Febry seorang pemuda biasa yang tinggal di banten, menjalani hubungan jarak jauh (LDR) dengan Safira seorang jaksa muda berbakat yang di tugaskan di Serang.meski hubungan mereka di penuhi dengan tantangan,cinta,jarak dan prinsip hidup yang sering kali menguji mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa Shaga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan Febry
Febry duduk di kursi kayu di depan kosannya, menatap kota di bawahnya dengan pikiran yang kacau. Di tangannya, ada test pack yang baru saja diberikan Amara. Dua garis merah. Hamil.
Amara duduk di sofa, menunggu reaksinya. "Aku nggak minta kamu tanggung jawab kalau kamu nggak mau, Feb." Suaranya terdengar datar, tapi ada sedikit ketegangan di sana.
Febry menutup wajahnya dengan tangan. Pikirannya bercampur aduk. Semua ini terasa seperti jebakan. Sejak awal, hubungannya dengan Amara hanyalah pelarian, dan sekarang ia harus menghadapi konsekuensi terbesar dalam hidupnya.
"Ini anakku?" tanya Febry dengan suara pelan.
Mata Amara menajam. "Maksud kamu apa? Tentu saja ini anakmu! Kamu pikir aku tidur dengan orang lain?"
Febry terdiam. Ia tahu Amara tidak berbohong. Namun, hatinya masih berat menerima kenyataan ini.
"Feb, aku bisa urus ini sendiri kalau kamu nggak mau bertanggung jawab," lanjut Amara.
Febry menarik napas panjang, lalu menatap Amara dengan serius. "Aku akan menikah denganmu."
Amara menatapnya kaget. "Apa?"
"Aku nggak bisa lari dari ini. Aku harus bertanggung jawab."
Amara tersenyum kecil, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit ditebak. "Baiklah, kalau itu keputusanmu."
Namun, jauh di lubuk hatinya, Febry tahu bahwa keputusan ini bukan karena cinta. Ia hanya berusaha menebus kesalahannya.
Sementara itu, di tempat lain, Safira masih berada di Jepang, tidak tahu bahwa mantan kekasihnya telah mengambil keputusan besar yang akan mengubah hidupnya selamanya.
.
.
Di Jepang, Safira duduk berhadapan dengan Takahiro di ruang kerja mewah milik kakaknya. Ia baru saja mengungkapkan hubungannya dengan Hardian, dan seperti yang sudah diduganya, Takahiro tidak langsung menerima hal itu dengan mudah.
"Jadi, kau serius dengan pria itu?" tanya Takahiro sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Safira mengangguk. "Iya, Kak. Aku serius."
Takahiro mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Matanya tajam, penuh perhitungan. "Kau tahu, aku sudah menyelidikinya sedikit. Hardian bukan orang biasa. Ada sesuatu yang ia sembunyikan."
Safira menghela napas. "Aku tahu kau masih curiga, Kak. Tapi aku percaya sama Hardian."
Takahiro tersenyum tipis. "Kepercayaanmu bisa jadi kelemahanmu, Safira. Tapi baiklah, aku tidak akan melarangmu. Aku hanya akan mencari tahu lebih dalam tentang dia."
Safira menatap kakaknya, sedikit waspada. "Jangan macam-macam, Kak. Aku nggak mau dia kenapa-kenapa."
Takahiro tertawa kecil. "Aku hanya ingin tahu siapa pria yang merebut hati adikku. Itu saja."
Sementara itu, di Indonesia, Hardian berdiri di depan sebuah bangunan tua yang tersembunyi di tengah kota. Ia sudah memberi tahu Safira bahwa ia akan pergi untuk beberapa hari, tapi tidak mengatakan alasannya.
Di dalam ruangan gelap, seorang pria duduk di kursi dengan tatapan tajam.
"Kau mulai lupa tugasmu, Hardian."
Hardian menghela napas. "Aku tidak lupa. Aku hanya... butuh waktu."
"Waktu untuk apa? Untuk jatuh cinta? Jangan bodoh, Hardian. Kau tahu apa yang terjadi jika kau terlalu dekat dengan target."
Hardian mengepalkan tangannya. Ia tahu risikonya. Tapi perasaannya pada Safira bukan bagian dari rencana. Itu nyata.
Sementara itu, Febry berdiri di depan cermin, mengenakan setelan jas. Hari ini, ia akan melamar Amara secara resmi. Namun, saat ia melihat bayangannya sendiri, ia bertanya-tanya—apakah ini benar-benar jalan yang harus ia tempuh?
Di saat yang sama, Safira menerima pesan dari Amara.
"Febry akan menikah denganku. Kuharap kau bahagia dengan pria barumu."
