Kamu yang membuat kami seperti ini. Kamu yang memberi ruang padanya, kamu yang merasa kehilangan, kamu juga yang menangis di kesunyian malam. Selamat tinggal, untuk kamu yang tidak pernah menganggapku ada.
Emang bener ya, Bekasi itu tempat singgah ternyaman tapi tidak disarankan untuk jatuh cinta?
Memang kenapa?
Katanya sih kisah cinta disini sebatas masa kontrak kerja di PT. Kontraknya habis kisah cinta pun berakhir. Memang bener begitu?
Mari kita lihat benar atau tidaknya di kisah ini, tentang satu pasangan yang ribut karena seorang teman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Gibran
Selamat pagi Klaten.
Di pagi yang masih berkabut, Cupli dan Jihan berpamitan pulang. Sebelumnya Cupli sempat mengobrol dengan Gibran berdua saja dari hati ke hati. Sejak awal bertemu, Gibran hanya timbal balik bicara kepada Cupli. Kepada Jihan dia hanya menjawab kalau perempuan itu bertanya padanya. Ia sama sekali tidak berinisiatif berbasa-basi dengan Jihan. Dulu mereka akrab, sekarang jauh bagai Sabang ke Merauke.
Dari hasil perbincangan tadi pagi setelah sarapan, Cupli terus memikirkan perkataan Gibran. Dari keluar rumah megahnya sampai sekarang Cupli di dalam mobil perjalanan pulang, lelaki itu masih menimbang-nimbang bagaimana baiknya. Jihan tidak tahu kesepakatan antara Gibran dan Cupli, maka perempuan itu terus berdendang meniru lagu yang sedang ia dengarkan.
Tiba-tiba Jihan berhenti bernyanyi.
"Cup," Panggilnya sambil menoel-noel lengan Cupli.
"Hmm, ngapah?" Lelaki itu jadi terbangun dari sebuah pertimbangan keputusan.
"Gua kepikiran Gibran."
Cupli langsung menoleh, menelisik raut wajah calon istrinya.
"Gua juga kepikiran Vivi." Sambungnya lagi. Nah ini yang membuat Cupli tambah-tambah menatap Jihan lebih dalam.
"Lu mikir apa tentang Gibran, juga Vivi?"
"Yang pertama, gua kepikiran Gibran soal sikap dia yang berubah. Gak cuma sikap, semua-muanya waktu kita masih suka kumpul bareng, gua udah gak lagi menemukan sosok Gibran yang ntu. Dia ngejauhin gua Cup. Kira-kira kenapa ya alasannya?"
"Pakai nanya lagi lu! mau gua ingetin nggak?"
"Yang lalu biarlah berlalu Cup."
Cupli tidak membahasnya lagi. Ia hanya menghela nafas kemudian lanjut bertanya.
"Kalau sama Vivi, lu kepikiran apa?"
"Gua kepikiran, betapa bahagianya menjadi Vivi. Dia ratu dalam istana yang apa-apa serba ada. Hidupnya nggak pernah ribut kalau soal uang."
"Sok tau lu Ji. Kalau kata gua mah hidup itu wang sinawang. Orang lain ngelihatnya enak banget hidup dia, padahal kita gak tau aslinya yang ngejalanin gimana."
Pandangan Jihan menerawang, "tapi Cup, ada sesuatu yang lebih membuat gua gak bisa berhenti mikirinnya."
"Soal apa?"
"Soal.. hati. Saat gua lihat Gibran romantis sama Vivi, hati gua gak sakit layaknya cemburu. Yang gua rasain cuma, 'ih enak banget ya hidup mereka, pengen kaya gitu dong' itu artinya gua gak ada perasaan cinta sama dia. Mungkin rasa yang gua punya ke Gibran sebatas pengen jadi orang tajir aja. Atau juga bisa karena kagum sama kegantengannya doang." Jihan menarik nafas, menjeda omongannya karena memang belum selesai.
"Cup!"
"Ji!"
Memanggilnya bersamaan. Ada yang ingin Cupli bicarakan juga kepada Jihan mengenai pembicaraannya dengan Gibran.
"Lu duluan dah." Cupli mempersilahkan.
"Lu aja Cup, gua penasaran lu mau ngomong apa?"
"Beneran lu nggak ada rasa cinta sama Gibran?"
"Bener kayanya. Buktinya gua gak ada rasa sakit karena cemburu." Meskipun Jihan jawab begini, hati Cupli masih ragu. "Emangnya ada apa Cup?"
