Aryani seorang gadis berusia 17 tahun hidup hanya dengan ayahnya Wisnu yang punya toko bangunan terbesar di daerah nya .
kehidupannya berubah 180 derajat setelah ayahnya menikahi janda beranak satu didesa nya, ia sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari saudara tirinya, namanya yumi umurnya lebih tua 1 tahun dari nya tapi disekolah ia satu tingkat dengan nya kelas 12 dan parah nya ia satu kelas dengan nya, ibu tiri nya bernama Sulastri dengan dandanan menor dan mulut kayak kaleng rombeng.
Aryani selalu mendapat kan perlakuan tidak menyenangkan baik dirumah maupun disekolah.
sejak kematian ibunya ,dan ayahnya menikah lagi Aryani menjadi seorang yang pendiam dan suka menyendiri, ia mempunyai seorang sahabat bernama Alfian yang sering ia temui dibelakang sekolah.
bersama Alfian Aryani seperti mempunyai dunia baru, Alfian sering mengajaknya ke tempat-tempat yang indah sehingga dia bisa melupakan masalah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Aryani berbaikan dengan Nana
Malam sudah larut Aryani masih terduduk di balkon kamar nya, airmata nya jatuh di pandangi nya langit-langit yang penuh bintang.
" Mamah kamu ada di mana mah, aku rindu sekali, kenapa Mamah tidak membawa ku serta," terdengar alunan musik yang sendu menambah kelam suasana hati nya.
Terdengar suara ketukan pintu kamar nya, " Aryani buka nak, ini papah ayo kita bicara, maafkan sikap papah tadi siang, Aryani nak tolong buka pintu nya,"Aryani hanya diam ia masih sakit hati, papah nya lebih mempercayai ucapan Tante Lestari dan Yumi.
Sampai beberapa lama tidak terdengar lagi ketukan pintu, terdengar suara langkah kaki menjauh.
Aryani menatap langit," Mah, aku kesepian orang-orang terdekat ku meninggal kan aku, bawa aja aku mah," Aryani tertidur di kursi, ia terbangun seperti ada yang membelai pipi nya.
Aryani membuka matanya terlihat sosok cantik di hadapan nya sedang memandang wajahnya.
" Mamah," Aryani menghambur memeluk Mamahnya," mah aku kangen." Aryani memeluk Mamah nya dengan erat.
" Kenapa kamu bersedih nak,"ayo kita masuk di sini sangat dingin, mamanya Aryani menuntun Aryani masuk, di baringkan nya tubuh Aryani di tempat tidur.
Aryani tertidur di pangkuan mamah nya, di belai nya rambut anaknya.
" Sabar lah, anggap semua ini ujian dari yang di atas, sekarang tersenyum lah Mamah ingin melihat mu selalu tersenyum.
Mata Aryani terpejam ia tidur dalam pangkuan mamah nya, ia terbangun ketika suara adzan subuh berkumandang.
Aryani terdiam di tempat tidur, ia bermimpi bersama Mamah nya seolah itu nyata, Aryani segera pergi ke kamar mandi ia kemudian mandi dan sholat subuh, setelah itu ia memakai seragam dan mengambil sepeda nya.
Mbok Darmi mengejarnya, tapi Aryani sudah berlalu pergi, mbok Darmi hanya terpaku diam di depan teras.
" Mbok kenapa berdiri di situ, ada apa," Papah nya Aryani sudah berada di belakang mbok Darmi.
"Anu tuan, non pergi tadi." mbok Darmi kemudian pamit dan pergi kembali ke dapur.
Papah nya Aryani menatap jalanan menghembuskan nafas panjang, " kenapa sekarang kamu susah di atur dan keras kepala," batin papah Wisnu.
Sementara itu Aryani sedang memasuki sebuah pasar, ia melihat keliling pasar, ia melihat Nana sedang membantu ibunya berjualan ingin rasanya Aryani mendekati nya, tapi ia takut Nana malah akan marah.
Aryani memutuskan untuk mendatangi nya, terlihat ada beberapa pembeli, Nana hanya tinggal dengan ibunya, ia setiap hari ikut membantu ibunya berjualan di pasar sebelum sekolah.
" Aku bantuin ya," Aryani memberi kan plastik ke tangan Nana, ketika Nana sedang menimbang sayur.
" Kamu," Nana menerima plastik dari tangan Aryani, setelah pembeli sudah pergi semua, ibu nya Nana mendekati mereka.
Di peluk kedua nya dalam rengkuhan tangan nya," ibu tahu kalian sedang ada masalah apapun masalah nya selesai kan, jangan di pendam bicarakan baik-baik, pergi lah."
Nana mengajak Aryani ke depan pasar, mereka memasuki kedai bubur ayam langganan mereka.
Mereka hanya terdiam, Aryani menatap Nana, sementara Nana membuang muka ke arah lain, sampai pesanan bubur meraka datang, mereka masih terdiam.
Aryani memegang tangan Nana, " ada apa sebenarnya, kenapa kamu marah."
Nana terdiam ia menundukkan wajahnya, sebenarnya ia kesal karena Pras malah mendekati Aryani, Nana tahu ini bukan salah Aryani, tapi kecemburuan nya membuat nya membenci Aryani.
" Kenapa tidak mau bicara, apa aku punya salah sama kamu? Aryani menatap wajah Nana yang tertunduk.
Nana hanya mengeleng, ia mulai terisak, Nana mengangkat wajah nya," maaf kan aku Ar, aku cemburu karena kamu dekat dengan Pras, apalagi aku melihat kamu di peluk Pras."
