Indonesia
NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Panggil Aku Tante

Beberapa hari setelah menghabiskan waktu di villa keluarga Chen, kehidupan Gavin dan Tiffany akhirnya kembali seperti biasa.

Apartemen penthouse yang selama beberapa hari ditinggalkan kini kembali dipenuhi rutinitas lama.

Pelayan Zhang kembali sibuk mengurus kebutuhan rumah tangga. Jadwal kerja Tiffany perlahan kembali padat, sementara Gavin kembali menghabiskan sebagian besar waktunya dengan kegiatan yang menurut Tiffany terkadang tidak jelas.

Pagi itu, Tiffany baru saja selesai sarapan ketika ia duduk di sofa ruang tengah sambil memeriksa beberapa pesan di ponselnya.

Tidak ada rapat penting pagi ini.

Tidak ada jadwal pertemuan dengan klien.

Bahkan pekerjaannya di kantor juga belum terlalu mendesak.

Anehnya, justru keadaan seperti itu membuat Tiffany merasa bosan.

Tatapannya berhenti cukup lama pada layar ponselnya. Setelah tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menarik, ia akhirnya mengembuskan napas pelan lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa.

Ruangan yang biasanya terasa tenang justru pagi itu terasa terlalu sepi.

Beberapa saat kemudian, Tiffany melirik ke arah dapur.

Pelayan Zhang baru saja selesai membereskan sesuatu di sana. Tidak lama kemudian, wanita itu keluar sambil membawa sebuah keranjang kosong.

Tiffany memperhatikannya selama beberapa detik sebelum akhirnya memanggil.

"Pelayan Zhang."

Pelayan Zhang berhenti dan menoleh.

"Ya, Nona?"

"Buah di dapur masih ada?"

Pelayan Zhang tampak berpikir sebentar sebelum menjawab.

"Masih ada beberapa, tetapi sepertinya tinggal sedikit."

"Sayuran?"

"Beberapa jenis sudah habis."

Tiffany mengangguk pelan.

Biasanya urusan seperti itu memang tidak pernah menjadi masalah baginya. Pelayan Zhang akan membeli kebutuhan sehari-hari di pasar atau toko terdekat sebelum persediaan di rumah benar-benar habis.

Namun, hari ini Tiffany tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.

Ia menoleh ke arah sofa lainnya.

Gavin sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya. Wajah pria itu terlihat begitu tenang, seolah tidak memiliki pekerjaan apa pun yang harus dilakukan pagi itu.

Tiffany memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya membuka suara.

"Suamiku."

"Hm?"

Gavin bahkan belum mengangkat kepalanya. Jempolnya masih bergerak santai di atas layar ponsel.

"Temani aku belanja."

Jempol Gavin langsung berhenti bergerak.

Ia mengangkat wajahnya dan menatap Tiffany dengan ekspresi sedikit heran.

"Belanja?"

"Iya."

"Belanja apa?"

"Buah dan sayuran."

Gavin menatap Tiffany selama beberapa detik.

Kemudian matanya melirik ke arah Pelayan Zhang, seolah ingin memastikan apakah ada sesuatu yang sebenarnya ia lewatkan.

"Kan biasanya Pelayan Zhang yang belanja urusan dapur."

"Aku tahu."

"Terus kenapa kita harus pergi belanja?"

Tiffany menghela napas.

"Aku bosan tidak ada pekerjaan."

Jawaban itu membuat Gavin akhirnya meletakkan ponselnya di sofa.

"Oh."

Tiffany langsung menyipitkan mata.

"Oh apanya?"

"Kalau begitu ayo."

Tiffany mengernyit.

"Kenapa kamu langsung setuju?"

Gavin berdiri sambil merapikan kausnya tanpa menjawab pertanyaan dari Tiffany.

Gerakannya santai, seolah keputusan untuk pergi belanja bersama Tiffany merupakan sesuatu yang sama sekali tidak perlu dipikirkan.

Tiffany menatapnya tanpa ekspresi.

Ia masih merasa aneh melihat Gavin bisa berubah pikiran secepat itu.

Tidak lama kemudian, keduanya bersiap untuk pergi.

Pelayan Zhang yang melihat mereka hendak keluar hanya tersenyum kecil.

"Nona mau membeli sendiri?"

"Iya. Sekalian jalan-jalan sebentar."

Gavin mengambil kunci mobil dari meja.

"Dan sekalian membeli beberapa barang."

Tiffany langsung menatapnya.

"Barang apa?"

"Belum tahu."

