Indonesia
NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bolehlah?

Bagas dan Dandi masih berdiri kaku di balik pintu kaca, menahan napas sambil mengintip ke halaman belakang. Di luar, Chandra berdiri santai di depan kanvas. Pria itu memiringkan kepala, menatap kain putih di depannya tanpa raut bingung, padahal pikirannya sedang kosong karena tidak tahu harus menggambar apa. Ia cuma sedang bosan.

Yueji melangkah mendekat sambil membawa cangkir teh yang masih mengepul. "Sayang, bisa tidak kamu lukiskan pedang saja?" bisiknya lembut. "Untuk aku pakai latihan cosplay."

Chandra terkekeh pelan sambil menggeleng. "Yah, Sayang... kalau cuma lukisan pedang doang, nanti tidak bisa aku jual ke kolektor."

"Tidak apa-apa, aku saja yang beli," sahut Yueji cepat. Tangannya menyodorkan cangkir teh dengan senyum tipis.

"Apa-apaan kamu ini? Masa istri sendiri beli lukisan suaminya?" Chandra mendaratkan telapak tangannya di kepala Yueji, mengacak rambut istrinya pelan. "Baiklah, biar kamu puas, aku buatkan lukisan pedang yang paling mewah."

Chandra tidak langsung mengambil kuas. Ia meraih tangan kanan Yueji, mengamati telapak tangan itu dan membolak-balikkannya. Matanya mengukur jarak antar jari dengan teliti.

Yueji mengedipkan mata, bingung melihat tingkah suaminya. "Ada apa, Sayang?"

"Aku cuma sedang membayangkan kalau pedang ini benar-benar ada di genggaman kamu," jawab Chandra santai.

Begitu melepaskan tangan Yueji, Chandra meraih kuasnya. Jemarinya bergerak cepat menorehkan cat ke atas kanvas. Warna ungu gelap yang tembus pandang mulai terbentuk, menyusun wujud bilah senjata yang ramping. Di mata orang awam, itu cuma gambar pedang fiksi untuk hobi cosplay.

Namun, tepat saat garis-garis itu makin jelas, suasana di sekitar galeri mendadak berubah berat.

Di balik pintu kaca, Bagas mendadak memegangi dadanya. Napasnya tertahan. "Dandi... kamu rasakan ini?" bisiknya dengan suara bergetar.

Dandi cuma bisa mengangguk patah-patah. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. "Aku sudah bilang apa, Bagas. Ini bukan melukis biasa."

Tekanan ghaib berhembus dari arah kanvas, merembet pelan melewati celah pintu. Bilah pedang ungu transparan di dalam lukisan Chandra seperti memiliki rongga udara sendiri. Di dalam benak Chandra saat melukis, ia membayangkan konsep yang unik: jika pedang ini kelak ditancapkan ke tanah, ribuan bayangan prajurit gaib akan keluar dari dalam bumi. Tetapi senjata ini punya syarat, ia harus terus berinteraksi dan mengunci tatapan mata orang yang memandangnya agar kekuatannya tidak liar.

"Lihat pola energinya..." Bagas menyipitkan mata, ketakutan setengah mati. "Itu bukan cuma gambar. Dia sedang mengukir hukum alam baru ke dalam kain kanvas itu. Itu wujud pedang dewa kuno!"

Chandra yang tidak tahu apa-apa terus menambah detail. Supaya gambarnya makin keren dan tidak terlalu polos, ia menyapukan warna hitam dan keunguan di latar belakang, membentuk kilatan petir serta siluet naga hitam yang meliuk-liuk di udara.

Begitu kuas terakhir diangkat, langit di atas galeri yang tadinya cerah mendadak bergulung remang. Suara gemuruh halus terdengar dari kejauhan, merespons siluet naga di dalam gambar.

"Haaaah..." Chandra mendadak menguap lebar. Matanya berair karena kantuk yang datang tiba-tiba. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan. "Aneh ya, tiap kali melukis serius begini pasti bawaannya ngantuk berat."

Yueji mengambil kuas dari tangan Chandra lalu meletakkannya di samping tatakan cat. "Kamu kelelahan, Sayang. Istirahat saja dulu di dalam, biar aku yang rapikan sisanya."

"Iya deh, aku mau rebahan sebentar." Chandra menepuk bahu Yueji pelan, lalu berbalik melangkah menuju pintu kaca galeri.

