Rania POV
Entah kenapa lesung pipit milik Harry sangat mencuri atensinya sejak pandangan pertama, seperti sangat pas untuk melengkapi wajah tampannya, belum lagi iris mata berwarna hijaunya yang selalu membuat meleleh jika tengah menatapku. apa aku jatuh cinta ataukah hanya sekedar suka?"
Harry POV
"Aku bertambah yakin dengan perasaan ini, dia yang ku cari selama ini, dia yang ku mau. Tunggu aku ya cantik, aku akan memperbaiki diriku terlebih dahulu sebelum menjadi pendamping yang layak untukmu. Seperti kata Brayan jodoh itu cerminan diri, jika ingin mendapat jodoh yang baik maka perbaiki diri kita terlebih dahulu."
Saat hati mereka mulai bertaut, kerikil-kerikil itu terus berdatangan. Mulai dari munculnya kembali Davin, ditambah kedatangan Kylie untuk melanjutkan lagi ambisinya mendapatkan Harry.
Akankah hati mereka terus bertaut? Akankah cinta mereka bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwita Intan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Baru
Rania mematut kembali dirinya di depan cermin, kali ini ia harus lebih detail lagi memperhatikan penampilannya. Biasanya ia pergi ke kantor hanya memakai make up tipis-tipis, kali ini make up nya harus lebih mencolok. Biasanya ia dapat memakai celana atau rok sesuka hatinya, kali ini ia diharuskan memakai rok. Sungguh menyebalkan sekali.
Sesudah memastikan penampilannya sempurna, ia kemudian meraih tasnya lalu turun ke bawah untuk sarapan.
"Hai, selamat pagi ibu sekertaris!" Sapa Ayah yang sudah duduk di meja makan, menunggu anak-anak gadisnya turun untuk sarapan bersama. Anyway, ayah dan Riri sudah mendengar berita mengenai jabatan baru Rania dari Bunda. Rania sudah menceritakan semuanya pada Bunda.
"Selamat pagi Ayahku sayang!" Jawab Rania sambil tersenyum manis. Lalu ia menarik salah satu kursi dan duduk manis di atasnya.
Bunda yang baru saja keluar dari kamar mandi lantas menatap Rania dengan tatapan kagum sekaligus heran. "Masya Allah cantik banget sih nak, udah gitu rapi dan wangi. Tumben banget sih."
"Oh, jadi biasanya aku jelek, bau sama acak-acakan ya bun?" Tanya Rania sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ih bukan gitu, biasanya kamu kan cuma pake lipstick sama bedak tabur doang, sekarang full make up. Terus kalau pakai rok gini jadinya kelihatan tambah rapi. Kamu ganti parfum ya nak? Wanginya gak seperti biasa, dari pas Bunda keluar kamar mandi aja udah bisa cium wanginya." Kata Bunda sambil menarik kursi untuk duduk di samping Ayah.
"Mendadak sekertaris ya mendadak membenahi penampilan. Masa iya sekertaris penampilannya lusuh Bun!" Jawab Rania sambil mengambil dua lembar roti tawar lalu mengolesnya dengan selai cokelat hazelnut kemudian mengunyahnya dengan cepat.
"Iya juga ya, udah cantik gini harusnya naik mobil bukan naik motor. Bunda doain deh mudah-mudahan kakak mampu beli mobil, Mercy-Mercy deh biar keren sekalian."
"Aamiin ya Allah, it's my dream Bun!" Ucap Rania sambil memakan gigitan terakhir rotinya. Lalu ia segera meraih gelas berisi air putih di hadapannya, kemudian meneguk isinya hingga tandas.
"Aamiin.. Ayah juga akan selalu doain kamu ya neng geulis yang solehah dan selalu berbakti sama orang tuanya!" Sahut Ayah sambil menatap Rania dengan penuh rasa haru dan bangga.
