(#HIJRAHSERIES)
Keputusan Bahar untuk menyekolahkan Ameeza di SMA Antares, miliknya mengubah sang putri menjadi sosok yang dingin.
Hidup Ameeza terasa penuh masalah ketika ia berada di SMA Antares. Ia harus menghadapi fans gila sepupu dan saudaranya, cinta bertepuk sebelah tangan dengan Erga, hingga terlibat dengan Arian, senior yang membencinya.
Bagaimanakah Ameeza keluar dari semua masalah itu? Akankah Erga membalas perasaannya dan bagaimana Ameeza bisa menghadapi Arian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Hasna Raihana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Menyerah
Akhir-akhir ini Ameeza tidak terlalu sering bersama Melva. Lagi pula teman sebangkunya itu tak hanya berteman dengan Ameeza saja. Ameeza rasa ditinggal pun tak akan apa-apa. Tapi, kalau Ameeza bergabung dengan teman-teman Melva pun mereka tetap welcome. Jadi, yah sepertinya Melva sangat paham akhir-akhir ini Ameeza memang sedang sibuk mengurus sesuatu.
Yah, mengurus perasaan gue ke Erga.
Bibir Ameeza gatal ingin mengumpat. Tapi, untuk kedepannya kebiasaan buruknya ini harus dihilangkan. Yah, gara-gara kejadian kemarin pulang dari sekolah Ameeza langsung mencoret-coret tembok kamarnya lagi. Tidak hanya di tembok kamarnya, ia juga mencoret tembok ruang TV dan ruang tamu. Alhasil, kemarin Ameeza dimarahi habis-habisan oleh semua anggota keluarganya. Yah, memang keterlaluan, sih. Memang salahnya. Tapi, hanya itulah yang membuat Ameeza sedikit lega, hanya melalui coret-coretlah ia menghilangkan perasaan penat. Terlebih lagi, Bahar tak sengaja mendengar umpatan putrinya itu, jadilah mulai sekarang sepertinya Ameeza harus memilah kosa kata yang keluar dari mulutnya.
Kepala Ameeza sudah agak mendingan. Namun, masih terasa berdenyut-denyut. Jadi, Ameeza ke UKS.
Ketika pintu dibuka, Ameeza sempat melihat Shaula yang sedang mengobati seseorang. Entah siapa sebab tidak terlalu terlihat gara-gara gorden yang menghalangi wajah orang yang diobati.
"Isi daftarnya, yah," kata Shaula masih sibuk mengurus orang tadi.
"Iyah."
Shaula membuang kapas yang banyak bercak darah. Perempuan itu mencuci tangan di wastafel. Lantas menghampiri Ameeza yang sudah berbaring di kasur bersebelahan dengan orang yang baru saja Shaula obati.
"Lo sakit apa?" tanya Shaula. Ia mendekati lemari kecil berisi obat-obatan.
"Pusing."
Shaula mengambil obat sakit kepala, mengambil segelas air, dan sebungkus roti. Shaula meletakannya di meja dekat kasur Ameeza. Kebetulan Ameeza memilih kasur yang berada paling ujung dekat meja.
"Minum, gih," titah Shaula setelahnya ia duduk di kursi yang berada di ujung ruangan dekat dengan pintu.
Ameeza mengangguk.
"Kalau gitu gue tinggal dulu, yah. Entar adik kelas yang jaga."
Ameeza tak menjawab. Ia sibuk memejamkan matanya agar cepat tertidur.
20 menit kemudian.
Ameeza terbangun. Ia mengambil air putih yang masih tersisa setengah. Mengenggaknya hingga habis. Ameeza menatap sekeliling ruang UKS. Namun, tidak ada tanda-tanda petugas PMR di sini. Ameeza mengangkat bahu tak acuh.
"Ah, sial kepala gue masih pusing," kesal Ameeza memegangi kepalanya. Pandangannya jadi berputar-putar begini. Padahal sudah minum obat. Apa ia kurang tidur?
"Gara-gara banyak pikiran jadi sakit gini, ngeselin banget, sih!"
"Bisa-bisanya kemarin gue berprilaku kayak gitu, ah bodoh."
"Bener-bener bikin gue kesel, sih. Pengen lampiasin ke sesuatu. Tapi, apa? Samsak mungkin, yah."
"Kak Angga gak ngizinin pasti. Ah, gara-gara nilai gue anjlok lagi, nih."
Ameeza terus mengoceh panjang. Ia sedikit memejamkan matanya agar pandangan berputar-putar itu lenyap. Sepertinya cara itu cukup berhasil.
SRAK!
Gorden samping terbuka. "Heh berisik banget, sih, lo."
Ameeza membuka matanya. Ia menoleh. Sedetik kemudian tawanya meledak. "Haha ... sumpah lo kenapa, sih? Abis ngapain lo sampe bengkak-bengkak gitu. Pftt ... haha aduh perut gue sakit banget."
Arian mendesis. "Diem, lo!"
Ameeza mengambil HP-nya, memotret Arian. Melihat itu, Arian kontan melotot. Laki-laki itu berusaha menggapai lengan Ameeza yang memegang HP. "Hapus, woy! Lo mau apain foto gue, hah!"
Ameeza tersenyum misterius. "Ah, lumayan buat hiburan."
Arian menggeram kesal. "Lo dendam sama gue?" tuduh Arian.
Ameeza menaruh HP-nya ke atas meja. Ia menoleh. "Dih, lo duluan yang usik gue."
