“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pintu rumah terbuka menjelang sore.
Tiara yang sedang berada di dapur segera menoleh ketika mendengar suara langkah kaki dari ruang depan.
“Mas?”
Tidak lama kemudian, Permana muncul sambil membawa dua kantong besar berisi buah-buahan. Ada apel, jeruk, mangga, pir, dan beberapa buah yang sengaja dipilihnya untuk menjaga kesehatan Tiara.
Begitu melihat istrinya, wajah Permana langsung cerah.
“Sayang.”
Ia meletakkan kantong buah di atas meja, lalu menghampiri Tiara dan memeluk wanita itu dari belakang.
Tiara terkekeh.
“Mas, baru pulang sudah mengganggu orang masak.”
“Aku rindu.”
“Baru beberapa jam.”
“Beberapa jam itu lama kalau tidak melihat istriku.”
Tiara tersenyum malu.
Permana kemudian mengecup keningnya.
“Masak apa hari ini?”
“Makanan kesukaanmu.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Permana mengintip ke arah panci yang berada di atas kompor.
“Aku mencium aroma yang sangat enak.”
Tiara tersenyum.
“Sebentar lagi matang.”
Namun ketika Permana hendak kembali ke ruang depan, Tiara tiba-tiba mengernyit.
Ia mencium sesuatu.
Bukan aroma masakan.
Bukan pula aroma parfum suaminya yang biasa.
Tiara mendekat.
“Mas.”
“Hm?”
“Kok ada yang aneh dari kamu?”
Permana mengangkat alis.
“Apa yang aneh?”
Tiara mencium bahunya.
Kemudian wajahnya langsung berubah.
“Kamu bau parfum wanita.”
Permana terdiam sesaat.
Tiara menyipitkan mata.
“Bukannya klienmu hari ini laki-laki?”
Permana terkekeh kecil.
“Oh, itu.”
“Itu apa?”
“Tadi aku tidak sengaja menabrak Indri.”
“Indri?”
“Iya. Dia membawa parfum yang cukup kuat. Mungkin aromanya menempel di bajuku.”
Tiara masih menatapnya curiga.
“Menabrak bagaimana?”
“Tidak sengaja. Dia berjalan cepat, aku juga sedang terburu-buru. Kami hampir jatuh.”
Tiara melipat tangan di dada.
“Dia mencoba merayumu?”
Permana tertawa.
“Mungkin.”
Tiara langsung memelototinya.
“Kok malah mungkin?”
“Aku tidak tahu, Sayang.”
Permana mengusap kepala istrinya.
“Tapi kalau memang dia mencoba merayuku, itu tidak akan mempan.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Kenapa?”
Permana menatap mata Tiara.
“Karena aku sudah punya kamu.”
Tiara masih memasang wajah cemberut.
Permana mendekat.
“Dan aku tidak membutuhkan wanita lain.”
Tiara akhirnya sedikit melunak.
Namun ia masih menyimpan rasa khawatir.
“Mas…”
“Hm?”
“Berjanjilah padaku.”
“Janji apa?”
“Berjanjilah kamu akan selalu setia.”
Permana terdiam.
Permintaan sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat.
Ia tahu Tiara pernah mengalami luka yang dalam.
Pengkhianatan dari mantan suaminya telah membuat wanita itu sulit percaya sepenuhnya kepada seorang pria.
Permana menggenggam kedua tangannya.
“Aku janji.”
“Benar?”
“Benar.”
Permana menatapnya serius.
“Aku akan selalu setia kepadamu, Tiara.”
Tiara menunduk.
“Aku tidak mau mengalami kesalahan yang sama lagi.”
Permana langsung menariknya ke dalam pelukan.
“Kamu tidak akan mengalaminya bersamaku.”
Tiara menyandarkan kepala di dada suaminya.
“Jangan pernah membuatku menyesal telah mempercayaimu.”
“Aku tidak akan melakukannya.”
Permana mengelus rambutnya.
“Aku juga tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama seperti mantan suamimu dulu.”
Tiara terdiam.
