Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante yang Mulai Berdandan
Pagi itu, suasana penthouse terasa sedikit berbeda.
Biasanya Tiffany akan keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi dan siap menghadapi rutinitas kantor. Sebagai seorang CEO, ia tidak terlalu memperhatikan penampilannya, tetapi semuanya dilakukan secara praktis. Rambut ditata rapi, pakaian kerja dipilih sesuai agenda, lalu selesai.
Namun pagi ini ada sesuatu yang sedikit berbeda.
Tiffany berdiri cukup lama di depan cermin.
Tangannya perlahan merapikan bagian rambut yang jatuh di sisi wajahnya. Setelah itu, ia memeriksa kembali riasan tipis yang sudah menghiasi wajahnya.
Tidak berlebihan.
Hanya sedikit lebih rapi daripada biasanya.
Sedikit sentuhan pada wajah.
Sedikit perhatian pada rambut.
Dan sedikit lebih lama berdiri di depan cermin.
Tiffany menatap bayangannya sendiri.
Entah kenapa, kejadian kemarin di pusat perbelanjaan kembali terlintas dalam pikirannya.
"Tante-tante lagi kencan bersama pria muda."
Wajah Tiffany langsung berubah kesal.
"Dasar..."
Ia segera mengalihkan pandangan dari cermin.
Sebenarnya, bukan komentar orang-orang itu yang paling mengganggunya.
Yang membuatnya kesal adalah satu orang tertentu.
Gavin.
Pria itu sudah terlalu terbiasa memanggilnya Tante.
Di rumah.
Di apartemen.
Saat hanya berdua.
Dan sekarang bahkan ketika mereka sedang berada di tempat umum.
Tiffany menghela napas panjang.
"Kenapa aku malah memikirkan ini?"
Ia kembali menatap cermin.
Kemudian, tanpa sadar, merapikan rambutnya sekali lagi.
"Sudahlah."
Setelah merasa cukup, Tiffany akhirnya keluar dari kamar.
Ia berjalan menuju ruang makan dengan langkah tenang.
Gavin yang sedang duduk sambil menikmati sarapan langsung mengangkat kepala.
Gerakan tangannya berhenti.
Pria itu menatap Tiffany beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Tiffany yang menyadarinya langsung berhenti.
"Apa?"
Gavin masih diam.
Tatapannya berpindah dari rambut Tiffany ke wajahnya, kemudian kembali ke wajah wanita itu.
Senyum perlahan muncul di bibirnya.
Tiffany mulai merasa tidak nyaman.
"Apa yang kamu lihat?"
Gavin akhirnya meletakkan sendoknya.
"Wah."
Tiffany mengernyit.
"Wah apanya?"
Gavin bersandar sedikit pada kursinya.
"Hari ini kamu kelihatan berbeda, Sayang."
Tiffany terdiam.
Entah kenapa, ia justru merasa sedikit lega.
Setidaknya Gavin menyadarinya.
Ia sudah menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya untuk berdandan pagi ini. Kalau pria itu bahkan tidak menyadarinya, rasanya akan lebih menyebalkan.
Namun kemudian Gavin melanjutkan.
"Kelihatan lebih muda."
...
Senyum tipis yang hampir muncul di wajah Tiffany langsung menghilang.
Kedua alisnya bertaut.
"Apa?"
Gavin masih memasang wajah polos.
"Lebih muda."
Tiffany menatapnya tanpa berkedip.
Gavin mengira pujiannya berhasil.
"Bagus, kan?"
Tiffany perlahan menarik kursi dan duduk.
"Bagus apanya?"
Gavin menggaruk pipinya.
"Kan aku sedang memuji."
Tiffany menatapnya tajam.
"Jadi menurutmu biasanya aku kelihatan tua?"
Gavin langsung terdiam.
Pelayan Zhang yang sedang menuangkan teh di dekat mereka tiba-tiba menundukkan wajah. Bahunya bergerak sedikit, menahan sesuatu yang hampir lolos dari mulutnya.
Gavin menyadarinya.
"Pelayan Zhang."
"Ya, Tuan Muda?"
"Menurutmu aku sedang memuji, kan?"
Pelayan Zhang berhenti menuangkan teh.
Ia menatap Gavin sebentar.
Kemudian melirik Tiffany.
Pelayan Zhang menyadari raut wajah Tiffany yang mulai terlihat marah. Mungkin Gavin tidak menyadarinya, tetapi Pelayan Zhang yang sudah lama melayani Tiffany sadar betul dengan hal itu.
Pelayan Zhang buru-buru kembali menundukkan kepala.
"Menurut saya... Tuan Muda sebaiknya menikmati sarapannya."
Gavin berkedip.
"Kenapa?"
