Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Topeng Kesetiaan
Suara rekaman itu masih bergema di telinga kami, seolah meresap hingga ke tulang sumsum. Nama orang yang kami dengar—Pak Haris—adalah sosok yang hadir saat perjanjian nikah kontrak pertama kali ditandatangani, orang yang selama puluhan tahun berdiri di samping keluarga Erlan, bahkan yang membantu merawat ayahnya saat sakit parah dulu. Tak ada satu pun dari kami yang pernah mencurigainya. Kesetiaannya tampak begitu nyata, begitu tulus, seolah ia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah keluarga itu sendiri. Namun sebab-akibat kini mulai menyambungkan titik-titik yang selama ini terputus: dari awal perjanjian yang terjadi terlalu cepat, hingga kemudahan Sari dan sekutunya merencanakan segala hal tanpa terdeteksi. Semuanya masuk akal jika ada orang yang berada di pusat lingkaran kepercayaan yang diam-diam mengatur arah permainan ini.
Erlan mengepalkan tangannya erat, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah bercampur rasa kecewa yang mendalam. "Selama ini kami mencari musuh di luar sana, di kegelapan, di masa lalu... padahal benih kerusakan itu sudah tertanam tepat di ruang tamu kami sendiri. Ia tahu setiap rencana kami, setiap kelemahan kami, setiap langkah yang akan kami ambil. Dan ia membiarkan kami berjuang habis-habisan hanya untuk melihat kami jatuh di saat kami merasa paling aman."
Kami segera memeriksa setiap catatan lama, setiap surat, dan setiap pernyataan yang pernah dibuat Pak Haris. Potongan teka-teki perlahan menyatu menjadi gambaran yang mengerikan: saat kakek Erlan membagi tugas menjaga keseimbangan, Pak Haris sebenarnya berasal dari cabang keluarga yang merasa dirugikan—mereka yang menganggap kekuatan dan kekayaan keluarga seharusnya menjadi milik mereka, bukan diberikan kepada penerus yang dipilih berdasarkan hati dan ketulusan. Dendam itu diwariskan dari generasi ke generasi, dan Pak Haris menunggu waktu yang tepat—sampai aku kembali dari kematian, sampai ikatan antara Erlan dan aku terbentuk, sampai celah itu terbuka lebar untuk ia manfaatkan bersama Sari.
Siang berganti malam, namun kami tak mematikan satu pun lampu di rumah itu. Setiap bayangan terasa mengintai, setiap suara langkah di luar terasa seperti ancaman yang datang. Erlan memerintahkan pengawal yang masih sepenuhnya dipercaya untuk menjaga setiap pintu dan keluar masuk dengan sangat ketat, namun kami sadar bahwa benteng fisik tak akan berarti jika pengkhianatan sudah merasuk ke dalam fondasi kepercayaan sendiri.
Tepat saat tengah malam lewat, terdengar ketukan pelan namun teratur di pintu utama. Polanya sama persis dengan pola ketukan yang biasa dilakukan Pak Haris. Jantungku berdegup kencang, namun Erlan memberi isyarat agar aku tetap berada di belakangnya sambil perlahan membuka pintu sedikit lewat celah rantai pengaman. Di sana berdiri Pak Haris dengan wajah tenang yang biasa, mengenakan pakaian rapi, dan di tangannya membawa sebuah amplop cokelat tua.
"Maaf mengganggu larut malam," ucapnya dengan nada yang begitu wajar, seolah tak ada apa-apa yang terjadi. "Aku teringat ada dokumen penting yang tertinggal di arsip lama—dokumen yang mungkin bisa menjelaskan asal-usul perselisihan ini. Kupikir kau mungkin membutuhkannya."
Erlan membuka pintu sepenuhnya, namun tidak mengizinkannya masuk lebih jauh. "Kau tahu kenapa kami mencarinya, bukan?" tanyanya dingin, tanpa basa-basi.
Pak Haris tersenyum tipis, lalu perlahan senyum itu memudar digantikan tatapan tajam yang tak pernah kami lihat sebelumnya. "Aku tahu segalanya, Tuan Muda. Aku tahu kapan kau menyadari keberadaanku, aku tahu kapan bukti-bukti itu mulai ditemukan, dan aku tahu apa yang akan terjadi jika kau berhasil menyatukan segala kebenaran ini."
Ia melangkah maju selangkah, meletakkan amplop itu di meja dekat pintu namun matanya tak lepas dari kami. "Aku tidak datang untuk melawan dengan kekerasan. Aku datang untuk memberi tahu kau apa yang sebenarnya terjadi sebelum kau mengambil keputusan yang salah. Dulu leluhurmu mengambil hak yang seharusnya milik keluargaku. Mereka memilih kasih sayang dan pengorbanan, tapi melupakan bahwa ada orang yang tertinggal dan menderita karenanya. Sari bukan sekadar sekutu—ia adalah bagian dari rantai kebencian yang sama panjangnya dengan rantai kesetiaan yang kau banggakan."
