haiiii... Kyli is back.... mau tau cerita Kyli selanjutnya? yuk... cus lanjut saja...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memijat
"Jangan terima barang pribadi dari Elang atau orang lain lagi." Kata-kata Adnan itu diucapkan sambil lalu. Kylian yang sedang sibuk membayangkan latihannya nanti dengan Elang saat tiba-tiba Adnan mengatakan hal yang dia tidak paham itu.
"Maksudnya gimana ya?"
"Jangan terima jaket, atau apapaun dari Elang ataupun dari orang lain lagi, apalagi barang-barang pribadi seperti itu."
Hah? maksudnya gimana ini? Gue masih nggak ngerti deh, Elang kan cuma bantu gue, trus masalahnya dimana?
"Kamu juga kan pernah minjemin aku jaket." sahut Kylian mengingat Adnan juga pernah melakukan hal yang sama.
Trus kenapa orang lain nggak boleh, lalu dia pun mengingat kalau jaket suaminya itu masih berada di lipatan paling bawah lemarinya. Dia tidak pernah mengembalikannya sama seperti dia mengembalikkan jaket Elang secepat yang dia bisa, seolah-olah dia tidak berkewajiban mengembalikan jaket Adnan itu dan menganggapnya miliknya sendiri.
"Oh iya aku juga belum ngembaliin jaket kamu ya? Maaf ya, ntar aku bakal balikin secepatnya," ujar Kylian lagi.
Ck... Apa iya, dia marah? atau cemburu kali ya? gye baliki jaket Elang duluan dan malah ngelupain jaket dia,,,
Adnan mengambil nafas dan membuangnya pelan.
"Pokoknya jangan aja. Dan kamu gak usah balikin jaket saya. Pake aja sama kamu!"
Kylian memandang Adnan bingung.
Diiihhh.... ni cowok maunya apa sih sebenernya?
"Ya udah. Aku ambil beneran ya?" ujar Kylian mencoba meyakinkan dirinya kalau apa yang tadi dia dengar tidak salah. Lumayan kan, Hoodie yang dipinjamkan Adnan adalah hoodie mahal dan branded dari ADLV atau Acme De La Vie, salah satu brand fashion dari korea yang terkenal dan sering dipakai oleh para idol disana.
Adnan mendecakkan lidahnya. "Iya ambil aja. Kalau butuh apa-apa bilang, nggak usah ngerepotin orang lain lagi," ujar laki-laki itu sebelum pergi karena menyadari beberapa santri teman Kylian sudah menampakkan diri di depan pagar rumahnya.
Tidak lama setelah kepergian Adnan, Elang datang dan memandang heran Kylian yang malah masuk ke dalam ruang tamu.
"Ngapain masuk? Kan belajarnya di halaman samping? Ayo keluar."
Elang berjalan melewati Kylian sembari mengisyaratkan gadis itu untuk mengikutinya menuju halaman samping, tempat dimana teman-temannya sudah menunggu.
***
Elang tidak mengerti dengan tingkah aneh Adnan, perasaan laki-laki itu tadi mengatakan kalau hari ini dia akan seharian berada di kampus putra. Lalu kenapa sekarang dia malah dengan santai duduk dan memperhatikannya yang sedang melatih santri untuk debat nanti.
"Bukannya tadi Gus bilang mau ke kampus putra?" tanya Elang penasaran.
"Tadinya," jawab laki-laki itu singkat.
"Tadinya?" Elang mengulangi pernyataan Adnan itu dengan pertanyaan.
"Tadinya sebelum sesuatu dan lain hal," ujar Adnan lagi.
Elang sebenarnya masih tidak mengerti sesuatu dan lain hal itu apa.
Tapi dia juga tidak ambil pusing dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Pandangan laki-laki itu kembali kepada Kylian yang sejak latihan tadi dimulai, selalu memasang wajah nelangsa seakan dia menanggung beban seluruh dunia. Gadis itu benar-benar hiperbolis, dia hanya diminta untuk menghafal kosa kata bahasa arab yang berkaitan dengan mosi debatnya, bukannya dipaksa pergi berperang ke Palestina sana sampai wajahnya harus dibuat semenderita itu.
"Kyli, gimana? Kosa kata yang saya kasih udah kamu hafal semua kan?"
Kylian mendelik tidak senang mendengar pertanyaan dari Elang itu. Dikira dia memiliki potografi memori apa bisa mengingat semuanya dalam waktu singkat.
"Ck... Mu sampe besok juga saya belum tentu hafal semuanya kak," geram Kylian.
Diam-diam Adnan tidak suka dengan interaksi mereka berdua, bukan karena Elang membuat istrinya susah, tapi lebih kepada bagaimana interaksi keduanya yang walaupun kelihatan sedang bertengkar tapi terasa akrab di mata Adnan. Dan dia membenci kenyataan kalau dia tidak bisa berinteraksi selepas itu dengan istrinya. Kalau saja bukan karena Kylian yang memaksanya untuk menyetujui perjanjian konyolnya soal pernikahan mereka, Adnan tidak mungkin bertindak sepengecut ini.
"Ya udah cepet hafalin, nggak usah pasang muka cemberut kayak gitu. Kamu marah-marah juga nggak ada untungnya."
"Bikin orang yang liat ngerasa bersalah aja," lanjut Elang berkata lirih yang hanya bisa di dengar oleh dirinya saja.
Sementara Elang kembali memberi materi soal debat kepada para santriwati itu, Adnan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah tidak tahan melihat keduanya.
