Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Reyna merangkak cepat menuju pintu ganda ruang rapat utama, napasnya teratur meskipun jantungnya berpacu. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Wanita yang mati di gudang terbengkalai lima tahun lalu sudah tidak ada. Wanita yang sekarang merangkak di lantai ini adalah seorang komandan.
"Nadia," bisik Reyna ke earpiece-nya, suaranya nyaris tak terdengar di atas suara tembakan yang redup. "Eksekusi Protokol Omega. Sektor Lantai Lima Puluh. Sekarang."
"Dimengerti, Nona. Mengunci sektor," suara Nadia terdengar tenang di telinganya, kontras dengan kekacauan di dunia nyata.
Tiba-tiba, suara alarm kebakaran yang memekakkan telinga meraung di seluruh lantai. Dari langit-langit koridor, panel-panel ventilasi terbuka, dan bukannya air, sistem pemadam kebakaran canggih gedung itu menyemburkan gas halon dan busa kimia tebal berwarna putih susu.
Di tengah kabut putih itu, Maya bergerak seperti hantu. Ia tidak butuh penglihatan; ia bergerak berdasarkan memori denah dan insting pembunuh. Dua tembakan teredam terdengar dari dalam kabut, diikuti oleh erangan pelan. Dua pengawal Reyna yang berdiri di sisi kiri koridor roboh, tertembak tepat di lutut dan bahu. Maya tidak membunuh mereka; ia melumpuhkan mereka untuk memperlambat pergerakan Marcus.
"Formasi defensif! Lindungi Nona Reyna!" teriak Marcus, menyeret Reyna masuk ke dalam ruang rapat utama dan membanting pintu ganda kayu jati itu hingga terkunci.
Di dalam ruang rapat, sepuluh komisaris dan direksi yang tadi sedang bersiap untuk RUPSLB kini menjerit panik. Mereka bersembunyi di bawah meja mahoni raksasa, menangis dan memeluk kepala mereka. Richard Arland, yang dipaksa hadir sebagai pemegang saham minoritas, tampak pucat pasi, gemetar di sudut ruangan.
Maya tidak memberi mereka waktu.
BRAKK!
Pintu ganda itu hancur berkeping-keping saat Maya menendangnya dengan kekuatan penuh dari luar. Asap putih dan busa kimia ikut menerobos masuk ke dalam ruangan.
Maya melangkah masuk melalui ambang pintu yang hancur. Seragam petugas kebersihannya kini berlumuran darah salah satu pengawal. Senapan runduk yang ia rakit dari troli kebersihan kini terangkat, moncongnya mengarah tepat ke dada Reyna yang berdiri tenang di dekat jendela panorama.
"Permainan berakhir, Reyna," ucap Maya, napasnya sedikit memburu, namun tangannya yang memegang senjata tetap stabil seperti batu karang. "Kau pikir enam orang pengawal bisa menghentikanku? Kau pikir gedung ini bisa melindungimu? Raka menginginkan kepalamu. Dan aku akan memberikannya padanya."
Para direksi yang bersembunyi di bawah meja semakin mengerang ketakutan melihat moncong senjata itu.
Namun, Reyna tidak mengangkat tangannya. Ia tidak memohon. Ia bahkan tidak terlihat takut.
Perlahan, sudut bibir Reyna terangkat. Senyum itu kembali. Senyum yang membuat Maya, untuk pertama kalinya dalam karirnya sebagai pembunuh bayaran, merasakan sedikit rasa dingin merambat di tulang belakangnya.
"Kau benar, Maya. Enam orang pengawal tidak cukup untuk menghentikanku," ucap Reyna, suaranya bergema jelas di tengah ruangan yang luas. "Mereka hanya umpan. Untuk memaksamu masuk ke ruangan ini. Dan Linda? Marcus sudah menunggunya di tangga darurat. Dia sedang diborgol di lobi oleh polisi yang sudah kusuruh menunggu di bawah sejak pagi."
Maya menyipitkan matanya. Jari telunjuknya mengencangkan cengkeraman di pelatuk. "Omong kosong. Kau tidak punya jalan keluar. Berdiri dan hadapi..."