"Kapan?"
"Pas awal masuk eskul, lo kayak gak suka sama gue."
Arian menggelengkan kepalanya. "Cuma karena itu?"
"Gak juga, sikap lo emang ngeselin tingkat dewa." Ameeza menatap Arian serius. "Lo mau gak jadi ...."
Arian mendadak gugup. Ia menelan ludahnya.
"Samsak gue?"
"Hah?"
Ameeza tertawa terbahak-bahak. Rasanya pusing yang tadi melanda sudah hilang. Apa karena Arian, yah? Benar-benar kocak.
"Gimana hubungan lo sama Erga? Udah ada kemajuan?" tanya Arian mengalihkan pembicaraan.
Wajah Ameeza berubah datar. Lagi-lagi Arian membahas hal itu. Mengesalkan. "Kayaknya gue udah gak ada kesempatan buat deketin dia."
"Yah, jangan gitu, dong. Lo kalau cinta sama dia ... yah kejar!"
Ameeza menatap Arian tajam. "Percuma gue ngejar-ngejar dia kalau dianya aja mau gue menjauh."
Arian tersentak. "Serius? Si Erga bilang gitu?"
Ameeza mengangguk. "Iya, lagian terlalu konyol kalau gue terus ngejar-ngejar orang yang sama sekali gak mengharapkan gue." Ameeza membuang napas kasar. "Selain buang waktu dan tenaga. Belum tentu juga dia bakalan suka dan balik ngejar gue hanya karena gue tadinya suka ngejar-ngejar." Ameeza mendecih. "Terlalu mengkhayal kalau gue ngarep gitu."
"Btw, muka lo kenapa bisa gitu?" tanya Ameeza serius. Kali ini tak ada gelak tawa lagi.
Arian diam.
"Woy! Ditanya malah diem."
"Tadi pas gue ngambil mangga yang ada di belakang kelas gak sengaja gue nyenggol sarang lebah."
"Lo nyolong?"
"Gak gue ngambil," jawab Arian asal.
"Sama aja, lagian mangga itu 'kan punya Pak kepsek."
"Gue lanjut, nih."
Ameeza mengangguk.
"Jadi, yah gue disengat lebah sampe gini. Kampretnya temen-temen gue malah pada ngacir duluan ninggalin gue yang masih ada di atas pohon. Lo tahu 'kan tuh pohon mangga tinggi banget. Gue gak bisa turun, tapi karena terdesak sama si lebah sialan itu gue buru-buru turun ngasal aja. Jadi, yah gue kepleset terus jatoh. Sumpeh punggung gue rasanya remuk, belum lagi tangan gue kegores ranting. Sial betul, dah," cerita Arian.
Ameeza tertawa. "Akibat nyolong buah mangga, tuh. Makanya jangan nyolong. Kena batunya 'kan."
...-oOo-...
Ameeza melihat Erga yang baru saja akan keluar dari kelas. Perempuan itu buru-buru menyandang tasnya. Ia berlari secepat mungkin, lantas sengaja menabrak Erga.
Erga berhenti, Ameeza pun ikutan berhenti. Ameeza menoleh ke belakang. Menatap Erga dengan sorot dingin."Sorry, gak sengaja."
"Ameeza!"
Ameeza menghampiri Arian. "Yo! Jadi 'kan?"
Arian mengangguk. "Iyalah."
Erga menatap interaksi Ameeza dan Arian sekilas. Setelahnya ia pergi.
Ameeza sempat menoleh ke belakang. Menatap punggung Erga yang semakin jauh.
Kayaknya emang ini pilihan terbaik.
Gue gak bisa biarin rasa suka ini menghancurkan gue secara perlahan. Gue gak mau dibodohi sama rasa cinta. Walaupun gak mudah, sih buat move on.
Arian memiting leher Ameeza. Membuat Ameeza sesak. Ia menepuk-nepuk lengan Arian. Laki-laki itu langsung melepaskannya.
Ameeza menempeleng Arian dengan tasnya. Sontak membuat Arian kesal.
"Lo ngajak gelud?"
Ameeza meludah ke sepatu Arian. Sebelum Arian menempelengnya. Ameeza sudah lebih dulu berlari.
"Sialan! Sini lo! Kurang ajar!"
Ameeza tersenyum sesaat menatap langit. Ia menatap sekilas ke belakang dimana Arian yang mengejarnya.
Arian memeluk Ameeza dari belakang supaya perempuan itu tidak bisa kabur. "Kena lo."
Ameeza mencubit lengan Arian kuat sehingga pelukannya lepas.
"Lo bisa beladiri 'kan?"
Arian mengangguk ragu. "Dikit sih."
"Kapan-kapan lo ikut gue ke tempat latihannya Kak Angga. Kita bisa adu jotos di sana. Eh, tapi jangan deh bisa-bisa Kak Angga ngamuk." Ameeza tertawa.
"Jadi samsak lebih aman."
"Bisa mati gue kalau jadi samsak lo," cibir Arian.
Ameeza tertawa lagi. "Maksud gue lo pegangin tuh samsak. Entar gantian, gitu."
Arian menatap Ameeza yang mulai mengoceh panjang.
Syukurlah lo udah bisa ketawa lagi.
Walaupun ngeselin. Kasian juga, sih cintanya bertepuk sebelah tangan.
...-oOo-...
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak, dengan like, vote dan komen yaaa🫶^^^