"Gua ditawarin kerja jadi asisten Gibran, tapi prosesnya panjang. Gua harus nambah wawasan dan skill biar bisa ngimbangin nantinya. Gibran mau nunggu gua ngejalanin proses itu, makanya dia mau penempatan awal gua sebagai karyawan biasa dulu. Buat karir sih lumayan gajinya lima kali lipat dari gaji gua yang sekarang. Gede kan?! begitu caranya gua bisa jadi cowok tajir hehe. Menurut lu gimana?" Cupli Penasaran akan jawaban Jihan.
"Kalau jadi asisten banyak nemu sakitnya, mending gak usah diambil. Gua gak mau lu sakit. Gua gak butuh lu jadi orang kaya."
"Serius nih lu gak mau gua jadi orang kaya?"
"Mana ada orang kaya bergaji! yang ada menggaji. Lagian gua gak mau nuntut lu ini itu, karena kita kan nikah cuma karena.. karena apa Cup? yang pasti bukan karena saling cinta."
Ada perasaan aneh menjalar ketika Jihan mengatakan demikian. Baik Cupli maupun Jihan, mereka sama-sama merasakannya. Cupli mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh, dompet gua mana? balikin sini. Gua gak betah kemana-mana gak pake dompet."
"Lah terus lu pake apa selama ini?"
"Pakai dompet emas emak gua." (dompet gratis kalau beli emas)
"Serius lu?! tumben gak pakai plastik? " Jihan sudah mulai cekikikan.
"Ribet pakai plastik mah. Buruan sini balikin! et dah malah ketawa-tawa."
"Pakai dompet gua aja nih, kita tukeran dulu." Jihan masih belum puas ngerjain Cupli. Dia menyodorkan dompet miliknya dari dalam tas. Cupli menerimanya. Beruntung foto Gibran sudah dievakuasi.
"Anjiirrr, nih dompet lebar amat udah kaya songkok aki-aki. Gak ada yang dilipat?" praktis calon istri Cupli tersebut ketawa keras, meraup muka Cupli seperti biasanya mereka bercanda. Nah, begini situasi yang diinginkan Cupli. Bercanda hal-hal random lalu tertawa lepas, ketimbang membicarakan soal cinta.
...******...
Perihal hukuman, Viandra sudah digiring ke tempat eksekusi. Disini lah Gibran membawa Viandra. Di bathtub, bertabur aromaterapi dan kelopak bunga mawar merah muda.
"Kita ngapain Mas?"
"Kamu mandi lagi, tapi aku yang bakal gosok punggung kamu. Ini hukumannya Ay."
"Oke!"
Viandra dengan enteng masuk ke dalam bathtub masik berpakaian lengkap. Kontan Gibran menarik tangannya, memberi tahu kalau mandi itu harus buka baju.
Viandra tercengang.
Ini tidak akan menjadi sesuatu yang nyaman jika tidak terbawa suasana. Ini hukuman yang paling pintar membuat Viandra geli sampai pipis kalau dia betul-betul tak terbawa suasana perlakuan Gibran. Tergantung lelaki itu bermain.
Pertama-tama, Viandra sudah masuk ke bathtub tanpa pakaian. Kedua Gibran ambil scrub, eh lah kok bukan, eh eh dia malah buka baju juga sampai ke akar-akar. Kemudian lelaki itu ikutan masuk, duduk di belakang Viandra.
Benar, dia menggosok punggung sang istri sampai Viandra merasa seperti di pijit. Viandra memejamkan mata, menerima saja bagaimana kepiawaian Gibran memaju mundurkan scrub.
"Berbalik Ay, menghadap ke aku."
Hah.
"Yang depan kayaknya nggak usah Mas. Yang belakang aja."
Gibran tidak bersuara. Dia bangun, menggeser Viandra lalu duduk tepat di depannya. Viandra sudah mulai deg-degan, takut puncak kecemasannya di pakai main.
"Kerja tuh nggak boleh setengah-setengah. Seluruh badan kamu pokoknya harus kena." Ujar Gibran. Dia menyeringai puas, membuat Viandra pias dan harus siap-siap menahan geli luar biasa.
Dari mata Viandra, Gibran terlihat fokus dengan bibir yang selalu tersenyum tipis. Matanya tidak berpindah kemanapun hanya terpusat pada satu titik milik Viandra yang sejak tadi selalu diterjang. Melihat suaminya berlaku demikian, Viandra seperti melihat anak kecil bermain mobil-mobilan dengan rute jalan menaiki gundukan pasir--lalu ban mobilnya selalu mater ketika di atas. Begitu terus sampai Viandra akhirnya,
"Mas!" tangan perempuan itu menyentak air sekaligus menepis tangan Gibran secara kasar. Gibran meraup mukanya dari percikan air hasil kelakuan istrinya. Dia tidak marah. Dengan nada yang lembut Gibran menjawab permintaan maaf istrinya akibat gerakan impulsif yang dihasilkan.
