Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
Ternyata pangeran bukan tidak peduli pada kejadian itu. Dia perlu banyak informasi untuk mengambil keputusan.
Di sudut ruangan, jemari Tabib Shen yang memegang penumbuk batu mendadak kaku. Dada pria itu berdegup kencang. Nama Selir Lan dan tuduhan melanggar area terlarang itu seketika memicu rasa cemas yang pekat.
Zhang Li berbalik, menatap Feng Chuan dengan pandangan tajam. "Lalu kenapa Selir Lan bisa sampai ke sana? Bagaimana mungkin seorang selir yang selalu berada di dalam paviliun bisa berjalan begitu jauh hingga melintasi batas terlarang itu tanpa ada pengawal yang menyadarinya?"
"Mungkin ... Ada seseorang yang sengaja menjebak Selir Lan," ujar tabib Shen mo ikut menyuarakan pendapatnya. Namun ia menyesal karena ia ingin menyembunyikan rasa ingin tahunya tentang kelanjutan kejadian itu.
"Seseorang yang tinggi kedudukannya. Yang bisa meminta prajurit untuk memperbolehkan selir masuk ke dalam hutan," ujar Feng chuan menambahi. "Hamba merasa ada yang sengaja mengarahkannya ke sana, Yang Mulia," sahut Feng Chuan serius.
"Siapa yang paling berkepentingan jika Selir Lan menghilang atau dihukum karena melanggar area terlarang?" tanya Zhang Li dingin.
"Semua selir, Yang Mulia," sahut Feng Chuan.
"Bagaimana pendapatmu, Shen mo?" tanya Zhang Li bertanya pada tabib muda itu yang kembali diam padahal tadi menyuarakan pendapatnya.
"Menurutku ... tentu semua selir, Zhang Li. Karena pada dasarnya semua selir ingin mendapat perhatianmu." Kecuali Selir Lan, tepis Tabib dalam hati. Dalam benaknya selir Lan sangatlah istimewa.
"Mereka ingin aku perhatikan?" tanya Zhang Li berpura-pura tidak tahu sambil mendengus. Lalu menggelengkan kepala heran.
"Wanita mana yang tidak ingin mendapatkan perhatian, Yang Mulia. Semua wanita di negeri ini pasti ingin." Feng Chuan setuju.
"Oh, ya? Jadi kalau aku menemukan wanita yang tidak menginginkanku dia pasti istimewa," kata pangeran Zhang dengan senyum miringnya.
Mana ada. Semua pasti berlomba untuk mendapatkan hati pangeran dan menjadi permaisuri, batin tabib Shen mo dan Feng Chuan sedikit mencibir di balik punggung pangeran.
"Namun, yang lebih membuatku heran bukan hanya alasan kenapa Selir Lan bisa sampai ke area terlarang itu..."
Zhang Li menghentikan langkahnya, lalu menatap Feng Chuan. "...melainkan bagaimana dia bisa bersama Selir Xiao."
Feng Chuan menyipitkan mata. "Benar, Yang Mulia. Kata para pelayan, yang bersama selir Kui hanyalah selir Lan. Tidak ada selir Xiao bersama mereka."
"Cari lagi informasinya Feng Chuan. Besok, kamu panggil semua selir ke aula baca," perintah Zhang Li.
"Baik, Yang Mulia." Feng Chuan mengangguk dan berpamitan pergi.
"Yang perlu dicurigai tentu selir Kui yang datang ke hutan terlarang itu bersama Selir Lan. Kenapa bisa dia datang bersama tapi kembali sendirian. Juga kenapa harus kesana?" ujar Tabib Shen Mo.
"Kau tampak lebih emosional daripada aku, Shen Mo," kata pangeran Zhang Li sambil tersenyum.
"Bukan begitu. Bukankah semua orang tahu selir Lan itu lemah lembut diantara semua selir mu. Kenapa ada orang yang ingin mencelakainya? Meskipun aku tahu kalau persaingan antar selir itu nyata," kata Tabib Shen dengan degup jantung berdetak kencang. Sekali lagi ia berlebihan merespon kasus Selir Lan ini.
"Yah, dalam istana memang penuh dengan intrik." Zhang mengakui bahwa disini hidupnya penuh tantangan. Jarang ada yang benar-benar menikmati hidup di istana tanpa ingin mengambil alih kedudukan milik orang lain yang lebih tinggi.