Tiffany mengambil cangkir tehnya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Karena kalau kamu terus bicara, sarapanmu mungkin akan menjadi makanan terakhirmu hari ini."
Gavin langsung diam.
Pelayan Zhang akhirnya berbalik menuju dapur.
Tiffany menyeruput tehnya sambil berusaha mempertahankan wajah datar.
Dasar pria sialan.
Dengan wanita lain, dia selalu saja gampang memuji.
Nona cantik.
Nona manis.
Aku pagi-pagi sudah repot-repot sedikit berdandan.
Tiffany diam-diam menyentuh rambutnya.
...Dia hanya bilang aku kelihatan lebih muda.
Tiffany mengatupkan bibir.
Benar-benar pria sialan.
Gavin yang tidak mengetahui perang batin wanita di depannya kembali menyantap sarapan dengan santai.
Setelah beberapa saat, ia melirik Tiffany.
Gavin menggaruk pipinya.
"Tapi memang bagus."
Tiffany berhenti mengangkat cangkir.
"Apa?"
"Penampilanmu."
Tiffany menoleh.
Gavin mengangkat bahu santai.
"Rambutmu juga bagus. Entah kenapa hari ini kelihatannya lebih bagus dari biasanya."
Tiffany terdiam.
Untuk sesaat, rasa kesalnya sedikit berkurang. Setidaknya Gavin ternyata benar-benar memperhatikan perubahan kecil pada penampilannya.
Namun kemudian pria itu tersenyum.
"Cocok juga dengan wajah Tante."
Wajah Tiffany kembali dingin.
"Diam."
Dalam hati Tiffany begitu kesal.
Dasar pria sialan. Masih saja dia memanggilku Tante.
Gavin langsung menunduk dan kembali makan.
"Iya, Tante."
Tiffany memejamkan mata.
Sabar.
Ini masih pagi.
Jangan sampai aku melempar cangkir teh ini ke wajahnya.
Tidak lama kemudian, keduanya berangkat menuju Chen Corp.
Perjalanan menuju kantor berlangsung cukup tenang.
Terlalu tenang, menurut Gavin.
Ia beberapa kali melirik Tiffany yang duduk di sebelahnya.
Biasanya Tiffany memang tidak banyak bicara di pagi hari, terutama ketika sedang mempersiapkan pekerjaan.
Namun hari ini ekspresinya terlihat jauh lebih dingin.
Keningnya sedikit berkerut.
Tangannya sesekali bergerak memeriksa ponsel.
Dan setiap kali Gavin mencoba membuka percakapan, jawaban yang diterimanya hanya singkat.
"Ya."
"Tidak."
"Entahlah."
"Sudah."
Gavin akhirnya menyerah.
Ia memilih memandang keluar jendela.
Sementara Tiffany kembali menatap layar ponselnya.
Padahal sebenarnya ia sendiri tidak sedang membaca sesuatu yang penting.
Pikirannya masih kembali pada kejadian pagi tadi.
Kelihatan lebih muda.
Tiffany mendengus pelan.
"Kenapa?"
Gavin langsung menoleh.
"Aku tidak bilang apa-apa."
Tiffany tersadar.
Ia bahkan tidak sadar telah mendengus.
"Tidak ada."
Gavin mengangguk.
"Baik."
Beberapa detik kemudian, Tiffany kembali menatap layar ponselnya.
Dalam hati ia semakin kesal.
Dan kenapa aku mengharapkan pujian dari pria itu?
Begitu mobil memasuki area Chen Corp, suasana hati Tiffany yang buruk ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk terdeteksi.
Para karyawan yang sedang berjalan di area lobi segera menyadari kehadiran sang CEO.
"CEO Chen."
Beberapa karyawan memberi salam dengan sopan.
Tiffany membalas dengan anggukan kecil.
"Selamat pagi."
Suaranya terdengar datar.
Tidak keras.
Tidak kasar.
Namun beberapa karyawan yang sudah lama bekerja dengannya langsung saling melirik.
Salah seorang karyawan perempuan bahkan menurunkan suara ketika Tiffany sudah berjalan melewati mereka.
"Kayaknya mood CEO hari ini jelek."
"Kelihatan."
"Kenapa?"
"Entahlah. Jangan cari masalah."
Karyawan di sebelahnya langsung mengangguk serius.
"Setuju."
Sementara itu, Gavin berjalan santai di samping Tiffany.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata sudah memperhatikan mereka.
Begitu melewati area resepsionis, seorang karyawati yang sudah cukup mengenal Gavin menyapa.
"Selamat pagi, Tuan Wijaya."
Gavin berhenti sebentar.
Senyum khasnya langsung muncul.
"Pagi, Nona."
Karyawati itu tersenyum sopan.
Gavin bahkan sempat memberikan senyum kecil sebelum kembali berjalan.
Namun beberapa langkah kemudian...