Mendengar Permana menyebut masa lalu itu membuat hatinya kembali terasa sesak.
Tetapi kali ini bukan karena terluka.
Melainkan karena bersyukur.
Ia bersyukur setelah semua penderitaan yang pernah dialaminya, Tuhan mempertemukannya dengan pria yang begitu menghargainya.
“Mas.”
“Iya?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Sudah membuatku merasa aman.”
Permana tersenyum.
“Kamu istriku. Sudah seharusnya aku membuatmu merasa aman.”
Tiara membalas pelukannya.
Beberapa saat kemudian, Permana melepaskan pelukannya.
“Oh iya.”
“Apa?”
“Tadi aku hampir lupa.”
Permana mengambil salah satu kantong buah.
“Ini untukmu.”
Tiara melihat isinya.
“Banyak sekali.”
“Aku ingin kamu makan buah lebih banyak.”
“Mas, aku tidak mungkin menghabiskan semuanya.”
“Kalau tidak habis, aku bantu.”
Tiara tertawa.
“Kamu yang menghabiskan sebagian besar nanti.”
“Tidak masalah.”
Permana kemudian mengambil satu buah apel dan menyerahkannya kepada Tiara.
“Yang penting kamu dan calon anak kita sehat.”
Senyum Tiara langsung mengembang.
Tangannya refleks menyentuh perut yang masih belum terlalu terlihat.
“Anak kita…”
Permana ikut memandang perut istrinya.
Tatapan pria itu penuh kebahagiaan.
“Anak pertama kita.”
Tiara tersenyum.
Ia masih sulit percaya bahwa setelah semua yang dilaluinya, kini ia memiliki rumah tangga yang begitu hangat.
Namun kebahagiaan itu belum selesai.
Permana tiba-tiba berkata,
“Oh iya, nanti malam Ibu akan datang.”
Tiara mengangkat wajah.
“Ibu?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Katanya ada sesuatu yang mau diberikan kepadamu.”
“Untukku?”
Permana mengangguk.
“Untukmu dan calon cucunya.”
Tiara penasaran.
“Hadiah apa?”
Permana tersenyum misterius.
“Rahasia.”
“Mas!”
“Aku benar-benar tidak tahu secara detail.”
“Tidak mungkin.”
“Serius.”
Permana mengambil air minum.
“Ibu cuma bilang hadiahnya sesuatu yang bisa menunjang kehidupan anak cucunya sampai tiga generasi ke depan.”
Tiara terdiam.
“Tiga generasi?”
“Iya.”
“Hadiah macam apa itu?”
Permana tertawa kecil.
“Makanya nanti kamu tanyakan sendiri kepada Ibu.”
Tiara menggeleng tak percaya.
“Jangan-jangan Ibu membeli satu rumah lagi.”
“Bisa jadi.”
“Tanah?”
“Mungkin.”
“Perusahaan?”
Permana tersenyum.
“Bisa juga.”
Tiara langsung menatapnya.
“Mas, jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Nada suara Permana berubah lebih serius.
“Kalau Ibu sudah mengatakan sesuatu bisa menunjang kehidupan anak cucu sampai tiga generasi, biasanya beliau memang sudah memikirkan sesuatu yang besar.”
Tiara kembali menyentuh perutnya.
Ia tersenyum kecil.
“Aku jadi penasaran.”
“Sebentar lagi juga tahu.”
Permana lalu mengusap perut istrinya dengan lembut.
“Semoga anak kita lahir sehat.”
“Aamiin.”
“Semoga dia tumbuh menjadi anak baik.”
“Aamiin.”
“Dan semoga dia tidak kekurangan apa pun.”
Tiara menatap suaminya.
“Mas.”
“Iya?”
“Kalau nanti anak kita sudah besar, jangan terlalu memanjakannya.”
Permana tertawa.
“Aku?”
“Iya.”
“Bukankah kamu yang akan memanjakannya?”
Tiara ikut tertawa.
“Bisa jadi.”
Suasana rumah itu terasa begitu hangat.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada suara tangisan.
Hanya dua orang yang sedang menantikan kelahiran buah hati mereka.