya.
Pak Mulya, sedikit terkejut awalnya, namun kemudian mulai memahami apa yang telah terjadi, tetapi menahan dirinya untuk mengeluarkan suara, memberikan nasihat kepada Harjo dan Wati.
Air mata Widuri semakin bertambah deras, bahkan air matanya kini keluar dari kedua sudut bola matanya. Widuri segera membuatkan air hangat untuk diberikan kepada Wati. Wati membawakannya setelah terlebih dahulu membasuh wajahnya agar tidak kelihatan bahwa dirinya baru saja menangis.
Ketika Wati mendatangi keberadaan Harjo dan Wati, tiba-tiba Slamet muncul secara tiba-tiba dan berkata,
"Sialan, ternyata Bu Wati, berada di sini. Padahal beberapa saat yang lalu aku mengajakmu untuk singgah ketempat ini setelah bertemu Pak Kepala kampung, tetapi ternyata kamu enak-enakan, berpacaran sambil berpelukan di sini." teriak Slamet tiba-tiba.
Pak Mulya mendengar sungut-sungut Slamet terkejut karena Slamet datang dengan cara yang tiba-tiba, tiada angin, tiada badai langsung berteriak dan marah-marah, segera bereaksi.
"Sabar kamu Slamet, mengapa kau datang ke tempat ini dan marah-marah tak menentu begini?" tanya Pak Mul, berusaha menghentikan teriakkan Slamet.
"Ini Pak, saya barusan saja merasa malu sebab saya dimarahi Pak Kepala kampung, Pak." ungkap Slamet yang sedang di telan rasa amarahnya.
"Iya benar, kamu dimarahi Pak Kepala kampung, namun dapatkah volume suara kamu diperkecil? Lalu kamu boleh berbicara dengan lebih jelas dan teratur." pinta Pak Mul lagi.
"Mengapa bapak seolah-olah menyalahkan saya? Saya tidak salah Pak!!!. Wati dan Pak Kepala kampung lah yang salah.. Begitu juga dengan kamu Harjo!!!" tukas Slamet kepada Pak Mulya sambil menolehkan wajahnya ke arah Harjo.
"Kalau kamu iri kepada saya jangan seperti ini. Kamu simpan dahulu rasa cemburu kamu, karena belum tentu Wati mencintaimu dibandingkan kepada ku."
Sebelum Pak Mulya menjawab perkataan dari Slamet, Widuri yang juga berada di dalam warungnya, telah selesai memberikan minuman kepada Harjo untuk dI minum oleh Wati yang masih kelihatan shock dan lemas. lalu berkata dengan suara yang agak pelan namun terdengar jelas.
"Ini, teh hangat untuk Wati, kamu yang sabar ya!" tutur Widuri.
Lalu Widuri mengarahkan wajah dan mengalihkan pandangan matanya kepada..
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Bagaimanakah keadaan Wati sebenarnya?
Benarkah semua yang di ucapkan Slamet?
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru