Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 HARUMA TIBA DI RUMAH

Deretan pohon angsana yang berjejer di sepanjang jalan menuju Rumah Sakit Panti Rapih tampak melambai pelan disapu angin pagi. Cahaya keemasan matahari terbit menerobos celah-celah dedaunan basah, menciptakan kilauan embun yang hangat di atas kap mobil SUV hitam milik Zaki.

Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari dibelit teror dan ketakutan yang mencekik, senyum tipis akhirnya terlukis di wajah Zaki dan Nisa saat kendaraan mereka memasuki pelataran parkir area rawat inap VIP.

Dengan langkah tergesa namun dipenuhi rasa syukur yang membuncah, Zaki dan Nisa menyusuri lorong beraroma antiseptik yang kini terasa tak lagi semencekam hari-hari sebelumnya. Tujuan mereka adalah ruang tunggu khusus pasien VIP di ujung koridor, tempat di mana putri sulung mereka sedang menanti.

Di dalam ruangan ber-AC yang nyaman tersebut, Haruma duduk rapi di atas kursi roda. Gadis itu mengenakan sweter rajut berwarna cokelat hangat dan celana kain panjang. Wajahnya yang beberapa hari lalu sepucat kain kafan kini mulai dialiri rona kemerahan alami. Meski tubuhnya terlihat sedikit lebih kurus dan di lehernya masih menyisa jejak memar pudar, sepasang matanya memancarkan binar kehidupan yang sangat dirindukan oleh kedua orang tuanya.

Di samping kursi roda Haruma, Dokter Surya berdiri memegang papan rekam medis, ditemani oleh Suster Ratna yang sedang merapikan tas berisi pakaian dan obat-obatan pribadi milik Haruma.

"Haruma! Anakku!" jerit Nisa tak mampu lagi menahan keharuannya.

Nisa setengah berlari menghampiri putrinya, berlutut di depan kursi roda, lalu merengkuh tubuh Haruma ke dalam pelukan yang sangat erat.

Tangis bahagia seorang ibu pecah seketika di bahu Haruma.

Haruma membalas pelukan ibunya dengan tak kalah erat, menenggelamkan wajahnya di leher Nisa. "Ibuuu... Haruma kangen banget sama Ibuuu..."

Zaki melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca saat mengusap lembut kepala Haruma sebelum mencium kening putri sulungnya itu dengan penuh kasih sayang. "Alhamdulillah, Nak... Alhamdulillah kamu sudah sembuh. Bapak bahagia sekali melihat kamu bisa tersenyum lagi."

Dokter Surya tersenyum ramah menyaksikan momen emosional keluarga tersebut. Ia melangkah mendekati Zaki dan menjabat tangannya hangat.

"Pak Zaki, Bu Nisa, seperti yang sudah saya sampaikan melalui telepon tadi, Mbak Haruma sudah siap sepenuhnya untuk dibawa pulang," terang Dokter Surya dengan intonasi mantap. "Seluruh indikator fisiknya sangat bagus. Nanti Suster Ratna akan menyerahkan daftar obat rawat jalan beserta jadwal kontrol ulang minggu depan."

Zaki membalas genggaman tangan Dokter Surya dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih atas seluruh dedikasi dan bantuan tim medis selama merawat anak saya di sini."

"Sudah menjadi kewajiban kami, Pak Zaki," balas Dokter Surya ramah. "Mbak Haruma ini tergolong sangat kuat. Pemulihannya berjalan sangat cepat, bahkan benar-benar di luar perkiraan kami."

Suster Ratna menyerahkan satu kantong kertas berisi obat-obatan kepada Nisa seraya tersenyum manis, lalu menoleh ke Haruma. "Jangan lupa diminum obatnya secara teratur ya, Mbak Haruma. Jangan terlalu banyak pikiran, dan harus banyak istirahat di rumah."

"Iya, Suster. Terima kasih banyak ya," sahut Haruma tulus dengan sunggingan senyum lembut.

.....

.....