***
"Ngapain disini? Mau kabur lagi"
Kylian menoleh kaget dan melihat Adnan sudah berada di depannya. Gadis itu sedang asyik meluruskan kakinya di sofa panjang ruang tamu Adnan sembari memperhatikan kegiatan teman-temannya dari balik jendela yang masih sibuk berlatih di halaman samping.
Kylian pun seketika berdiri, lalu merapikan gamisnya dan bersiap pergi. "Iihh apaan sih?! Orang aku tdi cuma ke kamar kecil doang terus duduk sebentar pengen lurusin kaki. Capek tau duduk sila terus dari tadi. Hah... Ya udah kalau gitu saya keluar dulu, permisi."
"Nggak apa-apa. Kamu duduk dulu aja." Adnan berusaha menghentikan Kylian. Setidaksukanya Adnan melihat Kylian yang lagi-lagi mangkir dari kewajibannya untuk belajar, dan sekarang... dia lebih tidak suka Kylian berada disana, di dekat Elang.
Kylian membulatkan mata tidak percaya. "Ini... Nggak apa-apa nih, kalo aku nggak balik kesana?"
"Kamu Cuma perlu ngafalin aja kan? Disini aja. Diluar sana juga berisik."
Kylian tentu saja tidak mungkin menolak, kalau pilihannya antara diluar bersama Elang dan diganggu oleh kebacotan laki-laki itu atau disini dengan Adnan yang meskipun sering kali membuat gadis itu keki, tentu saja Kylian lebih memilih tinggal disini, dia bisa duduk, bersandar dan meluruskan kakinya yang sudah ngilu dari tadi. Efek PMS yang selalu menderanya setiap bulan.
"Kenapa kamu? Ada yang sakit? Apa kaki kamu sakit?" Adnan bertanya ketika melihat Kylian memijat kakinya bergantian.
"Nggak apa-apa kok. Biasa, nyeri bulanan."
Adnan seketika mengangguk mengerti maksud dari ucapan Kylian.
Laki-laki itu selalu merasa kalau perempuan adalah makhluk yang hebat, dia pernah mencoba alat yang membuat kita merasakan bagaimana sakitnya saat seorang wanita mendapat tamu bulanannya, dan Adnan benar-benar menyerah pada percobaan pertama. Rasanya nyeri, ngilu dan mules disaat bersamaan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang wanita bisa melalui rasa sakit seperti itu setiap bulannya dan tetap beraktivitas seolah-olah itu bukanlah masalah.
Adnan melangkah menuju sofa tempat Kylian duduk, menggeser kaki itu dan duduk disana kemudian mengambilnya dan meletakkannya di pahanya.
Kylian tersentak kaget, dia menarik mundur kakinya tapi lebih dulu di tahan oleh Adnan.
"Kamu lanjutin aja ngafalinnya. Biar saya yang gantiin mijit."
Whaaaatt???
"Oh... Nggak usah Gus..." tolak Kylian.
"Saya nggak lagi minta izin kamu. Kamu nggak ada kapasitas buat nolak," ujar Adnan tegas.
Adnan mengabaikan tatapan tajam Kylian dan memulai kegiatannya memijit kaki gadis itu dengan gerakan yang lembut namun cukup kuat untuk membuat sakitnya berganti dengan rasa nyaman.
"Sakitnya sampai dimana?" tanya Adnan lembut.
"Cuman betis aja sampai lutut." Kylian bohong, seluruh kakinya sakit semua, dari betis hingga paha. Tapi dia tidak mungkin mengijinkan Adnan bertindak sejauh itu.
Tapi sepertinya perkataan Kylian percuma, Adnan mengetahuinya dan memijit kakinya hingga paha. Kylian berjengit kaget. "Oh.... Nggak usah. Aku bisa mijit kaki aku sendiri."
"Udah diem."
Lagi-lagi penolakan Kylian mendapat pengabaian Adnan.
Kylian menatap nyalang Adnan yang fokus dengan kegiatannya memijat kaki gadis itu.
Kalo kayak gini, gimana bisa fokus buat ngafalin coba? Cih...
Tapi Kylian tidak bisa memungkiri rasa nyeri dan ngilu di kakinya perlahan mereda, entah karena laki-laki itu memang ahli atau karena yang memijatnya adalah Adnan.
***
"Gus, liat jaket yang saya taruh di meja depan nggak?"
Elang melongokkan wajahnya ke dalam kamar Adnan, membuat laki-laki itu mengalihkan pandangan dari kitab Ibnu 'Atha'illah yang sedang dibacanya.
"Oh jaket itu, saya tadi nggak sengaja numpahin tinta diatasnya, kayaknya nggak akan hilang. Tapi tenang aja, nanti saya ganti jaket kamu," jawab Adnan.
Elang menggeleng lalu tersenyum simpul. "Nggak apa-apa Gus, gak usah. Lagian jaket saya kan warna item mau ketumpahan noda apapun kan nggak masalah. Jaketnya ada dimana Gus?"
Adnan hanya diam. "Saya juga lupa naruhnya dimana. Udah nanti saya ganti aja. Kamu nggak usah nyari."
Elang menautkan alis bingung. "Tapi Gus..."
"Udah saya ganti aja."
Elang pasrah. "Gak apa-apa Gus gak usah diganti. Saya ikhlas kok."
"Nggak apa-apa, bakalan saya ganti," ujar Adnan bersikeras.
Elang tersenyum pasrah tidak berniat meladeni kekeraskepalaan Adnan dan memilih pamit dari sana.
Elang sebenarnya tidak butuh jaket baru, dia hanya butuh jaketnya yang sudah dicuci Kylian.
Selepas kepergian Elang, Adnan menunduk, mengambil paper bag berisi jaket di bawah mejanya dan memasukkanya ke dalam tempat paling tersembunyi di dalam lemarinya.