Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Hinaan di Meja Makan
Keheningan yang mencekam menyelimuti area ambang pintu kediaman utama keluarga Arisandra. Tatapan mata Pak Arisandra yang tajam dan sarat pengalaman menembus lurus ke arah Dirga. Pria paruh baya penguasa Larasati Group itu menilai tiap inci penampilan Dirga, dari kemeja abu-abu gelap sederhananya hingga sorot mata dingin yang tak berkedip sedikit pun di bawah tekanan auranya.
"Benar, Pak Arisandra," jawab Dirga tenang, suaranya terdengar berat dan mantap di tengah kesunyian. "Saya Dirga."
Pak Arisandra tidak segera tersenyum atau mengulurkan tangan. Ia hanya mengangguk tipis dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. "Saya sudah mendengar banyak hal tentangmu dari Lisa. Masuklah. Makanan sudah disajikan di ruang makan utama."
Tante Siska dan Chintya bersungut-sungut pelan, melangkah masuk lebih dahulu dengan kibasan gaun mewahnya. Lisa menatap Dirga dengan pandangan penuh penyesalan, lalu berbisik halus saat mereka berjalan berdampingan menelusuri lorong berlantai marmer.
"Maafkan perlakuan Tante Siska dan Chintya tadi, Dirga," bisik Lisa lirih. "Saya tidak menyangka mereka akan bertindak selancang itu di depan pintu."
"Tidak perlu meminta maaf, Bu Lisa," balas Dirga tanpa mengubah garis wajahnya. "Saya datang untuk memenuhi undangan, bukan untuk mencari penerimaan dari orang lain."
Mereka tiba di ruang makan keluarga yang sangat megah. Di tengah ruangan, membentang meja makan panjang dari kayu jati utuh berpelitur gelap, dihiasi lampu kristal gantung yang memancarkan cahaya keemasan. Berbagai hidangan kelas atas tertata rapi di atas taplak putih bersih, dikelilingi oleh kursi-kursi berukir tinggi.
Pak Arisandra mengambil posisi di ujung meja sebagai kepala keluarga. Lisa duduk di sisi kanan ayahnya, dan secara khusus mengisyaratkan Dirga untuk duduk tepat di sampingnya. Sementara itu, Tante Siska dan Chintya mengambil tempat di sisi kiri meja, menatap Dirga dengan tatapan penuh permusuhan dan kecurigaan.
Suasana makan malam dimulai dengan denting sendok dan garpu yang beradu pelan dengan piring porselen. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tante Siska meletakkan pisau dagingnya dengan dentang sengaja yang cukup keras, menyandarkan punggungnya, lalu menatap Dirga secara provokatif.
"Ngomong-ngomong, Pemuda," buka Tante Siska dengan nada suara yang ditinggikan, sengaja memecah keheningan. "Lisa terus menyebutmu sebagai sosok luar biasa yang menyelamatkan Larasati Group. Tapi kalau boleh tahu, di mana sebenarnya kantor pusat tempatmu bekerja? Latar belakang pendidikanmu dari universitas mana?"
Lisa mengepalkan tangannya di bawah meja, hendak menyela, tetapi Dirga memegang tepi meja secara tenang dan menjawab dengan lugas.
"Saya tidak berlatar belakang pendidikan tinggi dari universitas ternama, Nyonya," jawab Dirga lurus, menatap Tante Siska tanpa rasa minder sedikit pun. "Sebelum ini, saya bekerja sebagai Office Boy di sebuah perusahaan investasi lokal. Dan saat ini, pekerjaan harian saya adalah mengendarai sepeda motor sebagai pengemudi ojek online."
Pernyataan jujur itu membuat Tante Siska dan Chintya tertawa terkekeh-kekeh dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Astaga! Dengarkan itu, Kak Arisandra!" seru Tante Siska sambil menepuk tangannya, beralih menatap Pak Arisandra dengan wajah dramatis. "Seorang mantan OB dan tukang ojek pengantar penumpang! Bagaimana mungkin seorang pengemudi ojek bisa memahami transaksi korporasi tingkat tinggi dan membongkar kecurangan audit? Ini sungguh tidak masuk akal!"