Setelah mengurus serah terima berkas terakhir di meja perawat, Zaki perlahan mendorong kursi roda Haruma keluar menuju pelataran lobi.

Udara pagi kota Yogyakarta yang segar menyapa kulit mereka saat Haruma dibantu berdiri dan masuk ke dalam kursi depan mobil SUV mereka. Nisa duduk di kursi belakang, tak henti-hentinya mengusap bahu Haruma dari belakang dengan penuh kehangatan.

Mesin mobil SUV hitam itu meraung halus membelah arus lalu lintas kota yang mulai ramai oleh aktivitas warga.

Di balik kaca jendela, Haruma menatap pemandangan kota Yogyakarta dengan tatapan penuh kerinduan. Bangunan-bangunan toko, jalanan yang basah oleh embun, dan deretan penjual sarapan di tepi jalan seolah menjadi pemandangan paling indah setelah berhari-hari ia terkurung dalam dinding serba putih rumah sakit.

Saat mobil melintas di kawasan lingkar selatan, Zaki melirik putri sulungnya melalui spion tengah. Sebuah ide mendadak terlintas di kepalanya, dipicu oleh kebahagiaan yang meluap-luap karena bisa membawa Haruma pulang dengan selamat.

"Haruma," panggil Zaki dengan nada suara yang ceria.

Haruma menoleh ke arah ayahnya. "Iya, Pak?"

"Bapak tahu kamu pasti sudah bosan setengah mati memakan bubur dan makanan rumah sakit yang hambar itu, kan?" goda Zaki dengan kekehan pelan.

Haruma terkekeh pelan, memegang perutnya yang masih terasa nyeri. "Iya sih, Pak... Kangen banget sama makanan yang ada rasanya. Makanan rumah sakit rasanya hambar banget di lidah."

Nisa ikut tersenyum dari kursi belakang. "Bapakmu benar, Nak. Gimana kalau sebelum kita sampai rumah, kita mampir beli makanan kesukaanmu dulu?"

Mata Haruma seketika berbinar cerah. "Beli Gudeg di warung Bu Tjitro ya, Bu? Yang pakai krecek pedas sama telur bacem kesukaanku!"

"Siaaap, Putri Bapak!" seru Zaki semangat. "Bapak tahu warung gudeg langganan kita yang buka dari pagi di pinggir jalan depan sana. Kita beli porsi komplit buat makan bersama di rumah nanti."

Zaki memutar kemudi, mengarahkan mobilnya menepi di depan sebuah warung makan tradisional khas Yogyakarta bertuliskan Gudeg Bu Tjitro. Bau harum rempah-rempah yang gurih, santan yang meresap, dan aroma manis gula jawa yang khas seketika menyengat hidung begitu kaca jendela mobil diturunkan sedikit.

Zaki turun dari mobil dan dengan cekatan memesan beberapa bungkus gudeg komplit—berisi gudeg nangka yang lembut, krecek pedas gurih, ayam kampung suwir, tahu, dan telur bacem yang pekat.

Hanya butuh waktu sepuluh menit, Zaki kembali ke dalam mobil membawa dua kantong plastik besar yang mengepulkan uap hangat dan aroma lezat yang membangkitkan selera makan.

"Waaah... aromanya enak banget, Pak!" seru Haruma dengan nada gembira saat Zaki meletakkan kantong gudeg itu di pangkuan Nisa.

"Nah, nanti begitu sampai rumah, kita langsung makan bersama Kakek ya," kata Nisa seraya mengusap kepala Haruma. "Kamu harus makan yang banyak supaya tenagamu cepat pulih sepenuhnya."

"Iya, Ibu," balas Haruma tulus, membalas tatapan ibunya dengan rasa hangat yang mengalir di dadanya.

.....

.....

Perjalanan dilanjutkan dan tak sampai dua puluh menit kemudian, mobil SUV hitam itu berbelok memasuki gang perumahan dan berhenti tepat di depan gerbang berpagar besi tinggi milik keluarga Zaki.