"Aamiin, makasih Ayah Bunda sayang udah dukung dan doain aku terus!" Ucap Rania sambil berjalan ke arah Ayah dan Bunda lantas memeluk keduanya dari belakang. Ayah dan Bunda tersenyum sambil melingkarkan satu lengannya masing2 mengusap kepala Rania.
"Ya udah, aku berangkat duluan ya Bun, Yah. Assalamualaikum.." Rania mengucap salam sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam.. Hati-hati ya nak! Jangan ngebut bawa motornya!" Jawab Ayah dan Bunda bersahutan
****
Rania memarkir Si Vesca (Vespa tosca) di bagian paling sudut dari tempat parkir khusus motor tersebut. Ia melepaskan seluruh atribut yang wajib ia pakai saat berkendara memakai motor, dari mulai helm, kaca mata hitam, masker, jaket, sarung tangan, kaos kaki dan yang paling terbaru adalah celana jas hujan.1 Mulai hari ini dan seterusnya barang itu akan jadi atribut wajibnya setiap hari agar ia dapat bergerak bebas ketika berkendara. Kenapa celana hujan? Tentu saja karena lebih praktis dan dapat dipakai atau dilepas di manapun.
Rania melirik kaca spion sejenak untuk mengecek make up dan merapikan rambutnya. Setelah dipastikan rapi, ia menarik nafas sejenak sambil membaca Bismillah lalu melenggang santai menuju ke bagian dalam dari kantornya.
Saat berpapasan dengan karyawan lainnya ia merasa mereka terus melihat kearahnya, ia merasa menjadi pusat perhatian di dalam gedung itu. "Apa ada yang salah sama gue? Kok mereka liatin gue terus? Apa ada yang aneh sama penampilan gue? Perasaan gue udah ngaca bolak-balik gak ada yang aneh. Oh atau gue bau keringet?" Gumam Rania sambil mengendus bau kedua ketiaknya masing-masing. "Wangi kok, terus apa dong yang salah? Ah bodo amat lah." Ucap cuek sambil berjalan cepat ke arah meja kebesarannya Mel.
"OMG.. Lo abis make over ya beb? Cantiknya bener-bener gak ada obat sih!" Sambut Mel heboh saat Rania sedang berjalan mendekati meja resepsionis
"Ran sumpah lo cakep amat sih, kayanya mulai sekarang lo sekertaris paling cakep deh disini!" Puji Monic yang melihat Rania dengan tatapan kagum.
"Aduh baru dateng udah digombalin dua cewek cantik aja, haruskah aku tersipu malu atau bilang makasih yang lebih cantik?" Tanya Rania sambil mengulum senyumnya, lalu ia berjalan santai menuju ruang finger print.
Mel dan Monic hanya ternganga saat mendengar respon dari Rania, karena itu tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Mereka pikir Rania akan merespon 'Ih apa sih kalian' atau 'Udah ah gue jadi malu'.. Akhir-akhir ini Ranianya mereka banyak berubah, menjadi orang yang lebih Percaya Diri, tentu saja itu adalah suatu perubahan yang bagus.
Seperti biasa Rania menempelkan sidik jarinya di mesin itu. Setelah dapat ucapan terima kasih ia berbalik sambil mengibaskan rambutnya kebelakang, tanpa ia sadar kibasan rambutnya itu mengenai wajah seseorang yang mengantri di belakangnya.
"Woy rambut lo kena mata gue, sok cantik banget lagian pake kibasin rambut segala!" Protes seorang wanita dengan nada tinggi.
"Ya ampun sorry banget, gue kira gak ada orang di belakang gue. Sorry sorry ya Vanya!" Ucap Rania dengan nada penuh penyesalan.
"Sorry.. Sorry muka lo! Liat mata gue ni, pasti iritasi kena ujung rambut lo yang bau itu." Ucap Vanya sambil menunjuk matanya yang terlihat baik-baik saja.
"Gue kan udah minta maaf Van, terus gue harus gimana lagi? Mata lo juga baik-baik aja kok sama sekali gak iritasi."
