“Ajudan , cepat penggal kepala wanita itu. Ahahah” perintah Singkasa sambil memutar gelas yang berisi darah segar.
Suara tebasan leher yang dia sukai, darah mengalir deras di dalam kolam raksasa. Ratu Singkasa membenamkan diri menikmatinya. Kecantikan abadi berasal dari darah perawan yang telah dia tumbalkan. Setiap bulan purnama merah, dia tidak pernah berhenti mencari korban. Berita kehilangan para gadis yang di laporkan warga diabaikan oleh para petugas. Hingga pada suatu hari, seorang pendekar wanita berani melawan sampai meruntuhkan kerajaannya.
Siapakah wanita misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati
Lingkaran iblis menyala sempurna, sayap mengepak merenggut jiwa, hawa murni manusia. Pintu waktu perpindahan dunia kini dan lalu mengisahkan tragedi yang tidak pernah usai. Makhluk halus tajam menyebarkan ketakutan dan kekacauan. Di masa ini, tidak ada yang lebih mengkhawatirkan selain kematian yang sia-sia akibat makhluk yang mengincar.
Seolah Singkasa dan para pengikutnya dengan mudah melewati lorong hitam itu. Mereka di kawal pasukan iblis mencari para manusia yang berkaitan sampai ke akarnya. Pintu lorong semakin terbuka lebar. Dunia luluh lantak menderita. Api membakar segalanya sekalipun orang-orang yang sekedar melihat.
Putaran waktu hitam menghanguskan langit dan bumi. Ketakutan merajalela menghinggapi alam semesta.
...💀💀💀...
Berhasil menghindar dari kejaran si penyihir bukan berarti terlepas dari jeratannya begitu saja. Si penyihir terpaksa menuju ke istana saat menerima panggilan mendesak yang di kirim Sida melalui burung hantu hitam. Sang ratu memerintahkan agar mengobati raja Hizki. Bisa ular di keluarkan menggunakan sihirnya, wajah sang raja tampak mulai kemerahan. Sang tabib memeriksa denyut nadinya stabil kembali.
“Sungguh kau adalah penyihir terhebat yang di bicarakan oleh orang dari seluruh negeri” ucap raja Hizki.
Karena sang penyihir dapat menyembuhkannya dalam satu malam, dia di beri hadiah sebuah peti emas, sebuah ruangan yang bisa dia miliki di dalam kerajaan matahari dan tawaran tinggal di negeri matahari sebagai penguasa kedua selagi sang raja dan ratu masih menetap di kerajaan Kalangga.
Tawaran yang menggiurkan itu di jawab dengan senyuman menyeringai si wanita tua. Bagaimana dia bisa menjadi penghianat bagi sang ratu yang memuja penguasa iblis. Di dalam patung raksasa itu ada raja iblis yang bersemayam menerbangkan kekuatan hitam sehingga dia menjadi penyihir terhebat dan memiliki kekuatan yang tidak tertandingi.
“Hormat pada yang Mulia negeri matahari. Terimakasih atas hadiah yang raja berikan. Kebaikan raja akan saya ingat seumur hidup say” jawab si penyihir.
“Hahaha, kau teryata bisa mengucapkan terimakasih. Cepat putuskan pilihan mu tentang tawaran ku tadi” ucap sang raja.
“Raja, Saya tidak bisa meninggalkan Kalangga. Tanggung jawab dan janji yang sudah saya pikul terlebih dahulu bahwa selamanya tetap mengabdi pada kerajaan ini. Saya tidak bisa menarik sumpah yang pernah saya ucapkan.”
“Kau ternyata pengikut yang setia. Perlu kau ingat, aku sudah menjadi bagian dari kerajaan ini dan mempunyai kekuasaan penuh.”
“Raja ku, engkau baru saja pulih. Beristirahat dan jangan buang tenaga mu” ucap Singkasa.
Dia menuruti perkataannya, berjalan dengan cepat menggandeng tangan dengan senyuman lebar. Ratu berhati iblis itu sudah tidak sabar menghabisi si raja Matahari. Dia sudah memberi aba-aba pada pasukan akan bersiap ketika nyala sinyal perang di layangkan di udara.
Di balik gaun panjang menyeret lantai itu, sang ratu menyembunyikan pisau yang sangat tajam. Sebelum meninggalkan ruang kebesaran, dia melirik si wanita penyihir lalu sang penyihir mengangguk menatapnya. Pasukan berhantu sudah dia persiapkan di suatu tempat, begitupula Satan yang ikut berperang di samping rencana lain mengambil tubuh Yeti yang memiliki kekuatan leluhur teratai putih.