Saat pintu mobil dibuka, sosok Pak Rusdi sudah berdiri menunggu di teras rumah. Pria tua renta itu mengenakan sarung tenun dan baju koko putih, menggenggam tasbih kayu gaharunya. Wajahnya yang keriput memancarkan kehangatan dan kelegaan yang amat sangat saat melihat Haruma melangkah keluar dari mobil dibimbing oleh Zaki dan Nisa.

"Alhamdulillah... Cucuku sudah pulang," panggil Pak Rusdi dengan suara serak yang sarat akan rasa syukur.

Haruma setengah berlari melangkah menaiki anak tangga teras, lalu langsung berlutut dan memeluk pinggang kakeknya erat-erat. "Kakek... Haruma kangen banget sama Kakek..."

Pak Rusdi mengusap punggung cucu sulungnya dengan penuh kelembutan, menepuk-nepuk bahunya pelan. "Kakek juga kangen sekali padamu, Nak. Terima kasih sudah kuat bertarung melawan sakitmu."

Dengan lembut, Pak Rusdi melepaskan pelukannya, lalu menempelkan ibu jarinya di tengah kening Haruma seraya merapalkan doa keselamatan yang amat pendek.

Batin spiritual sang kakek meraba aura Tulang Wangi milik Haruma yang kini mulai kembali stabil, meski ia masih bisa merasakan sisa-sisa getaran pagar gaib yang memagari raga cucunya itu dari bahaya luar.

"Mari masuk, Nak. Udara di luar masih agak dingin," ajak Pak Rusdi seraya memapah Haruma memasuki ruang tamu.

Nisa dan Zaki menyusul dari belakang membawa tas pakaian dan kantong bungkus Gudeg Jogja. Mereka berempat berkumpul di meja makan kayu di ruang tengah.

Suasana makan pagi itu terasa sangat hangat dan dipenuhi canda tawa singkat, sebuah momen langka yang seolah menghapus jejak-jejak teror gaib yang selama ini membayangi rumah tersebut.

Haruma menghabiskan porsi gudegnya dengan sangat lahap, membuat Zaki dan Nisa tak berhenti mengulas senyum bahagia.

Setelah selesai makan, Zaki membimbing Haruma untuk beristirahat di kamar tidur utama lantai bawah yang sengaja disiapkan khusus untuknya, agar Haruma tidak perlu naik turun tangga dan memudahkan pengawasan.

......

......

Waktu bergerak begitu cepat tanpa kompromi.

Langit siang yang tadinya terang benderang perlahan-lahan berganti menjadi jingga keunguan saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Angin sore berembus lebih kencang dari biasanya, membawa hawa dingin yang menusuk tulang dan aroma tanah basah sisa hujan kemarin.

Menjelang malam, suasana di dalam rumah keluarga Zaki mulai berubah drastis.

Kehangatan yang sempat tercipta pagi tadi perlahan-lahan menguap, digantikan oleh keheningan yang serba canggung dan pekat. Suara rintik gerimis mulai menetes satu per satu menimpa atap genting.

Haruma terbangun dari tidurnya, karena sejak siang tadi sampai malam ini dirinya sengaja diperintahkan untuk istirahat oleh kedua orang tuanya. Tubuhnya terasa jauh lebih segar dan bertenaga.

Gadis itu bangkit dari tempat tidur, merapikan kardigannya, lalu melangkah keluar dari kamar lantai bawah menuju ruang keluarga.

Di ruang keluarga, Zaki duduk di sofa dengan wajah tegang, matanya menatap kosong ke arah lantai. Nisa berdiri di dekat jendela, memegangi tirai dengan tangan yang gemetar pelan. Sementara Pak Rusdi duduk bersila di atas karpet di sudut ruangan, memutar tasbihnya dengan bibir yang tak berhenti berkomat-kamit merapalkan ayat suci.

Haruma berjalan mendekati meja makan, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dapur kosong. Ruang tamu sepi.

Dan yang paling aneh, sejak ia menapakkan kaki di rumah ini tadi pagi hingga malam mulai jatuh... ia sama sekali belum melihat batang hidung kembarannya.

