Dalam setiap perceraian, korban paling nyata adalah anak. memiliki orang tua yang tidak pernah harmonis adalah pukulan telak untuk seorang anak yang sudah mulai mengerti arti sebuah keluarga, itulah yang dialami Arkana.
Diusia remaja yang butuh perhatian penuh dan bimbingan untuk menentukan jati diri, Arkan malah mengalami keterpurukan atas perceraian kedua orangtuanya. dia tidak menemukan kehangatan dan dia selalu mencari perhatian dengan cara brutalnya.
Mungkinkah akan ada ruang teduh untuknya merasakan kehangatan ??
Bisakah dia melewati masa transisinya dengan baik ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sakabiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saved Secret
Ibu heran, Lanina pulang lebih awal. Dia sedang sibuk menata donat yang siap dijual. Nina juga pulang dengan seragam dan penampilan yang agak berantakan, matanya juga sembap-sembap.
"Kenapa?" tanya Ibu tapi tangannya tetap sibuk mengurusi donat-donatnya.
"Tiara mencuri di Sekolah Bu!" ungkap Nina, barulah Ibu kini fokus memperhatikan Nina.
"Apa maksudnya?" tanya Ibu.
"Dia mencuri, dan aku yang menanggung aibnya!" Hiks, ungkap Nina lalu dia kembali menangis di hadapan Ibu. Ibu malah tambah marah.
"Jangan mengada-ngada! Apa maksudmu? Huh?"
"Bu ... tolong, bersikaplah sedikit lebih tegas padanya! Oke, hari ini aku menyelamatkannya, tapi gimana kalau di kemudian hari dia ketahuan? Gimana? Siapa lagi yang bisa menyelamatkannya?"
Ibu terdiam, dia jadi merasa tak menentu. Ibu memang agak heran belakangan ini karena Tiara membeli barang-barang begitu banyak padahal Ibu jarang memberinya uang lebih.
"Aku diskors dari sekolah, dan andai orang yang menjadi korban Tiara menuntut barang-barangnya dikembalikan ... kita harus ganti dari mana Bu?"
"Tunggu Tiara pulang! Ibu gak percaya sama kamu! Biar dia sendiri yang menjelaskannya!" kata Ibu sok tegas, padahal sebenarnya dalam hati dia sangat takut dan resah.
Nina tak tahan lagi, dia pun beranjak menuju kamarnya dan membenamkan tubuhnya yang lelah dan hatinya yang hancur di atas tempat tidur usangnya. Dan saat Arkan menyatakan kekecewaannya, Nina lebih sakit lagi, dia takut kalau kecerobohannya hari ini membuat Arkan berpikir untuk kembali menjadi anak yang nakal.
Jam pelajaran sudah berakhir, Arkan tak kemana-mana, dia pulang ke rumah dengan hati marah dan kecewa.
BRUK! Dia membanting tasnya karena terlampau kesal.
"Kenapa lo pura-pura baik? Gue ... jadi gue udah nurut sama pencuri, heh?" gumamnya kesal, dia terlampau kecewa, terlebih dia kecewa karena Lanina hanya diam dan tak menjelaskan apapun.
Dan kembali ke rumah Nina, Tiara sudah pulang. Ibu yang sejak tadi menunggu langsung menyambutnya dengan beberapa pertanyaan.
"Bu, aku lapar! Siapkan makanan!" ujarnya begitu dia sampai di dalam rumah.
"Sayaang, apa yang terjadi di Sekolah?" tanya Ibu, Tiara yakin kalau Nina sudah membicarakan fakta yang tadi terjadi pada Ibunya.
"Si Nina cerita apa sama Ibu?"
"Sayaaang, jangan lakukan itu lagi ya, oke kali ini kamu selamat tapi gimana kalau suatu hari kamu melakukannya lagi dan gak ada yang bisa menyelamatkan kamu lagi?"
Tiara terdiam untuk beberapa menit, bahkan tangannya sampai terkepal. Dia sepertinya sedang memendam kemarahan juga dalam dirinya.
"Tiara ...."
Tiara beranjak pergi menuju kamar Lanina, ternyata Lanina masih tertidur, mungkin karena terlalu lelah menangisi nasib buruknya dia sampai menangis sejadi-jadinya.
"Lanina! Bangun!" serunya kasar, sampai Nina menggeliat dan terbangun.
Ini dia, ini dia yang selalu membuatnya menderita. Nina bangkit lalu duduk di tepi kasur usangnya itu.
"Lo cerita sama Ibu?" tanya Tiara kesal.
"Ya!" jawab Nina kesal.
"Heh, sialan!"
"Kenapa? Apa gue harus diam ke semua orang? Jadi gue harus benar-benar menanggung aib lo ini?"
"Ini sebagai tanda balas jasa lo sama orang tua gue!" kata Tiara sambil mengacungkan telunjuknya ke muka Nina.