Melihat Chandra berjalan mendekat, Bagas dan Dandi langsung panik setengah mati.

"Dia datang! Bagas, cepat mundur!" bisik Dandi panik sambil menyenggol lengan Bagas.

"Jangan panik! Pura-pura biasa saja!" balas Bagas setengah berbisik, meski tangannya sendiri gemetaran hebat.

Chandra mendorong pintu kaca dan melangkah masuk ke dalam galeri. Namun, baru dua langkah berjalan, kakinya terhenti. Matanya tertuju pada dua orang yang berdiri kaku di tengah ruangan, dengan raut wajah pucat dan posisi tubuh yang sangat tidak alami.

"Tuan Dandi?" sapa Chandra, mengernyitkan dahi keheranan.

Dandi buru-buru memaksakan senyum, meski bibirnya gemetar. "E-eh... Tuan Chandra. Selamat sore."

Chandra memperhatikan Dandi dari atas ke bawah. Jas mewah yang dipakai pria muda itu tampak kotor dan lecek penuh debu marmer. Di samping Dandi, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian jubah putih bersih yang tampak agak kedodoran, menundukkan kepala dalam-dalam seolah tidak berani menatap langsung ke arah Chandra.

"Kamu kenapa, Tuan Dandi? Baju kamu kotor begitu?" tanya Chandra polos. Matanya lalu berpindah ke pria di sebelah Dandi. "Ini... siapa? Kenapa pakaiannya seperti orang mau main sinetron kolosal?"

Dandi menyenggol siku Bagas dengan kencang, memberi kode agar pria tua itu cepat bersuara.

Bagas yang sejak tadi menahan napas langsung membungkukkan badannya sangat rendah, hampir sembilan puluh derajat. "Sa-saya Bagas, Tuan. Saya... kawan lamanya Dandi dari luar kota."

Chandra mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kawan lamanya Tuan Dandi? Tapi... kenapa berdiri kaku begitu dari tadi? Ada masalah?"

"Tidak ada, Tuan! Sama sekali tidak ada masalah!" potong Dandi cepat, suaranya agak melengking karena gugup. "Kami... kami cuma baru selesai bicara sebentar soal beberapa lukisan di sini."

Chandra manggut-manggut, meski rasa herannya belum hilang. "Oh, begitu. Soalnya tadi pas aku masuk, kalian kelihatan tegang sekali. Seperti habis lihat hantu saja."

Dandi tertawa sumbang, berusaha mencairkan suasana. "Haha... mana ada hantu di sini, Tuan. Rumah Tuan sangat... tenang dan menyejukkan."

Chandra tersenyum tipis. "Ya sudah kalau begitu. Maaf ya, aku tidak bisa menemani ngobrol lama-lama. Kepala aku mendadak berat sekali habis pegang kuas tadi. Aku mau ke kamar belakang dulu."

"Silakan, Tuan Chandra! Silakan istirahat, jangan hiraukan kami!" jawab Dandi setengah membungkuk.

Chandra berjalan melewati mereka berdua dengan langkah santai. Namun tepat saat Chandra berada di samping Bagas, angin dingin berhembus tipis dari kibasan baju Chandra. Bagas membelalakkan mata. Aura yang keluar dari tubuh pria muda itu terasa begitu murni, sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana. Bagas harus mengerahkan seluruh tenaga dalam hanya untuk tetap berdiri tegak dan tidak tersungkur berlutut di tempat.

"Mari, Tuan Dandi, Pak Bagas," pamit Chandra ramah sebelum menghilang di balik pintu koridor dalam.

Begitu bayangan Chandra benar-benar tidak kelihatan lagi, Bagas langsung merosot dan bersandar di dinding galeri. Dadanya naik turun, meraup udara sebanyak-banyaknya seolah baru saja lolos dari pintu kematian.

"Kamu lihat itu, Bagas?" bisik Dandi sambil menyapu keringat di dahinya. "Dia sama sekali tidak sadar kalau baru saja menciptakan ajimat tingkat dewa di teras belakang."

Bagas mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin, lalu menoleh pelan ke arah pintu kaca. "Pria itu... kalau sampai dia sadar siapa dirinya sebenarnya, dunia fana ini bisa hancur cuma karena satu goresan kuasnya."

1
Lagu Teu Baleg
semangat Thor ya
Alinsyah 70: oke siap 👍
total 1 replies
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!