"Gue yang ngerasain bego bukan lo, jangan sok tahu!" Ucap Vanya kasar.
Tangan Rania mengepal, emosinya mulai tersulut. Ia mengatur nafasnya kemudian memilih untuk meninggalkan cewek gila itu, yang tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba ngajak ribut dengannya. Rania berjalan dengan cepat ke tempat kedua sahabatnya tengah mengobrol tadi.
"Woy, jangan kabur lo! Urusan kita belom selesai!" Panggil Vanya setengah berlari dengan tangan yang berusaha menjangkau rambut Rania yang berkibar.
Vanya dengan tangannya yang panjang berhasil menjangkau rambut Rania kemudian menariknya dengan keras. Tentu saja hal itu membuat Rania berteriak kesakitan, sehingga membuat semua orang yang ada disitu melihat ke arah mereka.
Melihat Rania yang kesakitan, Monic berlari untuk menolong Rania. "Lepasin tangan lo Pea, apa-apaan sih main jambak rambut orang aja!" Hardik Monic sambil menepis kasar tangan Vanya.
"Lo yang Pea main keplak aja tangan orang!" Bentak Vanya sambil menunjuk ke arah wajah Monic.
"Ya lo ngapain jambak-jambak rambut Rania sampai dia kesakitan gitu?" Tanya Monic sambil menunjuk balik ke arah wajah Vanya.
"Tanya sendiri sama temen lo, gak diajarin sopan santun sama orang tuanya apa? udah salah main kabur gitu aja!" Ujar Vanya yang kini tengah menunjuk ke arah Rania.
Wajah Rania terlihat memerah tak sanggup lagi menahan amarahnya. Ia maju beberapa langkah lalu berhenti tepat di hadapan wajah Vanya, meskipun ia harus sedikit menengadahkan wajahnya karena perbedaan tinggi badan.
"Lo ngomong apa sekali lagi? Jangan pernah bawa-bawa orang tua gue apalagi menghina mereka!" Ucap Rania geram.
"Terserah ya mulut-mulut gue, mau menghina orang tua lo yang udik dan t*lol yang gak bisa didik anaknya dengan baik kek, mau menghina anaknya yang sok innocent tapi murahan kaya j*l*ng kek. Terserah gue!" Ujar Vanya sambil tersenyum miring.
Tanpa ancang-ancang tangan Rania bergerak dengan sendirinya ke arah wajah Vanya lalu mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi mulus itu. Ia sangat tak terima jika Ayah dan Bundanya dihinakan seperti itu, padahal perempuan itu sendiri yang tidak mempunyai sopan santun. Mulutnya tidak mencerminkan seperti orang yang berpendidikan.
"Lo berani-beraninya nampar gue!" Ucap Vanya tak terima sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi bersiap untuk menampar kembali Rania.
Dengan gesit Rania dapat menghindari ayunan tangan Vanya sehingga membuat perempuan itu bertambah murka, dengan emosi ia akhirnya melingkarkan telapak tangannya di leher Rania, lalu menekannya dengan sekuat tenaga.
Nafas Rania mulai tercekat, dengan susah payah ia berusaha melepaskan cengkraman Vanya, namun ia tak bisa. Monic dan Mel pun ikut membantu namun mereka juga tak bisa melepaskan, sedangkan karyawan yang lain hanya menonton bahkan ada yang memvideokan Rania yang hampir sekarat itu.
"Kalian ngapain ngeliatin aja, bantuin t*lol!" Teriak Mel dengan emosi pada semua orang yang hanya menonton disitu.
Mereka tersadar dari ket*lolannya, lalu merangsek maju bersama-sama untuk melepaskan cengkraman tangan Vanya.
"Apa-apaan ini.. Vanya lepaskan atau kamu saya laporkan ke polisi!"
alur cerita ya jadi lupa sangkin lama up ya
apa authornya msh hidup???
Ditunggu feedback nya...
Mampir, juga yuk ke novel aku. Mari, kita saling mendukung ❤️