Gavin merasa ada sesuatu yang aneh.
Ia menoleh ke belakang.
Karyawati tadi masih berdiri di tempatnya.
Tetapi wajahnya sudah berubah tegang.
Gavin kemudian menoleh ke depan.
Tiffany masih berjalan dengan langkah tenang.
Namun tatapan wanita itu baru saja melirik ke belakang.
Tajam.
Sangat tajam.
Gavin mengerutkan kening.
"Apa?"
Tiffany tidak menoleh.
"Apa apanya?"
"Kamu tadi lihat belakang."
"Tidak."
Gavin menggaruk pipinya.
"Perasaanmu saja."
Tiffany terus berjalan.
Namun karyawati yang tadi disapa Gavin masih berdiri sambil menahan napas.
Temannya yang berada di sebelahnya langsung berbisik.
"Kamu tidak apa-apa?"
Karyawati itu menelan ludah.
"Aku?"
"Iya."
Ia melirik ke arah Tiffany yang semakin jauh.
Kemudian berbisik pelan.
"Sepertinya hari ini jangan bercanda."
Temannya langsung mengangguk.
"Jangan membuat kesalahan juga."
"Kenapa?"
"Memangnya kamu tidak lihat wajah CEO?"
Keduanya kembali menatap punggung Tiffany.
Mereka sudah cukup lama bekerja di Chen Corp untuk memahami satu hal.
Tiffany tidak perlu memarahi seseorang untuk membuat suasana kantor berubah tegang.
Cukup dengan satu tatapan.
Hari ini sepertinya semua orang harus bekerja sedikit lebih serius.
Tidak ada yang tahu apa penyebabnya.
Namun semua orang sepakat pada satu hal.
Jangan membuat kesalahan sekecil apa pun di depan CEO Chen hari ini.
Sementara itu, Gavin masih berjalan di samping Tiffany dengan wajah bingung.
Ia menoleh sekali lagi.
"Sayang."
"Hm?"
"Kamu kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
"Serius?"
"Serius."
Gavin memperhatikan wajah Tiffany.
Kemudian ia menyipitkan mata.
"Kayaknya kamu marah."
Tiffany akhirnya berhenti berjalan.
Ia menatap Gavin.
"Kalau aku marah, memangnya kenapa?"
Gavin terdiam.
Pertanyaan itu terdengar seperti jebakan.
Ia memilih jawaban paling aman.
"Enggak kenapa-kenapa."
Tiffany kembali berjalan.
Gavin buru-buru mengikutinya.
Beberapa detik kemudian, ia kembali mencoba.
"Karena tadi pagi?"
Tiffany berhenti.
Gavin ikut berhenti.
"Tadi pagi kenapa?"
Gavin tersenyum kecil.
"Karena aku bilang Tante kelihatan lebih muda?"
Tiffany perlahan menoleh.
Tatapannya membuat senyum Gavin menghilang.
"Jangan panggil aku Tante."
Gavin berkedip.
"Lagi?"
Tiffany menarik napas panjang.
"Kita sudah membicarakan ini kemarin."
"Tapi sekarang kita di kantor."
"Justru karena di kantor."
Gavin melirik beberapa staf yang sedang berjalan di kejauhan.
Kemudian kembali melihat Tiffany.
"Kalau di depan staf Chen Corp, aku kan biasanya panggil kamu Sayang."
"Bagus."
"Kalau begitu masalahnya selesai."
Tiffany terdiam.
Gavin tersenyum santai.
Tiffany menghela napas.
Untuk sesaat, ia merasa sedikit lega.
Namun ketika Gavin kembali berjalan di sampingnya, pria itu tiba-tiba berkata pelan.
"Tapi kalau cuma berdua..."
Tiffany langsung menoleh.
"Gavin."
Gavin tertawa kecil dan mempercepat langkah.
"Iya, iya! Tidak dibahas!"
Tiffany memandang punggungnya dengan wajah kesal.
Dasar pria sialan.
Kenapa dia selalu berhasil membuatku kesal bahkan sebelum jam kerja dimulai?
Namun tanpa disadari Tiffany, ekspresi wajahnya yang sejak tadi dingin sedikit melunak.
Setidaknya...
Gavin sudah mulai mengerti bahwa panggilan itu benar-benar mengganggunya.
Hanya saja, Tiffany belum menyadari satu hal.
Masalah sebenarnya bukan lagi sekadar panggilan "Tante".
Entah sejak kapan, ia mulai memperhatikan kepada siapa saja Gavin memberikan senyum dan pujian.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Tiffany mulai merasa bahwa kebiasaan Gavin yang suka menyebut wanita lain "manis" atau "cantik" ternyata cukup mengganggunya.
Meskipun tentu saja...
Ia sama sekali tidak berniat mengakui hal tersebut.