Chintya menyela dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya. "Mama benar. Sangat kelihatan sekali kalau pemuda ini hanya menggunakan trik tebak-tebakan murahan atau informasi kebetulan untuk mendekati Lisa. Lisa yang polos langsung percaya begitu saja!"
"Chintya! Jaga mulutmu!" bentak Lisa, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak. "Dirga menyelamatkan perusahaan kita dengan analisis yang presisi! Bahkan hari ini, dia membeli lahan anak perusahaan kita senilai lima ratus juta rupiah secara tunai dengan harga normal tanpa memeras posisi kita yang terdesak!"
Tante Siska membelalakkan matanya, lalu tertawa makin keras seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling konyol. "Lima ratus juta rupiah? Lisa, Lisa... Dari mana seorang tukang ojek punya uang sebanyak itu jika bukan dari hasil menipu atau menyalahgunakan nama besar Larasati Group? Dia pasti sengaja memutar uang itu demi mencuci citranya di hadapanmu! Tujuan akhirnya sudah sangat jelas, dia ingin merayumu, menguras harta keluarga Arisandra, dan mengangkat derajat hidupnya yang miskin itu!"
"Cukup, Tante Siska!" suara Lisa meninggi, dadanya naik turun menahan emosi. "Jangan pernah menghina integritas Dirga dengan tuduhan tidak berdasar seperti itu!"
Dirga tetap menyantap hidangannya dengan gerakan yang sangat tenang dan teratur, seolah anggapan buruk di sekelilingnya hanyalah angin lalu. Sikap dingin dan penuh kontrol diri itu justru membuat Tante Siska makin geram karena merasa hinaannya tidak mempan.
Dirga perlahan meletakkan garpunya, mengusap bibirnya dengan serbet kain secara rapi, lalu menatap Tante Siska dan Chintya secara bergantian.
"Rasa hormat dan harta benda adalah dua hal yang berbeda, Nyonya," tutur Dirga dengan suara rendah namun berwibawa, membuat seluruh meja makan mendadak hening. "Seseorang bisa saja bergelimang harta dan memakai perhiasan mahal, tetapi jika tutur katanya selalu dipenuhi rasa dengki dan kecurigaan picik, maka jiwanya tetaplah miskin. Saya mengumpulkan uang saya rupiah demi rupiah dengan keringat dan kehormatan. Saya tidak pernah meminta satu sen pun dari keluarga Arisandra."
Tante Siska tersedak mendengarnya, mukanya memerah padam. "Kamu... berani-beraninya tukang ojek seperti kamu mengajari saya tentang kehormatan?!"
Sementara konfrontasi memanas, Pak Arisandra yang sejak tadi menyimak dalam diam akhirnya meletakkan cangkir tehnya. Ekspresi wajah sang konglomerat tetap dingin, datar, dan memancarkan keraguan yang mendalam.
"Dirga," panggil Pak Arisandra, suaranya berat dan berwibawa, seketika membungkam perdebatan di meja makan.
"Ya, Pak Arisandra," sahut Dirga tenang.
Pak Arisandra menatap Dirga dengan mata menyipit. "Sebagai seorang ayah dan pimpinan tertinggi Larasati Group, saya mengapresiasi bantuanmu pada Lisa terkait kasus Pak Surya dan pembelian lahan Sukamaju. Tapi saya harus jujur... penjelasan mengenai pekerjaanmu sebagai pengemudi ojek dan mantan Office Boy menciptakan keraguan yang sangat besar dalam pikiran saya."
"Ayah!" protes Lisa dengan nada kaget.