" Kenapa kamu tidak tanyakan aku kebenarannya, aku tidak punya hubungan apapun dengan Pras, bahkan aku tidak perduli kalau pun Pras menyukai ku, di hati ku sudah ada seseorang yang begitu spesial."
" Hah, apakah kamu pacaran sama Faruk? Nana terkejut.
Aryani mengeleng," tidak bukan Faruk, ia datang sebelum Faruk hadir."
" Apa, siapa dia kenapa aku tidak tahu, terus apa yang terjadi antara kamu dan Faruk?" Nana penasaran, kenapa ia tidak tahu.
" Suatu saat aku akan mengenal kan nya padamu, apakah kamu masih marah," Aryani menatap wajah Nana.
" Tidak maafkan aku, aku begitu bodoh maafkan aku Ar," Nana menghampiri Aryani dan memeluk nya, ia membisikan sesuatu setelah itu ia lari menghindar," maafkan aku Ar, aku yang menyobek buku-buku mu."
Aryani melotot, ia menatap Nana yang sudah berlari," Nana awas kamu, gila gantiin semuanya,nanaaaa.." Aryani berteriak ia memberi uang pada tukang bubur dan berlari mengejar Nana.
Aryani dan Nana berangkat bersama, mereka sampai di gerbang sekolah, Aryani menyerahkan bungkusan ke Nana untuk di berikan ke Pak satpam.
" Nih, berikan pada pak satpam," Aryani memberi kan bungkusan ke tangan Nana, kemudian ia pergi masuk ke halaman sekolah meninggal kan Nana di pos satpam.
Nana menghampiri Aryani yang sedang memarkir kan sepeda, "apa kamu suka memberikan makanan pada pak satpam, kenapa kamu selalu baik." Nana sedih ia merasa sangat bersalah Aryani sering membantu nya juga, bahkan sering membayar uang sekolah nya kalau ia tidak bisa membayarnya.
" Kenapa kamu sedih, pak satpam yang di kasih makanan, kenapa kamu yang nangis," Aryani menatap heran pada Nana.
Nana memeluk Aryani sambil menangis," maafkan aku Ar, aku sudah jahat, kita akan jadi sahabat selamanya bukan," Nana mengangkat jari kelingking nya.
Aryani tertawa," sudah jangan cengeng, makanya kalau apa-apa tanya dulu," Aryani menautkan kelingking pada kelingking Nana," best friend forever."
Nana tersenyum," best friend forever." mereka tertawa bersama.
Yumi memasuki kelas, ia melihat Nana sudah kembali duduk bersama Aryani," na kenapa kamu duduk sama dia lagi, udah baikan kamu." sambil tersenyum sinis.
Nana memeluk Aryani," kita best friend forever," kata Nana masih memeluk Aryani.
Yumi kesal, ia duduk sambil menekuk wajahnya, di perhatikan nya mereka, mereka terlihat bercanda sambil tertawa-tawa membuat Yumi bertambah kesal.
Pras memasuki kelas Aryani, murid-murid perempuan heboh, banyak dari mereka yang mengambil foto Pras.
Pras mendekati Aryani," mau ikut enggak akhir pekan ini aku mau main ke puncak dengan teman-teman ku."
"Enggak ah, sebentar lagi ujian aku ingin fokus belajar, Nana aja tuh," Aryani menunjuk ke arah Nana.
" Kamu mau ikut Na, seru loh sama ajak Aryani sekalian, kita main-main ke kebun teh, anggap aja refresh otak kita sebelum ujian, gimana? Nana menatap wajah Aryani dan Nana.
" Kalau aku tergantung Aryani, kalau Aryani ikut aku juga ikut." kata Nana.
Aryani menatap wajah Nana," kamu mau ikut?"
Nana mengganguk dan memohon," ikut yah, aku belum pernah kemana-mana."
" Baiklah aku ikut," kata Aryani.
Yumi mendekati Pras, aku boleh ikut enggak Pras?"
" Maaf mobilnya udah penuh, aku sudah mengajak Aryani dan Nana, aku pergi dulu," Pras meninggal kan kelas aryani.
Yumi menatap Aryani tajam," kalau aku tidak pergi, kamu juga tidak akan bisa pergi." Yumi pergi meninggalkan Aryani sambil menghentakkan kaki.
Aryani terlihat hanya diam, ia sudah malas menghadapi kelakuan Yumi, sementara Nana malah menjulurkan lidahnya, itu membuat Yumi semakin marah.
" Wei... enggak di ajak kok marah, kenapa protes sama kita, protes tuh sama pras pake acara ngancem lagi, ih enggak tahu malu tuh." Nana tersenyum mengejek.
" Hush...diem aku lagi males ribut, kemarin aja dia jatuh sendiri aku yang di salahin, apalagi kalau kita yang mulai." Aryani menarik tangan Nana, agar diam jangan pecicilan.
" Kalau kamu takut biar aku yang hajar dia, " sambil menggulung baju nya.
Suara Nana yang keras terdengar oleh Yumi, Yumi langsung mendatangi nya dan menarik rambutnya.
Aryani menatap mereka pasrah,
" yah alamat aku yang kena nih," Aryani menarik dan mendorong tubuh mereka, di bantu ketua kelas dan teman-teman yang lain.
Pak Muhaimin yang baru masuk ke kelas kaget, ia memukul papan tulis dengan kencang.
Semua murid terkejut, Nana dan Yumi akhirnya berhenti, mereka di tatap pak Muhaimin," waduh cah wedok kok ya doyan gelut, ayo ikut bapak ke ruang BP," pak Muhaimin membawa mereka ke ruang BP.