"Kalau belum tahu, jangan beli macam-macam."

Gavin tersenyum kecil.

"Iya, Sayang."

Tiffany hanya mendengus kecil sebelum mengambil tasnya.

Mall yang mereka datangi cukup ramai.

Begitu memasuki area supermarket, Tiffany langsung menyadari bahwa keputusannya datang ke tempat itu mungkin bukan ide yang sepenuhnya buruk.

Setidaknya suasana ramai membuat rasa bosannya sedikit berkurang.

Tiffany berjalan di samping Gavin sambil membawa keranjang belanja yang perlahan mulai terisi.

Mereka memang datang untuk membeli buah dan sayuran, tetapi seperti yang sudah diduga Tiffany, Gavin mulai memasukkan beberapa barang lain ke dalam keranjang.

Tiffany mengambil salah satunya.

"Ini apa?"

"Snack."

"Kenapa beli?"

"Untuk dimakan."

"Aku tahu itu untuk dimakan."

"Kalau tahu, kenapa masih tanya?"

Tiffany langsung menyerahkan kembali barang tersebut.

"Masukkan lagi."

Gavin tersenyum puas.

"Baik, Sayang."

Tiffany hanya menggelengkan kepala.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Sesekali Tiffany memilih buah dengan teliti. Ia memeriksa kondisi kulit buah sebelum memasukkannya ke dalam keranjang. Sementara itu, Gavin sibuk memperhatikan barang-barang lain yang menurutnya menarik.

Beberapa kali Tiffany harus memperhatikan isi keranjang untuk memastikan Gavin tidak memasukkan terlalu banyak barang yang sebenarnya tidak mereka perlukan.

Sampai akhirnya mereka berhenti di salah satu bagian supermarket.

Tiffany sedang memeriksa beberapa buah ketika Gavin berdiri di belakangnya.

"Tante."

Tangan Tiffany langsung berhenti.

Ia menoleh perlahan.

"Apa?"

Gavin menunjuk salah satu buah.

"Yang ini bagus nggak?"

Tiffany menatapnya beberapa saat.

Kemudian ia menurunkan suaranya.

"Jangan panggil aku Tante di sini."

Gavin mengerutkan kening.

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan."

"Tapi mereka nggak kenal Tante."

Tiffany langsung menatapnya tajam.

"Itu bukan masalahnya."

"Terus masalahnya apa?"

Tiffany hendak menjawab, tetapi urung.

Ia sendiri merasa sulit menjelaskannya.

Di rumah atau ketika hanya berdua, panggilan itu sudah menjadi kebiasaan mereka.

Namun di tempat seperti ini...

Ia tidak ingin orang lain salah paham.

Entah kenapa, membayangkan seseorang mendengar Gavin memanggilnya "Tante" di tengah keramaian membuat Tiffany merasa tidak nyaman.

"Pokoknya jangan panggil aku begitu."

Gavin mengangkat bahu.

"Ya sudah."

Tiffany kembali memilih buah.

Ia mengira masalah itu selesai.

Ternyata belum.

Beberapa menit kemudian, mereka berjalan menuju bagian sayuran.

Gavin kembali bersuara.

"Tante, yang itu—"

Tiffany langsung menoleh.

"Gavin!"

Beberapa orang di sekitar mereka ikut menoleh karena suara Tiffany sedikit lebih keras dari sebelumnya.

Tiffany langsung terdiam.

Ia baru menyadari beberapa pasang mata sempat tertuju kepadanya.

Wajahnya terasa panas.

Sementara itu, Gavin justru terlihat bingung dengan reaksinya.

"Apa?"

Tiffany mendekat sedikit dan berbisik kesal.

"Aku sudah bilang jangan panggil aku Tante!"

"Kenapa sih?"

Tiffany hendak membalas, tetapi tiba-tiba terdengar suara pelan dari beberapa orang yang berjalan tidak jauh dari mereka.

"Eh, lihat."

Tiffany tanpa sengaja mendengar.

"Kayaknya Tante-tante lagi kencan sama cowok muda."

Tiffany membeku.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam.

Gavin tidak mendengarnya.

Pria itu malah sedang memilih sesuatu dari rak dengan ekspresi santai, sama sekali tidak menyadari bahwa komentar singkat orang lain baru saja membuat Tiffany merasa semakin tidak nyaman.

Tiffany perlahan menoleh ke arah orang-orang tadi.

Mereka sudah berjalan menjauh.

Wajah Tiffany langsung berubah.

"Gavin."

"Hm?"

"Mulai sekarang jangan panggil aku Tante kalau sedang di tempat umum."