Kerutan bingung tercetak di kening Haruma. Perasaan aneh dan ketidak tenangan mendadak merayapi dadanya.

"Bapak... Ibu..." panggil Haruma dengan suara pelan, memecah keheningan yang mengendap di ruangan tersebut.

Zaki dan Nisa seketika terperanjat. Zaki menoleh cepat ke arah Haruma, mencoba memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak sangat canggung.

"Eh, Haruma... Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Zaki dengan nada suara yang sedikit bergetar. "Gimana tidurmu? Nyenyak?"

"Tidurku nyenyak kok, Pak," jawab Haruma seraya melangkah mendekati sofa. Namun matanya tetap mencari-cari ke sekeliling rumah. "Bapak... Ibu... dari tadi pagi aku sampai rumah, kok aku nggak melihat Rumi sama sekali ya?"

Pertanyaan sederhana itu seketika membekukan udara di dalam ruang keluarga tersebut.

Nisa yang berdiri di dekat jendela langsung membalikkan badannya, menutupi mulutnya dengan kedua tangan saat air mata mendadak menggenang di pelupuk matanya.

Zaki tertegun di atas sofa, rahangnya mengeras, dan tangannya saling bertaut erat di atas pangkuan.

Bahkan putaran tasbih di jemari Pak Rusdi sempat terhenti sejenak.

Melihat reaksi aneh dari seluruh anggota keluarganya, jantung Haruma berdegup kencang secara tak beraturan.

Firasat buruk yang sangat gelap mendadak menghantam dada gadis itu.

"Pak? Ibu? Kakek? Kenapa pada diam?" panggil Haruma lagi, suaranya kini mulai dipenuhi kepanikan dan nada kecurigaan. "Rumi ke mana? Rumi lagi di kampus? Atau lagi pergi sama Yuda? Kenapa kamarnya di atas terkunci dari luar?"

Zaki menghela napas yang sangat berat dan panjang, seolah-olah beban seisi bumi sedang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu berdiri, melangkah mendekati Haruma, lalu memegang kedua bahu putri sulungnya itu dengan lembut namun sangat erat.

"Haruma... duduklah dulu, Nak," bisik Zaki dengan suara yang pecah oleh kelelahan batin. "Ada hal sangat penting dan memilukan yang harus Bapak dan Ibu ceritakan padamu."

Haruma menggelengkan kepalanya perlahan, menolak untuk duduk. Matanya menatap Zaki lurus-lurus dengan tatapan menuntut kepastian. "Nggak, Pak! Bilang sama Haruma sekarang! Rumi kenapa?! Kenapa wajah Bapak, Ibu, sama Kakek, seperti orang kesakitan begini?!"

Nisa tak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia berjalan mendekat dan merangkul bahu Haruma dari samping, terisak pelan di balik selendangnya.

"Bapak... mohon... kamu tenang dan kuat ya, Nak..." suara Zaki bergetar hebat, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang kasar. "Selama kamu terbaring koma dan dirawat intensif di rumah sakit selama ini... kondisi adikmu, Harumi... memburuk dengan sangat mengerikan."

Darah Haruma seakan membeku di dalam nadinya.

"Memburuk... gimana maksud Bapak?" tanya Haruma.

Zaki menelan ludah dengan susah payah, memberanikan diri menatap mata Haruma untuk menyampaikan kenyataan pahit yang selama ini mereka sembunyikan.

"Entitas iblis dari Candi Prambanan itu... telah menguasai raga dan kesadaran Harumi secara mutlak, Haruma," tutur Zaki dengan kalimat yang terbata-bata. "Makhluk itu tidak lagi sekadar merasuki sebentar-sebentar... Tapi dia sudah menjadikan tubuh adikmu sebagai wadah utamanya."

Haruma membelalakkan matanya sempurna, napasnya tersengal di dada. "G-Gak mungkin... Rumi..."