Yeti dan Tantrum bersembunyi di sebuah gua. Tantrum tampak sekarat, dia di baringkan di atas tumpukan dedaunan kering. Dia membuat bakaran ranting supaya menghangatkan tubuh Tantrum yang mulai tampak menggigil. Yeti melakukan meditasi, duduk di samping Tantrum. Dia mengeluarkan energi kelopak teratai ke dalam tubuh Tantrum.
Perlahan luka mengering, sinar pada bunga teratai menjahit luka sehingga perlahan robekan kulit tertutup kembali. Kehilangan setengah tenaga dalam, Yeti tidak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat.
......................
Di daerah pegunungan Manijau, Kirei tetap mencari peluang agar bisa mengambil batu permata merah. Hari mulai petang, para tim belum keluar dari dalam gua. Dia melirik bu Erin yang tampak sudah mengantuk. Dia tetap memasang posisi berjaga hingga beberapa jam berlalu Erin sudah terlelap. Perlahan Kirei merogoh kantung bajunya.
“Kirei! Dasar kau anak tida tau berterimakasih!” ucap Erin.
Matanya masih terpejam, semula Kirei berpikir bahwa wanita itu terbangun langsung memarahinya ternyata hanya mengigau kembali tertidur.
“Hufhh, hampir saja” gumamnya.
Setiap kantung dan tas dia geledah, sampai dia menemukan batu permata merah yang dia cari. Kirei secepatnya meletakan batu ke dalam tas. Dia berlari masuk ke dalam gua. Dia menerangi jalannya menggunakan senter. Di dalam tempat yang menyeramkan itu, Kirei memberanikan diri meneruskan langkahnya.
Suara-suara aneh menggema, hewan melata menghalangi setiap jalan lorong-lorong panjang membingungkan. Dia mengikuti bekas garis penanda tim namun dari tadi dia tidak melihat satu orang pun. Langkahnya terhenti melihat sosok wanita tua melayang dengan tawanya yang terbahak-bahak. Kirei mematikan cahaya senter lalu bersembunyi.
Dia sangat ketakutan, si penyihir mencium aroma tubuh manusia mendengus mencari dimana asal aroma itu.
“Ihihhh, aku tau kau disana” ucapnya sambil mengayunkan tongkat memindahkan batu besar tempat Kirei bersembunyi.
Kirei tercekik, tubuh terangkat ke atas langit bebatuan. Terasa nafasnya sudah terputus-putus, dari arah belakang Tantrum hadir menghentakkan tubuh si penyihir. Kirei terjatuh dari ketinggian di tangkap sinar Tantrum. Dia di bawa menghilang berpindah ke sisi tempat bebatuan lainnya.
“Kirei, kau masih menyimpan pisau yang kalian temukan itu? Senjata yang bisa membunuh si ratu iblis dan melawan si penyihir” ucap Tantrum.
“Aku meninggalkannya di tenda penelitian” jawabnya.
“Sekarang ambil pisau itu lalu letakkan kembali permata merah di atas kerangka di dalam peti raksasa.”
“Kalau begitu tolong bantu aku mencari pintu keluar untuk mengambilnya.”
Tantrum menggiringnya sampai di depan pintu. Dia berlari menuju tenda bergegas masuk, kehadirannya di ketahui Erin. Wanita itu mengejar Kirei ikut masuk ke dalam gua.
“Kirei kembalikan batu permata merah itu!” teriak Erin.
Tanpa dia sadari sosok si penyihir melayang di atasnya. Tetesan darah hitam mengenai wajahnya. Dia mendongak melihat si penyihir, suara jeritan Erin minta tolong sangat keras bersahutan di setiap lorong.
“Arggh tolong!” Erin berlari ketakutan.
Tubuhnya di bawa ke Satan. Teriakan Erin mengerang menahan rasa sakit. Perut di cabik, Satan melahap organ tubuhnya. Erin sekarat kejang-kejang melihat perutnya sendiri yang sudah terburai. Satan melanjutkan melahap jantungnya. Para arwah lainnya tertawa merasakan darah segar yang tumpah. Erin meninggal dengan tubuh yang tidak utuh lagi.
Kirei mengabaikan suara wanita itu, dia terus berjalan menuju peti raksasa. Mengikuti petunjuk sinar Tantrum, dia sampai di depan peti kosong.
"Kirei.. " panggilan suara Singkasa dari kejauhan.
Dia meletakkan batu permata di dalam peti. Aroma anyir menyengat menusuk rongga hidung. Kirei ketakutan berlari berpindah ke lorong bebatuan. Dia mencari dimana keberadaan tim lainnya.
......................