KLIK.
Suara mekanik yang berat terdengar dari langit-langit.
Sebelum Maya bisa menarik pelatuknya, sebuah lempengan kaca setebal lima sentimeter jatuh dari langit-langit dengan kecepatan luar biasa, memisahkan ruangan menjadi dua bagian. Kaca itu turun tepat di antara Maya dan Reyna, mengunci Maya di dalam area pintu masuk, sementara Reyna, para direksi, dan Richard berada di area jendela panorama.
Maya bereaksi cepat. Ia menembakkan tiga peluru ke arah kaca itu.
DOR! DOR! DOR!
Peluru itu menghantam permukaan kaca, namun bukannya menembus, peluru itu malah hancur menjadi serbuk timah, meninggalkan sedikit goresan putih di permukaan kaca balistik tingkat militer itu. Kaca itu bahkan tidak bergetar.
Maya menatap kaca itu, lalu menatap Reyna melalui transparansi yang sempurna.
"Ini adalah kaca balistik tipe military-grade. Tahan terhadap peluru kaliber .50 BMG," jelas Reyna, suaranya terdengar sedikit teredam oleh kaca tebal itu, namun nadanya tetap dingin dan merendahkan. "Kaca ini memisahkan ruangan ini menjadi dua kandang. Dan kau, Maya, baru saja mengunci dirimu di dalam kandang yang lebih kecil."
"Kau pikir kaca ini bisa menahanku selamanya?!" Maya menggeram, merogoh sabuknya untuk mengeluarkan granat tangan.
"Aku tidak butuh menahanku selamanya," potong Reyna. Ia menekan sebuah tombol di dinding di sampingnya. "Nadia, aktifkan sistem isolasi ruang depan. Pompa gas neurotoksin non-mematikan. Dosis untuk membuat gajah tidur dalam tiga puluh detik."
Maya membeku. Matanya melebar saat ia mendengar suara desisan halus dari ventilasi di atas kepalanya. Gas berwarna biru pucat mulai menyembur keluar, mengisi ruang kecil di mana ia berdiri.
Maya segera menahan napas dan merogoh masker gas dari saku celananya. Namun, ia terlambat sepersekian detik. Gas itu sudah mengenai matanya. Pandangannya berkunang-kunang. Otot-otot tangannya yang tadi memegang granat tiba-tiba terasa berat seperti timah. Senjata itu terlepas dari genggamannya, jatuh berdenting di lantai.
Kaki Maya goyah. Ia mencoba melangkah menuju kaca, mencoba menghancurkannya dengan tangan kosong, namun lututnya akhirnya menghantam lantai marmer. Pandangannya menghitam. Tubuh sang pembunuh bayaran tak terkalahkan itu akhirnya rubuh, tak sadarkan diri di atas karpet mahal.
Reyna menatap tubuh Maya yang tergeletak tak berdaya di balik kaca. Tidak ada kepuasan. Tidak ada kemarahan. Hanya ada rasa lelah yang mendalam.
Ia menoleh ke arah Richard yang masih gemetar di bawah meja, dan para direksi yang menatapnya dengan campuran rasa takut dan kagum.
"Rapat bisa dilanjutkan, Tuan-tuan," ucap Reyna, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Seperti yang baru saja kalian saksikan, siapa pun yang mencoba mengkhianati Arland Group akan berakhir di balik jeruji besi, atau di lantai ini. Sekarang, mari kita voting untuk pengesahan posisi saya sebagai CEO permanen. Saya yakin, tidak ada yang keberatan."
Tidak ada satu pun suara yang terdengar. Semua orang di dalam ruangan itu mengangguk cepat, terrified.
Reyna menatap pantulan dirinya di kaca balistik itu. Di balik pantulannya, tubuh Maya tergeletak di lantai, dan di luar gedung, sirine polisi mulai terdengar mengepung lantai bawah.
Raka telah kehilangan algojonya. Dan sekarang, Reyna akan pergi ke sarangnya untuk menghabisinya sendiri.