Pak Arisandra mengangkat tangannya, menghentikan protes putrinya, lalu melanjutkan pandangannya pada Dirga. "Dunia korporasi skala besar diisi oleh orang-orang dengan rekam jejak yang jelas, Dirga. Kemampuanmu menebak pergerakan saham atau intuisi bisnismu yang mendadak tidak memiliki dasar akademis atau portofolio riil yang bisa saya verifikasi. Tanpa latar belakang yang jelas, wajar jika keluarga saya merasa curiga bahwa ada motif terselubung di balik kedekatanmu dengan putri saya."
Dirga menatap Pak Arisandra secara lurus. Tidak ada riak kemarahan atau kegentaran di matanya. Ia memahami cara berpikir seorang pimpinan bisnis senior yang selalu dipenuhi kewaspadaan.
"Keraguan Anda sangat wajar, Pak Arisandra," balas Dirga diplomatis dan lugas. "Seorang pimpinan yang bijak memang harus mempertanyakan segala hal yang berada di luar logika wajar. Saya tidak meminta Anda atau keluarga Anda untuk memercayai saya secara mentah-mentah. Waktu dan pembuktian nyata yang akan menjawab keraguan tersebut, bukan perdebatan kosong di meja makan ini."
Pak Arisandra menatap Dirga selama beberapa detik. Ada sedikit rasa terkejut di hati sang konglomerat melihat betapa tenang dan bermartabatnya pemuda ini dalam merespons keraguan dirinya. Namun sebelum Pak Arisandra sempat membalas ucapan Dirga, langkah kaki yang berat dan riuh mendadak terdengar melintasi lorong utama menuju ruang makan.
Seorang pelayan rumah tampak tergesa-gesa membungkuk di dekat pintu ruang makan. "Maaf mengganggu makan malamnya, Pak Arisandra... Ada tamu penting yang baru saja tiba di gerbang luar. Karena beliau mengaku memiliki janji bisnis darurat malam ini dengan Bapak, petugas keamanan langsung mengantarkannya masuk."
Pak Arisandra mengerutkan dahinya. "Siapa yang datang tanpa mengonfirmasi ulang jam kedatangan?"
Belum sempat pelayan itu menjawab, dua sosok pria berjas mewah melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan gaya yang sangat dominan dan penuh rasa percaya diri tinggi.
Pria pertama adalah seorang pengusaha paruh baya bertubuh tegap dengan wajah tegas, mengenakan setelan jas buatan penjahit Italia dan jam tangan emas berkilauan. Pria itu adalah Pak Surya Hartono, pemilik utama perusahaan kontraktor raksasa Hartono Karya. Dan di sampingnya, berdiri seorang pemuda tampan dengan tatanan rambut klimis, tersenyum angkuh sambil merapikan kerah jas mewahnya.
Pemuda itu tidak lain adalah Leon!
"Selamat malam, Pak Arisandra!" seru Pak Surya Hartono dengan suara lantang dan penuh keramahan bisnis. "Maafkan kedatangan kami yang sedikit mendadak ini. Saya dan Leon baru saja menyelesaikan jamuan makan malam dengan pejabat kementerian di kawasan Senopati, dan sengaja mampir untuk menyerahkan draf akhir kesepakatan investasi proyek pelabuhan kita!"
"Ah, Surya!" Pak Arisandra seketika mengubah raut wajahnya menjadi lebih ramah dan berdiri dari kursinya. "Tidak apa-apa. Mari masuk. Kami baru saja menyelesaikan makan malam."
Leon melangkah masuk dengan dada terbusung angkuh. Namun saat pandangan matanya menyapu orang-orang yang duduk di meja makan, langkah kakinya mendadak terhenti secara drastis.
Mata Leon membelalak lebar. Senyum angkuh di wajahnya seketika lenyap, berganti dengan ekspresi tidak percaya yang amat sangat. Tatapannya terkunci rapat pada sosok pemuda berkemeja abu-abu gelap yang sedang duduk tenang di samping Lisa.
"Dirga?!" seru Leon dengan nada suara tinggi, penuh rasa terkejut dan nada kekagetan yang meledak di dalam ruang makan mewah tersebut.