"Maaf Mas, aku nggak sengaja. Aku refleks karena geli banget. Mandinya udahan aja ya?" rengeknya pakai cengar-cengir. Tangannya menyilang menutupi dadanya.
"Iya sayang gak apa-apa. Aku yang harusnya minta maaf karena udah bikin kamu geli. Dibalik 'gak apa-apa' dan permintaan maaf Gibran, udara mencekam justru menyelimuti Viandra.
Dan benar saja.
Tubuhnya digendong Gibran keluar dari bathtub, lalu di dudukan pada stand ajaib yang keluar dari tembok setelah tangan Gibran menekan bagian salah satu dinding.
"Sesuai permintaan kamu, mandinya selesai hukuman pun selesai. Sayang, jangan takut lagi sama aku ya. Aku sakit ngeliat kamu nangis. Mas minta maaf, dan sebagai jalan keluar dari kamu 'senang banget lihat manusia lain' yang artinya kamu begitu kesepian, aku sudah menentukan orang yang akan menemani kamu selama aku pergi. Biar kamu ada teman ngobrol. Tapi dia datangnya nggak sekarang."
Viandra senang.
"Beneran ini Mas? laki-laki atau perempuan?"
Gibran sedikit malas menjawabnya, "laki-laki. Tunggu dia datang aja ya Ay."
Sekarang Viandra tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia kepikiran bertanya mengenai peraturan kepada pelayan.
"Mas, kenapa pekerja di rumah ini nggak boleh biacara sama aku lebih dari sepuluh detik? kalau mereka boleh berbincang sama aku, mungkin Mas gak usah repot cari orang buat jadi teman aku."
"Karena kamu kalau semakin dilihat, di detik ke sebelas kamu kelihatan manis. Di detik berikutnya kamu kelihatan semakin cantik."
Viandra tersipu. "Mas Gibran bisa aja gombalnya!" sambil pukul-pukul manja. Namun Gibran raut wajahnya serius. Ia tidak bercanda sama sekali.
"Aku serius Ay. Aku gak bercanda makanya itu jadi peraturan di rumah ini."
Dan mereka hanyut dalam sebuah pagutan yang dimulai oleh Gibran. Langit-langit kamar mandi mengeluarkan air serupa shower tapi bukan. Lebih mirip gerimis kecil, tetapi lebih lembut namun tidak kalah syahdunya dengan gerimis dari langit sesungguhnya.
Di bawah guyuran itu, Gibran mencumbuu. Tidak ada peluh karena tergerus dengan rintik-rintik air. Permainan seperti ini memang sudah disiapkan Gibran. Sebuah sensasi yang ingin dia coba rasanya.
"Hhh Mas.. "
Gibran sudah dalam mode tidak sadar. Yang dilakukan Viandra hanya mengimbangi dan menikmati.
Miring sana, miring sini, gendong sana, gendong sini. Sampai tubuh Viandra di bolak-balik gambreng. Viandra membelakangi suaminya, membungkukkan badan seraya berpegangan erat karena hendak mendapat serangan. Gibran meracau tidak karuan dan mempercepat pergerakan.
"Akhh.. "
Mereka berdua jatuh ke bathtub lagi.
.
.
Bersambung.
Author note:
Di titik ini, yang tersuguhkan berupa permasalahan yang suka terjadi dikehidupan sehari-hari. Bukan konflik besar, bukan juga konflik yang rumit. Hanya sebuah cerita ringan yang authornya berharap ini bisa dirasakan feelnya oleh pembaca.
Kalau belum dapat feelnya, mon maap. Zenun akan terus berusaha dan belajar ehehehe.
Disini ada tiga pasangan yang sedang Zenun ceritakan. Yang utama Gibran dan Vivi. Walaupun mereka udah masuk tahap menikah dimana itu sudah dianggap akhir yang bahagia, nyatanya bagi Zenun masih ada yang perlu dibahas mengenai keseharian rumah tangga.
Yang kedua ada Cupli sama Jihan. Yang ini fenomena teman tapi nikah. Awalnya memang masing-masing dari mereka merasa tidak cocok, canggunglah, apalah. Tapi akhirnya mereka nyatu. Apa yang menyatu? nggak tahu. Pokoknya ada yang menyatu di sini!
Yang ketiga, Bandi dan Jamilah. Yang ini berat, lebih berat daripada menahan kantuk sewaktu menulis novel 'Bestie' ini.
harus pokoknyaa.. gak boleh ngak... ntar aku demo lho
...........😳😳😳😳😳😳😳😳😳
lah...lah...
udahhh..?????
gitu aja?????
debay nya mana ka Zenun????