"Ya, gua akan melakukan apapun demi Ayah, tapi lo gak boleh begini terus Tiara! Hari ini Tuhan masih menyayangi lo, Tuhan masih melindungi lo lewat gue, gimana kalau suatu hari lo ketahuan saat gue gak ada? Lo mau apa? Lo bisa apa?"
"Diam! Sebaiknya lo gak usah kembali ke Sekolah!"
"Gak! Sekolah sampai selesai adalah cita-cita gue!"
"Gak! Lo akan jadi boomerang! Gue yakin suatu hari lo akan menyatakannya sama sahabat lo, gue yakin kalau lo tetap di Sekolah, perlahan semuanya akan terungkap! Dan gue gak mau itu terjadi!"
"Tiara ...."
"Stop! No debat! Lo gak akan kembali ke Sekolah!" Tiara beranjak lagi, dan Lanina menyusul langkahnya sampai di tengah ruangan, mereka melanjutkan perdebatan di depan Ibu.
"Gua akan terus sekolah! Gak peduli walau stigma sebagai pencuri sudah melekat di diri gue!" tegas Lanina.
"Lo sekolah lagi dan gue akan mengakhiri hidup gue!" ancam Tiara.
"Aduuh, apa ini ... Tiara, kamu biacara apa Nak, kamu gak boleh bicara begitu ...." Sontak Ibu merasa kaget dengan ancaman klasik yang putrinya lontarkan kala berdebat dengan Lanina.
"Aku gak mau dia ke sekolah lagi Bu, dia bisa jadi ancaman buatku!" tegas Tiara.
"Tapi si Nina pasti gak akan membocorkannya kok, Ibu yakin ...."
"Gak, aku mau hidup tenang! Jangan biarkan dia sekolah lagi walau masa sokrsingnya sudah berakhir!"
"Kurang apa gue sama lo Tiara? Gue selalu mencoba melindungi lo tapi kenapa lo selalu lakukan ini sama gue?" ratap Nina.
"Hey Lanina, apa sulitnya, turuti saja apa kata Tiara!"
"Gak bisa Bu ...."
"Kamu mau membantah?" hardikan Ibu menyambar.
"Aku cuma mau menyelesaikan sekolahku saja, itu saja kok! Tolong, jangan membuat peraturan seperti ini lagi, aku cuma mau sekolah, itu saja ...." Nina menangis lagi, tak kuasa rasanya menerima nasib seperti ini.
"Gak! Jangan lagi ke sekolah!"
"Kenapa kalian begitu kejam!"
"Kejam? Begitu kah? Jadi kamu merasa kami sangat kejam?" Kini malah dua orang sekaligus yang menyerangnya, Nina terus menangis.
"Bagus lah Bu, itu artinya dia udah gak sudi tinggal sama kita lagi, biarkan dia pergi Bu, malah bagus kan, biar berkurang beban hidup Ibu!" timpali Tiara.
Nina diam saja, antara ingin tetap tinggal karena janjinya pada mendiang sang Ayah, atau benar-benar pergi karena sudah tak tahan lagi dengan sikap dua monster di hadapannya sekarang.
"Hey Lanina! Apa kamu ingin tahu dimana Ibumu sekarang?" tanya Ibu, seketika Nina tergugah.
Ibu? Ibu Siapa? Ibu Kandung? itulah pertanyaan yang terbesit di dalam benaknya saat ini.
"Ibu? Jadi dia masih punya Ibu Bu? Kenapa Ibu gak pernah cerita?" tanya Tiara.
"Dimana? Dimana Ibuku?" tanya Nina.
"Kemasi barang-barangmu! Aku sudah tak sanggup mengurusmu lagi! Lagipula kamu sudah hampir genap 17 tahun, sesuai hukum ... kamu sudah boleh mengetahui keberadaan Ibumu yang sebenarnya!" Ibu sedang mengungkapkan rahasia besar. Nina harus membayarnya dengan pergi dari rumah dan Nina tak peduli. Dia ingin pergi dari rumah, dia sudah tak tahan dengan beban moril yang selalu dia tanggung selama ini.
Nina beranjak ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya ke dalam ras. Tak banyak yang dia bawa karena selama ini dia tak memiliki banyak pakaian. Hanya beberapa potong pakaian dan seragam dan juga buku-buku sekolahnya. Tak lupa Nina juga memasukan figura kecil Ayah ke dalam tasnya. Sebelum memasukannya dia memeluknya untuk beberapa saat.
'Maafkan aku Ayah, aku mau pergi saja dari sini,' batinnya lirih.
Dan Ibu juga sedang mengambil sesuatu yang tersimpan rapi dalam laci lemarinya. Sebuah kertas berisi alamat, mungkin itu alamat yang akan Nina tuju saat ini.
'Maafkan aku Mas Dharma! Biarkan aku fokus mengurus Tiara! Maafkan aku, aku membiarkan Lanina pergi, maafkan aku!' batinnya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ibu merahasiakan keberadaan Ibu kandung Lanina sampai belasan tahun lamanya?
ko tokohnya sm kaya d platform sebelah y arkana n lalina 😂