"Kebenaran tidak bisa dibangun dengan dendam," jawab Erlan tegas. "Dan hak tidak bisa diambil dengan cara menjatuhkan orang tak bersalah dan menghancurkan apa yang sudah ada. Kau bilang leluhurku mengambil hakmu? Maka kenapa kau tidak menuntutnya secara jujur? Kenapa kau harus menggunakan Sari, Rina, dan segala cara kotor ini?"
"Karena keadilan tidak pernah berpihak pada yang lemah jika hanya mengandalkan kata-kata!" bentaknya, emosi yang selama ini ia tahan akhirnya meledak. "Aku sudah menunggu puluhan tahun! Melihat kalian hidup aman, dicintai, dipercaya... sementara keluargaku hancur, diabaikan, dan dianggap tidak penting. Dan gadis ini..." Ia menatapku tajam. "...kau kembali dari kematian hanya untuk mengambil tempat yang seharusnya tidak kau miliki. Kau adalah anomali yang merusak segala keseimbangan yang seharusnya kami perbaiki dengan cara kami."
Belum sempat Erlan menjawab, Pak Haris perlahan mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku dalamnya—sebuah liontin hitam yang persis sama dengan milik Sari, namun di tengahnya tertanam batu merah yang berdenyut samar. "Sebenarnya aku sudah siap untuk menyerah pada takdir... sampai Sari memberiku cara untuk menyelesaikan semuanya sekaligus. Besok pagi, saat matahari terbit, semua yang kau bangun akan runtuh. Dan tak ada satu pun yang bisa kau lakukan untuk menghentikannya."
"Tidak jika kau memilih untuk berhenti sekarang," potongku pelan namun tegas. "Dendam hanya akan melahirkan dendam baru. Jika kau menghancurkan kami hari ini, kau tidak akan mendapatkan keadilan yang kau cari. Kau hanya akan menjadi seperti mereka yang dulu kau tuduh merampas hakmu."
Pak Haris terdiam sejenak, seolah kata-kataku sempat menyentuh sisi kemanusiaan yang lama terkubur. Namun seketika itu juga, tatapannya kembali mengeras. "Sudah terlambat. Roda ini sudah berputar, dan tak ada yang bisa menghentikannya kecuali salah satu dari kita musnah."
Ia berbalik hendak pergi, namun sebelum melangkah jauh, ia berhenti sebentar dan menoleh tanpa menampakkan wajahnya. "Satu hal yang harus kau tahu... pengkhianatan bukanlah hal yang mudah bagi kami. Tapi keyakinan bahwa kami benar membuatnya terasa ringan. Dan kau Dian... berhati-hatilah pada apa yang kau yakini sebagai kebenaran. Karena terkadang, apa yang kau anggap sebagai penyelamat ternyata adalah kehancuran yang paling kau harapkan."
Setelah sosoknya menghilang di kegelapan malam, kami segera membuka amplop yang ditinggalkannya. Di dalamnya terdapat dokumen kuno yang menceritakan perselisihan ribuan tahun silam—namun ada satu hal yang tertulis di bagian paling akhir dengan tinta merah yang samar: "Dua kebenaran yang berbeda sering kali terlihat sebagai kebohongan bagi pihak lain. Namun hanya satu yang mampu bertahan saat diuji oleh waktu: kebenaran yang tidak memakan korban."
Namun di tengah kekaguman pada pesan itu, kami menyadari sesuatu yang membuat darah kami berdesir: dokumen itu sengaja ditinggalkan agar kami tahu bahwa rencana mereka sudah berjalan sempurna. Dan saat Erlan memeriksa sistem keamanan rumah lewat perangkatnya, ia menemukan bahwa sejak tadi malam semua akses penting perusahaan dan perlindungan keluarga telah dialihkan—bukan ke Sari, melainkan ke sebuah nama yang tak pernah kami duga sebelumnya: nama yang ternyata tertulis sebagai kerabat jauh dari garis keturunan yang sama dengan diriku sendiri.
Apakah aku juga memiliki kaitan rahasia yang tak pernah diketahui? Mengapa nama itu muncul tepat saat mereka ingin mengambil alih segalanya? Dan apakah selama ini aku bukan hanya kunci penyelamat, melainkan juga kunci yang sejak awal disiapkan untuk mengunci kami semua di dalam perangkap yang tak berujung?