Perubahan adalah satu hal besar dalam hidup. Entah menjadi lebih baik, atau sebaliknya. Sama hal dengan dua insan yang sengaja dipertemukan oleh Sang Mahakuasa. Mereka adalah Haykal Azril dan Almaira Zahra.
Seorang lelaki yang memiliki karisma dan wibawa tinggi, yang digandrungi oleh hampir seluruh mahasiswi di kampus, memilih untuk memantapkan hatinya kepada seorang gadis yang baru saja memahami kehidupan.
Akankah kisah mereka akan berakhir bahagia? Atau malah duka dan luka menyambut di akhir cerita?
Happy Reading, guys!🖤
Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap part! Thank u!🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NabiilaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Surat
Mira POV
Ketika aku selesai menunaikan sholat dan sedang berbaring di kamar, suara ketukan pintu membuat mataku terbuka lagi. Kukira Kak Annisa atau Bunda akan membukakan pintu, ternyata mereka ada di dapur. Pantas saja tidak dengar.
Betapa terkejutnya aku, ketika tahu siapa yang datang sore-sore begini. Lalu, dia memelukku erat, melampiaskan rindu sebab jarak yang begitu jauh. Lucu sekali, aku sampai tertawa karena matanya berkaca-kaca.
Kemudian, aku mempersilahkan dia masuk. Ternyata, Bunda dan Kakak sama terkejutnya seperti aku tadi, mereka saling berpelukan dan menanyakan kabar. Bercerita tentang apa saja yang telah kami lewati. Ah, hangat sekali.
Tok Tok Tok!
Ketukan pintu kembali terdengar. Siapa lagi? Aku buka pintu, dua anak kecil imut mendongak menatapku. Mereka memberikan sekotak yang sepertinya berisi makanan.
Alisku berkerut, "Dari siapa, dek?"
Si perempuan menggeleng, "Kata om, kaka ga boleh dikasih tau." Aku tertawa mendengar jawabannya. Bukankah dengan dia berkata 'om' saja aku sudah tau siapa pemberinya?
Udang asam manis. Aku tahu betul, ini pasti buatan Umi Balqis. Tak sekali-dua kali Umi memberiku makanan ini. Beliau sangat tahu kalau aku menyukai udang buatannya. Tapi tunggu, kenapa Azril tak memberikan padaku langsung saja? Kenapa harus perantara dua anak kecil tadi? Sudahlah. Mungkin dia mau membuatku bertanya-tanya.
...°°°...
Pagi ini, aku diantar oleh lelaki kesayanganku yang kemarin datang dan memutuskan menginap entah sampai kapan. Oh iya, namanya Zaki. Sesampainya di depan gerbang, tak jarang teman-teman ada yang mengejekku. Dan aku hanya menanggapi mereka dengan tersenyum.
Aneh sekali, biasanya Vita akan datang lebih pagi dariku, tapi sekarang dia belum juga menampakkan batang hidungnya.
BRUK!
Oh, sayang sekali. Karena sibuk mencari keberadaan Vita, aku sampai tidak fokus dan menabrak sese- Azril?
"Azril, maaf. Aku ga sengaja." ucapku berjongkok hendak membantunya mengambil buku yang terjatuh. Namun, dia segera berdiri, tak membiarkanku membantu.
"Gapapa." Belum sempat aku berkata, dia sudah pergi begitu saja dari hadapanku. Bahkan, sedari tadi ia juga tidak melihat wajahku sama sekali. Ada apa? Apa Azril tak tahu kalau aku adalah Mira? Yah, mungkin saja.
Aku melanjutkan langkah menuju kelas. Ternyata, Vita sudah ada di kelas sejak pagi. Makanya aku tidak melihatnya di luar sana, ternyata sikap disiplinnya memang tak bisa diragukan lagi.
"Eh, gue denger lo dianter cowok, ya?"
"Kok tau?"
Vita memutar bola matanya, "Lo sadar kan, kalau sekarang lo jadi pusat perhatian cowok-cowok di sini?" Aku menggeleng.
"OMG! Mira, lo tuh banyak yang suka! Mereka tuh gosipin lo dari tadi! Makanya, gue tau," jawab Vita entah nada emosi atau kenapa, yang pasti, aku tak merasa seperti itu. Vita menghembuskan napasnya kesal setelah melihatku tetap diam tak menjawab.
"Dahlah, Mir. Gue mo pingsan aja." Aku tertawa, lalu menepuk-nepuk punggung Vita ketika dia membenamkan wajahnya dalam lipatan kedua tangan.
"Vit, tadi aku ga sengaja nabrak Azril. Tapi dia cuek dan langsung pergi gitu aja," Dia mengangkat kepala setelah aku berbicara memulai cerita, lalu mengangkat kedua alis seolah berkata, 'Terus terus?'
"Aku mikir dia emang gatau kalau aku yang nabrak,"
"Siapa sih yang ga kenal Mira, apalagi cowoknya sendiri? Ya pasti dia liat lah, Mir. Kali aja dia lagi dapet, jadi bawaannya sensi mulu." Aku tertawa mendengar jawaban Vita.
Aku mencoba mengalihkan pikiran buruk tentang tabrakan tadi pagi. Semoga saja memang tidak ada hal-hal yang serius dan mencemaskan.
...°°°...
Sepulang kuliah, aku kembali dijemput oleh Zaki. Katanya, selama dia ada di sini, dia berjanji akan selalu menemaniku kemanapun dan dimanapun aku berada. Senang sekali aku mendengarnya, apalagi setelah motorku hancur berkeping-keping setelah kecelakaan waktu lalu.
"Mira!" Seseorang memanggilku ketika aku hendak menghampiri Zaki. Aku menoleh, ternyata Alvin.
"Ada apa, Vin?" Kemudian, dia menyodorkan sebuah surat bersampul coklat.
Aku tak langsung menerima, "Dari siapa?" Alvin menggeleng.
"Udah, terima aja." Aku mengambilnya, lalu mengucapkan terima kasih. Ngomong-ngomong, kenapa dia sendirian? Kemana Azril?
...°°°...
...Assalamu'alaikum, Mira....
...Maaf mengganggu waktunya....
...To the point saja. Saya minta maaf karena lama tidak memberimu kepastian. Saya juga minta maaf kalau selama ini jarang bertanya atau bertukar kabar, apalagi menyapa walau sebentar....
...Saya tak tahu ini perasaan apa, tapi saya sangat mengerti akan keadaan kita sekarang. Kamu memintaku untuk tidak menemuimu sampai aku benar-benar serius....
...Saya mencoba mengerti. Kamu bilang, kamu akan menunggu saya. Maaf, mungkin saya yang terlalu berharap. Nyatanya, belum lama saja hatimu tidak cukup kuat menahan perpisahan yang sebentar ini....
...Maaf Mira, saya kecewa....
...Wassalamu'alaikum....
Thank u for reading!🥺👉👈🖤
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya.
Biar makin semangat ngetiknya🥺✨
Ceritanya bagus banget. saya datang membawa like👍😊
jangan lupa mampir diceritaku juga ya kak
berjudul: " Ku Labuhkan Cinta Dalam Doaku"
Karya: Amanda Widyasari
terimakasih 😊
semangat up & smg ceritanya sukses yah, aku tunggu feedback-nya. 😉✨
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa
ku tunggu up ny thor semngaat
lama kalii up ny
semangat Thor
mampir ya