Safira menatap layar ponselnya, perasaan aneh muncul dalam dirinya. Ia tidak tahu harus lega atau justru merasa ada sesuatu yang janggal.
Rencana Takahiro dan Kebimbangan Febry
Di Jepang, Takahiro berdiri di depan jendela kaca besar kantornya, menatap pemandangan kota Tokyo yang terang benderang di malam hari. Tangannya memegang berkas yang baru saja diberikan oleh salah satu anak buahnya.
"Hardian... siapa sebenarnya kau?" gumamnya pelan, matanya menyipit membaca laporan yang menunjukkan ada sesuatu yang janggal dengan pria itu.
Di sisi lain, Safira baru saja keluar dari kamarnya setelah menyelesaikan panggilan video dengan Hardian. Meskipun Hardian terlihat baik-baik saja, ada sesuatu yang terasa aneh. Seperti ada jarak yang perlahan muncul di antara mereka.
Takahiro menatap adiknya dan memutuskan untuk tidak membahas soal laporannya dulu. "Besok aku akan menyelidiki sesuatu. Kau mau ikut?" tanyanya.
Safira mengangguk. "Tentu saja."
Sementara itu, di Indonesia...
Febry duduk di dalam mobilnya, memandangi cincin pertunangan yang sudah ia siapkan untuk Amara. Ini seharusnya menjadi langkah yang benar, bukan? Ia sudah kehilangan Safira, dan sekarang Amara sedang mengandung anaknya. Menikah adalah satu-satunya pilihan.
Namun, hatinya terasa kosong.
"Feb, kau nggak apa-apa?" tanya Amara dari kursi penumpang.
Febry tersenyum kecil. "Nggak apa-apa. Aku cuma mikirin sesuatu."
Amara meraih tangannya. "Kita akan baik-baik saja. Percayalah."
Febry hanya mengangguk, tapi pikirannya justru melayang ke Safira. Bukan karena ia masih mencintai Safira—atau mungkin masih?—tapi karena kenyataan bahwa ia kehilangan segalanya setelah perbuatannya sendiri.
Malam itu, ia memutuskan untuk minum sendirian di bar. Ia butuh waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Tapi tanpa ia sadari, seseorang sedang mengawasinya dari kejauhan. Seseorang yang memiliki rencana besar untuk dirinya.
Rencana yang Mulai Terungkap
Di Jepang, Safira berjalan di belakang Takahiro, memasuki salah satu gedung yang tampak seperti kantor perusahaan biasa. Namun, ia tahu tempat ini lebih dari sekadar kantor biasa. Ini adalah salah satu pusat operasi tersembunyi milik kakaknya.
Seorang pria berjas hitam segera menghampiri mereka dan menyerahkan dokumen kepada Takahiro.
"Kami telah menyelidiki pria itu, Hardian."
Safira menatap Takahiro, merasa sedikit tidak nyaman. "Kenapa harus menyelidikinya? Aku percaya pada Hardian."
Takahiro menatap adiknya dengan mata tajam. "Kepercayaanmu tidak cukup. Aku tidak ingin kau disakiti lagi, Safira."
Safira terdiam, tahu betul bahwa kakaknya selalu berusaha melindunginya, bahkan dengan cara yang ia sendiri tidak pahami.
Sementara itu, di Indonesia…
Febry duduk di bar, tangannya menggenggam gelas minuman yang sudah hampir kosong. Matanya kosong, pikirannya dipenuhi kebimbangan.
Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingnya. Seorang pria yang tidak dikenalnya, berpakaian rapi namun dengan aura yang membuat Febry merasakan sesuatu yang aneh.
"Kau tampak seperti pria yang punya banyak beban." Pria itu tersenyum kecil.
Febry meliriknya sekilas. "Siapa kau?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelasnya, menyesap minumannya sebelum berkata dengan nada santai, "Seseorang yang bisa membantumu, kalau kau mau."
Febry mengernyit. "Membantu apa?"
Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Membantu mendapatkan sesuatu yang kau inginkan. Atau mungkin... seseorang?"
Febry langsung merasakan ada yang tidak beres. Tapi di saat yang sama, ia tidak bisa menyangkal bahwa ada bagian dalam dirinya yang ingin tahu lebih jauh.
Di saat yang sama, di tempat lain, Hardian duduk di dalam mobilnya, memandangi ponselnya. Ada pesan dari seseorang yang tidak ia harapkan.
"Kau mulai lupa siapa dirimu, Hardian."
Ia mengepalkan tangannya, tahu bahwa cepat atau lambat, masa lalunya akan menghancurkan semua yang telah ia bangun bersama Safira.
.
.
Bersambung