Indonesia
NovelToon NovelToon
My Arrogant Prince

My Arrogant Prince

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Poligami / Berondong
Popularitas:308.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.

Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.

Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Almira

Tiga butir obat di nampan makanan yang diletakkan di atas meja, adalah salah satu penanda bahwa Almira mempunyai kondisi kesehatan yang kurang baik.

“Ibu belum selesai makannya?” tanya Rayyan kepada pelayan Almira.

Bilqist dan Gwen juga menyadari bahwa ada ranjang Almira juga cukup aneh. Ranjangnya meskipun memakai sarung bantal dan seprei yang indah tetapi modelnya seperti ranjang rumah sakit dilengkapi dengan dua pasang pengikat dari kulit di kanan dan kirinya. Bilqist dan Gwen saling berpandangan, mereka berpikiran sama. Pengikat itu untuk pergelangan tangan dan kaki Almira.

“Saya berusaha meminta Beliau makan dari tadi, tapi beliau tidak mau,” jawab pelayan itu.

Rayyan kemudian mengambil piring yang belum tersentuh Almira. “Ibu, ayo dihabiskan makannya. Supaya bisa minum obat dan Ibu sehat kembali,” rayu Rayyan.

“Aku tidak suka dengan obat itu, rasanya pahit” jawab Almira.

“Iya saya tahu obatnya pahit, tapi sangat bagus buat kesehatan Ibu.”

“Tapi obat itu membuat lidah ibu tak bisa merasakan apapun. Ibu jadi tidak selera makan. Semua rasanya hambar. Bahkan madu saja rasanya seperti air putih,” jawab Almira dengan nada sedih.

Rayyan menghela napas. “Aku temani Ibu makan, ya. Lalu diminum obatnya.”

“Aku akan makan, tapi tidak dengan obat itu.”

Rayyan tersenyum pada Almira. “Kita ada tamu hari ini Ibu, Rayyan tidak ingin mendebat, jadi terserah Ibu. Rayyan akan menurutinya.”

Almira memandang Gwen dan Bilqist yang masih berdiri. “Ah maafkan saya. Di mana kesopanan saya. Silakan duduk dulu.”

Gwen dan Bilqist kemudian duduk di kursi-kursi cantik dari kayu berukir. Sedangkan Khansa berdiri di belakang Gwen dan Bilqist menjadi penerjemah di antara mereka. “Rayyan sudah bercerita tentang kamu beberapa kali,” kata Almira kepada Bilqist. “Kupikir, putraku terkena suatu sihir.” Almira tersenyum. “Itu pertama kalinya dia bercerita tentang seorang wanita,” lanjutnya. Rayyan yang duduk di sebelah ibunya memandang Bilqist dengan intens. “Saat aku melihatmu, aku tahu apa yang terjadi.”

Bilqist hanya mengangguk. Almira mengerutkan dahinya. “Ada apa Bilqist? Kenapa kamu terlihat tak antusias. Biasanya putri-putri lainnya jika mendapat kesempatan bertemu dengan putraku saja mereka sangat gembira. Apa putraku masih kurang memenuhi standarmu?”

Bilqist menaikkan alisnya. “Saya tidak berani mengatakan demikian,” jawab Bilqist.

Alfiah mendesah. “Kamu tidak perlu menutupinya. Aku tahu bagaimana putraku, aku bukanlah ibu yang selalu bisa mendampinginya tapi aku tahu bagaimana sifatnya. Sebagai seorang pangeran, calon penerus tahta, kadang kala orang-orang di sekitarnya terlalu memanjakannya, ...”

“Ibu ....” Rayyan memohon agar Almira tak meneruskannya. Almira menggenggam telapak tangan Rayyan.

“Tidak apa-apa Rayyan. Ada saatnya kita harus mengatakan kelemahan kita. Jika kamu memilih Bilqist menjadi teman hidupmu, kamu harus siap mengatakan kelebihan maupun kekuranganmu,” kata Almira dengan serius pada putranya.

“Ya benar, itulah gunanya ta’aruf bukan?” tanya Gwen menimpali Almira.

“Benar sekali,” jawab Almira dengan tersenyum.

“Seperti yang telah kami tunjukkan tadi, Bilqist putriku meskipun dia terlihat sempurna, tapi dia juga mempunyai kelemahan. Kalau dia terlalu ambisius, dia tidak tahu kata berhenti.

Putriku orang yang sangat rasionalis dan jenius, tapi kadangkala itu menjadi kelemahannya ketika dihadapkan pada keadaan dia harus mengalah dan mundur,” jelas Gwen. “Rayyan, kamu telah melihat sendiri kenapa Bilqist bisa sampai ditangkap oleh pamanmu, Thariq. Itu karena dia sangat memegang prinsipnya untuk menyelesaikan tugas dan dia yakin sanggup untuk melakukannya. Tapi ia lupa untuk melindungi dirinya sendiri.”

Rayyan mengangguk. “Justru karena itu saya kagum padanya,” jawab Rayyan.

“Rayyan kamu boleh saja kagum pada putriku, tapi ingat jika kamu ingin menjadi suaminya kamu harus bisa memimpin dia. Jangan terlalu mudah luluh oleh rayuannya.”

Rayyan tersenyum, “Kalau itu sepertinya berpura-pura tak mendengarnya jauh lebih mudah.”

Bilqist mengerutkan dahinya. “Kamu berani melakukannya lagi padaku?” tanya Bilqist.

Almira tertawa kecil. Ia berkata pada Bilqist, “Maklumi saja, putraku baru pertama jatuh cinta. Dia belum tahu kapan harus rem kapan harus injak gas.”