"Ini kenyataan yang sangat pahit, Nak," sela Nisa di antara isak tangisnya. "Beberapa malam lalu di rumah ini... iblis di dalam tubuh Harumi memegang pisau daging yang sangat tajam. Dia berniat membunuh kita semua dan memotong lehernya sendiri! Dan... dan kemarin siang di kampus..."

Nisa menghentikan ucapannya, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Zaki mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, melanjutkan penjelasan istrinya dengan nada sarat akan keputusasaan. "Kemarin siang di taman belakang kampus, iblis yang mengendalikan tubuh Harumi memancing Yuda untuk datang. Harumi... Harumi mencekik leher Yuda dengan kekuatan gaib yang sangat besar, Haruma! Dia mengangkat tubuh Yuda ke udara dan nyaris membunuh Yuda di tempat!"

"YA ALLAH!! RUMI?!" jerit Haruma histeris.

Kedua tangannya menutup mulutnya sendiri, matanya membelalak lebar dalam guncangan ketakutan yang luar biasa. "Y-Yuda... Yuda gimana, Pak?! Yuda selamat?!"

"Yuda selamat karena Dion datang tepat waktu dan menyiramkan air doa ruqyah pemberian Kakek ke wajah Harumi," jelas Zaki cepat. "Air doa itu membuat iblis itu terdesak dan membakar energinya sampai Harumi pingsan dan tak sadarkan diri sebentar."

Haruma meremas dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit bagaikan dihantam bongkahan batu besar.

Gambar-gambar kengerian tentang adik kembar yang sangat dicintainya dipaksa menjadi alat pembunuh berdarah dingin berputar liar di dalam kepalanya.

"L-lalu... sekarang Rumi di mana, Pak?!" tanya Haruma dengan suara parau yang pecah oleh tangisan. "Kenapa dari tadi Haruma nggak melihat dia?!"

Zaki menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjuk ke arah tangga kayu yang menuju ke lantai atas.

"Harumi ada di atas, Nak..." bisik Zaki dengan penyesalan mendalam yang mengoyak hatinya sebagai seorang ayah. "Di kamarnya sendiri... Bapak dan Ibu terpaksa mengunci pintu kamarnya dari luar dengan gembok besi."

Haruma tersentak hebat, seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Ia menatap tangga menuju lantai atas, lalu kembali menatap ayahnya dengan raut wajah tidak percaya.

"Bapak... mengunci Rumi di kamar sendirian?!" raung Haruma dengan tangis yang meledak hebat. "Kenapa Bapak sama Ibu tega mengunci Rumi seperti binatang dikandang?! Dia adikku, Pak! Dia Harumi!"

"Kami tidak punya pilihan lain, Haruma!" tangis Nisa pecah seraya memeluk erat tubuh Haruma yang meronta. "Iblis di dalam tubuhnya mengincar nyawamu dan nyawa Yuda! Kalau pintu itu tidak dikunci, iblis itu akan keluar dan membunuh kita semua saat kita sedang lengah! Ibu sama Bapak melakukan ini untuk melindungi kamu dan adikmu sendiri!"

Haruma merosot berlutut di lantai dingin ruang keluarga.

Air mata membanjiri seluruh wajah pucatnya. Hatinya terasa hancur lebur, teriris-iris oleh kenyataan bahwa saat ia terbaring nyaman di rumah sakit berjuang untuk sembuh, adik kembarnya justru sedang mengalami siksaan neraka di dalam jiwanya sendiri—terkurung dalam kegelapan, dikuasai oleh iblis jahat, dan kini dipenjara di dalam kamarnya sendiri tanpa ada yang mendampingi.

"Rumi... maafin Kakak, Rumi... Hiks hiks..." isak Haruma pilu, menempelkan dahinya di atas lantai kayu seraya memukuli dadanya sendiri yang terasa sangat sesak. "Harusnya Kakak yang melindungimu... Harusnya Kakak yang menanggung semua kutukan ini... Maafin Kakak..."