"Aku rasa, jika kamu punya permaisuri, semua akan lebih berbeda," usul Tabib Shen.
"Bukannya sama saja. Permaisuri ku juga pasti sibuk bersaing dengan para selir." Zhang Li menanggapi dengan malas.
"Kau harus cari permaisuri yang tangguh, Zhang Li," kata Tabib Shen.
"Jadi kau menyuruhku segera menikah?"
"Yah ... Bukannya seharusnya pangeran memang punya permaisuri? Lalu punya keturunan untuk meneruskan tahta." Tabib Shen menyerahkan ramuan pada pangeran.
"Aku masih belum mau. Tidak ada yang benar-benar cocok berada di atas tahta permaisuri." Zhang Li menerima minuman itu dan mengabiskan dengan sekali teguk.
"Diantara keempat selir itu juga tidak ada yang menarik hatimu?" Selidik Tabib Shen.
Bibir Zhang Li tersenyum. Tanda kalau pertanyaan tabib Shen tidak perlu jawabannya karena dia pasti tahu.
"Makanya kau membiarkan mereka terus berada di kediaman tanpa kau sentuh?" tanya Tabib Shen sebenarnya senang.
Zhang menaikkan alisnya.
"Lalu bagaimana dengan selir Xiao? Dari keempat selirmu dia sangat .... istimewa." Saat bicara kata istimewa, alis Tabib Shen naik.
"Hahaha ... Dia sengaja kupilih karena kurang pintar dalam banyak hal untuk memenuhi syarat menjadi selir." Zhang Li tampak senang.
"Kau ingin mengolok-oloknya, ya?"
"Tidak. Aku tidak pernah mencelanya. Hanya ingin raja berhenti menyuruhku mencari selir."
"Jadi kau ingin menjadikan selir Xiao selir terakhir?"
"Aku harap, ya. Dengan memilih selir Xiao yang tidak ahli dalam bidang apapun, raja akan berpikir ulang untuk memintaku mencari selir karena akhirnya aku akan memilih yang jauh dari kriteria yang mereka inginkan," ujar Zhang Li pasti.
Shen mo menggelengkan kepala.
*
*
*
Keesokan harinya.
Di dalam ruangan baca yang tenang itu, Zhang Li duduk tegak seraya menyesap tehnya perlahan. Sementara Feng Chuan berdiri di dekatnya setelah baru saja kembali dari pengumpulan informasi lanjutan.
"Bagaimana hasilnya, Feng Chuan?" tanya Zhang Li datar.
"Melapor, Yang Mulia," sahut Feng Chuan seraya menunduk kaku. "Pengawal pintu gerbang perbatasan mengonfirmasi bahwa Selir Kui memang terlihat mendatangi area luar Hutan Selatan bersama Selir Lan kemarin. Namun, Selir Kui kembali seorang diri dengan alasan Selir Lan 'terpisah' saat melihat pemandangan."
Zhang Li tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sarat ancaman. "Lalu bagaimana dengan Selir Xiao?"
Dari kabar yang dihimpun para pelayan, Selir Xiao sebenarnya menyadari Selir Kui kembali dari area luar Hutan Selatan seorang diri tanpa Selir Lan. Mengetahui ada yang tidak beres, Selir Xiao menyusul masuk ke area terlarang itu untuk mencari Selir Lan."
Zhang Li mengangkat sebelah alisnya. Senyum miring. "Jadi gadis 'bodoh' itu nekat masuk ke hutan berbahaya hanya karena tahu Selir Lan ditinggalkan? Menarik. Keberanian yang amat luar biasa untuk seorang selir yang katanya tidak paham apa-apa."
"Mungkin karena dia polos jadi tidak berpikir panjang untuk masuk ke dalam hutan untuk menolong Selir Lan, Yang Mulia," ujar Feng Chuan.
"Ya. Aku paham itu." Zhang Li mengangguk.
*
*
*
Suasana di aula tengah paviliun selir mendadak kaku ketika kabar pemanggilan mendadak menyebar. Sesuai perintah, keempat selir keluar dari kamar masing-masing dan berkumpul di sekitar meja makan besar berukir kayu cendana yang terletak di tengah ruangan terbuka ini.
"Hormat hamba kepada para Selir Yang Mulia," seru Feng Chuan kaku dan tegas.
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