Bilqist menunduk malu. Seorang pelayan masuk dan menghidangkan makanan kecil dan minuman ke meja. Saat pelayan itu sudah meninggalkan mereka, Gwen berkata kepada Almira. “Sebaiknya Anda menghabiskan makan siang Anda.”

Pelayan kemudian mengambilkan makanannya. “Apakah Anda ingin yang baru?” tawarnya.

Almira menggeleng. “Tidak, ini saja. Tak ada bedanya meski kamu mengambilkanku yang baru. Lidahku sudah mati rasa,” tolaknya.

Gwen dan Bilqist berpandangan. Mereka membiarkan Almira menghabiskan makan siangnya lebih dulu sebelum mengajukan pertanyaan mengenai kondisi kesehatannya.

Setelah Almira selesai dan akan meminum obatnya, Gwen segera bertanya kepada Almira. “Maaf kalau saya lancang, tapi saya ingin tahu, obat apa yang akan Anda minum?”

Almira membuka telapak tangannya. Ia memperlihatkan butiran pil itu pada Gwen. “Dokter bilang benda-benda ini yang akan membuatku lebih baik. Tapi yang kudapatkan adalah lidahku mati rasa.”

Rayyan kemudian menjelaskan, “Ibu mengalami gangguan skizofrenia. Obat-obat itu membuatnya lebih tenang, tapi karena obat itu semakin lama lidahnya semakin tak bisa merasakan makanan atau minuman.”

“Aku selalu dihadapkan dua pilihan. Minum obat ini atau aku akan mengamuk dan menyakiti orang lain.” Almira kemudian menelan obatnya dan mendorongnya dengan air minum.

Gwen dan Bilqist bukan ahli penyakit jiwa, jadi mereka tidak terlalu paham obat apa yang diminum Almira.

Setelah berbicara beberapa hal yang menarik di Julunda, Bilqist dan Gwen berpamitan kepada Almira. Mereka janji akan mengunjungi Almira esok hari sebelum Bilqist mendekam di perpustakaan, menjadi anak sekolahan kembali.

Almira tertawa kecil. “Aku tahu bagaimana perasaan kamu, aku dulu juga mengalaminya sebelum menikah dengan Raja.”

Bilqist dan Gwen memberi salam perpisahan. Gwen bahkan mendoakan agar Almira segera sehat kembali dan dalam lindungan Allah.

Setelah Bilqist dan Gwen sudah keluar dari istana Wanita, Bilqist menghentikan langkahnya. Mereka masih berada di tengah-tengah taman pemisah antara istana utama dengan istana wanita. Di sana penjaga terlalu jauh jadi Bilqist yakin kalau tidak ada yang akan mendengarkan percakapan mereka.

“Aku pernah bilang kalau kamu harus memperhatikan kondisi obat-obatan ataupun peralatan kesehatan. Meskipun aku bukan dokter spesialis penyakit jiwa, tapi aku tahu kalau obat untuk skizofrenia juga ada yang lebih baru. Tidak menimbulkan efek samping yang berlebihan sampai ibumu harus tak bisa merasakan makanan.”

Rayyan diam dan menunduk.

“Siapa yang mengatur soal kesehatan ibumu? Siapa yang memilihkannya dokter?” tanya Gwen.

“Aku ... aku tidak tahu. Mungkin Raja tapi mungkin juga Nenek,” jawab Rayyan tak yakin.

“Rayyan,” panggil Bilqist.

Sontak Rayyan merasakan sebuah percikan api di dalam dadanya. Ini pertama kalinya Bilqist memanggil namanya. Tanpa gelar, hanya namanya.

“Aku tidak bisa melakukan sesuatu tanpa permintaan darimu. Katakan padaku, apa kamu butuh bantuanku atau tidak?” tanya Bilqist dengan serius. Dia tidak tahu bagaimana perasaan Rayyan saat itu.

“Rayyan,” panggil Bilqist kembali saat tak mendapatkan jawaban langsung dari Rayyan.

Rayyan memandang kedua mata Bilqist yang menunggunya. Ia teringat kembali kata-kata penafsir mimpi. Mungkin memang kedatangan Bilqist adalah suatu tanda akan datangnya kebaikan untuknya, dan untuk Julunda.

“Iya. Tolong bantu aku,” kata Rayyan.

1
Dewi Djordan
bakal di up g nih atau selesai sampai dsini ?( nanya dgn nada lembut)
Dewi Djordan
bggussssss
Mey Kusrini
hadeeeh
Mey Kusrini
saya suka Al bobol wifi
Mey Kusrini
salam saya pembaca baru pengen langsung skiming aza
Mey Kusrini
ga sabar mau melihat matanya😂
Mey Kusrini
Luar biasa
Erni Fitriana
keren👍🏾
buna
muhannad tuh apa😭
Eskael Evol
keren banget
Eskael Evol
keren thor syukron doa nya🙏
Nuning Setiyawati
ini gak ada ending nya ya thor
novi taurusita
selalu setia menanti kak
Dian Kartika Dewi
hai author. sehat2 ya . kapan lanjut cerita. udah lama nungguin lanjutannya. semoga segera update ya.
bank sha one
aku nunggu up nya othor tayangkuuuh
Babo Saram
ini tidak ada kelanjutan'a ya?
Dewi Djordan
cerita yang sangat menarik,alur y bagus,, tapi sayang up y lamaaa bangetttt,rasanya udah 1 tahun lebih nunggu
Fitri Octawaty
jangan lama lama lanjitin cerita,aku penasan ini🤔🤔🤔
Verdut Ndut
thor kpn up lg suwiii nya torrr 😩😩😩
novi taurusita
karyanya yang bagus sekali, suka dengan tokoh dan alurnya. tak bosan-bosannya untuk melihat up selanjutnya. semangat kakak semoga sehat selalu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!