Gavin menoleh.

"Kenapa?"

Tiffany menunjuk samar ke arah orang-orang yang baru saja lewat.

"Mereka kira aku sedang kencan dengan pria muda."

Gavin terdiam.

Ia mengikuti arah pandangan Tiffany sebelum kembali menatap wanita itu.

Kemudian matanya bergerak dari atas sampai bawah, seolah sedang mencoba memahami maksud Tiffany.

Tiffany langsung curiga.

"Apa?"

Gavin menahan senyum.

"Enggak."

"Kamu mau bilang apa?"

"Enggak ada."

"Gavin."

"Baiklah, baiklah."

Gavin mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.

"Kalau di tempat umum, aku nggak akan panggil Tante."

Tiffany akhirnya sedikit lega.

"Bagus."

Gavin kembali mengambil barang dari rak.

"Tapi kalau lagi berduaan saja nggak apa-apa kan?"

Tiffany langsung melotot.

"Itu urusan nanti."

"Berarti boleh?"

"Tidak usah banyak tanya!"

Gavin tertawa kecil.

Tiffany menghela napas panjang.

Pria ini benar-benar menyebalkan.

Mereka kembali berjalan.

Namun, baru beberapa langkah, Gavin berhenti di depan sebuah rak.

Matanya tertuju pada sebuah barang.

Ia mengambilnya lalu menoleh ke arah Tiffany yang sudah berjalan sedikit lebih dulu.

"Tiffany."

Tiffany yang berjalan lebih dulu langsung menoleh.

Untuk sesaat, ia bahkan tidak sadar apa yang baru saja terjadi.

Gavin mengangkat barang tersebut.

"Kalau yang ini boleh?"

Tiffany terdiam.

Bukan karena barang itu.

Melainkan karena Gavin baru saja memanggil namanya.

Tanpa "Tante".

Ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda ketika mendengar namanya keluar dari mulut Gavin di tempat ramai seperti itu.

"Kenapa diam?"

Tiffany segera mengalihkan pandangan.

"Boleh."

Gavin memasukkan barang itu ke keranjang.

"Terima kasih, Tiffany."

Tiffany mengernyit.

"Jangan panggil namaku terus."

Gavin tersenyum.

"Katanya jangan panggil Tante."

"Ya, tapi..."

"Berarti harus cari panggilan lain."

Tiffany langsung berjalan lebih cepat.

"Sudahlah!"

Gavin mengejarnya sambil tertawa kecil.

"Sayang?"

Tiffany berhenti.

Ia menoleh dengan wajah datar.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Yang itu cuma kalau ada orang yang memang sudah mengenal kita."

Gavin mengangguk.

"Oh, jadi ada aturan panggilan sekarang?"

"Iya."

"Rumit sekali."

"Karena kamu yang membuatnya rumit!"

Gavin hanya tertawa.

Mereka akhirnya melanjutkan belanja.

Keranjang yang semula hanya berisi buah dan sayuran kini sudah dipenuhi beberapa barang tambahan pilihan Gavin.

Tiffany beberapa kali melirik isinya, tetapi kali ini ia tidak lagi memprotes.

Mungkin karena pikirannya masih sibuk memikirkan kejadian sebelumnya.

Ia tidak menyadarinya, tetapi setelah kejadian tadi, ada sesuatu yang sedikit berubah.

Bukan dalam hubungan mereka.

Bukan pula dalam status pernikahan kontrak mereka.

Hanya sebuah hal kecil.

Untuk pertama kalinya, Tiffany mulai benar-benar memikirkan bagaimana dirinya terlihat ketika berdiri di samping Gavin di depan orang lain.

Sebelumnya, ia tidak pernah terlalu peduli dengan pandangan orang lain.

Namun sekarang, sebuah komentar sederhana dari orang asing saja sudah cukup membuatnya merasa tidak nyaman.

Dan entah kenapa...

Pikiran itu terus terbawa bahkan setelah mereka kembali ke apartemen.

1
lily
menarik
white star ⭐: trimakasih kak 5 bintangnya
total 1 replies
Mommy Cantik💋
SEMANGAT TERUS KAKAKKK🌹🌹🌹😍
Mommy Cantik💋
Bagusss Teruskan Thorr Good Jobb ❤❤🌹🌹🌹
Mommy Cantik💋
😍😍🌹🌹🌹 Bagus Banget Ceritanya.. Lanjut Thorrr
Mommy Cantik💋: Sama sama kakak.. 🌹🌹🌹😄
total 2 replies
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!