Pak Rusdi melangkah mendekati cucu sulungnya yang sedang hancur lebur itu. Sang kakek berlutut di samping Haruma, mengusap kepala cucunya dengan kelembutan yang dalam.

"Jangan menyalahkan dirimu, Haruma," ucap Pak Rusdi dengan suara berat dan menenangkan. "Ini adalah suratan takdir darah Tulang Wangi yang harus kalian jalani. Tapi ketahuilah... Beberapa malam lagi adalah malam bulan mati. Yuda dan Dion sedang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mencari cara memutus segel iblis itu di Candi Prambanan."

Haruma mendongak, menatap kakeknya dengan mata yang sembap dan merah. "Yuda... Yuda mau ke Prambanan, Kakek?"

"Benar, Nak," jawab Pak Rusdi mantap. "Kalau malam bulan mati itu sudah tiba, saat garis tengah malam bulan mati itu terlewati, pertempuran terakhir untuk membebaskan adikmu dari kutukan itu akan dimulai. Dan kita di rumah ini... harus menjadi benteng terkuat untuk menopang jiwa Harumi dari jarak jauh."

Haruma mengusap air matanya dengan ujung lengan kardigannya. Walaupun hatinya hancur dan tubuhnya masih menyisa rasa lelah, tekad seorang kakak perempuan seketika membakar dadanya. Ia menatap ke arah plafon lantai atas—ke arah kamar tempat adik kembarnya terkurung dalam kegelapan.

.....

.....

Di lantai atas, di dalam kamar yang gelap gulita tanpa penerangan, suasana terasa sangat dingin bagaikan kamar mayat.

Harumi yang duduk bersila di tengah ruangan, mendadak menghentikan usapan jarinya pada lantai.

Sepasang matanya yang hitam pekat tanpa bagian putih perlahan terbuka lebar.

Sang Panglima Jin di dalam tubuhnya mendengar raungan tangis dan rasa bersalah sang Perisai dari lantai bawah.

Bibir pucat Harumi tertarik ke atas...

Membentuk senyuman asimetris yang sangat mengerikan di tengah kegelapan malam.

Hitungan mundur menuju jatuhnya puncak malam bulan mati tinggal menyisakan beberapa malam saja.

Dan...

Kegelapan di rumah itu kian memadat, siap meledakkan terornya yang paling mematikan.

1
SecretS
sungguh membuat terkejut kak 🫨aku baru baca lengkap sinopsisnya 😔 aku pikir kutukan nya itu nyata looh, tapi alurnya bagus sih udah serem sih hampir mirip tirakat 3 pas pertemuan Nisa sama gendis. lanjut lagi kak 😄😄
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Satu langkah lagi puncaknya brarti ya... mangats bwt kalian, semoga bisa menyelamatkan rumi dari panglima jin kerajaan baka
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ini kek doa naik kendaraan apa bepergian yaa, tawaf ruwat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ya zaky nya juga knpa kudu di kunci gitu kamarnya trs percaya aja sama Rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sabar ya Rumi, orang orang terdekat mu sedang berusaha untuk menyelamatkan mu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku kira bakalan ketauan Zaky atw membangunkan panglima jin yg ada di dalam tubuh Harumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo yudha nggak ada keturunan garis darah Bandung Bondowoso, bisa dipastikan dia udah nggak selamat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
jangan jangan bener yuda masih ada turunan darah bandung
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo semisal rumah nggak nyelametin Rumi, masa iya Rumi mo di kurung trs, nunggu apa? nunggu sii yudha itu kah?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kata panglima jin yg di tubuh Rumi
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mangsa yang nyamperin umpan... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
berat yaa perjuangan sblom berperang berpacu dengan waktu juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh bener tuh kata mbah kliwonn jangan nunggu keajaiban murahan tapi... berperang langsung. tapi dengan segala persiapan saya dan upaya ya yud wkwkwk nggak asal perang.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semoga mbah klien tidak dibelakang kan iblis prambanan itu juga, klo iya ntar nggak ada yg nolongin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tebakan aku dari awal ya yudha ini
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : iyaa serem
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!